The Nick's Life

The Nick's Life
Sikap Maira



“Mai.. kamu ngga apa-apa?”


“Denis..”


Melihat foto yang berhamburan di lantai, Maira melepaskan pegangan Denis kemudian berjongkok memunguti foto. Denis ikut berjongkok lalu membantu Maira memunguti foto tersebut. Hatinya menggeram kesal melihat gambar Fahrul bersama dengan Reisa. Setelah memunguti foto dan memasukkannya kembali ke dalam amplop, Denis menuntun Maira ke sofa terdekat.


Pria itu berlari menuju lemari pendingin yang memajang minuman. Denis menscan barcode melalui ponselnya kemudian memilih dua botol minuman dingin. Setelah mendapatkannya, Denis kembali ke tempat Maira duduk. Wanita itu menerima minuman dari Denis kemudian meneguknya sedikit.


“Apa kamu tahu soal ini?” tanya Maira tanpa basa-basi


“Soal apa?”


“Kang Fahrul dengan Reisa. Apa yang kamu tahu tentang mereka?”


“Mereka memang berpacaran sebelum menikah denganmu. Tapi aku ngga nyangka kalau Fahrul masih berhubungan dengan Icha sampai sekarang.”


“Sejauh mana hubungan mereka?”


“Hmm..”


Denis menggaruk tengkuknya yang tak terasa gatal. Bingung sendiri bagaimana menjawab pertanyaan wanita di depannya. Melihat sikap Denis yang gugup, Maira yakin kalau hubungan suaminya dengan Resia sudah jauh.


“Apa mereka sering tidur bersama?”


“Hmm.. gini Mai...”


“Jawab saja pertanyaanku. Sebelum menikah denganku apa kang Fahrul pernah tidur bersama dengan Reisa?”


“I.. iya.”


“Apa sebelum dengan Reisa, dia pernah melakukannya dengan orang lain?”


Denis tercenung sebentar. Pria itu benar-benar mati kutu berhadapan dengan Maira. Melihat tatapan wanita berhijab itu yang penuh intimidasi, Denis pun mau tak mau menceritakan sepak terjang sahabatnya itu.


Maira memejamkan matanya. Hatinya tercabik mendengar kenyataan sang suami. Dia harus rela melepas lelaki baik yang dicintainya demi sampah seperti Fahrul. Maira menepuk pelan dadanya yang terasa sesak. Mengapa hidup terasa tak adil untuknya.


“Apa kalian semua hidup seperti itu? Melakukan **** sebelum menikah?”


“Cuma Fahrul, Arnav dan aku. Nick dan Abe tidak pernah. Aku minta maaf Mai, karena aku dan Arnav, Fahrul terseret dalam gaya hidup kami yang bebas.”


“Kenapa harus meminta maaf? Kalau kang Fahrul memiliki pendirian yang kuat, dia pasti tidak akan mudah terpengaruh. Kalau Nick dan Abe bisa untuk tidak melakukan free s*x, kenapa kang Fahrul ngga? Itu tandanya, dia membiarkan dirinya terbawa arus yang salah.”


“Lalu sekarang apa rencanamu Mai?”


“Aku mau pulang.”


“Biar kupesankan taksi.”


Maira tak menjawab usulan Denis. Pria itu segera meraih ponselnya kemudian memesan taksi online melalui aplikasi. Tak berapa lama, pesanan taksi datang. Denis mengantarkan Maira sampai ke depan taksi. Setelah taksi tersebut meluncur pergi, Denis bergegas mengendarai motornya. Dia ingin mengikuti taksi tersebut, memastikan kalau Maira pulang dengan selamat.


Di dalam taksi, Maira terus memikirkan apa yang didengarnya dari Denis tadi. Kepalanya tiba-tiba berdenyut nyeri, dirinya seperti baru saja dihantam gada besar. Maira memutuskan mengganti tujuan, dia meminta sang supir ke daerah Situ Gintung. Maira ingin bertemu dengan Meta juga Iza. Mereka memang berteman dekat sejak bertemu saat final turnamen futsal.


Denis yang mengikuti taksi yang ditumpangi Maira sedikit bingung kala mobil tersebut mengambil jalur yang berbeda dengan arah apartemen Fahrul. Pria itu terus melajukan motornya mengikuti taksi tersebut, hingga akhirnya masuk ke daerah Situ Gintung dan berhenti di depan masjid.


