The Nick's Life

The Nick's Life
Re-agreement



Motor yang ditumpangi Iza berhenti di depan kedai kopi. Wanita itu tak langsung masuk ke dalam. Dia memandangi papan nama yang terpajang di atas pintu masuk ‘ZICKO COFFEE’. Sebuah nama yang diambil dari perpaduan namanya juga Nick. Nampak suasana kedai sudah ramai dikunjungi oleh pembeli. Iza pun memutuskan untuk masuk.


Nick yang tengah membuatkan pesanan langsung mengarahkan pandangannya ketika pintu terbuka. Lonceng yang tergantung di atas pintu akan langsung berbunyi ketika ada pengunjung yang masuk. Iza melihat sekilas ke arah Nick, kemudian melanjutkan langkahnya memasuki area dalam kedai lalu naik ke lantai dua.


Nick terus melanjutkan pekerjaannya karena masih ada pesanan kopi yang harus dibuatnya. Di hari ketiga semenjak kedai kopinya dibuka, pengunjung yang datang semakin banyak. Semua ini tak lepas dari bantuan para sahabatnya yang ikut mempromosikan kedai kopinya.


Usai membuatkan pesanan terakhir, Nick menyerahkan tugas membuat kopi pada salah seorang pegawai yang sudah dilatihnya. Hanya membuat kopi espresso dan juga latte, sedang untuk painting coffee, baru Nick yang menguasai. Pria itu bergegas naik ke lantai dua. Dengan gerakan pelan dia membuka pintu kamar. Nampak Iza tengah berbaring dengan posisi membelakanginya.


Perlahan Nick naik ke atas kasur lalu membaringkan tubuhnya di samping Iza. Tangannya merengkuh pinggang wanita yang begitu dirindukannya. Tak ada reaksi dari sang istri, Iza masih bertahan dengan posisinya. Untuk beberapa saat hanya ada kesunyian di antara mereka.


“Mas.. apa kamu melakukan pernikahan ini karena terpaksa?” akhirnya Iza memecah kebisuan di antara mereka.


“Apa maksudmu, Zi?”


“Lupakan saja, aku ngantuk.”


Nick melepaskan pelukannya lalu membalikkan tubuh Iza ke arahnya. Punggung tangannya bergerak membelai wajah mulus sang istri. Kemudian sebuah ciuman mendarat di keningnya.


“Kamu marah?”


“Apa aku tidak boleh marah? Hampir seminggu kita tidak bertemu, tapi tidak ada usaha apapun darimu untuk menemuiku. Bahkan aku lebih sering bertemu dengan Syehan dari pada mas. Apa aku tidak boleh marah? Apa aku salah kalau merasa diabaikan?”


“Aku menunggumu, setiap hari di tempat yang kusepakati bersama Syehan. Tapi aku tidak bisa menemuimu karena abi selalu mengikuti kemana pun kamu pergi. Aku juga menyusulmu ke kampus, tapi aku juga tidak bisa mendekat karena mata-mata abi selalu mengawasimu. Aku ingin sekali menarikmu pergi, tapi aku harus berpikir ulang, aku ngga mau abi melakukan sesuatu yang ekstrem untuk memisahkan kita. Mengetahui kalau kamu baik-baik saja, bisa melihatmu walau dari kejauhan, itu sudah cukup bagiku. Aku bukan mengabaikanmu, aku hanya mencoba bersabar untuk bisa bersamamu dengan cara yang tidak menyakitimu, yang tidak membuat abi semakin membenciku.”


Iza mendekatkan tubuhnya lalu memeluk pinggang Nick. Kepalanya terbenam di dada bidang sang suami. Nick mendekap punggung wanita itu erat. Dihirupnya aroma tubuh yang selalu membuatnya kehilangan kendali.


“Maafin aku mas.”


“I miss you, Zi.”


“I miss you too.”


