The Nick's Life

The Nick's Life
Malam Pertama



Waktu menunjukkan pukul sepuluh malam. Hujan masih deras mengguyur ibu kota Jakarta. Kondisi aperteman Nick tampak sepi. Di kamar Nick, nampak pakaian berserakan di atas di atas lantai. Sepasang insan tengah berbaring di kasur sambil berpelukan. Tubuh mereka yang polos hanya terbalut selimut sampai sebatas dada.


Nick mengusap wajah Iza kemudian mendaratkan ciuman di kening wanita itu. Dia baru saja mengambil kesucian gadis yang sangat dicintainya. Ada sedikit penyesalan dalam hati pria itu, mengapa malam pertama mereka harus dilakukan dalam situasi seperti ini. Seakan mengerti apa yang dipikirkan Nick, Iza mulai berbicara.


“Aku ngga menyesal. Aku ngga menyesal melakukan ini semua. Seharusnya kita melakukan ini sejak awal.”


“Zi..”


“Aku sudah tidak bisa menolerir lagi sikap abi. Hatiku sakit setiap kali dia menghinamu. Apa yang kita lakukan adalah salah satu cara untuk menghukumnya. Aku ingin tahu bagaimana reaksinya jika tahu kalau putri yang dibanggakannya ternyata sudah tidak perawan lagi. Apa dia akan tetap menjodohkanku dengan lelaki lain. Aku ingin dia merasa gagal mendidikku.”


Airmata Iza mengalir saat mengatakan itu semua. Nick merengkuh tubuh Iza, tangan Nick mengusap punggung polosnya. Lagi sebuah kecupan mendarat di kening wanita itu.


“Dia tidak gagal mendidikmu. Dia hanya gagal menjalankan perannya sebagai ayah yang baik. Ayah yang tak bisa mengerti putrinya sendiri.”


Nick mempererat pelukannya di tubuh Iza. Matanya juga memanas mendengar isak tangis wanita itu. Perjuangannya untuk menjadi pria yang baik, yang pantas untuk mendapatkan gadis yang dicintainya ternyata dipenuhi bukit terjal nan berliku. Sampai akhirnya mereka melakukan semua ini.


🍂🍂🍂


Flashback On


Sepulang Rahman dari kebun, Iza mengajak pria itu berbicara tentang hubungannya dengan Nick, serta rencana yang akan dijalankannya demi mencegah Rahardi menghalangi hubungan mereka lagi. Bersama dengan Nick dan istrinya, Rahman mengajak Iza berbicara di kamar yang ditempati Iza.


“Apa rencanamu Zi?”


“Nikahkan aku dengan Nick.”


Rahman terkejut mendengarnya. Sontak dia melihat ke arah Nick yang tak bereaksi apapun. Sejujurnya pria itu menginginkan dirinya melakukan ijab kabul dengan Rahardi di hadapan penghulu juga para saksi. Bukan dengan Rahman dan hanya pernikahan secara agama saja.


“Apa kamu serius Zi? Apa ini jalan satu-satunya?”


“Lalu aku harus bagaimana lagi? Abi jelas-jelas menentang hubunganku dengan Nick. Sekuat apapun Nick berusaha, abi selalu menganggapnya buruk. Cukup sekali abi membuatku kecewa lewat kang Anang. Aku ngga mau jatuh kedua kalinya.”


“Apa maksudmu?”


“Abi yang meminta kang Anang menyembunyikan pernikahannya dengan Isma. Selama enam bulan mereka membohongiku. Bahkan abi bersikap seolah-olah tak tahu apa-apa. Abi berhasil melukaiku, bukan karena kang Anang lebih memilih Isma, tapi karena kebohongan yang mereka ciptakan. Selama ini aku diam dan berpura-pura tidak tahu tentang itu. Aku memaafkannya karena abi adalah ayahku. Tapi abi kembali melukai hatiku. Apa aku salah kalau ingin bahagia?”


“Astaghfirullahaladziim.”


Rahman mengusap wajahnya kasar. Dia sungguh tak mengetahui tentang hubungan Iza dengan Anang dan keterlibatan Rahardi membohongi putrinya sendiri. Membiarkan Iza dalam harapan palsu selama enam bulan lamanya. Dia berdiri dari duduknya kemudian keluar dari kamar.


Sepuluh menit kemudian dia kembali. Iza masih menunggu jawaban yang diberikan Rahman. Gadis itu sungguh berharap Rahman mau mendukung keputusannya. Karena hanya Rahman yang menjadi tumpuannya saat ini.


