The Nick's Life

The Nick's Life
Siapa Kamu???



Mobil yang dikendarai Abe berbelok ke salah satu hotel bintang empat yang ada di kota Bandung. Pria itu kemudian memarkirkan kendaraannya di basement. Dari dalam bagasi dikeluarkannya koper berisi pakaian Sansan. Keduanya lalu masuk ke dalam hotel. Terlebih dahulu pria itu singgah ke meja resepsionis untuk mengambil kunci kamar. Dia sudah melakukan reservasi online sebelumnya.


Sambil menggandeng tangan Sansan dan sebelah tangannya lagi menggeret koper, Abe masuk ke dalam lift. Mereka akan menuju lantai 11, tempat di mana kamar yang dipesannya berada.


Mata Sansan membelalak saat melihat isi kamar yang dipesan Abe. Suaminya sengaja memesan kamar type honeymoon. Kasur berukuran king size dipenuhi kelopak mawar dan posisi kasur menghadap ke jendela yang menyuguhkan pemandangan gunung Tangkuban Parahu.


“Mas.. kamarnya bagus banget.”


“Kamu suka?”


“Suka.. pake banget.”


“Karena aku ngga bisa ajak kamu bulan madu. Jadi aku pesan kamar type honeymoon aja. Lagian kemana kita pergi, tetep ujung-ujungnya nyungsep di kasur juga.”


“Ish.. dasar mesum.”


Sansan mengambil koper miliknya lalu memasukkan ke dalam lemari. Dia terkesiap saat membalikkan badan, Abe sudah ada di hadapannya. Mendadak dia menjadi gugup ketika melihat Abe menatapnya dalam. Abe terus maju hingga membuat punggung Sansan menempel di lemari. Kemudian suaminya itu mendaratkan ciuman di pipinya.


Jantung Sansan berdebar kencang ketika tangan Abe mulai melepaskan hijab yang menutupi kepalanya lalu menaruhnya asal ke meja rias. Kemudian pria itu kembali mendaratkan kecupan-kecupan di leher sang istri. Sansan meremat kaos yang dikenakan suaminya, matanya terpejam menikmati sentuhan bibir Abe. Tanpa dapat ditahan des*han Sansan keluar saat Abe menyesap lehernya sedikit kencang hingga meninggalkan jejak kemerahan.


Abe menghentikan aksinya lalu kembali menatap wajah istrinya. Perlahan Sansan membuka matanya saat merasakan hembusan nafas Abe yang menerpa wajahnya. Jarak di antara mereka semakin terkikis saja. Jantung Sansan sudah tak beraturan lagi detaknya. Jemari Abe menelusuri wajah Sansan, merapihkan anak rambut yang menghalangi wajah cantiknya.


“I miss you,” lirih Abe.


Sedetik kemudian bibir Abe sudah mendarat di bibir Sansan. Dengan gerakan pelan dia memagut bibir manis yang begitu dirindukannya. Dia mengarahkan tangan Sansan melingkari lehernya. Kemudian tangannya menelusup ke belakang tengkuk sang istri. Menekannya pelan untuk memperdalam ciumannya.


Sedikit demi sedikit Sansan mulai membalas ciuman suaminya. Sesuai perintah sang imam, selama berpisah jarak, dia banyak menonton film yang banyak menyajikan adegan beradu bibir. Bahkan gadis itu juga mengikuti saran salah satu temannya, memberanikan diri menonton film dewasa walau akhirnya hanya berani menonton sebentar karena keburu mual melihat adegan vulgar yang disuguhkan.


“Udah selesai kan sayang palang merahnya?”


Tubuh Sansan merinding saat Abe menyebut kata sayang untuknya. Dia hanya mampu menganggukkan kepala saja menjawab pertanyaan suaminya itu. Dadanya kembali berdebar hebat ketika Abe melapaskan kaos yang dikenakannya. Kembali Abe memberikan ciuman di leher Sansan, kemudian terus naik ke atas. Lidahnya menjilati cuping telinga sang istri lalu memberikan gigitan kecil di sana.


Sansan seperti disetrum ribuan volt atas apa yang dilakukan suaminya. Kini bibir Abe sudah sampai di bahunya. Perlahan tangannya menurunkan tali resleting gamis yang dikenakannya. pakaian longgar itu seketika luruh ke bawah ketika Abe melepaskan kedua tangan Sansan dari lengan baju.