Iza mendongakkan kepalanya, menatap wajah suami yang sedari tadi dihindarinya. Nick sedikit menundukkan kepalanya lalu memagut bibir yang hampir seminggu ini tak disentuhnya. Ciuman keduanya terus berlanjut. Lu**tan dan pagutan Nick semakin dalam dan menuntut. Namun semuanya harus terhenti ketika terdengar ketukan dari arah luar.


Dengan berat hati Nick mengakhiri ciumannya. Dia tahu ketukan itu sebuah tanda kalau sang pegawai membutuhkan bantuannya. Nick beranjak dari kasur kemudian keluar dari kamar. Iza bangun dari tidurnya, setelah merapihkan pakaian dan rambutnya, dia pun turun ke bawah. Melihat banyaknya pengunjung yang datang, wanita itu memutuskan untuk membantu.


🍂🍂🍂


Waktu telah menunjukkan pukul setengah sebelas malam. Sudah tak ada lagi pengunjung yang datang. Tanda CLOSE sudah terpasang di depan pintu. Area dalam kedai sudah dibersihkan, begitu pula dengan peralatan yang tadi dipakai sudah tersusun rapih di atas rak. Dua orang pegawai Nick langsung pamit pulang setelah pekerjaan mereka usai. Kepulangan mereka bertepatan dengan kedatangan Syehan bersama dengan wanita berhijab dengan perut buncit. Dengan hati-hati Syehan menuntun wanita yang bersamanya masuk ke dalam kedai.


Nick menyambut kedatangan mereka berdua. Iza yang baru keluar dari dapur terkejut melihat kedatangan Syehan bersama dengan wanita hamil. Syehan hanya tersenyum melihat wajah Iza yang penuh kebingungan. Sebenarnya dia berencana mengenalkan wanita di sampingnya beberapa hari yang lalu. Namun keberadaan Rahardi yang selalu membuntutinya mengacaukan rencananya.


“Nick.. Iza.. kenalkan ini Dita, istriku.”


“Istri?”


Iza melihat ke arah Nick yang sepertinya tidak terkejut dengan penuturan Syehan. Masih dengan raut penuh tanda tanya, Iza menyalami Dita.


“Kamu sudah menikah? Tapi kenapa kamu mau dijodohin sama aku?” cecar Iza.


“Orang tua kita Zi, bukan aku.”


“Tapi papamu bilang kalau kamu suka sama aku. Maaf ya, Dit. Aku masih bingung sama situasi ini.”


“Ngga apa-apa Zi. Ceritain semua mas, biar ngga salah paham.”


Syehan menganggukkan kepalanya. Setelah menarik nafas panjang, mengalirlah cerita tentang hubungan dirinya dengan Dita. Wanita yang tak pernah direstui oleh Faisal. Syehan dan Dita sudah berhubungan selama dua tahun sebelum akhirnya Syehan memutuskan menikahi Dita setahun yang lalu. Sama halnya seperti Iza dan Nick, pria itu menikahi Dita secara sirri.


“Kenapa papamu ngga setuju?”


“Karena Dita seorang janda.”


“Memang ada masalah dengan status janda? Rasulullah saja menikahi Siti Khadijah yang seorang janda. Kenapa status janda jadi dipermasalahkan?”


“Karena papaku terlalu menilai tinggi diriku. Lulusan S2 luar negeri, sekarang seorang PNS golongan 3. Karierku tengah menanjak dan baru saja menyelesaikan S3. Aku selalu menjadi kebanggannya jika berbicara dengan teman-temannya. Dan dia malu kalau harus memiliki menantu seorang janda. Lalu abimu menghubungki papaku dan menawarkan perjodohan kita. Tentu saja dia menyambut baik usulan ini, karena dia tahu aku dulu pernah suka padamu. Tapi setelah aku tahu kamu menjalin hubungn dengan Anang, aku mundur sampai akhirnya aku bertemu dengan Dita.”


Iza terdiam mendengarkan cerita Syehan. Dalam hatinya merasa malu karena sempat menaruh curiga pada lelaki di depannya ini. Sepertinya Nick sudah lebih dulu tahu cerita tentang mereka, makanya bersedia membuat kesepakatan dengannya.


