The Nick's Life

The Nick's Life
Hantu Valak



Seorang bocah berusia sepuluh tahun yang biasa berjualan asongan di dekat kampus, menghampiri Iza yang baru saja menyelesaikan kuliahnya. Dia memberikan amplop coklat di tangannya, kemudian berlalu pergi. Dengan bingung, Iza membuka amplop di tangannya. Gadis itu terkejut melihat isi di dalamnya.


Iza memasukkan kembali lembaran foto ke dalam amplop kemudian segera memesan ojek online melalui ponselnya. Tak butuh waktu lama bagi Iza menunggu ojek pesanannya. Pria paruh baya berjaket hijau memberikan helm pada Iza, kemudian melajukan kendaraan roda duanya menuju titik sesuai pesanan.


Motor berplat B itu berhenti di depan sebuah coffe shop. Iza turun dari motor kemudian menyerahkan helm yang tadi digunakannya. Wayan yang telah mengenalkan Iza, mempersilahkan gadis itu masuk, sedang dirinya meneruskan acara merokoknya sambil berbicara dengan temannya.


Nick yang tengah meracik kopi terkejut melihat kedatangan Iza. Setahunya hari ini tak ada janji temu antara dirinya dengan gadis itu. Nick menyelesaikan pekerjaannya kemudian menghampiri Iza yang sudah duduk manis di depan meja bar. Nick menarik kursi kemudian duduk di samping kekasihnya itu.


“Tumben ke sini ngga bilang dulu. Bukannya masih ada kuliah?”


“Udah selesai. Dosennya cuma ngasih tugas aja.”


“Hmm.. mau kopi?”


“Ngga ah.”


“Udah makan belum?”


“Belum. Lagi ngga nafsu makan.”


“Kenapa? Diet? Ngga usah diet, aku cinta kamu apa adanya kok.”


“Gombal.”


Nick tergelak, dia selalu tak bisa menahan tawanya saat Iza membalas perhatian atau pujiannya dengan kata gombal. Iza memberikan amplop coklat yang dibawanya tadi. Nick memandangi Iza, dengan isyarat mata, gadis itu meminta Nick membukanya. Dengan cepat Nick membuka amplop lalu mengeluarkan isinya.


Mata Nick membulat melihat beberapa lembar foto dirinya dengan Amelia saat di cafe dua hari yang lalu. Sialnya, foto itu seperti memperlihatkan dirinya tengah beradegan mesra dengan anak dari Sakurta itu. Foto saat Amelia memegang lengannya, saat Nick menangkap tubuh Amelia yang hendak terjatuh, saat Amelia berpegangan pada bahunya dan juga saat mereka saling memandang.


“Siapa yang kasih ini ke kamu?”


“Ngga tahu. Tadi Pepen, anak yang jual asongan deket kampus yang kasih ke aku.”


“Zi.. ini ngga seperti yang kamu bayangkan. Kejadiannya ngga seperti ini. Dua hari yang lalu Amelia emang datang ke sini minta bantuan untuk menaikkan pemasukan hotel dan menggaet kembali klien yang membatalkan kerjasama. Itu pun cuma sebentar karena aku ngga terlalu menanggapi. Kejadian di foto itu pas aku nolong dia waktu mau jatuh, itu aja. Kalau ngga percaya, tanya aja Wayan. Dia lihat kok waktu aku ngobrol sama Amelia.”


“Kejadian mungkin aja seperti yang kamu katakan. Tapi dalam hati kalian cuma Allah dan kalian yang tahu, iya kan.”


“Astaghfirullah.. ngga Zi, aku ngga punya perasaan apa-apa sama dia.”


“Terus ngapain dia minta tolong sama kamu? Emangnya dia ngga punya pegawai lain apa? Lagian kamu juga udah dipecat. Kayanya ada udang dibalik nasi.”


“Bakwan Zi, bukan nasi.”