Wajah istri Abe yang masih menyandang status gadis itu memerah. Refleks dia menutupi bagian atasnya dengan kedua tangan. Abe menggendong Sansan lalu membawanya ke ranjang. Perlahan dibaringkannya tubuh mungil itu di kasur. Pria itu meraih kedua tangan Sansan lalu menaruhnya di atas kepala.


Sansan semakin resah saat Abe terus memberikan sentuhan demi sentuhan yang melenakan. Bahkan penutup bagian atas tubuhnya sudah tak ada lagi. Jangan ditanya pipinya yang memerah seperti tomat yang siap panen. Namun cumbuan Abe yang begitu lembut berhasil membuatnya mabuk kepayang dan menuntut lebih untuk dipuaskan.


Abe memandangi mata sayu wanita di bawahnya. Dia sudah berhasil membangkitkan hasrat sang istri. Dirinya pun sudah tak bisa lagi mengendalikan diri. Miliknya sudah mengeras dan menegang sempurna. Siap untuk membobol gawang Sansan untuk pertama kalinya.


🍂🍂🍂


Abe memeluk tubuh istrinya dari belakang setelah percintaan mereka. Tadi hampir saja dia gagal membobol gawang karena Sansan menangis saat merasakan sakit ketika diterobos oleh tongkat sakti miliknya. Namun berkat bujukan dan cumbuannya yang memabukkan, akhirnya pria itu berhasil melepas masa perjakanya dengan sukses.


CUP


CUP


CUP


Tiga kecupan beruntun diberikan pria itu di punggung Sansan yang terbuka. Kedua tangannya melingkari pinggang sang istri sampai ke perut. Tangan Sansan menumpu di atasnya. Dia belum berani melihat Abe, masih malu dengan pergulatan di atas ranjang barusan.


“San..”


“Hmm..”


“Kirain masih nangis.”


“Ish..”


Terdengar kekehan Abe. Sang istri yang usianya belum genap 20 tahun itu selalu saja membuatnya gemas. Pria itu sedikit menaikkan posisi tidurnya lalu meletakkan bahu di leher Sansan. Sebuah kecupan kecil diberikan Abe di leher dan pundak istrinya.


“Kamu berapa hari di sini?”


“Kenapa? Mas ngusir ya. Aaaaa…… ampun mas.. ampun..” tubuh Sansan menggelinjang saat tangan Abe mengelitiki pinggangnya.


“Kebiasaan kalo ditanya ngga pernah langsung jawab.”


“Iya.. iya.. ampun mas.. aku bakalan lama di sini. Kemarin baru beres seminar outline. Aku mau nyusun di sini aja.”


“Kamu emang ngga penelitian?”


“Penelitianku bentuknya studi literasi. Aku bisa ambil data di internet atau perpustakaan. Terus pembimbingku bilang kalau udah beres semua baru bimbingan.”


“Berarti kamu bisa nyusun di sini dong.”


“Iya.”


“Asik.. berarti bisa nyelup tiap malem ya.”


“Ish.. dasar mesuuummm.”


Tangan Abe yang berada di perut Sansan bergerak naik ke atas lalu meremat bulatan kenyal yang sudah menjadi candunya. Sansan melenguh pelan dan itu semakin membuat Abe bertambah semangat memijat dan merematnya. Bibirnya juga mulai sibuk menciumi tengkuk dan leher sang istri. Sansan merasakan tusukan dari arah belakang. Sepertinya tongkat sang suami sudah berdiri tegak lagi. Dengan cepat Abe membalikkan tubuh Sansan.


“Ronde kedua sayang.”


“Aaaaa….”


🍂🍂🍂


“Zi..”


Teguran Ridho berhasil mengusik lamunan Iza. Sedari tadi pikirannya terus tertuju pada pria yang telah membantunya di mall. Suara pria itu begitu mirip dengan suara Nick. Selain itu, sentuhan pria tadi mengingatkannya akan sentuhan Nick.


“Zi.. kamu kenapa?” tegur Ridho lagi karena sang adik masih belum meresponnya.


“Ngga, ngga apa-apa. Hmm.. tadi dokter Rega telepon, bang. Aku harus menjalani pemeriksaan lagi katanya.”


“Jam berapa?”


“Jam sebelas, bang.”


“Besok abang harus nguji sidang. Kamu pergi dulu sama Meta, nanti abang jemput.”


“Iya, bang.”


Iza menghabiskan makannya lalu kembali ke dalam kamar. Kejadian di mall tadi terus mengusik pikirannya. Hatinya terus bertanya-tanya apakah mungkin Nick masih hidup. Tapi jika benar, apa mungkin ummi telah membohonginya.


