The Nick's Life

The Nick's Life
Separated



Keesokan harinya, dokter Rega melakukan pemeriksaan menyeluruh pada Iza. Dokter itu memeriksa bagian kelopak mata, pupil, iris serta cairan di dalam bola mata. Selain itu, dia juga melakukan oftalmaskop atau funduskopi untuk memeriksa pembuluh saraf, saraf mata dan retina.


Rahardi dan Mina menunggu dengan cemas di ruangan dokter Rega. Pria itu meminta kedua orang tua Iza ke ruangannya setelah hasil pemeriksaannya keluar. Setelah berbicara sebentar dengan suster yang membantunya, dokter Rega masuk ke dalam ruangan. Dia melepaskan snelli kemudian menggantungkannya di kapstok. Pria itu lalu menarik kursi di belakang meja kerjanya.


“Bagaimana hasil pemeriksaan anak saya dok?” tanya Rahardi tak sabar.


“Hmm.. berdasarkan hasil pemeriksaan, mata anak bapak dan ibu terluka akibat banyak pecahan kaca yang masuk ke matanya. Beberapa bagian matanya yang lain masih berfungsi dengan normal dan akan pulih dengan pengobatan yang dilakukan. Tapi.. anak bapak terkena keratitis.”


“Apa itu dok?”


“Karena luka yang dideritanya cukup dalam, bagian korneanya robek. Bukan hanya satu tapi di kedua matanya. Dan lukanya cukup dalam, hingga anak bapak mengalami kebutaan. Kemungkinan buta secara permanen.”


Hati Mina mencelos mendengarnya. Sebisa mungkin wanita itu meyakinkan hatinya kalau ini adalah takdir yang harus dijalani anaknya dan tetap berbaik sangka pada Sang Pencipta.


“Apa masih bisa disembuhkan dok?”


“Bisa saja pak. Karena beberapa organ matanya masih berfungsi dengan normal, untuk mengatasi kebutaan bisa dengan melakukan cangkok mata. Kornea yang rusak akan digantikan dengan kornea baru. Jika bapak dan ibu bersedia, saya akan memasukkan saudari Noor dalam daftar penerima donor.”


“Lakukan dok. Lakukan apa saja agar penglihatan anak saya kembali. Kalau perlu ambil mata saya sebagai gantinya.”


“Donor mata hanya bisa dilakukan oleh orang yang sudah meninggal. Saya akan melakukan yang terbaik untuk menemukan donor mata yang cocok untuk anak bapak. Hanya saja mungkin prosesnya cukup lama. Karena di Indonesia pendonor mata itu masih sedikit. Terkadang kami harus mencari donor di negara luar. Itu pun nantinya masih harus menunggu giliran karena sudah banyak yang menunggu donor mata ini. Tapi kalau bapak atau ibu bisa menemukan donor mata sendiri, maka proses pencangkokkan dapat segera dilakukan.”


Rahardi tergugu mendengar penuturan dokter muda itu. Di mana dirinya bisa menemukan pendonor mata untuk anaknya. Airmata Mina mengalir mendengar kondisi Iza. Cobaan bertubi menimpa anak bungsunya itu. Dokter Rega memberikan tisu untuknya.


“Yang terpenting sekarang adalah memulihkan mental saudari Noor. Dari catatan medis, saya melihat kalau dia kehilangan bayinya saat kecelakaan. Ditambah dengan kondisinya sekarang ini, pasti sangat berat untuknya. Saya harap bapak dan ibu terus mendampinginya. Maaf kalau saya lancang, di mana suaminya saudari Noor?”


“Anak saya mengalami kecelakaan bersama suaminya. Suaminya dipindahkan ke rumah sakit lain karena peralatan di sini kurang memadai. Saat ini dia belum sadar dari komanya.”


Dokter Rega hanya menganggukkan kepalanya. Dia cukup miris mendengar kisah tragis yang menimpa Iza. Entah karena simpati atau apa, tapi pria itu begitu ingin membantu Iza. Selain memasukkannya ke dalam daftar penerima donor, dia juga berencana mencari donor secara pribadi. Lewat jaringannya, dokter Rega akan membantu mencari pendonor yang cocok untuk Iza.


“Kalau bapak dan ibu mengijinkan, biar saya yang mengatakan perihal kondisi saudari Noor saat ini.”