“Udah ganti, minyak mahal makanya bakwan diganti nasi.”


Nick men**lum senyum melihat Iza yang masih sempat membalas candaannya di tengah-tengah interogasi yang dilakukannya. Nick meletakkan tangannya di atas meja dengan membentuk siku untuk menyangga kepalanya. Dia melihat ke arah Iza yang masih memasang wajah cemberut.


“Jangan ngambek dong. Aku beneran ngga ada apa-apa sama Amelia. Dia tuh ngga ada apa-apanya dibanding kamu. Please.. jangan cemburu kaya gini.”


“Siapa yang cemburu? Kegeeran.”


“Terus kalau bukan cemburu, apa dong?”


“Gedeg!”


“Hahaha... ayo, kalau kamu ngga percaya, aku bisa lihatin cctv di ruangan ini.”


“Ngga usah. Bikin tambah gondok lihat adegan mesra kalian.”


“Astaghfirullahaladziim.. Ya Allah tolonglah hamba-Mu ini.”


Nick menepuk keningnya kemudian menengadahkan kedua tangannya. Diam-diam Iza tersenyum melihat reaksi Nick. Sebenarnya dia juga tidak percaya dengan foto yang diterimanya. Hanya saja gadis itu ingin melihat saja, sampai di mana kejujuran Nick dan reaksi pria itu.


“Kamu udah selesai?”


“Hmm.. belum sih. Kenapa?”


“Ya udah terusin aja. Aku mau pergi dulu.”


“Kemana? Pulang?”


“Ngga.. mau ketemu sama Sephia kamu.”


Iza menyambar tasnya kemudian turun dari kursi bulat yang didudukinya. Nick yang terkejut segera mengejar kekasihnya itu yang hampir mencapai pintu keluar.


“Kamu mau ketemu Amelia?”


“Wow berarti beneran ya Amelia itu Sephia kamu.”


“Ya salam Zi.. kita kan emang lagi bahas dia tadi.”


“Kalau iya kenapa? Kamu takut kalau hubungan kalian terbongkar?”


“Aku antar kalau kamu mau ketemu dia.”


“Ngga usah, aku bisa sendiri.”


“Nurut Zi! Amelia itu bukan orang sembarangan, aku takut dia malah celakain kamu.”


Iza tercenung melihat wajah serius Nick serta nada bicaranya yang penuh penekanan. Terlihat sekali kalau pria di hadapannya ini tak ingin dibantah. Akhirnya gadis itu hanya menganggukkan kepalanya.


Nick kembali ke tempatnya biasa meracik kopi. Setelah melepas celemek dan mengambil tas ranselnya, dia segera kembali ke tempat Iza menunggu. Setelah itu keduanya pergi meninggalkan cafe. Tak lupa Nick berpamitan pada Wayan yang masih betah mengobrol di depan cafe.


Butuh waktu hampir empat puluh menit untuk sampai di hotel Ambrossia Hills. Kepadatan lalu lintas Jakarta memang membuat waktu perjalanan sedikit lebih lama, padahal jarak antara coffie shop dengan Ambrossia Hills tidak terlalu jauh. Tapi untuk sampai ke sana harus berbalik arah dan melewati daerah rawan kemacetan.


Beberapa pegawai yang melihat kedatangan Nick, menganggukkan kepalanya tanda hormat. Setelah pemulihan nama baiknya, banyak karyawan yang bersimpati bahkan menaruh respect pada pria ini. hujatan justru beralih pada Ranti, mantan asistennya Nick yang telah dipecat secara tidak hormat.


Nick langsung membawa Iza menuju lantai di mana kantor Amelia berada. Sebelumnya Nick sempat menanyakan keberadaan Amelia pada Hilman. Sesampainya di lantai tujuan, mereka berdua segera menuju meja sekretaris yang berada di dekat pintu ruangan direktur utama.


“Selamat siang pak Nick,” sapa sang sekretaris.


