
Baik Diah maupun Bryan hanya mampu tergugu mendengar penjelasan dokter Sudirman juga dokter Reyhan akan kondisi Nick. Secara fisik, tidak ada masalah dengan organ dan anggota tubuh Nick yang lain. Hanya saja ingatannya masih belum kembali. Bahkan dia kembali kehilangan ingatannya pasca bangun dari koma.
Nick ibarat galon kosong yang harus kembali diisi ulang. Ingatannya kembali terhapus, momen kebersamaan bersama orang tua dan para sahabat yang telah terjalin baik pasca koma kembali hilang.
“Apakah bapak dan ibu akan melanjutkan perawatan Nick di sini atau dipindahkan ke rumah sakit semula?” tanya dokter Sudirman.
“Kalau boleh saya kasih saran. Lebih baik perawatan tetap dilanjut di sini. Kami juga mempunyai psikiater yang handal. Saya yakin dokter Rafli bisa membantu Nick melewati semua ini. Atau bapak dan ibu bisa menanyakan pada Nick, di mana dia akan melanjutkan perawatan.”
“Bagaimana kalau kita ke ruang rawat sekarang? Sepertinya dokter Rafli tengah menemui Nick.”
Diah menganggukkan kepalanya, dibantu Bryan, wanita ini berdiri kemudian keluar dari ruangan dokter Sudirman. Bersama dengan kedua dokter berbeda generasi itu, Diah dan Bryan kembali ke ruang rawat Nick.
Di ruang perawatan Nick, bukan hanya ada dokter Rafli, tapi juga Bila. Anak dari kyai Ahmad ini adalah dokter residen yang mengambil spesialis kejiwaan. Dokter Rafli yang bertanggung jawab membimbing Bila. Kini keduanya tengah berbicara dengan Nick. Dokter Rafli banyak melakukan sesi tanya jawab, sedang Bila lebih banyak memperhatikan sambil sesekali mencatat apa yang dianggap penting.
Diah dan Bryan tidak ingin mengganggu, mereka memilih berdiri di dekat pintu sambil memperhatikan interaksi mereka. Fahrul yang juga ada di sana langsung memperkenalkan orang tua Nick pada kyai Ahmad. Berulang kali Bryan menyampaikan rasa terima kasihnya karena pria itu mau membantu Nick.
“Ok Nick.. kamu sudah tahu kondisi fisikmu seperti apa. Fungsi kognitifmu masih sangat baik, hanya saja kamu tidak bisa memaksa otakmu untuk mengingat masa lalumu.”
“Apa selamanya ingatan ini akan hilang?”
“Jujur.. saya juga tidak tahu. Tapi kehilangan ingatan bukanlah akhir dari segalanya. Kamu bisa bernafas sampai saat adalah sebuah anugerah. Lihatlah orang-orang di sekitarmu, mereka sangat bersyukur kamu bisa bertahan sampai sekarang. Kamu harus lebih semangat lagi menjalani hidup. Kalau kamu sudah bisa menerima keadaan dirimu, ikhlas dengan semua yang terjadi pada dirimu, kita akan masuk pada tahap selanjutnya.”
"Apa itu dok?"
“Berikan bukti pada saya kalau kamu sudah siap untuk maju menjalani kehidupan dengan kondisi sekarang. Baru kita akan masuk ke tahap selanjutnya, deal?”
“Ok dok.”
“Bagus. Kamu harus optimis, Nick. Saya tunggu kabar baik darimu secepatnya. Dan kalau kamu punya pertanyaan, kamu bisa tanyakan pada dokter Bila. Dia adalah salah satu mahasiwi terbaik saya.”
Nick melihat ke arah Bila. Wanita berhijab itu melayangkan senyumnya ke arah Nick. Pria itu hanya membalas dengan senyum tipisnya kemudian mengalihkan pandangannya ke arah lain. Fahrul tercenung melihat reaksi yang ditunjukkan oleh Nick. Dulu dia sering melihat ekspresi yang seperti itu sebelum Nick bertemu dengan Iza. Pria yang dingin jika berhadapan dengan lawan jenis yang tidak menarik perhatiannya.
Selesai melakukan sesi konseling dengan Nick, dokter Rafli bersama Bila mendekati Diah dan Bryan. Dokter berusia sekitar lima puluhan itu mengajak keduanya berbicara di luar ruangan. Dada Diah berdebar menantikan apa yang akan disampaikan oleh psikiater tersebut.
