
“Selesai?” tanya Rega ketika Bila keluar dari ruangan dokter Rafli. Gadis itu menganggukkan kepalanya. Rega berdiri kemudian berjalan beriringan dengan Bila, keluar dari gedung rumah sakit.
Sejak Rega mengetahui Bila adalah sahabat dari mendiang tunangannya, hubungan keduanya mulai dekat. Ternyata mereka mempunyai banyak kesamaan dan juga memiliki hobi yang sama. Rega juga sudah berkenalan dengan Kyai Ahmad dan sering berkunjung ke pesantren untuk mengikuti tabligh akbar atau acara lain.
“Sekarang mau kemana?”
“Makan. Aku laper banget,” jawab Bila seraya memegangi perutnya.
“Mau makan di mana?”
“Di Zicko Coffee, yuk.”
“Kamu ke sana mau makan atau mau lihat Nick?” goda Rega.
“Iihh.. mas Rega nyebelin.”
Rega terkekeh melihat wajah cemberut Bila. Sudah bukan rahasia lagi kalau keduanya jatuh cinta pada pasangan suami istri itu. Rega pada Iza dan Bila pada Nick. Namun seiring berjalannya waktu, perasaan itu mulai memudar. Bahkan kini Rega sudah memiliki tambatan hati yang baru, yakni Bila.
Keduanya memasuki mobil milik Rega yang terparkir. Dan tak berapa lama kendaraan roda empat itu meluncur pergi. Membelah jalanan kota Bandung yang terlihat gersang karena terik matahari.
“Aku penasaran makan di Zicko. Kata temanku enak-enak menunya.”
“Yang masak Rina bukan?”
“Bukan. Kalau Rina kan buka catering bareng si Polisi India.”
“Hahahaha.. kamu tuh kenapa sih, sensi banget sama Arnav.”
“Dia tuh nyebelin banget. Sinis aja bawaannya sama aku. Heran, laki kok nyinyir.”
Rega tak bisa berhenti tertawa melihat sikap Bila jika sedang membicarakan Arnav. Seperti yang memendam dendam kesumat. Entah bagaimana jadinya jika keduanya terikat dalam pernikahan. Pasti akan seru setiap harinya akan diwarnai pertengkaran layaknya Tom and Jerry.
Setelah menempuh perjalanan hampir dua puluh menit, mobil yang dikendarai Rega sampai juga di Zicko Coffee. Udara sejuk dan suasana ramai langsung terasa ketika keduanya memasuki area kedai. Nampak Nick tengah sibuk membuatkan pesanan pelanggan. Rega dan Bila langsung menuju meja yang kosong.
Melihat kedatangan Bila dan Rega, Iza yang baru selesai mengurus pembayaran salah seorang pelanggan, langsung menghampiri keduanya dengan buku menu dan notes di tangannya.
“Selamat datang, mau pesan apa?” Iza menyerahkan buku menu di tangannya yang langsung diambil oleh Bila.
“Yang pasti aku mau makan, Zi. Perutku laper banget.”
“Iya, Zi. Kalau pepes paus ada ngga? Kayanya dia baru kenyang kalau dikasih menu itu.”
Bila mencebikkan bibirnya ke arah Rega sambil terus memperhatikan buku menu. Iza tertawa kecil mendengar guyonan Rega. Dokter mata itu ternyata memiliki selera humor juga. Disangkanya Rega adalah tipe yang serius.
“Aku pesan sapo tahu sama ayam mercon, jangan lupa nasinya. Terus minumnya iced lemon tea,” ujar Bila seraya menyerahkan buku menu pada Rega.
“Aku pesan sapi lada hitam sama nasi. Minumnya samain aja sama Bila.”
“Ok deh. Dua nasi putih, sapo tahu, ayam mercon, sapi lada hitam sama dua iced lemon tea. Ada tambahan lagi?” Iza mengulangi pesanan pelanggannya.
“Itu aja dulu. Please jangan pake lama ya, Zi. Aku udah kelaperan stadium akut.”
“Oke deh. Ditunggu ya.”
Setelah mencatat pesanan, Iza segera meninggalkan pasangan itu kemudian menuju dapur untuk memberikan pesanan pada staf kitchen. Wanita itu segera kembali ke tempatnya karena sudah ada pelanggan yang hendak membayar pesanannya.
Sambil menunggu pesanan, Rega dan Bila asik berbincang. Ada saja bahan pembicaraan antara dua orang itu. Terkadang terdengar tawa mereka saat membahas hal yang lucu. Dari balik bar table, Nick melihat ke arah pasangan tersebut. Senyum mengembang di bibirnya dan berharap keduanya berjodoh.