“Iya dok. Tolong bantu kami menjelaskannya. Kami takut dia akan histeris seperti kemarin.”


“Iya pak. Mari kita pergi sekarang. Semakin cepat pasien mengetahui kondisinya, semakin baik untuknya. Dia harus bisa menerima keadaan dirinya agar kondisi fisiknya cepat pulih.”


Dokter Rega bangun dari duduknya, dia beranjak dari tempatnya tanpa mengenakan jas dokternya lagi. Sedianya waktu kerjanya hari ini telah berakhir. Rahardi dan Mina berdiri, saat mengikuti dokter mata itu, Rahardi meraih tangan Mina namun dengan kasar wanita itu menepisnya.


Tak ada reaksi apapun dari Iza ketika secara pelan-pelan dokter Rega menjelaskan kondisinya. Kejadian buruk yang terus menimpanya membuat hati wanita itu seolah mengeras. Menangis atau menjerit sekuat apapun, keadaan dirinya tidak akan berubah. Calon anaknya telah tiada, matanya pun buta. Kini dia hanya berharap Nick dapat secepatnya pulih. Hanya itu yang menjadi penyemangat hidupnya kini.


“Saya harap kamu jangan berkecil hati apalagi berputus asa. Harapan untukmu masih tetap ada. Berdoa saja kami bisa menemukan pendonor untukmu dan kamu bisa melihat lagi seperti semula.”


BRAK!


Semua yang ada di ruangan dikejutkan dengan suara benda terjatuh. Tas ransel di tangan Ridho jatuh begitu saja ketika mendengar kondisi sang adik. Pria itu baru saja sampai setelah menempuh perjalanan panjang dari Cairo ke Jakarta. Dia langsung menghambur masuk ke dalam.


“Apa maksud perkataan dokter barusan. Ada apa dengan mata adik saya?”


“Bang Ridho..”


“Zi.. kamu baik-baik aja kan. Tidak ada masalah serius denganmu kan?”


Iza hanya terdiam mendengar pertanyaan sang kakak. Hanya isak tangis saja yang keluar dari bibirnya. Ridho menarik sang adik dalam pelukannya. Setelah mendengar perihal kehamilan Iza, Ridho bermaksud mempercepat kepulangannya ke Indonesia. Namun masalah administrasi di kampus tempatnya mengajar ternyata memakan waktu lebih lama dari dugaannya. Sehingga kepulangannya mundur satu minggu dari jadwal semula.


“Secara keseluruhan, kondisi fisiknya sudah membaik. Hanya tinggal pemulihan saja, banyak-banyak istirahat. Dan saya sarankan untuk beradaptasi sedikit demi sedikit dari sekarang. Mungkin akan terasa sulit awalnya, tapi bantuan dan dukungan orang terdekat akan mempermudah. Saya akan berusaha secepatnya mendapatkan donor mata.”


“Terima kasih dok. Sekali lagi, terima kasih,” ucap Mina.


“Sama-sama bu. Itu sudah menjadi kewajiban saya sebagai seorang dokter. Kalau begitu saya permisi dulu.”


Dokter Rega keluar dari ruang inap Iza. Kini tinggal Rahardi, Mina, Iza dan Ridho di sana. Ridho menguraikan pelukannya, kemudian membaringkan tubuh Iza. Seperti ucapan dokter barusan, Iza harus banyak beristirahat untuk proses pemulihan. Dia terus duduk di sisi bed, menenangkan adiknya sampai tertidur.


Melihat Iza tertidur, Ridho menghampiri Mina. Dia ingin mengetahui apa yang sebenarnya menimpa sang adik. Mina menceritakan semua apa yang dikatakan suaminya. Tangan Ridho mengepal keras. Matanya menatap sengit ke arah sang ayah yang duduk sedikit berjarak darinya dengan kepala tertunduk. Jika tak mengingat lelaki itu adalah ayah kandungnya, ingin rasanya dia menghajarnya habis-habisan.


“Bagaimana dengan Nick?”


“Nick dipindahkan ke rumah sakit lain karena peralatan di sini tak memadai untuk merawat luka di kepalanya.”


“Ummi sudah menjenguknya?”