“Bagaimana keadaan anak saya dok?”
“Sejauh ini baik. Kita biarkan dia tenang dulu. Jangan memaksanya, jangan mengatakan apapun yang bisa memancing emosinya.”
“Apakah ingatannya bisa kembali?”
“Bisa iya, bisa tidak. Sejatinya, ingatannya masih tersimpan rapih hanya saja ada penghalang yang membuat ingatan itu tidak muncul ke permukaan. Ingatannya bisa muncul secara kognitif tapi bisa juga secara afektif atau konatif.”
“Maksudnya dok?”
“Ingatan yang muncul secara kognitif artinya ingatannya kembali. Dia bisa mengingat semua yang terjadi pada dirinya sebelum kecelakaan. Ingatan afektif, adalah ingatan yang muncul didorong dari hatinya, perasaannya. dia bisa mengingat seseorang dari perasaannya terhadap orang itu. Bisa rasa suka, benci, marah, sedih atau lainnya. Itu Reaksi yang ditunjukkan berdasarkan ingatan afektifnya. Sedang ingatan konatif terjadi ketika dia melakukan sesuatu sesuai kebiasaannya terdahulu. Misalnya dia bisa memasak padahal dia tidak pernah ingat belajar memasak sebelumnya, atau melakukan keterampilan lain yang dia tidak tahu pernah memilikinya.”
“Jadi.. apa yang harus kami lakukan dok untuk membantunya.”
“Ketika ingatan afektif atau konatifnya muncul dan dia bertanya akan hal itu, maka jawablah dengan jujur, jangan menghindarinya. Karena itu akan memicu rasa penasarannya dan bisa jadi dia akan memaksakan untuk mengingat yang ibu dan bapak tahu dampaknya akan seperti apa.”
“Baik dok, kami akan mengingat semua yang dokter katakan.”
Dokter Rafli menganggukkan kepalanya, kemudian dokter yang terlihat tenang itu berpamitan untuk kembali ke ruangannya diikuti oleh Bila. Diah dan Bryan kembali ke dalam kamar kemudian menghampiri Nick.
“Kalian orang tuaku?” tanya Nick.
“Iya sayang. Kamu biasa memanggil mommy dan daddy,” jawab Diah.
Nick memandangi Diah dan Bryan bergantian. Wajah, suara dan situasi antara dirinya dengan Diah terasa tak asing. Dia bisa merasakan ikatan dengan Diah. Tapi dengan Bryan, wajah dan suara pria itu terasa asing untuknya. Hanya saja Nick merasakan sesuatu yang lain pada pria itu. Perasaan seperti telah menemukan sesuatu yang hilang, entah mengapa dia merasa merindukan pria tersebut.
“Ada apa Nick?” tanya Diah cemas.
“Apa hubungan kita dekat dad? Aku merasa asing dengan wajah dan suaramu. Tapi.. perasaan ini seperti tak ingin jauh darimu. Aku seperti baru menemukan orang yang telah lama ingin kutemui.”
“Kita akan bicarakan itu tapi setelah keadaanmu membaik. Daddy janji akan menceritakan semua dan menjawab semua pertanyaanmu, tapi tidak sekerang. Seperti yang dokter katakan kamu harus menenangkan diri dulu.”
Nick menganggukkan kepalanya. Dia harus menenangkan diri lebih dulu, menahan rasa penasaran yang menggedor kepalanya. Diah meraih tangan Nick kemudian menggenggamnya erat.
“Nick.. selanjutnya kamu mau melanjutkan perawatan di mana? Di sini atau kembali ke Jakarta?”
“Aku mau di sini.. mom. Aku mau melanjutkan konseling dengan dokter Rafli. Dan setelah keluar dari rumah sakit, aku ingin tinggal sebentar di pondok pesantren kyai Ahmad untuk menenangkan diri. Apa boleh?”
“Boleh nak, boleh. Apapun yang kamu inginkan, kami akan mendukungmu. Asalkan itu yang terbaik untukmu,” Bryan menepuk pundak sang anak.
🍂🍂🍂
Pengacara yang diminta Bryan untuk mendampingi Denis langsung menuju kantor polisi. Selama proses interogasi, Fadlan terus menemani Denis menjawab serentetan pertanyaan. Topan setelah bertemu dengan anak buahnya juga menuju kantor polisi. Dia ingin menanyakan bukti yang Denis punya untuk menghancurkan wanita itu. Sejak kasus Fahrul, dia memang sudah ingin menghancurkan Reisa. Dia dan Fahrul sebenarnya diam-diam sudah menyusun rencana namun semuanya terbengkalai saat Nick kecelakaan. Kini dia memulai kembali rencana yang sempat tertunda.