“Baiklah. Abah akan menikahkan kalian. Nick, kamu menginap di sini. Malam ini abah akan mengatur pernikahan kalian. Besok pagi, kalian akan menikah. Tapi pesan abah, kalian jangan dulu melakukan hubungan badan sebelum abi Iza memberikan restu pada kalian lewat mulutnya sendiri. Apa kalian setuju?”


“Iya abah. Tapi kalau abi tetap tidak berubah. Jangan salahkan kami, kalau kami memilih untuk menjalani kehidupan pernikahan kami layaknya pasangan lain.”


Rahman yang mengetahui arah pembicaraan Iza hanya tersenyum kecil seraya menganggukkan kepalanya. Mau tak mau dia harus menyetujui keinginan keponakannya itu. Dia tak mau kedua anak ini nekad melakukan hubungan terlarang demi meraih restu adiknya yang keras kepala.


Usai berbicara dengan Iza dan Nick, Rahman menghubungi salah satu temannya yang mengelola pondok pesantren sekaligus salah satu tokoh yang disegani di daerah ini. Dia meminta bantuan temannya itu untuk menikahkan Iza sekaligus menjadi saksi pernikahan keponakannya itu.


Pagi harinya, kesibukan nampak di kediaman Rahman. Sang istri dibantu beberapa tetangganya sibuk menyiapkan hidangan. Acara pernikahan sendiri dilakukan sederhana dan hanya dihadiri beberapa tetangga dekat saja.


Sementara itu di dalam kamar, Rina tengah membantu Iza berhias. Iza nampak cantik dalam balutan kebaya berwarna putih gading yang disewa Rina kemarin sore. Sedang di kamar lain, Denis membantu Nick untuk bersiap. Dia tak menyangka sahabatnya akan menikah dengan cara dadakan seperti ini.


Setelah kedua mempelai siap, Kyai Haji Ahmad Ramdan mempersilahkan Rahman untuk memulai ijab kabul. Rahman menggenggam tangan Nick dengan erat. Dada Nick berdebar menjelang detik-detik pengucapan janji sucinya.


“Ananda Nickolas Armando Littrell, saya nikahkan dan kawinkan engkau dengan keponakan saya, Noor Azizah Rukhansa binti Rahardi Gumilar dengan mas kawin uang tunai sebesar lima juta rupiah, dibayar tunai!”


“Saya terima nikah dan kawinnya Noor Azizah Rukhansa binti Rahardi Gumilar dengan mas kawin tersebut tunai!”


“Alhamdulillah, kalian sudah sah menjadi suami istri,” tegas sang kyai.


Nick mengusap wajahnya seraya mengucapkan hamdalah. Beberapa saat kemudian, Iza keluar didampingi oleh Rina. Gadis itu duduk di samping Nick yang kini telah sah menjadi suaminya. Dia meraih tangan Nick kemudian mencium punggung tangannya. Nick memegang bahu Iza kemudian mendaratkan ciuman di keningnya.


Airmata Iza mengalir, kini dirinya sudah menjadi seorang istri. Jari Nick mengusap buliran bening yang membasahi wajah istrinya. Perlahan dia memeluk wanita tercintanya itu. Tak ada cincin pernikahan, apalagi buku pernikahan. Yang ada hanyalah janji suci yang Nick ikrarkan dengan sepenuh hati, disaksikan Allah beserta para malaikatnya.


Flashback Off


🍂🍂🍂


Iza masih dalam pelukan Nick. Tangisnya sudah berhenti dan kondisinya sudah lebih tenang. Tangan Nick masih bergerak mengusap punggung sang istri. Seharusnya mereka tidak melakukan ini sebelum mendapat restu Rahardi. Namun manuver pria itu yang tidak bisa ditebak, membuat Iza harus mengambil keputusan ini.


Masih teringat di benak Nick, ketika Iza mengatakan jika abinya masih bersikeras menentang hubungan mereka, maka mereka akan menjalani kehidupan layaknya suami istri secara normal, termasuk melakukan hubungan badan. Iza juga berencana hamil dan mengatakan anak yang dikandungnya adalah hasil hubungan terlarangnya dengan Nick.


Awalnya Nick menolak mentah-mentah rencana itu karena takut Rahardi kalap dan melakukan hal di luar dugaan. Tapi Iza bersikeras dengan keputusannya. Tak ingin melihat Iza terus menerus bersedih dan tertekan, Nick pun menyetujui usulannya. Dan malam ini menjadi awal mula hubungan mereka sebagai suami istri yang sebenarnya.


