
Dengan wajah sumringah, Nick menunjukkan buku nikah di tangannya. Dibantu oleh Rahardi, dia mengurus dokumen pernikahan mereka. Dikarenakan mereka telah sah menikah secara agama, jadi Nick hanya tinggal mengurus administrasi saja untuk memperoleh pengakuan secara hukum akan pernikahannya. Dan kini, pernikahannya dengan Iza sudah tercatat di kantor catatan sipil. Mereka hanya tinggal mengurus dokumen lain seperti kartu keluarga dan kartu identitas baru karena status mereka telah berubah.
Dua keluarga berkumpul di kediaman Nick. Mereka sengaja berkumpul untuk merayakan momen bahagia ini, sekaligus merayakan kehamilan Meta. Mereka duduk berbincang sambil menikmati makanan dan minuman yang dibuat oleh Rina. Gadis itu sendiri tak ikut dalam kumpulan acara keluarga karena tengah sibuk membuat pesanan catering. Usaha kecil-kecilan yang dirintisnya atas dorongan Arnav sudah mulai berkembang.
“Zi.. Nick.. sekarang pernikahan kalian sudah sah di mata hukum. Kapan kalian akan melangsungkan resepsi pernikahan,” tanya Diah.
“Iya, kapan kalian akan melangsungkan pesta? Tinggal bilang saja, nanti biar ummi dan mommy yang menyiapkan,” sambung Mina.
“Kalau abi dan daddy jadi tim hore saja ya,” timpal Rahardi yang langsung disambut gelak tawa.
“Kalau aku terserah Iza aja, ummi,” jawab Nick.
“Aku ngga mau ada resepsi. Pernikahan kami sudah disahkan secara hukum saja, aku sudah sangat senang,” jawab Iza sambil memegang tangan Nick.
“Tapi sebagai gantinya, kami akan mengadakan syukuran dengan mengundang anak-anak panti asuhan serta panti jompo. Berbagi kebahagiaan dan rejeki bersama mereka, kalau kalian tidak keberatan.”
Iza menyambut ucapan suaminya dengan senyuman. Mereka memang telah membicarakan masalah ini sebelumnya. Dari pada menghabiskan uang menggelar pesta, lebih baik uangnya disumbangkan ke panti asuhan dan panti jompo. Mereka juga berencana memberikan sumbangan ke tempat lain seperti masjid atau lembaga amal lainnya yang bisa menyalurkan sedekah mereka.
“Kalau rencana kalian seperti itu, kita setuju aja, bukan begitu?” Diah melihat ke arah suami dan besannya. Mereka pun mengiyakan perkataan wanita itu dengan anggukan.
“Kalian boleh aja ngga mau mengadakan resepsi. Tapi jangan menunda untuk memberi kami cucu, ya,” ujar Mina.
Ucapan sang istri membuat wajah Rahardi murung. Kalau saja dulu dirinya tak bertindak gegabah, mungkin sekarang dia sudah bisa menimang cucu. Iza yang melihat perubahan wajah abinya segera mendekati pria itu lalu memegang tangannya. Rahardi mengangkat kepalanya, menatap wajah putri bungsunya dengan pandangan penuh rasa bersalah.
“Abi jangan bersedih. In Syaa Allah, kami akan segera mendapatkan gantinya. Abi jangan merasa bersalah lagi. Cukup doakan kami agar segera mendapatkan momongan lagi.”
“Iya, Zi. Terima kasih sudah berbesar hati memaafkan abi.”
“Abi jangan bilang begitu,” Iza memeluk tubuh sang ayah dari samping.
“Abi jangan bersedih. Aku ngga pernah berhenti berusaha untuk memberikan cucu untuk kalian. Tenang aja, aku cukup kuat kok, untuk membuat perut Iza buncit,” seloroh Nick yang langsung mendapat pelototan dari Iza.
Perkataan absurd Nick berhasil mencairkan suasana yang tadi mulai terasa sendu kembali ceria. Rahardi tersenyum ke arah menantunya itu. Dia masih tidak habis pikir, kenapa dulu dirinya begitu membenci Nick. Dilihat dari segi manapun, pria itu mempunyai kualifikasi lebih dari cukup untuk menjadi menantunya.
“Rina mana?” tanya Ridho.