“Bil.. kamu benar udah ngga ada perasaan lagi sama Nick?”
“Mas Rega ngapain sih nanyain itu terus? Mas Rega sendiri gimana? Masih suka ngga sama Iza?”
“Ya udah ngga lah. Aku kan ngga mau jadi pebinor.”
“Ya sama mas. Aku juga ngga mau jadi pelakor. Emang laki-laki Nick doang apa.”
“Ya baguslah kalau kamu udah bisa move on. Kalau memang kamu sudah tidak ada perasaan lagi sama Nick, bagaimana kalau kita mencoba ke tahap yang lebih serius?”
“Maksud mas?”
“Kamu tahu usiaku sudah tidak muda lagi. Tahun depan usiaku sudah 31 tahun. Dan aku mau mengakhiri masa lajangku tahun ini. Kalau kamu tidak keberatan, aku mau penjajagan sama kamu.”
Bila terdiam mendengar penuturan Rega yang lugas tanpa basa-basi. Sebenarnya dia juga sudah memiliki perasaan lain pada pria di hadapannya ini. Namun Bila tidak mau gegabah dan patah hati untuk kedua kali.
“Kalau emang mas serius, silahkan bicara sama abah.”
Senyum terbit di wajah tampan Rega. Tekadnya untuk mengakhiri masa lajang bersama dengan Bila sudah bulat. Dia yakin wanita di hadapannya ini bisa menjadi istri dan ibu yang baik untuk calon anaknya kelak. Perbincangan keduanya terjeda saat pelayan mengantarkan pesanan mereka. Tanpa merasa malu, Bila langsung melahap makanan di depannya.
“Ya ampun enak banget ini sapo tahunya. Mas mau coba ngga?”
“Boleh.”
Bila menyendokkan sapo tahu ke dalam piring Rega. Kepala pria itu mengangguk ketika lidahnya merasakan hal yang sama seperti Bila. Perbincangan kembali berlanjut di sela-sela acara makan mereka. Rega mengatakan akan melamar Bila secepatnya. Rencananya minggu depan, dia akan berangkat ke Jakarta untuk menemui kedua orang tuanya.
🍂🍂🍂
Tiga bulan kemudian
Rina berdiri di depan sebuah rumah berukuran sedang. Di depannya terdapat plang berwarna putih bertuliskan AR CATERING. Gadis itu masih belum percaya kalau akhirnya dia dan Arnav berhasil merintis usaha catering bersama-sama. Sekarang dia sudah mempunyai empat orang karyawan yang membantunya di dapur dan seorang supir yang bertugas mengantar pesanan.
Di sebelahnya, Arnav juga terus menatap ke arah plang putih itu. Singakatan AR berasal dari nama mereka berdua, Arnav dan Rina. Jika usaha cateringnya berkembang dengan baik, bukan tidak mungkin dia pun akan mengundurkan diri dari pekerjaan yang sudah digelutinya selama tiga tahun.
“Malah bengong. Buruan potong pitanya,” seru Abe membuyarkan lamunan kedua pemilik catering tersebut.
Arnav memberikan gunting di tangannya pada Rina. Dia mempersilahkan wanita itu yang menggunting pita sebagai tanda dibukanya usaha catering ini secara resmi. Dengan dada berdebar, Rina mendekati pita. Seraya mengucapkan basmalah, gadis itu menggunting pita berwarna biru muda itu. Tepukan tangan beserta kalimat hamdalah langsung terdengar setelahnya.
Arnav mempersilahkan semua yang datang ke acara pembukaan sederhana ini untuk masuk ke dalam rumah. Di sana sudah tersedia aneka camilan yang dibuat sendiri oleh Rina. Dan di bagian lain, di atas meja prasmanan sudah tersedia makanan berat dengan beberapa menu.
“Selamat ya, bro. Akhirnya bisa buka usaha sendiri juga,” Abe menepuk pundak sahabatnya.
“Gue doain usaha lo maju biar ngga jadi kacung orang lagi,” sambung Denis.
“Jadi pemilik usaha sendiri walau kecil itu lebih enak dari pada kerja di bawah orang lain,”lanjut Fahrul.
“Usaha udah resmi, sekarang tinggal resmiin hubungan lo sama Rina. Mumpung ada abahnya, sana lamar,” cetus Nick yang langsung diangguki oleh yang lain.