“Belum. Jujur ummi takut untuk menjenguknya. Ummi juga merasa malu bertemu dengan mommy-nya. Bagaimana ummi bisa berhadapan dengannya sementara suami ummi sendiri yang sudah menyebabkan anaknya terbaring koma.”


Terdengar isak Mina, Ridho menarik ibundanya ke dalam pelukannya. Rahardi semakin menundukkan kepalanya. Sejuta penyesalan yang dirasakan seakan tak ada artinya. Anak dan menantunya harus menuai buah kekeraskepalaannya. Tetesan air meluncur keluar dari kedua matanya.


🍂🍂🍂


Sudah empat hari lamanya Nick dipindahkan ke rumah sakit baru. Selama itu pula pria tersebut belum bangun dari tidur panjangnya. Diah dan Bryan selalu setia berada di sampingnya. Setiap pulang kerja, Arnav selalu datang menengok sahabatnya. Begitu pula dengan Denis. Bahkan pria itu tak menerima job syuting film baru demi bisa menunggui sahabatnya.


Fahrul masih disibukkan dengan urusan penjualan dealernya. Abe terus mendampingi, dan membantu mengurus dana yang diterimanya untuk pelunasan hutang di bank serta untuk membayar gaji karyawan. Setiap harinya Fahrul juga terus berkomunikasi dengan Maira. Mengetahui Nick mengalami kecelakaan, Maira meminta Fahrul menunda kepindahannya ke Bandung. Wanita itu tahu betapa suaminya itu menyayangi sahabatnya.


Denis masuk ke kamar inap tempat Nick dirawat. Nampak Diah tengah berbaring di sofa. Pria itu mendekat kemudian menyelimuti tubuh Diah. Dia lalu masuk ke ruang perawatan dan mendudukkan diri di sisi bed. Sahabatnya itu masih tertidur dengan damainya. Sepertinya Nick masih enggan terbangun dari tidur panjangnya.


“Nick.. bangun bro. Please jangan kelamaan tidur. Gue kangen ngobrol sama elo, denger celotehan absurd lo. Denger nasehat lo. Gue udah jadi mualaf Nick. Seperti keinginan lo, gue udah menentukan pilihan keyakinan gue. Sekarang gue udah siap buat menjadi pribadi yang lebih baik.”


Pria itu menjeda ucapannya sejenak. Tenggorokannya serasa tercekat dengan kesedihan yang menyergap. Beberapa kali Denis menarik nafas panjang untuk menenangkan perasaannya. Dia ingat pesan sang dokter untuk selalu mengatakan hal baik demi membangkitkan semangat hidup pasien. Sebisa mungkin pria itu tak mau menunjukkan kesedihannya.


“Nick.. lo harus bangun. Lo punya janji sama gue. Lo janji mau nyewa sisingaan sama ondel-ondel buat ngarak gue keliling Jakarta kalau gue sunat. Gue udah disunat, jadi sekarang lo harus bangun buat nepatin janji lo.”


Denis tak bisa menahan kesedihannya lagi ketika mengingat momen kebersamaan mereka yang terakhir kali sebelum dia menghilang demi memberi kejutan. Pria itu bangun dari duduknya dan bergegas meninggalkan bed Nick. Dia mengusap kasar airmata yang mengalir di pipinya. Di saat yang bersamaan, Bryan masuk dengan membawa beberapa kotak makanan.


“Den.. kapan datang?”


“Baru aja dad.”


“Kamu sudah makan?”


“Udah dad. Aku pulang ke apartemen dulu sebentar. Nanti sore aku ke sini lagi.”


“Iya.”


Bryan menepuk pelan punggung Denis. Pria itu kemudian menuju sofa. Dibangunkannya Diah. Sedari pagi wanita itu belum makan. Tak ingin mengganggu kebersamaan pasangan tersebut, Denis bergegas pergi.


🍂🍂🍂


Denis memarkirkan motornya di basement, kemudian memasuki gedung apartemennya. Sudah cukup lama juga dia tak pulang ke apartemennya. Bisa dipastikan unitnya sudah dipenuhi debu di sana sini. Dia lupa menghubungi petugas kebersihan yang biasa membantu membersihkan unitnya.