Apa mungkin itu benar Nick. Apa karena aku terlalu merindukannya, membuatku menyangka laki-laki itu Nick. Ya Allah, berikan hamba petunjukmu. Pertemukan kembali hamba dengan laki-laki itu.


Airmata Iza mengalir, kerinduannya pada Nick tak pernah surut setiap malamnya. Tak jarang wanita itu menangis menjelang tidurnya. Hanya kenangan akan suaminya yang membuatnya tetap bertahan. Mencoba menjalani hidup yang tak mudah untuknya. Kadang dia berharap ajal menjemputnya agar tidak tersiksa terus menerus dalam kerinduan tak berujung.


Perlahan Iza membaringkan tubuhnya. Setelah merapalkan doa, masih ada satu lagi hal yang dilakukannya menjelang tidur. Wanita itu membayangkan wajah Nick, kemudian memutar kembali kenangan mereka saat bersama. Dia membayangkan Nick saat ini ada di sampingnya, memeluk tubuhnya seraya membisikkan kata cinta untuknya. Dengan airmata yang terus mengalir dari kedua matanya, Iza mencoba untuk tidur.


🍂🍂🍂


Nick memandangi tangannya yang tadi menyentuh Iza. Walau kejadiannya sudah berlalu beberapa jam yang lalu, namun dia masih bisa merasakan hangat tubuh wanita itu. Perasaan yang tertinggal sesudahnya. Bahkan hanya mengingat kejadian tadi, sudah membuat dadanya berdebar kencang.


Pertemuan dengan Iza yang hanya berlangsung beberapa saat saja sukses meninggalkan kesan yang mendalam. Berbeda dengan Bila, seberapa sering dan lamanya dia berinteraksi dengan gadis itu, Nick tak dapat merasakan apapun. Dia mulai mempertanyakan cerita Diah padanya.


Apa mommy berbohong? Apa mommy mencoba memanipulasi ingatanku? Tapi kenapa? Ada apa dengan Azizah, kalau memang benar mommy melakukan itu.


Kepala Nick mulai berdenyut. Pria itu mencoba menenangkan diri. Ditariknya nafas dalam-dalam. Dia terus mensugesti dirinya untuk tenang. Beberapa saat kemudian nyeri di kepalanya berangsur menghilang. Nick membaringkan tubuhnya di kasur. Dia harus berhenti memforsir otaknya secara berlebihan.


Cerita Diah tentang Bila kembali menggelitik pikirannya. Nick mencoba mencerna ucapan Diah dari berbagai sudut, kemudian membandingkannya dengan jawaban yang diberikan Bila padanya. Seperti ada yang janggal, cerita keduanya seperti terputus, tidak tersambung satu sama lain.


Nick bangun dari tidurnya lalu berjalan kamar mandi. Tak lama pria itu keluar dengan kondisi wajah, tangan, kaki dan rambutnya basah. Diraihnya sajadah yang tersampir di atas kursi lalu menggelarnya. Setelah memakai kopeahnya, dia memulai shalat malamnya.


“Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.. Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.”


“Ya Allah, hamba mohon terangilah jalan hamba. Jangan biarkan hamba terlalu lama berada dalam kegelapan. Berikan hamba petunjuk, kemana harus melangkah untuk menemukan jalan kembali. Pertemukan hamba dengan seseorang yang ingin hamba temui, seseorang yang hamba rindukan. Hanya kepada-Mu hamba memohon pertolongan. Kabulkanlah permohonan hamba ini, aamiin.”


🍂🍂🍂


Seperti biasa, rumah sakit Ibnu Sina tak pernah sepi dari pengunjung yang hendak berobat atau menjenguk pasien yang dirawat di sana. Diantar oleh Meta, Iza akan bertemu dengan dokter Rega. Selain untuk memeriksakan keadaan Iza, Meta juga ingin menanyakan perihal perkembangan donor mata untu adik iparnya ini. Dia berharap Iza segera mendapatkan donor, dan saat pertemuan nanti dengan Nick, wanita itu sudah bisa melihat kembali secara normal.


Kedatangan Iza dan Meta disambut ramah oleh suster yang mendampingi dokter spesialis mata itu. Dia mengantar Iza dan Meta masuk ke ruang periksa. Senyum dokter Rega mengembang saat melihat wanita yang dicintainya tiba. Semenjak kepindahannya ke Bandung, ini pertama kalinya bertemu lagi dengan Iza.


“Pagi, dok,” sapa Iza.


“Pagi, Noor. Silahkan duduk.”