Tak ada tanggapan dari Arnav atas ucapan sahabat-sahabatnya barusan. Mata pria itu terus menatap ke arah Rahman yang tengah berbincang dengan Rahardi, Anton dan Bryan. Seiring kebersamaannya dengan Rina. Tak bisa dipungkiri kalau benih-benih cinta mulai tumbuh di hatinya. Namun dia masih belum berani melangkah maju, begitu banyak yang menjadi pertimbangan pria itu.
Dari arah pintu, terlihat Rega dan Bila masuk. Rina langsung menyambut kedatangan mereka dengan senang. Gadis itu mengajak pasangan itu untuk menikmati hidangan yang disediakan. Dengan semangat empat lima, Bila segera menuju meja prasmanan. Dia menelan ludah melihat aneka masakan lezat yang tersaji.
Melihat kedatangan Rega dan Bila, Arnav segera mendekat. Sikapnya pada Bila sudah tak sedingin dulu setelah mengetahui hubungan gadis itu dengan Rega. Hatinya tenang mengetahui Bila tidak menjadi duri dalam pernikahan sahabatnya.
“Selamat datang,” sapa Arnav sambil menyalami Rega.
“Ya ampun Rin, aku sampe bingung mau milih yang mana. Makanannya enak semua kayanya,” ujar Bila.
“Makan semuanya juga boleh asal jangan sama piringnya aja ditelen,” seloroh Arnav yang hanya dibalas delikan oleh Bila.
“Sebenarnya maksud kedatangan kita ke sini selain memenuhi undangan kalian. Kita juga mau tanya kira-kira kalian bisa menangani catering untuk pernikahan?”
“Ya pasti bisa dong. Siapa yang mau nikah?”
“In Syaa Allah, aku sama Bila akan menikah bulan depan. Acaranya di pesantren. Kami mau pesan makanan dari kalian kalau tidak keberatan.”
“Dengan senang hati kami pasti akan membantu mempersiapkan semuanya dengan baik. Spesial buat pelanggan pertama, aku kasih diskon buat kalian.”
“Soal menunya langsung aja ke Rina.”
Perasaan Rina tentu saja senang bukan kepalang. Keinginannya untuk menangani catering pernikahan akhirnya dapat terealisasi dalam waktu dekat. Sebagai pelanggan pertamanya, tentu saja Rina akan memberikan pelayanan baik untuk mereka. Dia langsung mengajak Rega dan Bila berbicara tentang pilihan menu yang ditawarkan.
Arnav baru saja akan kembali pada para sahabatnya ketika Rahman mendekatinya. Dada pria itu berdebar kencang melihat pria bersahaja itu semakin mendekat kepadanya. Perasaan gugup Arnav mengurai ketika melihat senyum pria paruh baya itu.
“Arnav ya,” sapa Rahman.
“I.. iya om,” Arnav meraih tangan Rahman kemudian mencium punggung tangannya.
“Jangan panggil om. Panggil saja abah.”
“I.. iya abah.”
Kegugupan yang tadi sempat menghilang kembali datang. Ini kali pertama bersitatap langsung dan berbicara dengan Rahman. Walau dia sempat mendengar kalau Rahman adalah sosok yang ramah, namun tak ayal pria itu merasa gugup juga.
“Terima kasih ya, nak Arnav. Sudah mau membantu Rina. Awalnya abah takut dia masih kecewa karena pernikahannya yang batal. Alhamdulillah, kondisinya sekarang malah jauh lebih baik, bahkan sudah bisa menghasilkan uang sendiri.”
“Alhamdulillah, abah. Pada dasarnya Rina pintar masak, rasa masakannya enak dan sayang saja kalau tidak kemampuannya itu tidak dimanfaatkan sebaik mungkin.”
“Sejak dulu Rina memang paling suka memasak. Dia belajar masak bukan hanya dari ambunya, tapi dari orang lain juga. Ngga heran kalau dia bisa memasak berbagai macam masakan.”
“Iya, bah. Pasti yang jadi suaminya nanti bakalan betah diam di rumah, punya istri cantik yang pintar masak juga.”
Ingin rasanya Arnav menarik lidahnya yang keceplosan bicara. Takut-takut dia melirik ke arah Rahman. Pria itu malah tertawa mendengar penuturan pria di sebelahnya. Dia sudah banyak mendengar tentang Arnav dari Rina, Iza maupun Nick.
“Nak Arnav ngga berminat gitu sama anak abah?”
“Hah?” Arnav terkejut mendengar penuturan Rahman, membuat pria itu terkekeh.
“Kata Nick, nak Arnav suka sama Rina.”