“Aku minta maaf, Han. Sepertinya aku ngga bisa meneruskan kesepakatan ini. Melihat Iza yang kembali tertekan karena abi, lebih baik kita akhiri saja semua ini,” ujar Nick.


“It’s ok, Nick. Aku juga minta maaf kalau sudah egois meminta kalian masuk dalam permainanku. Aku juga minta maaf sempat mencecarmu perihal Iza. Aku hanya ingin memastikan kalau kamu benar mencintai Iza dan ingin mempertahankannya. Dengan begitu, aku bisa mendapatkan sekutu yang kuat.”


“Sebenarnya apa tujuanmu membuat kesepakatan dengan kami?”


“Sama seperti dirimu, Zi. Aku juga ingin memperoleh restu dari papaku. Tapi papaku ternyata begitu keras kepala, jadi aku mengambil langkah ini. Awalnya aku menerima perjodohan ini dan membuat kesepakatan dengan Nick untuk mengulur waktu sampai Dita melahirkan. Setelah anak kami lahir, aku akan langsung melegalkan pernikahan kami, mengumumkan pada dunia soal anak kami. Aku juga sudah mengajukan mutasi keluar Jakarta supaya papa tidak mengganggu hidup kami lagi. Dan aku juga berharap langkah ini bisa membuka mata abimu, kalau aku bukanlah calon yang baik untukmu. Aku mau dia juga menyadari kalau sudah mendapatkan menantu yang baik, yaitu Nick.”


Belum ada tanggapan dari Iza, wanita itu masih merenungi ucapan Syehan. Situasi mereka sebenarnya sama. Sama-sama memiliki ayah yang keras kepala. Dia melihat sebentar ke arah Nick yang sepanjang pembicaraan lebih banyak diam.


“Kira-kira kapan perkiraan anakmu lahir?”


“Sekitar dua minggu lagi.”


“Kalau begitu ayo kita lakukan. Kita lakukan semua sesuai rencanamu. Seperti yang kamu bilang, situasi kita sama. Ngga ada salahnya kita bekerja sama dan saling membantu. Anggap saja simbiosis mutualisme.”


“Kamu yakin?” tanya Syehan. Iza hanya menganggukkan kepalanya saja.


“Terima kasih Zi,” Dita memegang tangan Iza.


“Sama-sama. Aku juga merasakan apa yang kamu rasakan.”


Wajah Dita yang awalnya sendu mulai dihiasi senyuman. Wanita itu bersyukur Iza mau membantu rencana suaminya. Walau baru pertama kali bertemu, Dita tahu kalau Iza adalah wanita yang baik. pantas saja dulu sang suami pernah jatuh hati padanya.


“Ok, kalau begitu kita lanjutkan rencana kita. Dan kamu Nick, aku harap kamu udah bisa nanem saham selama dua minggu ke depan,” goda Syehan.


“Asal kamu antar Iza tiap hari padaku. Aku pastikan sahamku akan segera go public.”


Wajah Iza bersemu merah mendengar percakapan frontal dua pria ini. Dia mencubit pinggang Nick yang tanpa malu membalas perkataan nyeleneh Syehan. Tawa Syehan langsung meledak melihat tingkah malu-malu Iza. Sebelumnya dia hanya disuguhkan sikap ketus dan garangnya.


“Untuk malam ini, biarkan Iza menginap bersamaku.”


“Hmm.. aku sudah memberikan alasan untuk abi, tenang saja.”


“Kamu kasih alasan apa sama abiku?”


“Kamu menginap di rumah karena mamaku yang memintanya. Mamaku sendiri yang menghubungi abimu.”


“Lalu papamu?”


“Dia sedang keluar kota.”


Nick mengunci pintu saat kendaraan Syehan sudah meluncur pergi. Dia menghampiri Iza yang masih menunggunya. Ditariknya pinggang sang istri, hingga tubuh mereka tak berjarak lagi. Iza melingkarkan tangannya di leher Nick.


“Malam ini kita menginap di sini.”