Sesampainya di depan unit, Denis segera memasukkan enam digit nomor kunci apartemennya. Tak lama kemudian pintu terbuka. Pria itu terkejut melihat Ayura ketika pintu terbuka.


“Ay..”


“Den.. maaf aku ngga bilang dulu kalau ke sini. Arif terus menerorku dan kedua orang tuaku. Aku terpaksa membawa Azka pergi. Aku ngga punya tempat tujuan lain, makanya aku ke sini.”


“Ngga apa-apa, aku malah seneng kalau kamu di sini. Mana Azka? Apa dia baik-baik aja?”


“Azka baik-baik aja. Dia lagi tidur di kamar. Kamu sendiri gimana? Aku dengar dari Maira kalau Nick kecelakaan.”


Mendengar nama Nick, pria itu kembali bersedih. Dengan langkah gontai, Denis berjalan menuju sofa kemudian mendudukkan dirinya di sana. Kepalanya tertunduk dengan kedua tangan memegangi kepalanya.


“Nick... dia masih koma. Dia belum sadar dari komanya. Dokter bilang cedera di kepalanya parah dan ada kemungkinan dia akan amnesia permanen. Aku takut Ay.. takut. Aku takut kalau Nick ngga bangun lagi. Lebih baik dia kehilangan ingatannya, asalkan dia bisa bangun dan hidup normal lagi. Ngga masalah dia mengingatku atau ngga, asalkan dia tetap hidup. Itu sudah cukup buatku.”


Tangan Ayura terangkat hendak mengusap kepala Denis. Baru saja telapak tangannya terbuka, namun segera menutupnya kembali. Bukan hal baik jika dia menyentuh pria yang bukan muhrimnya. Ayura akhirnya hanya diam saja, membiarkan pria itu mengeluarkan semua kesedihan hatinya.


“Om Denis kenapa?”


Denis mengangkat kepalanya ketika mendengar suara Azka. Bocah laki-laki berusia lima tahun itu berdiri di depannya sambil memandangi dirinya dengan mata bulatnya. Perlahan tangan Azka bergerak menghapus airmata di wajah Denis.


“Om Denis kok nangis. Dimarahin mama ya.”


“Bukan.. mama ngga marahin om Denis kok,” Ayura menggerak-gerakkan kedua tangannya.


“Kalau ngga dimarahin mama, om Denis kenapa nangis? Om sakit?”


“Om Denis lagi sedih, karena teman baiknya lagi sakit.”


Kembali terdengar suara Ayura menjawab pertanyaan sang anak. Denis tak mampu menjawab semua pertanyaan Azka. Selain karena dirinya masih diliputi kesedihan, dia juga terharu Azka begitu perhatian padanya.


“Om jangan nangis. Mending kita berdoa aja yuk. Kata bu guru kalau ada teman yang sakit kita harus mendoakan. Allah pasti bakalan sembuhin temen om.”


“Iya Ka. Makasih. Om boleh peluk kamu ngga?”


Azka merentangkan tangannya, dengan cepat Denis meraih tubuh Azka. Tubuh kecil itu tenggelam masuk ke tangan kekar Denis. Layaknya orang dewasa, Azka menepuk-nepuk pelan punggung Denis. Airmata pria itu semakin deras bercucuran.


“Azka jangan tinggalin om, ya.”


“Iya om.”


“Om sayang sama Azka.”


“Azka juga.”


Mata Ayura berkaca-kaca melihat pemandangan di depannya. Dia mengalihkan pandangannya ke arah lain seraya menyusut sudut matanya. Kasih sayang Denis pada Azka sungguh membuatnya terharu. Seandainya bisa, dia ingin memiliki pendamping yang menyayangi Azka, seperti Denis.


🍂🍂🍂


Bersama dengan Ayura dan Azka, Denis kembali ke rumah sakit setelah mendapat kabar dari Bryan, kalau Nick sudah sadar. Fahrul dan Abe terpaksa membatalkan pertemuan dengan pak Dewa dan bergegas menuju rumah sakit. Begitu pula dengan Arnav yang langsung pulang dari kantor lebih awal.


Diah dan Bryan terus mengawasi dokter Steven yang tengah memeriksa keadaan Nick. Anaknya itu terbangun dari tidur panjangnya setengah jam yang lalu dan kini dokter Steven bersama dengan beberapa dokter lainnya sedang memeriksa keadaannya.