“Siang. Bu Amelianya ada?”


“Ada pak. Apa sudah buat janji?”


“Bilang saja saya mau bertemu.”


Sekretaris itu mengangguk lalu segera menghubungi Amelia. Mendengar kedatangan Nick, tentu saja membuat Amelia bahagia. Dia langsung meminta sekretarisnya mengantar Nick ke dalam ruangan.


“Bapak ditunggu ibu di dalam, mari pak.”


Ucapan Iza sontak menghentikan langkah Nick. Sekretaris Amelia yang mendengar julukan Iza untuk atasannya berusaha menahan senyum yang hendak mengembang. Kalau boleh jujur, dia juga tak menyukai Amelia yang arogan dan juga otoriter. Tak ingin berdebat dengan Iza, Nick membiarkan saja gadis itu masuk tanpanya.


Senyum Amelia surut begitu tahu kalau yang datang bukanlah Nick melainkan Iza. Dia bangun dari duduknya lalu mempersilahkan Iza untuk duduk di sofa. Amelia memberi isyarat untuk sang sekretaris meninggalkan ruangan. Wanita itu mengambil tempat di hadapan Iza. Amelia duduk sambil memangku sebelah kaki dan melipat kedua tangannya di depan dada. Gayanya benar-benar angkuh.


“Ada apa ingin bertemu denganku? Siapa kamu? Apa kita kita saling kenal?”


“Aku datang hanya ingin mengembalikan ini,” Iza menaruh amplop coklat di atas meja lalu sedikit menggeser ke arah Amelia.


“Kita memang tidak saling kenal. Tapi sepertinya kamu tahu aku, benar begitu bu Amelia?”


“Kamu siapa?”


“Aku Azizah, calon istri dari laki-laki yang ada di dalam foto itu.”


Amelia hanya berdecih mendengar kata-kata Iza. Tak ada niat untuk membuka amplop tersebut, karena memang dia yang telah mengirimkan foto-foto tersebut pada Iza. Tujuannya sudah pasti untuk merusak hubungan keduanya.


“Foto-foto itu memang aku yang mengirimnya untuk menyadarkanmu, kalau Nick bukanlah laki-laki yang baik. Dia berjanji menikahimu tapi bermain api dibelakangmu.”


“Justru aku datang ke sini untuk menyadarkanmu, mungkin saja kamu tidak bisa membedakan antara khayalan dengan kenyataan. Aku sudah tahu apa yang terjadi sebenarnya. Aku sudah melihat rekaman cctv di coffie shop tempat kamu bertemu dengan Nick. Terima kasih sudah mengingatkanku kalau ada perempuan tidak tahu malu yang mencoba merebut Nick dariku. Aku peringatkan padamu, jauhi Nick karena aku tidak akan membiarkan siapapun mengganggu hubungan kami.”


“Hah.. masih bocah ingusan saja sudah berani mengancamku.”


“Ngga masalah disebut bocah ingusan oleh hantu valak. Aku anggap itu sebagai pujian, terima kasih. Aku peringatkan, jangan temui Nick lagi. Dia bukan pegawaimu lagi, kamu sudah memecatnya dengan tidak hormat. Cari saja orang lain yang bisa membantumu,” Iza bangun dari duduknya, bermaksud untuk pergi.


“Ah ya.. aku lupa.”


Iza mengambil amplop coklat dari atas meja lalu mengeluarkan isinya. Dia merobek menjadi dua bagian foto-foto Nick dengan Amelia. Gadis itu mengambil foto yang memperlihatkan wajah dan Nick dan menaruh kembali bagian foto yang memperlhatkan wajah Amelia.


“Maaf, foto ini aku ambil. Aku ngga sudi perempuan sepertimu memiliki foto Nick. Cepatlah bangun dari tidurmu, jangan bermimpi terlalu lama.”


Iza melangkahkan kakinya keluar dari ruangan dengan santai. Puas hatinya sudah membuat Amelia dongkol setengah mati.