Setelah membayar biaya pergantian titik lokasi, Maira turun dari mobil. Hari menjelang maghrib ketika wanita itu sampai di daerah rumah Meta. Meta mengarahkan Maira agar langsung menuju masjid.


Kedatangan Maira langsung disambut oleh Meta juga Iza. Karena waktu maghrib telah tiba, Maira memutuskan untuk shalat maghrib berjamaah lebih dulu. Demi menenangkan perasaannya yang tak menentu, Maira memilih membantu Meta mengajar mengaji. Setidaknya itu bisa sedikit mengalihkan perhatian dan kesedihannya.


Usai shalat isya, Maira mengajak Iza juga Meta berbicara. Nick dan Arnav yang terkejut melihat keberadaan Maira segera menghampiri istri dari sahabatnya itu. Mereka semakin dibuat terkejut ketika Denis datang bergabung. Akhirnya keenam orang tersebut duduk bersama di teras masjid.


Maira sempat ragu untuk bercerita melihat Nick dan Arnav yang ikut bergabung. Melihat keraguan di mata wanita itu, Denis pun mulai angkat suara.


“Mai, cerita aja. Siapa tahu Nick bisa membantu. Fahrul itu sering mendengar saran dari dia.”


Maira berpikir sejenak, kemudian menganggukkan kepalanya pelan. Iza dan Meta yang penasaran hanya saling berpandangan saja. Lain dengan Nick, perasaan pria itu mulai tak tenang, sepertinya Maira sudah mengetahui perihal Fahrul dengan Reisa.


“Maaf sebelumnya, aku tahu kalau membicarakan masalah rumah tangga sama saja dengan membuka aib sendiri. Tapi aku benar-benar membutuhkan saran dari kalian.”


“Ada apa Mai?” Iza memegang tangan Maira.


“Apa yang akan kalian lakukan kalau pasangan kalian berselingkuh?”


Iza cukup terkejut mendengar pertanyaan Maira. Refleks dia melihat ke arah Nick, namun pria itu malah menundukkan kepalanya.


“Tergantung sih Mai, sampai sejauh mana pasangan kita selingkuh,” jawab Meta.


“Kalau sudah berbagi ranjang?”


“Kamu tanya pendapatku sebagai pribadi?” Meta memastikan dan Maira hanya menganggukkan kepalanya.


“Kalau secara pribadi, aku memilih berpisah. Aku ngga mau bersama lelaki yang sudah menjamah perempuan lain.”


Uhuk.. uhuk..


Arnav terbatuk mendengar jawaban lugas Meta. Dirinya seperti tersindir, dan tiba-tiba saja merasa takut kalau perasaannya akan layu sebelum berkembang. Kalau Meta tahu bagaimana sepak terjangnya selama ini, maka pupus sudah harapannya untuk mendapatkan perempuan itu.


“Perselingkuhan apapun alasannya tidak dibenarkan. Jika tidak bisa bersama lebih baik berpisah dari pada terus bersama tapi menumpuk dosa,” kali ini Iza yang berpendapat.


“Mai.. sebelumnya aku minta maaf.”


Semua yang ada di sana langsung menoleh ke arah Nick ketika pria itu menyela pembicaraan para wanita. Mau tidak mau Nick harus membuka masalah ini. Karena semua berawal dari ide gilanya untuk Fahrul.


“Ada apa Nick?”


“Sebelum menikah, Fahrul datang padaku. Dia meminta solusi atas rencana pernikahan kalian. Aku memberikan tiga opsi padanya. Pertama, melepaskan Reisa dan menerima pernikahan kalian. Kedua, menolak pernikahan dan melanjutkan hubungan dengan Reisa. Ketiga... menikah denganmu tapi tetap menjalin hubungan dengan Reisa di belakangmu. Dan ternyata Fahrul memilih opsi yang ketiga. Aku minta maaf Mai, karena usulku, kamu jadi menderita dan terjebak dengan pernikahan dengan Fahrul.”


Arnav dan Denis tak terkejut mendengar penuturan Nick. Mereka tahu betul kalau sahabatnya itu berotak encer dan selalu memberikan solusi yang terkadang tak terpikirkan oleh mereka. Lain lagi dengan Iza. Gadis itu nampak terkejut, dia menatap tak percaya pada lelaki di sampingnya. Maira mencoba bersikap tenang, seburuk apapun dia harus siap mendengar semua hal tentang suaminya.