“Dia lagi sibuk, bang. Akhir-akhir ini pesanan cateringnya lumayan banyak. Arnav bener-bener totalitas deh promoinnya,” jawab Iza.
“Wajar sih dia kerja keras kaya gitu. Demi calon istri gitu loh,” Nick terkekeh.
“Arnav sama Rina?” Ridho cukup terkejut mendengarnya. Kesibukan di kampus dan memenuhi keinginan sang istri saat mengidam, membuat pria itu ketinggalan berita.
“Kayanya sih mereka berdua saling suka, cuma masih malu-malu meong aja,” sahut Iza.
“Abah udah tahu belum?” tanya Rahardi.
“Belum, abi. Kebayang kalau ambu tahu, pasti heboh bakalan punya menantu artis Bollywood,” Iza terkikik geli.
“Tuan Takur,” sambar Nick yang kembali membuat ruangan menjadi penuh dengan gelak tawa.
Diah beranjak dari duduknya ketika mendengar ponselnya yang diletakkan di meja makan berdering. Melihat nomor panggilan berasal dari luar negeri, dia langsung menebak kalau panggilan itu berasal dari Edo. Dengan cepat, dia menjawab panggilan.
“Halo.”
“Halo, Diah. Bagaimana kabar anak dan menantuku?”
“Ck.. hanya itu yang kamu tanyakan. Apa kamu tidak mau menanyakan kabarku?”
“Tidak usah manja. Sudah ada Bryan yang memperhatikanmu. Kamu tidak butuh perhatian dariku.”
Diah hanya tertawa kecil saja mendengar ucapan Edo. Hubungan mereka saat ini sudah seperti sahabat saja. Mereka memang tetap menjalin hubungan baik demi Nick, anak mereka. Lagi pula Edo sudah menjelaskan alasannya meninggalkan Diah dahulu dan sudah tak ada lagi rasa marah apalagi dendam dalam diri wanita itu.
“Nick.. dia sudah tahu tentangmu. Aku yang memberitahunya.”
“Apa? Kenapa Di?”
“Menunggumu mengatakannya langsung terlalu lama. Kamu juga tidak kasih kepastian kapan akan kembali ke sini. Tapi tenang saja, dia bisa menerimanya dengan baik. Nick bahkan sangat ingin bertemu denganmu dan memanggilmu dengan sebutan papai.”
Tak ada jawaban dari seberang. Saat ini, hati Edo dipenuhi keharuan mendengar apa yang dikatakan Diah. Ingin rasanya dia langsung terbang ke Bandung untuk menemui Nick, memeluknya dan mendengar dirinya dipanggil papai.
“Jangan menangis. Kamu itu jelek kalau sedang menangis,” ejek Diah.
“Kamu memang perempuan yang tidak punya hati,” balas Edo.
“Hahaha..”
“Bagaimana dengan Iza? Apa dia sudah bisa melihat dengan normal sekarang?”
“Alhamdulillah.”
“Apa kamu mau bicara dengan Nick?”
“Nanti saja. Aku tidak sanggup kalau harus berbicara sekarang. Ada anak bungsuku di sini sekarang.”
“Kenapa? Apa dia tidak menyukai Nick?”
“Bukan begitu. Kalau aku bicara dengan Nick, aku pasti akan menangis. Anak nakal itu pasti akan menertawanku.”
Kembali tawa Diah terdengar sampai Bryan mengalihkan pandangan ke arahnya. Pria itu terus memandangi sang istri yang masih berbicara entah dengan siapa. Tak lama kemudian Diah mengakhiri panggilan kemudian kembali ke samping suaminya.
“Siapa yang menelpon?”
“Edo,” bisik Diah pelan.
“Hmm.. bahagia sekali kelihatannya. Kamu pasti senang mendapat telepon darinya,” nada suara Bryan terdengar cemburu. Diah malah tertawa melihatnya.
“Jangan cemburu. Aku sudah tidak mencintainya. Aku hanya milikmu Mr. Bryan,” bisik Diah di telinga sang suami.
“Kalau begitu buktikan padaku nanti malam. Dua ronde,” bisik Bryan.
“Siapkan saja staminamu pak tua,” ledek Diah. Bryan hanya menggelengkan kepalanya, sang istri memang selalu bisa membalas ucapannya.
