The Nick's Life

The Nick's Life
Rencana Terakhir



Iza begitu terkejut melihat foto yang diberikan abinya. Hampir saja foto itu berhamburan. Dengan menguatkan hati, Iza memandangi foto tersebut. Tapi kemudian dia melihat sesuatu yang membuatnya yakin kalau pria itu bukanlah Nick.


Dengan gerakan cepat, Iza melihat lembar demi lembar foto di tangannya. Semakin dilihat, semakin yakin kalau itu bukan Nick. Rahardi bingung melihat Iza yang awalnya nampak shock tapi kini terlihat tenang.


“Dari mana abi mendapatkan foto ini? Apa dari orang yang sama yang mengirimkan foto-foto mommy dulu?”


“Ngga penting siapa yang mengirimkan. Yang terpenting kebenaran dalam foto tersebut. Pantas saja abi tak pernah menyukai anak itu. Ternyata kelakuannya memang menjijikkan.”


“Ini bukan Nick.”


“Haahhh.. sebuta itukah dirimu hingga menyangkal semua kebenaran ini?”


“Aku ngga buta. Tapi abi yang buta. Kebencian abi pada Nick yang membuat abi menelan mentah-mentah ini semua.”


“Apanya lagi yang mau disangkal. Foto ini jelas sudah memperlihatkan semuanya.”


“Bisa jadi itu hanyalah hasil editan. Abi tahu teknologi sekarang sudah semakin canggih. Ini bukan Nick, aku yakin sekali. Nick tidak memiliki tatto seperti ini di lengannya.”


“Dari mana kamu tahu? Apa kamu pernah melihatnya? Bisa saja dia sudah menghapus tatto itu.”


“Abi terlalu mengada-ada.”


Iza mengambil tasnya kemudian berdiri. Dia tak ingin berdebat terlalu lama dengan abinya. Rahardi yang kesal sang anak tak mempercayai ucapannya bahkan dengan bukti kuat di tangannya mulai emosi.


“Iza!! Berhenti!! Abi belum selesai berbicara.”


“Apa yang mau dibicarakan lagi, bi?”


“Putuskan hubunganmu dengan Nick, lalu menikahlah dengan Syehan.”


“Aku tidak mau!!”


“Jangan bodoh kamu Iza. Apa kamu mau hidup dengan lelaki brengsek seperti dia!!!”


Rahardi membanting foto hingga berserakan di lantai. Dia begitu geram melihat anaknya yang begitu keras kepala. Iza yang tak tahan dengan sikap Rahardi pun tak kalah emosi. Selama ini dia mencoba untuk bersabar dan mengalah. Namun Rahardi semakin bersikap otoriter padanya.


“Berhenti bersikap bodoh. Putuskan hubunganmu dengan Nick, dia bukan pria baik-baik.”


“Harusnya abi yang berhenti berprasangka buruk pada Nick. Di saat seperti ini, harusnya abi tabayyun bukan langsung menarik kesimpulan sendiri.”


“Untuk apa tabayyun kalau bukti yang didapat sudah jelas.”


“Ini adalah tuduhan zina. Tidak cukup hanya dengan bukti ini saja abi langsung percaya. Aku tahu siapa perempuan ini. Dia adalah atasan Nick yang telah memfitnah dan memecatnya. Dia itu perempuan gila yang terobsesi sekaligus dendam pada Nick. Laki-laki di foto ini bukan Nick. Apa perlu aku bawa foto ini untuk membuktikan kalau ini hanyalah hasil rekayasa?”


“Hebat sekali Nick sudah meracunimu sampai sejauh ini. Karena dia kamu berani melawan abimu sendiri.”


“Abi yang sudah membuatku begini, bukan Nick.”


“Keputusan abi sudah bulat. Kamu akan menikah dengan Syehan.”


“Dan keputusanku juga sudah jelas, aku akan tetap bersama dengan Nick.”


“Kamu masih tinggal di rumah ini, maka kamu harus menuruti semua yang abi katakan.”


“Baik, kalau begitu aku akan keluar dari rumah ini.”


Iza baru saja hendak pergi, tapi Rahardi sudah menangkap tangannya kemudian menyeret gadis itu menuju lantai dua. Sekuat mungkin Iza melepaskan diri dari cengkeraman Rahardi, namun usahanya sia-sia saja.


Iza berteriak kencang meminta Rahardi untuk melepaskannya, namun pria itu menulikan telinganya. Rahardi terus menarik tangan putrinya, langkah Iza terseok saat menaiki tangga. Sesampainya di depan kamarnya, Rahardi membuka pintu kemudian mendorong tubuh putrinya masuk. Diambilnya kunci yang tergantung di pintu. Dengan cepat Rahardi menutup pintu kemudian menguncinya.