“Nick..”


“Hmm..”


“Aku laper.”


“Mau makan apa?”


“Apa aja tapi kamu yang masak. Aku kan ngga bisa masak.”


“Ok sayang.”


Nick mencium kening Iza. Dia menegakkan tubuhnya kemudian beringsut turun. Diambilnya pakaian yang teronggok di lantai. Iza menarik selimut hingga menutupi wajahnya. Nick terkekeh melihat sang istri yang nampak malu melihat dirinya tanpa sehelai benang pun.


Dengan cepat Nick memakai celananya, kemudian dia mengambil pakaian tidur yang dikenakan Iza lalu menberikannya. Perlahan Iza menurunkan selimut, melihat bagian bawah tubuh Nick sudah tertutup, wanita itu menurunkan kembali selimutnya lalu mengambil pakaian tidur yang diberikan suaminya.


“Aku mandi dulu ya.”


Nick bergegas masuk ke kamar mandi. Iza segera mengenakan pakaiannya lalu beranjak turun. Tapi kemudian dia kembali duduk karena bagian bawahnya masih terasa nyeri. Sepuluh menit kemudian Nick keluar dari kamar mandi. Sambil mengusak rambutnya pria itu mengambil handuk lalu memberikan pada Iza.


“Kamu mandi, aku masak.”


“Hmm..” pelan-pelan Iza bangun dari duduknya. Terdengar ringisannya saat kakinya mulai melangkah.


“Mau kugendong?”


“Ngga usah. Kamu masak aja.”


“Ok sayang.”


Setelah mencuri ciuman dari pipi sang istri, Nick bergegas keluar dari kamar. Sambil bersiul, dia berjalan menuju dapur. Sementara itu Iza dengan langkah pelan menuju kamar mandi.


Sehabis mandi, Iza menyusul Nick ke dapur. Wanita itu mendudukkan diri di kursi seraya menatap punggung suaminya. Nick masih menyiapkan makanan untuk Iza. Beberapa saat kemudian, nasi goreng dengan telor ceplok di atasnya telah tersaji di depan Iza.


“Hmm.. dari wanginya sudah menggoda. Pasti rasanya enak.”


“Ayo dimakan. Sebentar ya.”


“Hmm.. enak. Kamu pinter masak deh.”


Pujian keluar dari mulut Iza setelah menghabiskan nasi gorengnya. Nick mematikan hairdryer kemudian berpindah duduk di samping istrinya. Tangannya beberapa kali merapihkan anak rambut yang menutupi mata indah Iza.


“Zi.. sepertinya udah waktunya aku kasih tahu yang lain soal hubungan kita.”


“Kenapa?”


“Aku ngga bebas nyentuh kamu di depan mereka. Lihat aja gimana kagetnya mereka waktu kita berpelukan kemarin.”


“Biarin aja. Kan mereka udah biasa lihat yang seperti itu.”


“Aku harus tetap kasih tahu mereka. Bukan karena mereka sahabatku. Tapi aku hanya ingin menjaga nama baikmu. Aku ngga mau mereka berpikir kalau kamu sama seperti perempuan lain yang mereka kenal. Mau disentuh oleh lelaki yang bukan muhrimnya.”


Iza memandangi wajah Nick lekat-lekat. Dia terharu mendengar penuturannya tadi. Nick selalu saja memikirkan dirinya, nama baiknya, kebahagiaannya dan selalu mengutamakan kepentingannya di atas dirinya sendiri.


“Nick.. kenapa sih kata-kata yang keluar dari mulut kamu selalu manis didengar? Kamu tuh pinter ngegombal.”


“Masa sih? Sebenarnya ngga loh. Tapi deket sama kamu mengaktifkan kemampuan menggombalku.”


Iza tersenyum, menampilkan sederetan gigi putihnya. Mata Nick tak berkedip menatap bidadari cantik di depannya. Bidadari yang kini menyandang status sebagai istrinya. Baru malam ini dirinya benar-benar merasa telah menjadi suami wanita cantik itu. Setelah mereka melakukan hubungan badan untuk pertama kalinya.


“Zi.. apa kamu bisa memanggilku dengan sebutan lain?”


“Seperti apa? Yayang? Bebeb? Ish lebay deh.”


“Cukup kamu panggil mas aja, aku udah seneng kok.”


“Katanya kamu ngga suka panggilan seperti itu.”