🍂🍂🍂
Rina menghempaskan bokongnya di sofa seraya mengelap peluh yang membasahi keningnya. Tubuhnya terasa lelah setelah berhasil mengirimkan 50 pax nasi kotak pada pelanggannya. Genap sebulan sudah dia menjalankan bisnis kateringnya dibantu oleh Arnav. Dia juga sudah mengambil satu orang untuk membantunya di dapur. Selama belum mendapatkan tempat untuk memasak pesanan, Nick mengijinkan Rina menggunakan dapur kedai kopinya.
Dengan sebotol minuman dingin di tangannya, Arnav datang kemudian duduk di hadapan Rina. Sejenak dia memandangi wajah cantik yang nampak kelelahan. Ingin rasanya dia menjadi bahu untuk tempat gadis itu bersandar. Namun Arnav masih belum ada keberanian untuk maju. Dia masih mempersiapkan diri untuk berhadapan dengan Rahman.
“Cape, ya. Kalau ambil satu pegawai lagi gimana?”
“Jangan dulu. Sementara aku masih bisa handle.”
“Aku lagi cari tempat yang bagus buat lokasi catering. Bagaimana kalau kita bangun bisnis ini dengan serius? Kamu yang kelola, aku yang kasih modal. Aku juga akan bantu promosi. Kalau sudah ada tempat, kita tambah pegawai. Apa kamu siap kalau kita ambil proyek catering untuk pernikahan?”
Masih belum ada jawaban dari Rina. Gadis itu malah memperhatikan Arnav yang nampak serius. Ucapan Arnav yang mengusulkannya membuka usaha catering dan akan membantunya, ternyata bukan isapan jempol semata. Hampir semua pelanggannya berasal dari promosi Arnav. Diam-diam Rina mulai menaruh rasa kagum dan suka pada pria itu. Namun Rina belum berani menunjukkan perasaannya. Dia takut Arnav masih memendam perasaan pada Meta.
“Rin.. eh malah bengong.”
“Eh.. iya, Ar. Boleh juga tuh. Tapi kalau kita mau ambil proyek wedding, bakal butuh modal besar. Kita perlu alat-alat masak yang lebih banyak dan juga peralatan lainnya.”
“Coba kamu buat rinciannya, apa aja yang dibutuhkan. Aku juga lagi cari-cari rumah buat dapur catering. Ngga enak terus-terusan numpang sama Nick. Kalau uang tabunganku ngga cukup, nanti aku ajuin pinjaman ke koperasi Fahrul sama Abe. Cicilannya ringan, buat jaminan bisa pakai mobilku.”
“Duh, kok aku ngga enak ya.”
“Hmm.. boleh deh, Ar. Nanti soal manajemennya aku tinggal tanya sama Iza. Dia pasti lebih paham. Kalau aku kan ngga ngerti soal itu. Beda jurusan pas kuliah,” Rina terkikik geli.
“Emang kamu kuliah ambil jurusan apa?”
“Pariwisata.”
Arnav hanya mengangguk-anggukkan kepalanya saja. Diraihnya botol berisi minuman dingin yang tadi dibawanya, kemudian meneguknya sampai habis. Dua orang karyawan Nick yang sudah selesai membereskan kedai memberitahu Arnav kalau akan menutup kedai tersebut. Pria itu kemudian mengajak Rina keluar. Dia hendak mengantar gadis itu pulang.
🍂🍂🍂
HOEK
HOEK
HOEK
Tubuh Ayura terasa lunglai, sudah lima kali dia memuntahkan isi perutnya pagi ini. Denis sampai batal pergi ke studio melihat kondisi sang istri. Seminggu yang lalu, Ayura dinyatakan hamil setelah Denis membawa sang istri ke dokter kandungan. Tentu saja pria berdarah Korea itu sangat senang mendengarnya. Begitu pula dengan Azka, anak itu senang akan memiliki seorang adik.
Ayura yang baru pertama kali hamil, cukup merasakan kerepotan. Usia kandungannya yang baru menginjak satu bulan, membuatnya harus banyak beristirahat. Dia tak bisa melakukan aktivitas seperti biasanya. Tubuhnya cepat merasa lelah, n*fsu makannya juga hilang. Dia hanya meminum susu hamil dan makan buah-buahan saja.