“Apa alasannya dia tidak memilih opsi yang kedua? Apa dia mengatakannya padamu?”


“Karena ayahnya mengancam akan menarik modal di dealer miliknya. Dia ngga siap untuk hidup susah dan kehilangan usaha yang sudah dirintisnya.”


Maira tertawa sumbang. Setelah mengetahui kenyataan sang suami berselingkuh di belakangnya. Dia juga harus mendengar alasan mengapa pria itu mau menikahinya. Ingin rasanya Maira berteriak kencang mengeluarkan semua sesak di dadanya.


“Aku minta maaf Mai. Aku akan berusaha semampuku membantumu.”


“Kamu tidak perlu meminta maaf, Nick. Kamu hanya memberikan opsi, pilihan apapun yang diambil Fahrul, mutlak menjadi tanggung jawabnya. Terima kasih buat perhatian kalian dan terima kasih sudah bersedia mendengarkan keluh kesahku. Biar aku yang menyelesaikan masalah ini, karena ini adalah kehidupan rumah tanggaku,” Maira berdiri dari duduknya.


“Kamu mau kemana Mai?” tanya Denis.


“Pulang.”


“Biar aku dan Arnav yang antar.”


Maira hanya mengangguk. Dia sudah tak punya tenaga lagi untuk berdebat atau menolak. Energinya sudah habis untuk menahan emosi yang sudah terkumpul di dada. Dengan langkah pelan dia mengikuti Arnav juga Denis. Dibukanya pintu belakang mobil lalu mendudukkan diri di sana. Denis mengambil sepeda motornya, kemudian melajukannya perlahan, mengikuti mobil Arnav dari belakang.


“Ayo Zi, aku antar pulang.”


Tak ada respon dari Iza. Gadis itu berpamitan pada Meta kemudian menuju kendaraan Nick. Iza masuk ke dalam mobil, tak lama Nick pun menyusul. Setelah menyalakan mesin dan memindahkan perseneleng, kakinya menekan pedal gas. Kereta besi itu pun mulai meluncur pergi.


“Aku ngga nyangka ya kamu bisa kasih solusi seperti itu sama Fahrul,” suara Iza memecah keheningan di antara mereka.


“Aku hanya memberikan pendapat, Zi.”


“Sebagai teman harusnya kamu memberikan solusi yang baik, bukan menyesesatkan. Mungkin solusimu adalah jalan keluar terbaik untuk Fahrul, tapi ngga buat Maira. Solusimu itu sudah membuat perempuan lain menderita.”


“Lalu aku harus bagaimana Zi? Aku akui itu memang kesalahan yang kulakukan. Tapi semua sudah terlanjur terjadi. Aku janji akan membantu Mai soal ini.”


“Gelas yang pecah tidak akan sama lagi bentuknya walau disatukan kembali. Hati Mai sudah terlanjur hancur. Dan salah satu penyebabnya adalah kamu, Nick.”


Nick terdiam, apa yang Iza katakan benar adanya. Usulannya pada Fahrul, secara tidak langsung sudah membuat hidup orang lain susah. Pria itu semakin tak berkutik ketika Iza menyudutkannya. Ini kali pertama Iza terlihat marah padanya. Sisa perjalanan akhirnya hanya diisi oleh keheningan hingga mobil Nick sampai di depan rumah Iza.


Tanpa mengucapkan sepatah kata pun, Iza turun dari mobil lalu menutup pintu dengan kencang. Nick hanya menghembuskan nafas panjang. Netranya hanya mampu memandangi Iza yang memasuki halaman rumah kemudian menghilang dibalik pintu.


🍂🍂🍂


Pukul sepuluh malam, Fahrul kembali ke apartemennya. Dia terkejut mendapati Maira masih terjaga dan tengah duduk di ruang tamu. Tanpa menegur sang istri, pria itu terus saja masuk ke kamarnya. Unit apartemen Fahrul memiliki dua kamar, dan selama pernikahan mereka, keduanya tidur secara terpisah.