Setelah hampir empat jam lamanya berhadapan dengan tim penyidik dan menjawab serentetan pertanyaan, akhirnya pemeriksaan selesai sudah. Fadlan berhasil mengajukan penangguhan tahanan. Pria itu menjamin Denis tidak akan menghilangkan barang bukti, tidak akan bepergian keluar kota dan meninggalkan rumah.
Arnav yang mendengar Denis mendapatkan penangguhan penanganan, bergegas menuju kantor polisi. Fadlan segera berpamitan, dia akan segera menyelidiki kasus ini supaya bisa membebaskan Denis dari tuduhan. Selama menunggu Arnav, Denis berbincang dengan Topan.
“Den.. rekaman suara Reisa waktu itu gue udah punya. Fahrul yang kasih ke gue. Sorry nih, buat bebasin lo dari tuduhan dan membersihkan nama baik lo, gue butuh rekaman video waktu lo lagi main sama Reisa. Biar semua orang tahu kalau dia itu cewek brengsek. Gue bakal bikin karirnya hancur sampai ke dasar bumi. Di video itu kan kelihatan kalau Reisa yang n*fsu ama elo. Masa orang yang diperk*sa yang mimpin permainan,” Topan terkekeh.
Tak ada jawaban dari Denis. Yang ada di pikirannya kali ini hanyalah Ayura juga Azka. Dia mencemaskan tanggapan Ayura padanya. Dia takut Ayura akan kecewa dan meninggalkannya.
“Den,” tepukan Topan di pundaknya membuyarkan lamunan Denis.
“Gue ngga bisa ekspos video itu.”
“Tenang aja, muka lo gue blur.”
Topan hanya terdiam. Dia yang seumur hidupnya tak pernah merasakan jatuh cinta, tentu saja tak bisa merasakan apa yang Denis rasakan kali ini. Baginya perempuan tak lebih hanya pemuas na*fsu saja. Pengalaman pahit yang menimpanya saat sang ibu memilih meninggalkan keluarganya demi laki-laki lain ditambah dengan kegagalan rumah tangga sang kakak, yang istrinya juga berselingkuh, membuat Topan tak menghargai wanita, kecuali istri dari teman-teman dekatnya.
Mobil yang dikendarai Arnav mendekat lalu berhenti di depan keduanya. Denis segera naik ke mobil sedang Topan masuk ke mobilnya sendiri. Dua kendaraan roda empat itu keluar dari kantor polisi secara beriringan. Begitu melewati lampu merah, keduanya mengambil jalur yang berbeda.
“Gimana Nick? Itu bener Nick kan?” tanya Denis membuka percakapan.
“Alhamdulillah, itu Nick. Tapi gue belum dapet kabar soal keadaannya. Mudah-mudahan dia baik-baik aja.”
“Ayura sama Azka di mana?”
“Di apartemen mommy. Lo mau nginep di sana apa balik ke apartemen lo?”
“Balik ke apartemen gue. Sementara gue jadi tahanan rumah.”
“Ya udah kita jemput dulu istri ama anak lo. Besok gue ke Bandung. Lo ngga bisa ikut ya?”
“Iya,” jawab Denis sedih.
“Mudah-mudahan kasus lo cepet beres deh. Gedeg gue sama si Reisa, pengen gue racun kayanya. Mending kita beli racun yuk terus mampusin aja tuh cewek. Ngga ada gunanya juga dia hidup, bikin susah orang aja.”
“Gila lo. Istighfar oii.”
“Astagfirullah..”
Denis hanya menggelengkan kepalanya. Bukan hanya Arnav yang ingin membunuh perempuan itu, tapi juga dirinya. Tapi sekarang keadaan sudah berbeda, ada Ayura dan Azka yang menjadi tanggung jawabnya sekarang. Dia sudah tak bisa hidup sembarangan lagi dan bertindak gegabah.
🍂🍂🍂
Ayura mencium kening Azka setelah anaknya itu tertidur. Dibenarkannya selimut yang menutupi tubuh anaknya itu lalu keluar dari kamar. Dia menghampiri Denis yang tengah duduk termenung di ruang tengah. Pria itu baru saja mendapatkan kabar dari Abe kalau kondisi Nick kurang baik. Sahabatnya itu kembali mengalamni amnesia. Dia melupakan kejadian pasca koma.