Dengan berhati-hati, Denis membawa Ayura kembali ke kasur. Dibaringkan tubuh istrinya itu, kemudian dia mengambil minyak kayu putih dan mengoleskannya ke perut Ayura yang masih rata. Dengan pelan, Denis mengusap perut sang istri. Perasaan mual yang tadi sempat melandanya, berangsur berkurang.
“Abang ngga ke studio?”
Panggilan Ayura pada Denis memang sudah berubah. Dia mulai memanggil suaminya itu dengan sebutan abang. Walau usianya lebih tua tiga tahun dari Denis, bagaimana pun juga pria itu adalah suaminya dan dia harus menghormatinya. Salah satunya dengan memberi panggilan abang untuk pria itu.
“Ada Fauzan yang ngurus. Nanti kalau ada job, dia pasti ngabarin.”
Denis membuka studio foto. Dia menyewa sebuah ruko dan membuka usahanya di sana. Selain studio foto, dia juga menerima panggilan jasa fotografi untuk acara wedding, ulang tahun atau acara lainnya. Sebenarnya dia ditawari pekerjaan menjadi fotografer di salah satu majalah dewasa, gajinya juga lumayan besar. Tapi pria itu menolaknya, dia tak mau menodai matanya melihat hal-hal yang terlarang untuknya.
“Kamu belum makan apa-apa loh. Makan ya, sayang.”
“Aku ngga selera, bang.”
“Dipaksain sayang. Kasihan anak kita nanti ngga dapat asupan gizi. Kamu mau apa, nanti abang cariin.”
Ayura terdiam sejenak, memikirkan kira-kira makanan apa yang bisa diterima oleh perutnya. Kemudian bayang-bayang baso dengan kuahnya yang mengepul menari-nari di pelupuk matanya. Ditambah dengan saos dan sambal, membuat air liurnya hendak menetes.
“Bang.. kayanya makan bakso enak deh.”
“Bakso? Jam segini yang udah buka di mana ya,” Denis melihat jam di pergelangan tangannya yang menunjukkan pukul sembilan pagi.
“Di deket sekolah Azka ada kios bakso, bang. Aku suka beli di sana. Rasanya enak, kok aku jadi ngiler.”
“Ya udah, abang beliin. Kamu tunggu aja di sini.”
“Ngga mau, aku mau ikut. Aku ngga rela ya, ibu-ibu teman sekelas Azka godain abang.”
“Mana ada, sayang. Kamu jangan ngadi-ngadi deh.”
“Beneran. Ada temannya Azka yang namanya Putra. Ibunya tuh suka tanya-tanya soal kamu sama Azka. Nanya bener ngga kalau kamu papanya, kok ngga mirip, nyebelin kan bang.”
“Ya udah kamu ikut aja. Ayo.”
Denis akhirnya mengabulkan keinginan sang istri untuk ikut membeli bakso yang ada di dekat sekolah Azka. Sejak hamil, kadar cemburu Ayura memang meningkat. Kalau ada perempuan yang melihatnya, pasti istrinya itu akan sewot.
Setelah memakai cardigannya, Denis membawa Ayura keluar dari rumah seraya memeluk pinggangnya. Dia membukakan pintu mobil untuk istrinya itu. Denis memang sudah menjual motornya lalu membeli mobil bekas yang masih baik kondisi mesinnya. Tak lama pria itu menjalankan kendaraannya.
Mobil milik Denis melewati rumah Abe yang hanya berselang tiga rumah saja. Kondisi rumah sang sahabat nampak sepi. Abe pasti sudah berangkat ke kantor, sedang Sansan memang sedang berada di Jakarta. Rencananya minggu depan, wanita itu akan menjalani sidang skripsinya.
Setelah berkendara selama dua puluh menit, kendaraan milik Denis sampai juga di kios bakso. Di etalase tertulis Bakso Urat Mang Dadi. Kios baru saja dibuka, namun semuanya sudah siap. Ayura melangkahkan kakinya memasuki kios. Harum aroma makanan khas Indonesia ini langsung membuat perutnya berdendang.
“Mang baksonya satu. Dimakan di sini ya. Bakso pake toge aja, mang.”