“Ya kalau hubungan kita sebatas teman, aku ngga suka. Tapi sekarang kan kamu sudah menjadi istriku. Panggilan ‘mas’ akan terasa lebih manis kedengarannya. Coba deh.”


“Hmm.. ma..s”


“Kurang kenceng, ngga kedengeran.”


“Mas..”


“Masih belum kedengeran.”


Iza kesal Nick terus saja menggodanya, padahal dia yakin kalau pria itu mendengar panggilannya tadi. Bukannya Iza tak suka memanggil Nick dengan sebutan ‘mas’, hanya saja dia masih malu melakukannya.


“Maass,” Iza meninggikan suaranya.


“Iya sayang.”


BLUSH


Wajah Iza merona dibuatnya. Rasanya lebih berbeda kali ini ketika Nick memanggilnya dengan sebutan sayang. Seperti ada aliran listrik di tubuhnya.


“Aku cuma bercanda kok. Kamu bebas mau panggil aku apa aja. Kalau kamu lebih nyaman memanggilku Nick aja, it’s ok aku ngga keberatan.”


“Ngga kok. Aku suka manggil kamu dengan sebutan itu. Terdengar lebih menghormati dan mesra.”


Pipi Iza kembali merona ketika mengatakannya. Nick semakin gemas dibuatnya. Dia menarik pelan dagu Iza kemudian me**mat bibirnya. Kini tak ada kecanggungan lagi ketika melakukannya, bahkan dia sudah merasa candu.


“Ternyata efek sentuhan itu dahsyat ya. Berpegangan tangan, berpelukan dan berciuman itu membuat orang candu untuk melakukannya lagi dan lagi. Pantas saja Arnav, Fahrul dan Denis sering bercinta sebelum menikah, karena ternyata berat sekali menahan godaan untuk tidak mengulangnya ketika sudah pernah melakukannya.”


“Kayanya kode deh, ada yang mau lagi.”


Nick mengedipkan matanya ke arah Iza. Wanita itu membelalakkan matanya kemudian kepalanya menggeleng cepat.


“Ng.. ngga kok. Yang tadi aja masih sakit,” ucapnya pelan.


“Yang kedua dan seterusnya ngga akan sakit kok.”


“Kata siapa?”


“Coba aja kamu tanya sama yang udah pernah. Kalau sakit, ngga mungkin mereka mau melakukannya terus.”


Iza terdiam membenarkan apa yang dikatakan Nick. Tapi kemudian lamunannya buyar ketika Nick membopong tubuhnya.


“Mas iihh..”


“Ayo kita tidur.”


“Tidur aja kan?”


“Ya kalau kamu mau lakukan yang lain dulu juga ngga apa.”


Tangan Iza melingkari leher kokoh Nick, kemudian menyembunyikan wajahnya di ceruk leher suaminya. Nick selalu saja menggodanya dan sukses membuatnya malu. Dengan langkah lebar, Nick masuk ke dalam kamar lalu menutup pintu dengan dorongan kakinya. Perlahan dibaringkan tubuh Iza di atas kasur.


Nick merangkak naik ke atas kasur lalu membaringkan tubuh di samping sang istri. Keduanya saling berhadapan. Iza sedikit mengangkat kepalanya ketika Nick merentangkan lengannya, kemudian merebahkan kembali kepalanya di sana.


“Zi.. sampai kapan kamu mau tinggal di sini?”


“Selamanya.”


“Lalu bagaimana dengan ummi? Kasihan ummi, pasti ummi cemas kalau tahu kamu kabur dari rumah lagi.”


“Aku takut kalau pulang ke rumah, abi membawaku pergi jauh darimu.”


“”Untuk sementara kita tinggal bersama di sini. Tapi besok aku akan kasih tahu ummi, biar ngga cemas. Sambil kita cari solusi lain.”


“Iya mas.”


“I love you, Zi..”


“Love you too.”


Nick mendekatkan wajahnya kemudian kembali membenamkan bibirnya di bibir ranum Iza. Dengan penuh kelembutan dan kemesraan dia kembali memagut bibir yang telah menjadi candu untuknya. Tangan Nick bergerak membuka kancing pakaian tidur yang dikenakan Iza.


“May I, Zi?”


Iza hanya mengangguk pelan. Segurat senyum nampak di wajah tampan Nick. Dia kembali bersiap untuk memadu kasih bersama sang istri. Mendayung nirwana untuk kali kedua ditemani suara gemericik hujan yang masih belum berhenti.


🍂🍂🍂


Udah pada senewen ya wakakakak..


Kabooorrr🚴🚴🚴🚴