Terdengar gedoran tangan Iza di pintu. Gadis itu terus berteriak meminta dibukakan pintu, namun tak ada yang mendengarnya. Di rumah ini hanya ada dirinya dengan Rahardi. Mina masih belum pulang dari butik, karena banyaknya pesanan. Sedang asisten rumah tangga mereka sedang ijin pulang kampung.


Tubuh Iza luruh jatuh ke lantai. Tangannya sudah memerah karena terlalu sering menggedor pintu. Tenggorokannya juga terasa kering terus menerus berteriak. Gadis itu hanya bisa menangis. Untuk menghubungi Nick pun tak bisa, karena Rahardi telah merebut tasnya tadi.


🍂🍂🍂


Iza masih duduk bersimpuh di atas sajadahnya setelah menunaikan shalat isya. Otaknya terus berputar mencari jalan keluar dari ini semua. Dia yakin kalau Rahardi telah merencanakan sesuatu. Iza segera bangun dari duduknya. Dengan tergesa dilipatnya mukena juga sajadah.


Gadis itu menarik seprai yang membungkus kasurnya. Dia lalu menggikat ujung seprai dengan ujung selimut. Beberapa kali dia menarik kedua ujung kain tersebut sehingga ikatan bertambah kencang. Kemudian dia membuka lemari lalu mengambil beberapa pasmina berbahan tebal. Dia menambahkan pasmina pada ikatan seprai.


Pelan-pelan Iza membuka pintu balkon, kemudian keluar dengan membawa kain yang dibentuk seperti tali olehnya. Iza mengikatkan seprai pada pagar pembatas balkon. Beberapa kali dia mengikat kemudian menariknya agar terikat kuat pada balkon. Dia memastikan sekali lagi kalau ikatan sudah cukup kuat.


Hati-hati Iza melangkahi pagar pembatas balkon. Gadis itu mengambil nafas beberapa kali sebelum tangannya meraih ikatan kain yang menjuntai sampai ke bawah. Perlahan gadis itu mulai turun dengan menggunakan kain tersebut. Dengan susah payah, akhirnya dirinya sampai juga di bawah. Dengan mengendap-endap, dia memutari bangunan rumah untuk sampai ke halaman depan.


Sambil berjinjit Iza melewati teras rumah. Baru saja dirinya akan mengambil sandal, terdengar suara langkah kaki mendekati pintu. Bergegas Iza membuka pintu pagar kemudian berlari secepat kilat meninggalkan kediamannya. Terdengar ringisannya ketika kakinya yang tak beralas menginjak batu kerikil. Sambil menahan sakit di kakinya, Iza terus berlari menjauh.


Saat akan sampai di dekat sekolah, ujung jempolnya tersandung batu, seketika tubuhnya terhuyung jatuh. Iza meringis kesakitan melihat ujung jempol kakinya yang terluka dan mengeluarkan darah. Dia tersentak ketika mendengar bunyi gelegar petir. Secepatnya gadis itu bangun lalu melanjutkan pelariannya.


Kilatan putih terlihat di langit yang gelap. Iza meneruskan langkahnya, dia berjalan menyusuri trotoar. Perlahan rintik hujan mulai turun membasahi wajah dan tangannya. Gadis itu mempercepat langkahnya. Hujan semakin deras turun, beberapa kali Iza menoleh ke belakang, berharap ada angkot yang lewat. Namun jalanan begitu sepi.


Di tengah guyuran hujan, Iza terus berjalan melintasi rel kereta api. Kemudian berbelok ke kanan. Dia memilih berjalan di trotoar demi menghindari bebatuan yang ada di jalan. Tak dipedulikannya suasana sepi, jalanan gelap, hujan deras dan deretan makam yang ada di samping kanannya. Tujuannya hanya satu, mencari angkot atau ojek yang bisa membawanya menuju apartemen Nick.


Dari arah belakangnya terlihat sorot cahaya mendekat. Sebuah sepeda motor mendekatinya. Iza berdiri di pinggir trotoar, berharap motor yang melintas adalah pengendara ojeg. Gadis itu segera melambaikan tangannya, membuat pengemudi itu menghentikan kendaraannya. Dia membuka kaca helm yang menutupi wajahnya.


“Iza!!” panggilnya. Iza berjalan mendekat untuk melihat lebih jelas pengemudi tersebut. Ternyata dia adalah Joni, teman kuliahnya dulu.