“Aku ngga bawa baju ganti.”


“Aku sudah menyiapkan semuanya. Apa kita bisa memulainya sekarang princess?”


“Memulai apa?”


“Menanam saham.”


Nick memagut bibir Iza, menyesap bibir atas dan bawahnya bergantian kemudian menggendong tubuh istrinya itu. Tanpa melepaskan tautan bibir mereka, Nick membawa Iza ke dalam kamar mereka.


Suasana kamar berukuran 3x4 itu terasa panas oleh percintaan dua pasang manusia. Nick melampiaskan kerinduannya setelah beberapa hari tak bisa bertemu dan menyentuh istrinya. Suara de**han, lenguhan dan keringat mengiringi penyatuan mereka malam ini.


Iza terkulai lemas setelah pergulatan panjang mereka. Sepanjang permainan, Nick tak henti menjamah tubuhnya dan memberikannya kenikmatan berkali-kali. Sepertinya pria itu ingin segera membuat sahamnya go public.


“Semoga buah hati kita cepat hadir,” Nick mencium perut rata Iza. Kemudian tangannya bergerak mengusap keringat yang memasahi kening sang istri lalu mendaratkan kecupan di sana.


“Aamiin..”


“Zi..”


“Hmm...”


“Kapan kamu mau berhijab?”


“Kalau sudah ada benih dalam rahimku, In Syaa Allah aku akan berhijab.”


“Aku akan terus berdoa supaya calon anak kita secepatnya ada.”


“Aamiin..”


Nick menarik selimut untuk menutupi tubuh polos mereka. Dia merentangkan lengannya kemudian merengkuh tubuh Iza ke dalam dekapannya. Malam ini, pria itu bisa kembali tidur dengan nyenyak karena sang istri sudah kembali bersamanya.


🍂🍂🍂


Di sebuah restoran bintang lima, nampak Widya dan Amelia tengah makan siang bersama. Tak lama kemudian datang Sakurta bergabung dengan mereka. Setelah hubungannya dengan Diah berakhir, Sakurta lebih banyak menghabiskan waktu bersama dengan keluarganya. Namun bukan berarti dia berhenti menggunakan jasa wanita bayaran untuk memuaskan hasratnya.


Di sela-sela makan siang mereka, tiba-tiba saja datang seorang tamu tak undang yang langsung bergabung bersama mereka. baik Sakurta, maupun Widya juga Amelia terkejut dengan kedatangan Diah. Dengan tenang Diah melepas kacamata hitamnya lalu menyambar gelas milik Widya yang belum tersentuh dan menghabiskan isinya.


“Maaf.. aku haus,” ucap Diah dengan santainya.


Karuan saja kedatangannya membuat Widya berang. Tapi wanita itu berusaha menahan diri karena tak mungkin juga dia membuat keributan di tempat terbuka seperti ini. Akan banyak pasang mata yang melihatnya. Sakurta memandangi Diah tanpa berkedip. Tak dapat dipungkiri kalau dirinya begitu merindukan wanita di sampingnya ini.


“Mau apa kamu ke sini?” geram Widya.


“Aku ke sini untuk membayar hutang.”


“Hutang apa?” tanya Sakurta bingung.


“Istri dan anakmu sudah melakukan sesuatu pada anakku. Sebagai ibu, aku harus membayar kebaikan mereka, bukan.”


“Melakukan apa?”


Diah memberikan amplop coklat yang berisi foto-foto keterlibatan Amelia dalam perusakan kedai Nick. Di dalam sana juga terdapat foto-foto rekayasa Amelia saat tidur bersama Nick. Diah juga memberikan foto aslinya, yang ternyata pria yang tidur bersama dengan Amelia adalah salah satu pria teman ranjangnya. Sakurta terkejut melihat foto-foto tersebut. Dia menatap tak percaya pada sang anak.


“Aku bisa melaporkan anakmu ke polisi atas kasus perusakan kedai. Dan juga istrimu saat mengirim orang suruhannya untuk mengeroyok Nick. Tapi aku tidak mau membuat keributan. Aku hanya ingin membayar dengan caraku.”