Uhuk.. uhuk..
Arnav terbatuk mendengarnya. Dia benar-benar dibuat mati kutu oleh Rahman. Sambil merangkul bahu Arnav, Rahman mengajak pria itu duduk di kursi. Dari istrinya, Rahman mendengar kalau Rina juga menyukai Arnav. Sebagai orang tua yang baik, tentunya dia harus menjembatani hubungan kedua insan itu.
“Kalau nak Arnav benar menyukai Rina dan serius ingin menikahinya. Abah tunggu kamu dan orang tuamu melamar Rina.”
“Be.. benar abah? A.. abah ngga malu punya menantu seperti saya?”
“Malu? Apa yang membuat abah merasa malu padamu?”
“Sa.. saya punya masa lalu buruk, abah. Saya bukan pria baik, saya sering bermain dengan perempuan,” Arnav mengusap tengkuknya dengan kepala tertunduk saking malunya. Namun dia harus mengatakan hal ini secara langsung pada Rahman. Arnav tak mau kalau sampai pria itu mendengarnya dari orang lain.
“Simpan saja masa lalumu, kita hidup untuk masa sekarang dan masa depan bukan masa lalu. Yang abah tahu, Arnav yang sekarang adalah pria yang baik, pekerja keras dan In Syaa Allah soleh. Jadikan masa lalu yang kelam sebagai pelajaran supaya kamu bisa mendidik anak-anakmu tidak mengikuti jejakmu yang dulu.”
“Abah benar mengijinkan saya untuk melamar Rina?”
“Iya. Abah tunggu lamaranmu secepatnya.”
“Alhamdulillah, makasih abah.”
Arnav memegangi tangan Rahman dengan kedua tangannya. Segurat senyum menghiasi wajah yang sudah mulai dipenuhi oleh keriput itu. Di sisi lain, ingin rasanya Arnav berteriak mengeluarkan kebagaiaan yang dirasakannya. Tanpa bersusah-susah mencari cara untuk mengambil hati calon mertuanya, Rahman sendiri yang menawarkan untuk menjadi menantunya.
🍂🍂🍂
Acara pembukaan usaha katering selesai sudah. Semua yang datang juga sudah banyak yang pulang. Begitu pula dengan Rina yang memilih pulang bersama dengan kedua orang tuanya. Mereka segera menuju kediaman Nick untuk beristirahat, sedang Anton diajak menginap Bryan di rumahnya. Hanya tersisa para sahabat berikut istri mereka.
Tentu saja Arnav langsung menceritakan pembicaraannya dengan Rahman tadi. Semua sahabatnya tentu saja ikut berbahagia karena sahabat mereka sebentar lagi akan menanggalkan status jomblonya. Demi merealisasikan pernikahan secepatnya, Arnav segera menghubungi kedua orang tuanya yang berada di Lahore. Pria itu mencari tempat yang tenang untuk berbicara dengan sang ayah.
Setelah menghubungi orang tuanya, Arnav kembali berkumpul dengan para sahabatnya. Wajah Arnav yang tadi berseri-seri berubah menjadi sendu. Tentu saja hal tersebut menjadi pertanyaan para sahabatnya.
“Kenapa? Kok muka lo jadi anyep gini?” tanya Fahrul.
“Udah telepon bokap?” tanya Abe.
“Udah.”
“Terus kenapa tuh muka loyo gitu? Jangan-jangan lo dijodohin ya sama ortu lo?”
terka Nick.
“Ngga lah.”
“Lah terus kenapa?” cecar Denis yang tak sabar melihat sahabatnya itu masih saja bungkam.
Bukannya menjawab pertanyaan, Arnav malah menarik nafas panjang seraya menyandarkan punggungnya ke sandaran sofa. Matanya menatap lurus ke langit-langit, membuat semua yang ada di dekatnya semakin penasaran.
“Gue tadi telepon bokap dan cerita soal gue sama Rina. Gue juga bilang udah buka usaha sama Rina dan minta mereka nemenin gue buat ngelamar Rina secepatnya. Tapi bokap malah bilang, lakukan aja sendiri karena bulan depan adek gue mau nikah. Mereka sibuk dan ngga bisa dateng ke sini. Sebenernya gue anak mereka bukan? Atau jangan-jangan gue cuma anak pungut.”
Semua terdiam mendengar penuturan Arnav. Kecuali Nick, semua sahabatnya masih mengingat bagaimana kedua orang Arnav memperlakukan sahabatnya itu berbeda dari kedua adiknya. Arnav yang frustrasi karena selalu diabaikan akhirnya terjerumus pada pergaulan yang salah dan semakin membuat orang tuanya menjauh. Sampai akhirnya mereka memutuskan kembali ke Lahore tanpa mengajak pria itu.