“Joni.”


“Iza lo ngapain malem gini hujan-hujanan. Mana deket kuburan, gue kira tadi kunti.”


“Jon, anterin aku ke apartemen Boulevard,” suara Iza terdengar bergetar karena udara dingin yang menusuk tulang-tulangnya.


“Apartemen Boulevard yang di Pondok Pinang?”


“Iya.”


“Ayo naik. Eh tapi gue ngga punya jas hujan lagi.”


Iza segera duduk di belakang Joni. Pemuda itu segera menjalankan kembali motornya. Iza menyilangkan kedua tangannya di depan dada untuk menahan angin yang menerpa tubuhnya. Hujan yang tak berhenti disertai angin membuat tubuhnya semakin menggigil.


🍂🍂🍂


Dalam diam Nick memandangi pria yang duduk di hadapannya. Pria yang baru dilihatnya ini adalah adik dari mommy-nya. Dia datang menjemput Diah, karena ayahnya yang juga kakek dari Nick ingin berjumpa dengan anak sulungnya yang bertahun-tahun tak pulang ke rumah.


Nick beranjak dari duduknya kemudian masuk ke kamar Diah. Dia menghampiri Diah yang baru saja selesai memasukkan pakaian ke dalam traveling bag. Nick duduk di sisi ranjang seraya memandangi Diah.


“Mom.. perginya besok aja. Sekarang hujan mom.”


“Kan mommy perginya naik mobil. Lagi pula mommy takut terjadi sesuatu sama kakekmu. Sudah waktunya mommy pulang dan meminta maaf sama mereka.”


“Kalau begitu aku ikut.”


“Nanti saja kamu menyusul. Lebih baik kamu selesaikan dulu masalah kedaimu. Kamu harus secepatnya membuka kedai. Supaya calon mertuamu yang menyebalkan itu mengijinkan kalian segera menikah.”


Nick terkekeh mendengar julukan Diah tentang Rahardi. Tapi memang benar, calon mertuanya itu memang menyebalkan. Diah sudah selesai packing. Nick mengambil traveling bag kemudian membawanya keluar kamar. Adik Diah yang bernama Wahyu itu segera berdiri begitu melihat sang kakak telah siap. Dia mengambil tas dari tangan Nick.


“Hati-hati om, nyetirnya. Lagi hujan ini.”


“Iya, Nick. Tenang aja.”


“Mommy pergi dulu ya sayang. Salam buat Iza.”


“Iya mom.”


Nick mencium punggung tangan Diah. Wanita itu memeluk Nick sebentar kemudian berjalan keluar dari unit apartemennya. Nick menutup pintu kemudian menuju kamarnya. Diambilnya ponsel yang tergeletak di atas meja. Dia segera menghubungi Iza. Nick nampak bingung, sejak tadi dia mencoba menghubungi Iza, namun panggilannya selalu terhubung pada kotak suara.


“Kamu kemana sih Zi. Kenapa hp kamu mati,” gumam Nick pelan.


Pria itu kemudian berjalan ke arah jendela. Dipandanginya kucuran air yang membasahi kaca jendela kamarnya. Hujan masih belum berhenti bahkan semakin deras saja. Nick meraba dadanya, ada perasaan tak enak setiap mengingat Iza.


Lamunan Nick terhenti ketika mendengar suara bel yang disusul dengan gedoran di pintu. Bergegas Nick keluar dari kamar. Suara bel terus saja berbunyi tanpa henti. Dengan cepat Nick membuka pintu, dan


“Zi..”


Nick terhenyak melihat Iza berdiri di depannya dengan pakaian basah kuyup dan tubuh menggigil. Iza segera menghambur ke arah Nick. Tangis gadis itu pecah seketika. Nick yang masih bingung, mengajak Iza masuk seraya menutup pintu. Perlahan Nick mengurai pelukan Iza.


“Zi.. kamu kenapa? Ini badan kamu kenapa basah kuyup gini.”


“Abi.. abi..”


“Ssstt.. udah jangan nangis lagi. Kamu lebih baik mandi dulu ya. Ganti pakaian kamu.”


Nick mengajak Iza masuk ke kamarnya. Dia mengambil handuk dari dalam lemari lalu memberikannya pada Iza. Pria itu mengantar Iza sampai ke depan pintu kamar mandi.