Diah mengeluarkan beberapa foto dari dalam tasnya serta amplop putih dan secarik kertas berisi alamat. Sakurta lagi-lagi dibuat terkejut, foto Amelia dan Widya menggendong seorang bayi serta surat hasil uji DNA yang menyatakan kalau anak tersebut adalah anak dari Amelia.


“Selamat mas, kamu ternyata sudah mempunyai cucu. Ini alamat di mana anak itu tinggal, kalau-kalau kamu mau bertemu dengan cucumu.”


“Amelia, apa ini?”


Tak ada kata-kata yang keluar dari mulut wanita itu. Tenggorokannya serasa tercekat melihat rahasia yang selama ini ditutupinya terbongkar di hadapan sang ayah. Widya pun tak kalah terkejut. Wajah wanita itu mulai memucat.


“Kasihan anak itu tumbuh tanpa kasih sayang kedua orang tuanya. Oh.. soal ayah dari anak ini, apa perlu aku yang mengatakannya atau kamu sendiri sayang?” Diah melihat ke arah Amelia yang semakin memutih wajahnya.


“Siapa ayah anak ini?” tanya Sakurta.


“Hanya salah satu teman kuliahnya dulu,” sambar Widya.


“No.. no.. no.. nyonya Sakurta, tak baik membohongi suamimu. Kamu sudah berbohong seumur hidupnya apa kamu masih ingin membohonginya lagi,” Diah semakin menyiramkan bensin pada api yang menyala.


“Siapa ayah anak ini?” geram Sakurta.


Baik Amelia maupun Widya masih menutup rapat mulutnya. Tak bisa mereka bayangkan bagaimana reaksi Sakurta kalau tahu, ayah dari anak itu adalah Johan, adik angkatnya sendiri.


“Jawab, siapa!!”


Sakurta menggebrak meja dengan kencang, membuat perhatian pengunjung beralih pada meja mereka. Ketiga orang tersebut nampak tegang, kecuali Diah yang terlihat santai. Wanita itu menikmati pertunjukkan yang dibuatnya sambil memainkan kuku tangannya.


“Siapa dia, Amelia?”


“O..om Jo..han pa..”


Darah Sakurta mendidih mendengarnya. Tangannya mengepal keras, bisa-bisanya adik angkat yang begitu disayanginya meniduri anaknya sampai hamil dan melahirkan. Hampir saja emosi pria itu meledak kalau Diah tidak menenangkannya. Tangan Diah bergerak mengusap punggung yang dilajut mengusap paha Sakurta. Hati Widya geram melihatnya, namun dirinya pun tak bisa berbuat apa-apa.


“Bagaimana Amelia, apa kamu puas dengan bayaran yang kuberikan. Ini ganjaran yang harus kamu terima karena sudah berani mengganggu anakku. Aku juga tahu, semua yang dilakukan Amelia ada campur tanganmu, nyonya Sakurta. Dan aku berbaik hati membayar semua perbuatan kalian lengkap dengan bunganya.”


Diah kembali membuka tasnya lalu mengambil sebuah amplop putih lagi dari dalamnya. Dia menyerahkan amplop tersebut ke tangan Sakurta.


“Ini bunga yang kujanjikan. Terima kasih atas sambutan kalian. Aku permisi.”


Setelah mendaratkan ciuman di pipi Sakurta, wanita itu berdiri kemudian melangkah menjauhi meja. Tak berapa lama terdengar suara gebrakan meja dan piring berjatuhan setelah Sakurta membaca surat hasil uji DNA yang menyatakan Amelia bukanlah anaknya. Senyum tipis tercetak di wajah Diah, sambil memakai kacamatanya, dia melangkah keluar dari restoran.


🍂🍂🍂


...**Mommy Diah.. lope² buat mommy.....


Nick.. ayo kerja keras biar sahamnya cepet go public🤣


Yang udah suudzon ama Syehan ditunggu permintaan maafnya dalam waktu 1x24 jam😎**