Meta membantu Iza duduk disusul dirinya menduduki kursi di samping sahabatnya itu. Sekilas dia menangkap bagaimana cara dokter muda itu menatap Iza. Ridho sudah mewanti-wanti padanya untuk menjaga Iza dan tak membiarkannya berduaan dengan dokter Rega.


“Bagaimana keadaanmu?”


“Alhamdulillah baik.”


“Maaf dok. Bagaimana dengan perkembangan donor mata untuk Iza?”


“Masih harus menunggu. Sebenarnya kemarin ada beberapa donor mata yang masuk. Sayangnya ukuran korneanya tidak cocok dengan ukuran Noor. Bersabarlah, In Syaa Allah akan ada waktu baginya mendapatkan donor yang cocok.”


“Aamiin.”


“Kalau begitu, ayo kita memulai pemeriksaan.”


Meta memperhatikan dokter Rega yang tengah memeriksa Iza sambil berbalas pesan dengan suaminya. Pemeriksaan sendiri tidak berlangsung lama. Dokter Rega hanya memeriksa organ mata Iza apakah masih berfungsi dengan baik.


Sementara itu, di sisi lain gedung, masih di rumah sakit yang sama, Nick tengah berkonsultasi dengan dokter Rafli. Dia menceritakan apa yang dialaminya akhir-akhir ini. Bila juga ikut mendengarkan sesi konseling Nick.


“Dok, apa ingatan afeksi yang kuat dan sering saya rasakan itu berasal dari kenangan pahit?”


“Saya tidak tahu. Biasanya yang memberikan ingatan paling membekas itu, yang membuat afeksi bertambah kuat. Kebanyakan orang mempertahankan kenangan baik, sedangkan kenangan pahit mereka pendam jauh ke dalam alam bawah sadar. Otak kita menyeleksi mana ingatan yang akan dipertahankan, mana yang akan dibuang. Ada juga kenangan yang tetap ada namun diblok hingga kita tidak bisa mengingatnya. Biasanya itu terjadi jika kita mengalami trauma berlebihan. Itu sebagai bentuk mekanisme pertahanan diri.”


“Perasaan kuat ketika saya mendengar nama seseorang, apakah itu kenangan baik atau buruk?”


“Hanya kamu yang bisa menjawabnya. Jangan coba mengingat, tapi selami hatimu. Apa yang kamu rasakan ketika mendengar nama itu?”


“Lebih kepada kerinduan.”


“Bisa jadi itu kenangan baik untukmu. Biasanya kita merindukan orang yang kita sayang kan, bukan musuh atau orang yang telah menyakiti kita.”


Nick menganggukkan kepalanya. Nama Azizah, wanita yang kemarin ditemuinya di mall, suara yang tak asing serta sentuhan yang terasa familiar dan menggetarkan hatinya. Dia yakin, perempuan itu ada hubungan dengannya.


“Terima kasih dok. Semoga saya bisa mendapat jawaban dengan cepat.”


“Mudah-mudahan. Ingat, jangan terlalu memforsir otakmu untuk mengingat.”


“Iya, dok. Kalau begitu, saya permisi dulu."


Nick berdiri seraya menyalami dokter Rafli. Pria itu kemudian keluar dari ruang praktek dokter tersebut. Bila bergegas menyusulnya, dia perlu membicarakan beberapa hal dengan Nick. Diah memintanya terus melakukan pendekatan pada pria itu dan tentu saja Bila akan melakukannya dengan senang hati.


Saat yang sama Iza juga sudah selesai melakukan pemeriksaan. Meta langsung mengajak Iza ke lobi rumah sakit untuk menunggu Ridho. Suaminya itu mengatakan sedang dalam perjalanan ke rumah sakit. Meta mendudukkan Iza di salah satu kursi di ruang tunggu.


“Zi.. aku keluar sebentar ya, mau lihat bang Ridho. Siapa tahu udah sampai.”


“Iya.”


Dari arah lift, Nick dan Bila keluar. Keduanya masih berbincang. Bila banyak bertanya soal kedai kopi Nick yang baru dibukanya dua hari lalu. Dia juga minta diajarkan bagaimana cara membuat kopi. Nick tak keberatan mengajarkan Bila dan memperbolehkan gadis itu datang kapan saja dia mau.


Rasa suka Bila pada Nick semakin tumbuh subur. Sikap Nick juga mulai terbuka padanya, memberi harapan kalau cintanya tidak bertepuk sebelah tangan. Ditambah dengan dukungan Diah, gadis itu semakin percaya diri. Percakapan terus berlanjut ketika mereka melintasi lobi.