“Siap bu.”
“Abang mau?”
“Boleh.”
“Satu lagi campur ya, mang.”
Mang Dadi hanya menganggukkan kepalanya. Dia dengan cepat membuatkan pesanan langganan pertamanya. Denis memilih duduk di kursi kayu panjang, di sebelah istrinya. Tak lama masuk berturut-turut tiga orang wanita. Mereka hendak menjemput anaknya yang akan keluar sebentar lagi. Sambil menunggu bel pulang, mereka memilih menikmati bakso.
Salah satu wanita yang datang melirik ke arah Denis yang kebetulan mejanya berada di depannya. Wajah tampan Denis yang mirip aktor Korea tentu saja langsung menarik perhatian wanita itu. Dia langsung melemparkan senyuman begitu Denis melihat ke arahnya.
Denis hanya membalas dengan senyuman tipis. Dia menerima mangkok berisi bakso, lalu memberikannya satu pada Ayura. Mata Ayura nampak berbinar. Diraihnya botol kecap, saos dan sambal lalu menuangkannya ke dalam mangkok.
“Jangan banyak-banyak sambelnya, sayang. Nanti kamu sakit perut. Kasihan calon anak kita.”
“Iya, bang.”
Tak banyak sambal yang dimasukkan Ayura ke dalam mangkok, hanya dua sendok kecil saja. Kemudian dia mulai menikmati makanan berbentuk bulat tersebut. Saking semangatnya makan, kuah bakso sampi meleber ke dagunya. Denis mengambil tisu lalu mengusapnya. Tindakan Denis itu karuan saja membuat tiga wanita yang tengah menunggu pesanan bakso ikutan baper. Seandainya mereka memiliki suami setampan dan seromantis Denis, pasti tidak akan diijinkan keluar rumah.
Denis baru saja menghabiskan baksonya ketika mendengar suara bel sekolah, pertanda anak kelas satu sudah diperbolehkan pulang. Dia beranjak dari tempatnya lalu bergegas menuju sekolah untuk menjemput Azka.
Ketika memasuki gerbang sekolah, matanya berkeliling mencari sosok anaknya. Akhirnya dia menemukan Azka yang tengah berdiri di dekat tiang basket. Di sampingnya ada seorang teman sekelasnya dan seorang wanita. Denis bergegas mendekatinya.
“Azka.. Kok papamu ngga mirip sama kamu?” tanya wanita itu. Dia adalah wanita yang tadi diceritakan Ayura pada Denis.
“Kan aku mirip mama,” jawab Azka.
“Masa sih? Kamu kayanya ngga terlalu mirip juga sama mamamu.”
“Mirip siapapun dia, itu tidak penting. Yang penting dia anak kami.”
Wanita itu terjengit ketika mendengar suara di sampingnya. Azka langsung menghambur ke arah Denis. Beberapa kali wanita itu berdehem untuk menghilangkan perasaan tak enaknya, karena ketahuan sudah mencecar Azka dengan pertanyaan yang tak penting.
“Maaf bu, lain kali mohon untuk tidak bertanya hal-hal seperti itu pada anak saya. Bagaimana kalau anak ibu yang ada di posisi Azka. Apa ibu akan menerimanya?”
“Maaf pak. Saya ngga bermaksud.”
“Kali ini saya maafkan, bu. Tapi kalau lain kali ibu masih melakukan hal yang sama, saya tidak akan tinggal diam.”
“Iya, pak. Maaf.”
“Ayo Azka.”
“Mama mana pa?”
“Ada di warung bakso. Azka mau bakso ngga?”
“Ngga.. Azka mau burger.”
“Ayo kita beli burger.”
Azka tersenyum senang. Sambil menggandeng tangan papa sambungnya itu, dia berjalan keluar gerbang sekolah. Ayura yang sudah selesai makan dan membayar pesanan menunggu di dekat mobil. Ketiganya langsung masuk ke dalam kereta besi tersebut. Roda kendaraan itu segera berputar meninggalkan area sekolah.
🍂🍂🍂
Sekarang tinggal happy moment aja nih, karena sudah hampir menuju ending. Yang nunggu papai Edo sama adiknya harap bersabar ya. Bentar lagi mereka nongol, ok😉