Fahrul membuka pintu kamar lalu menyalakan lampu. Matanya membelalak melihat di kasurnya berserakan foto-foto dirinya juga Reisa. Diambilnya foto tersebut satu per satu, tangannya me**mas lembaran foto tersebut hingga tak berbentuk. Dia bergegas keluar kamar menghampiri Maira.


“Apa kamu memata-mataiku?!”


Fahrul melemparkan lembaran foto ke arah Maira dan jatuh berhamburan di dekat kakinya. Dengan tenang Maira mengambil salah satu foto yang memperlihatkan Fahrul dan Reisa memasuki hotel. Ditatapnya Fahrul dengan tajam.


“Apa yang kalian lakukan di hotel ini? Apa kalian bercinta?”


“Ya, apa kamu puas?”


“Bagaimana rasanya? Bagaimana rasanya berhubungan badan dengan perempuan yang terlarang untukmu? Apa lebih nikmat? Aahh.. aku lupa, kamu tidak punya bahan pembanding karena selama menikah kamu tidak pernah menyentuhku.”


“Apa maumu?”


“Mari kita bercerai.”


“Jangan mimpi. Sampai kapan pun aku tidak akan menceraikanmu.”


Maira tersenyum sinis, jawaban Fahrul persis seperti dugaannya. Suaminya itu tak mungkin akan menceraikannya, karena membutuhkannya sebagai jaminan hidup. Maira bangun dari duduknya kemudian menghampiri Fahrul. Kepalanya mendongak melihat wajah sang suami yang bertubuh jangkung.


“Kenapa? Kenapa kamu tidak mau menceraikanku? Bukankah kamu tidak mencintaiku, kamu juga tidak pernah menyentuhku bahkan kamu tidak menganggapku ada. Jadi, lepaskan aku dan jalani hidupmu bersama dengan Reisa. Biarkan aku menjalani hidupku sendiri.”


“Aku tidak akan menceraikanmu!!”


“Karena kamu membutuhkanku sebagai jaminan hidupmu? Hah.. aku bukan wanita bodoh. Aku ngga sudi jadi penjaminmu agar kamu bisa bersenang-senang dengan kekasih gelapmu itu!”


“Tutup mulutmu!!”


“Coba saja kalau bisa!!!”


Maira balas menantang Fahrul. Dia menatap lekat ke arah netra suaminya itu. Kesedihan, kekecewaan dan amarah yang sedari tadi ditahannya akhirnya keluar juga. Fahrul sendiri terkejut melihat sang istri yang biasanya terlihat diam dan selalu bersikap lembut, kini terlihat garang.


“Ceraikan aku. Aku ngga sudi berbagi tubuh suamiku dengan kekasih gelapmu itu.”


“Aku.. tidak akan pernah menceraikanmu.”


“Kalau begitu tinggalkan dia. Aku akan menutup mata tentang perselingkuhanmu dan memulai kehidupan baru denganmu.”


“Apa kamu gila? Aku tidak mungkin meninggalkannya.”


“Jadi kamu lebih memilih perempuan simpananmu.”


“DIA BUKAN PEREMPUAN SIMPANAN!!”


“Dia adalah perempuan yang berselingkuh dengan lelaki yang sudah menikah. Dan kamu juga memenuhi kebutuhan materinya selama ini. Lalu aku harus menyebutnya apa kalau bukan PEREMPUAN SIMPANAN!!!”


“Jangan menguji kesabaranku Maira.”


“Harusnya kamu yang jangan menguji kesabaranku. Kalau aku mau, aku bisa mengirimkan semua foto itu pada orang tua kita. Aku pastikan kehidupanmu akan hancur seketika. Tapi aku masih berbaik hati dengan memberikanmu kesempatan untuk menceraikanku.”


“Aku tidak akan menceraikanmu, sampai kapan pun.”


“Kalau begitu lihat saja. Kalau kamu tidak mau menceraikanku, maka aku yang akan membuatmu menceraikanku.”


Maira menempelkan foto di tangannya di dada Fahrul dengan kencang kemudian berlalu meninggalkan pria itu. Wanita itu masuk ke dalam kamar lalu menutupnya dengan kencang. Fahrul berteriak keras. Dengan kesal dilemparkan barang-barang di sekitar dirinya.


“Aaarrrggghhhh... brengsek!!!”


🍂🍂🍂


**Fahrul... satu kata buatmu, sokoooorrrr...


Met malming ya all readers😎**