Sementara Iza mandi, Nick mencarikan pakaian di lemari Diah. Dia mengambil sebuah baju tidur berlengan pendek yang dirasa cukup untuk Iza. Sejenak dia termenung mengingat Iza juga membutuhkan pakaian dalam. Nick menggaruk kepalanya, dia bingung untuk yang satu ini. Akhirnya dia mengambil tank top dan juga hot pants milik Diah lalu membawa ke kamarnya.


Iza keluar dari kamar mengenakan baju tidur Diah yang panjangnya hanya sebatas pahanya saja. Tak lama Nick datang dari arah dapur dengan secangkir coklat panas di tangannya. Dia mengajak Iza duduk di sofa kemudian menyerahkan cangkir di tangannya. Perlahan Iza menyeruput minuman coklat itu. Tubuhnya yang semula dingin mulai menghangat.


“Zi.. kamu kenapa? Kamu kabur lagi dari rumah?”


Iza tak langsung menjawab. Dia meletakkan cangkir di meja lebih dulu. Gadis itu menatap Nick yang masih menunggu jawabannya. Matanya kembali memanas mengingat pertengkarannya tadi dengan Rahardi.


“Zi..”


“Abi... dia menerima foto kamu sedang tidur bersama Amelia.”


“Aku tidur bersama Amelia? Itu ngga benar Zi.. aku..”


“Aku tahu itu bukan kamu. Tapi abi ngga mau mendengarkan penjelasanku. Abi bersikeras kalau laki-laki itu kamu. Abi menjadikan itu senjata untuk memisahkan kita.”


Tangis Iza kembali pecah. Nick menarik Iza dalam pelukannya. Dibiarkannya Iza menangis sepuasnya dalam dekapannya. Lagi-lagi Amelia mengganggu kehidupannya. Dia jadi curiga kalau orang yang telah merusak kedainya adalah suruhan wanita itu juga.


“Kamu tenang aja Zi. Aku akan bicara dengan abi. Aku akan buktikan kalau orang di foto itu bukan aku. Kalau perlu aku akan menyeret Amelia ke hadapan abi dan memaksanya mengatakan yang sebenarnya.”


“Ngga.. itu ngga akan ada bedanya. Abi tetap menentang hubungan kita. Abi bahkan sudah menyiapkan lamaran Syehan untukku. Sudah cukup Nick, aku muak dengan semua ini.”


Iza melepaskan diri dari pelukan Nick. Dengan airmata berderai dia melihat ke arah lelaki yang dicintainya. Jemari Nick bergerak menghapus buliran bening yang terus mengalir dari kedua mata Iza. Hatinya sakit melihat gadis yang begitu dicintainya terlihat begitu putus asa.


“Ayo kita lakukan Nick.”


“Zi..”


“Ayo kita sempurnakan rencana yang sudah kita mulai.”


“Sayang... ayo kita cari jalan lain. Biarkan itu menjadi pilihan terakhir kita.”


“Ngga.. ngga ada jalan lain kecuali ini. Sebanyak apapun kita mencoba, abi tetap ngga akan setuju. Ini satu-satunya cara supaya abi merestui hubungan kita.”


“Tapi Zi...”


“Katakan.. katakan apa lagi yang harus kita perbuat? Apa kamu mau menunggu sampai Syehan benar-benar melamarku?”


Dibalik buliran bening yang masih mengalir, sorot mata Iza memancarkan kemarahan dan kekecewaan. Gadis itu kecewa karena Nick selalu saja menunda langkah terakhir yang sudah mereka buat. Nick mengusap wajah Iza, namun ditepis olehnya. Saat gadis itu hendak beranjak, Nick menarik tengkuk Iza lalu mencium bibirnya.


Nick mengakhiri ciumannya yang hanya sebentar namun memberikan efek luar biasa pada keduanya. Jarinya mengusap airmata di wajah Iza, kemudian dia kembali mencium gadis itu. Kali ini Nick memagut dan me**mat bibir Iza dengan mesra. Iza menutup matanya, tangannya meremat kaos yang dikenakan Nick. Jantungnya berdetak kencang saat merasakan sensasi baru yang memicu adrenalinnya.


Lambat laun ciuman Nick semakin dalam dan menuntut. Iza pun semakin terbuai menikmati semua itu. Dia mulai berani membalas ciuman Nick walau masih kaku. Tangan Nick bergerak menelusuri tubuh gadis itu. Kali ini dia tak akan menahan diri lagi. Pria itu akan memulai rencana akhir mereka. Tanpa melepaskan pagutannya, Nick menggendong tubuh Iza lalu membawa ke kamarnya.


🍂🍂🍂


Waduh pada mau ngapain ya? Jangan² mau produksi anak kaya Fahrul🙈