Iza yang tengah duduk menunggu terkesiap mendengar suara familiar yang tak jauh dari tempatnya duduk. Suara yang didengarnya tempo hari. Suara seorang pria yang mirip dengan suara suaminya. Wanita itu segera berdiri kemudian berjalan menuju arah suara.


BRUK


Iza terjatuh saat kakinya tersandung kursi. Nick yang berada tak jauh darinya langsung menoleh. Refleks dia mendekati Iza untuk membantu. Dia terkesiap saat melihat wanita yang terjatuh adalah wanita yang beberapa hari lalu ditemuinya di mall.


“Kamu ngga apa-apa?” tanya Nick sambil membantu Iza berdiri. Kembali gelanyar aneh dirasakan oleh pria itu.


“Nick..” panggil Iza.


“Kamu… tahu namaku?”


“Ini benar kamu mas?”


“Apa kita saling kenal?”


“Maaf.. a.. apa aku salah orang. Tapi suaramu mirip dengannya. Namamu juga Nick. Si.. siapa nama panjangmu? Apakah Nickolas Armando Littrel?”


“Siapa kamu? Kenapa kamu bisa tahu nama lengkapku?”


Nick memegang kedua bahu Iza. Wajah dan suara wanita itu benar-benar tak asing baginya. Iza sendiri masih bingung dengan semua yang terjadi, mengapa Nick malah balik bertanya padanya. Melihat ada yang tidak beres, Bila pun mendekat.


“Katakan, siapa kamu?”


“Kamu ngga mengenalku mas? Apa karena aku buta makanya kamu pura-pura ngga kenal aku?” mata Iza mulai berkaca-kaca.


“Kamu… aaarggghh..”


Pegangan Nick di bahu Iza terlepas. Kini kedua tangannya memegangi kepalanya yang terasa nyeri. Bila bergegas menghampiri. Dia berusaha menenangkan Nick yang masih mengerang kesakitan. Iza pun tak kalah paniknya, dia mencoba mendekati Nick.


“Ke.. kenapa? A.. ada apa denganmu? Nick…”


“Aaarrgghh..”


“Ayo Nick kita harus memeriksa keadaanmu,” Bila membantu Nick berjalan.


“Tunggu… jangan pergi.. Nick..”


“Berhenti mengikutinya! Apa kamu sadar apa yang kamu lakukan?! Kamu sudah menyakitinya!” hardik Bila pada Iza, membuat wanita itu terkesiap.


“Aaargghh..”


Kembali terdengar erangan Nick yang disusul tubuhnya yang ambruk. Bila berteriak memanggil perawat yang tengah melintas. Dengan tergopoh dua perawat lelaki menghampiri lalu membawa Nick ke IGD. Bila berlari mengikuti dari belakang. Tak lupa dia menghubungi dokter Sudirman, dokter Reyhan dan juga dokter Rafli.


Sementara itu, Iza yang masih belum tahu apa yang sebenarnya terjadi, terus berjalan tak tentu arah. Lagi-lagi kakinya tersandung kursi yang dilewatinya dan tubuhnya kembali terjatuh.


“Zi!”


Meta yang kembali bersama dengan Ridho bergegas mendekati Iza lalu membantunya berdiri. Ridho terkejut melihat Iza yang tengah menangis.


“Zi.. kamu kenapa?”


“Nick.. ada Nick.. a.. aku tadi bertemu dengan seseorang yang suaranya mirip Nick. Namanya juga sama tapi dia tak mengenaliku. Apa mungkin Nick masih hidup?” Jawab Iza di sela-sela tangisnya. Meta dan Ridho saling berpandangan.


“Di mana dia Zi?”


“Aku ngga tau bang. Tadi dia berteriak kesakitan. Bang, apa benar itu Nick?”


“Abang akan cari tahu. Kamu dan Meta tunggu saja di sini.”


Ridho bergegas menuju IGD. Iza mengatakan Nick kesakitan, besar kemungkinan dia dibawa ke unit darurat. Meta memapah Iza lalu mendudukkannya di kursi. Dipeluknya Iza yang masih menangis. Meta tak menyangka pertemuan Iza dan Nick akan terjadi secepat ini.


🍂🍂🍂


Maaf.. kemarin ngga sempat up. Selain sinyal oleng dan ada gangguan, ada kesibukan yang ngga bisa ditinggalkan. Jangan marah ya kalau ngga up, nanti cepat tua. Jangan suudzon juga, selain dosa, kalian juga ngga tahu situasi yang bikin ngga bisa up. Kita saling hargai dan mengerti aja bos😎