“Ngga usah diambil pusing. Lo masih punya mommy, daddy dan kita. Kita semua keluarga lo,” Nick merangkul bahu sahabatnya ini.
“Iya Ar, lo ngga usah bingung gitu. Masih ada kita-kita. Nanti biar kita yang temenin lo ngelamar Nina,” Fahrul ikut memberi dukungannya.
“Betul itu. Jangan karena masalah ini, lo jadi mundur dan patah semangat. Tunjukkin sama ortu lo, walau tanpa mereka lo masih bisa bahagia,” sambung Denis yang merasa senasib sepenanggungan seperti Arnav.
“Kalau perlu nanti gue nyewa grup tagonian buat nganter lo ngelamar Rina. Biar tambah rame,” celetuk Abe yang langsung disambut gelak tawa yang lain.
Arnav tersenyum bahagia mendengar penuturan para sahabatnya. Selalu saja mereka yang ada di sampingnya, menghibur dan mengembalikan semangatnya saat dirinya terpuruk.
🍂🍂🍂
Seperti biasanya, setiap menjelang akhir pekan kedai kopi Nick selalu dipenuhi oleh pengunjung. Dengan semakin beragamnya menu yang ditawarkan, membuat kedai kopi ini memiliki pengunjung tetap setiap harinya. Terlebih lagi rasa makanan yang ditawarkan memang lezat. Dan harganya pun masih bisa dijangkau untuk kalangan mahasiwa.
Nick juga sudah memperluas area kedainya. Lantai dua yang semula hanya dijadikan gudang untuk menyimpan kopi dan kantor disulap menjadi ruangan kedai, hingga bisa menampung pengunjung lebih banyak lagi. Gudang untuk menyimpan kopi dipindahkan ke bawah, dekat dengan dapur. Sedang kantor untuk mengurus administrasi dan pembukuan dipindahkan ke lantai tiga. Di sana juga dibuatkan selasar untuk pengunjung yang ingin mengadakan acara ulang tahun.
Setiap harinya Iza yang membantu Nick mengurus masalah administrasi dan pembukuan. Oleh karenanya pria itu berencana menyediakan lift khusus untuk turun naik dari lantai tiga ke lantai satu. Nick tak ingin istrinya lelah turun naik tangga. Apalagi di saat ramai pengunjung seperti hari ini.
Pelayan di kedai pun sudah bertambah jumlahnya. Yang awalnya hanya dua, kini sudah ada empat orang, ditambah dua orang di dapur. Total Nick mempunyai enam orang pegawai. Dia bersyukur usaha kedai kopinya semakin lama semakin maju. Pria itu pun mulai menabung, berjaga-jaga jika dirinya dan Iza dipercaya memiliki momongan lagi dalam waktu dekat.
Di tengah keramaian kedai dan kesibukan para pegawai, pintu kedai terbuka. Nick yang tengah fokus membuatkan pesanan, sama sekali tidak menyadari bel yang tergantung di atas pintu berbunyi. Seorang pria berperawakan tegap menghampiri table bar. Matanya terus memperhatikan Nick yang tengah meracik kopi.
“One black coffee please,” ucapnya dan sukses membuat Nick mengangkat kepalanya.
Sejenak Nick terdiam melihat pria di hadapannya. Pria yang ternyata adalah Edo tersenyum ke arah anaknya itu. Sorot matanya penuh dengan kerinduan. Untuk sesaat hanya kesunyian yang ada di antara mereka. Sampai akhirnya Edo memutus kebisuan itu.
“Boleh saya menikmati kopi di selasar,” telunjuk Edo menunjuk ke arah atas.
“Tentu saja,” jawab Nick seraya melemparkan senyuman.
Edo melangkahkan kakinya menapaki anak tangga. Nick bergegas menyelesaikan pesanan sebelumnya kemudian membuatkan pesanan Edo. Setelah menyerahkan urusan pembuatan kopi pada salah satu pegawainya, Nick bergegas menyusul ke atas dengan secangkir kopi di tangannya.
Sesampainya di selasar, Nick melihat punggung lebar Edo. Pria itu berdiri membelakanginya, menatap pemandangan di depannya. Nick meletakkan cangkir kopi di atas meja yang ada di sana kemudian mendekati Edo.
“Papai..”
🍂🍂🍂
Cukup sekian dulu papai..😜