“Aaarrgghh.. brengsek! Awas aja kamu Iza. Aku akan buatmu menyesal karena sudah berani menghinaku.”


Amelia kembali ke mejanya kemudian mengambil ponsel yang tergeletak di atasnya. Dia segera menghubungi salah satu anak buahnya. Tak butuh waktu lama untuk mendengar jawaban dari seberang.


“Halo.”


“Jalankan rencana B, sekarang!”


“Baik bu,” panggilan pun terputus.


“Lihat saja Iza, siapa yang akan tertawa terakhir,” gumam Amelia seraya menampilkan senyum smirknya.


Nick menyambut Iza yang baru saja keluar ruangan Amelia. Tanpa banyak bicara, gadis itu segera mengajak Nick pergi. Mereka segera memasuki lift yang sudah terbuka pintunya.


“Sekarang mau kemana?”


“Makan, aku laper.”


“Jadi udah laper nih sekarang.”


“Hem.. ternyata menghempaskan valakor tuh butuh tenaga juga.”


“Hahaha...”


Nick hanya bisa tergelak mendengar ucapan Iza. Tangannya terangkat hendak mengusak puncak kepala gadis itu tapi segera diurungkannya. Dirinya terus berusaha menyabarkan diri untuk tidak menyentuh sang gadis sebelum halal untuknya.


🍂🍂🍂


Jam lima sore, Nick sampai di kediaman Rahardi. Sehabis makan, dia mengajak Iza melihat-lihat perabotan yang nantinya akan digunakan untuk coffee shopnya. Kedatangan mereka disambut oleh Rahardi yang sepertinya sudah menunggu. Pria itu meminta Iza juga Nick untuk duduk. Bahkan sang istri pun diminta untuk bergabung.


“Bagaimana kabarmu Nick?”


“Alhamdulillah baik om.”


“Sudah dapat pekerjaan?”


“Saya masih bersiap-siap untuk buka usaha. In Syaa Allah dalam waktu dekat akan segera terealisasi.”


“Syukur Nick, ummi senang mendengarnya.”


Wajah Mina terlihat sumringah mendengar laki-laki yang dicintai anaknya itu sudah akan memulai usahanya. Rahardi berdehem untuk menghentikan pembicaraan Nick dengan istrinya.


“Ayahmu masih hidup?”


Baik Nick maupun Iza cukup terkejut mendengar pertanyaan Rahardi. Mereka menebak-nebak. Ke arah mana pembicaraan ini akan bergulir.


“Kalau ayah kandung saya, jujur saya tidak tahu keberadaannya. Dia dan mommy berpisah sudah lama. Bahkan dia tidak tahu kalau mommy sedang hamil waktu itu.”


“Apa dia orang Indonesia atau bukan? Dilihat dari wajahmu, sepertinya kamu keturunan campuran.”


“Dia warga negara Brasil, om.”


Rahardi hanya mengangguk-anggukkan kepalanya. Sekilas dia melihat pada Iza yang wajahnya sedikit menegang. Berbeda dengan Nick yang masih terlihat santai.


“Apa ibumu menikah lagi?”


“Mommy pernah menikah dua kali. Yang pertama bercerai, yang kedua, suaminya meninggal.”


“Lalu sekarang?”


“Masih belum menikah lagi om.”


Rahardi mengambil amplop coklat yang disembunyikan dibalik punggungnya kemudian mengeluarkan isinya. Dia menaruh tiga buah foto berisi gambar Diah bersama Sakurta, Burhan dan juga John Smith.


“Maksudmu, ibumu belum menikah lagi karena sedang menjadi wanita simpanan dari ketiga laki-laki ini?”


🍂🍂🍂


Nah loh...


Bukan gue loh yang bilang ke bokapnya Iza, suwerrrrr✌️✌️✌️


Kabuurrr aaahh🚴🚴🚴🚴