Lamunan Denis terhenti ketika Ayura mendudukkan diri di samping suaminya. Wanita itu menggeser tubuhnya sampai ke ujung, saat Denis membaringkan tubuhnya dengan kepala berada di pangkuan sang istri. Tangan Ayura bergerak mengusap sambil memainkan rambut Denis.
“Bagaimana keadaan Nick?”
“Secara fisik, dia baik-baik aja. Tapi dia amnesia lagi. Dia lupa kejadian pasca koma. Dia ngga ngenalin mommy, daddy, Fahrul sama Abe. Dia seperti hp yang baru aja diinstal ulang.”
“Mudah-mudahan keadaannya akan semakin membaik.”
“Aamiin..”
Denis merubah posisi berbaringnya. Kini dia tiduran dengan posisi telentang. Matanya menatap lurus ke arah wajah sang istri. Tangannya terangkat lalu membelai pipi mulus Ayura. Di hari ketiga pernikahannya, istrinya itu mendapat kejutan tak menyenangkan.
“Maafin aku.”
“Soal apa?”
“Reisa.”
“Aku percaya kalau kamu tidak memperk*sanya. Tapi.. apa benar kamu pernah tidur dengannya?”
Pergerakan tangan Denis terhenti begitu saja saat mendengar pertanyaan sang istri. Pria itu mengangkat tubuhnya lalu duduk bersandar ke sofa. Terdengar helaan nafasnya yang berat. Ayura memiringkan posisi duduknya lalu mengulangi pertanyaannya.
“Apa kamu pernah tidur dengannya?”
“Iya.. maaf... aku memang laki-laki brengsek,” Denis menundukkan kepalanya. Rasanya malu bersitatap dengan sang istri. Ayura menegakkan kepala Denis kemudian menangkup wajahnya dengan kedua tangan.
“Apa kamu melakukannya sebelum atau sesudah pernikahan kita?”
“Tentu saja sebelum. Itu sudah lama, sebelum aku menjadi mualaf. Aku lakuin itu buat bantu Fahrul lepas darinya. Maaf Ay.. harusnya aku waktu itu bisa menolaknya tapi...”
“Itu semua masa lalu. Hubungan kita adalah masa depan, itu saja yang harus kamu ingat. Jadikan masa lalu sebagai pelajaran untukmu. Jangan membuatmu berkubang terus di dalamnya. Aku menerimamu dengan semua masa lalumu. Begitu pula dirimu, menerimaku dengan semua masa laluku.”
“Terima kasih Ay.. terima kasih..”
Denis menyatukan kening mereka. Kemudian bibirnya mulai memagut bibir sang istri. Ayura memejamkan matanya seraya membalas ciuman Denis. Kini wanita itu sudah tak malu-malu lagi melakukannya. Denis mengangkat tubuh Ayura lalu mendudukkan di pangkuannya.
“Main ya sayang.”
“Di sini lagi?”
“Hmm.. tapi gaya baru. Mau coba?”
“Ajari aku.”
Denis menyambar bibir Ayura sambil mengendongnya. Dibawanya tubuh sang istri hingga punggungnya merapat ke tembok, lalu pria itu melesakkan miliknya. Kaki Ayura melingkari pinggang suaminya. Des*han dan lenguhan mulai terdengar saat keduanya mengarungi surga dunia.
“I love you Ay...” ucap Denis setelah pergulatan panas mereka seraya memeluk erat bahu Ayura seraya menciumi wanita itu beberapa kali.
“I love you.. mas..”
Senyum Denis terbit mendengar Ayura memanggilnya dengan sebutan itu. Nikmat mana lagi yang kau dustakan. Itulah yang terus bergema di hatinya. Dia akan menghadapi semua badai yang menerjangnya. Selama ada Ayura dan Azka bersamanya, hujan, angin, topan, badai bahkan api pun siap diterjangnya. Denis yakin, dia mampu melewati persoalan Reisa dengan baik. Dirinya hanya perlu berusaha, berdoa dan bertawakal.
🍂🍂🍂
Kenapa up nya ketunda? Tanya ke MT😏
Bengek🤧
Editornya masih di bawah umur jadi adegan 21++ nya diskip aja daripada bengek review ngga lolos²😤