Pintu ruangan terbuka, Fahrul dan Abe masuk ke dalamnya. Tak lama di belakangnya menyusul Denis beserta Ayura dan Azka. Terakhir Arnav tiba bersama dengan Topan. Topan yang baru pulang dari Serang langsung menuju rumah sakit begitu mendengar perihal Nick.


Seorang suster menghampiri dan mempersilahkan keluarga untuk masuk menemui Nick. Dengan cepat Diah masuk ke dalam ruangan. matanya berkaca-kaca menatap sang anak yang berada di atas bed. Tatapan mata Nick nampak kosong.


“Nick.. sayang..”


Nick menolehkan kepalanya ke arah Diah. Tak ada reaksi apapun dari Nick. Dia menatap wanita paruh baya di depannya tanpa dapat mengenali siapa wanita tersebut.


“Ibu.. siapa?”


Tangis Diah langsung pecah mendengar pertanyaan Nick. Ternyata prediksi dokter Irawan benar adanya. Anaknya mengalami amnesia pasca operasi.


“Ini mommy nak..”


“Mommy?”


“Nick..”


Nick kembali menolehkan kepalanya saat sebuah suara memanggilknya. Lagi-lagi tatapan kosong yang diberikan saat melihat ke arah Abe. Matanya kemudian menatap satu per satu orang yang berdiri di dekatnya. Dari mulai Diah, Bryan, Abe, Fahrul, Denis, Arnav dan Topan. Ayura tak ikut masuk, dia dan Azka duduk menunggu di sofa.


“Kalian siapa?”


“Kami semua adalah keluargamu. Ini mommy-mu, ini sahabat-sahabatmu, Abe, Denis, Fahrul, Arnav, Topan. Dan aku daddy-mu,” jelas Bryan.


“Keluargaku?”


Nick terus menatapi wajah-wajah asing di hadapannya. Otaknya berusaha menggali ingatan yang tiba-tiba saja menghilang begitu dia bangun dari tidur panjangnya. Namun tiba-tiba terdengar erangannya. Pria itu mengerang kesakitan seraya memegangi kepalanya. Sontak semua yang ada di sana terkejut.


Suster meminta semua keluar dari ruangan, dokter Steven langsung memeriksa keadaan Nick. Karena pria itu terus merasakan sakit di kepalanya, dia terpaksa menyuntikkan obat pereda nyeri. Kemudian dokter tersebut memerintahkan suster untuk segera menyiapkan serangkaian pemeriksaan.


Setelah kondisi Nick kembali stabil, dokter Steven menghampiri Diah dan yang lainnya. Sejenak dipandangi wajah wanita itu yang nampak begitu cemas. Mendengar kronologi kecelakaan dan rekam medis yang diberikan rekan kerjanya, dokter Irawan, sedikit banyak dokter senior itu sudah bisa memprediksi apa yang terjadi pada Nick.


“Dokter ada apa dengan anak saya? Dia baik-baik aja kan?”


“Itu reaksi normal dari pasien yang mengalami amnesia. Ketika dia mencoba mengingat sesuatu, maka urat sarafnya bekerja lebih keras. Luka di kepala yang belum sembuh membuat bagian saraf tertekan hingga menimbulkan rasa sakit.”


“Tapi tidak berbahaya kan dok?”


“Tergantung kondisinya. Kami akan melakukan pemeriksaan darah, CT Scan, MRI dan tes kognitif untuk melihat bagaimana kondisinya saat ini.”


Seorang suster keluar dari dalam setelah mengambil sampel darah. Tak berapa lama, datang dua orang perawat pria. Mereka membawa Nick untuk melakukan serangkaian pemeriksaan. Dokter Steven meminta Diah dan yang lainnya menunggu di kamar.


🍂🍂🍂


Dengan langkah gontai Diah keluar dari ruang praktek dokter Steven. Nyawa seakan lepas dari raganya begitu mendengarkan penjelasan dokter tersebut. Sejak sadar, Nick beberapa kali merasakan sakit di kepalanya begitu pria itu berusaha mengingat siapa dirinya. Kejadian terus berulang hingga pagi tadi dan memaksa tim dokter kembali melakukan pemeriksaan.


Dari hasil pemeriksaan menunjukkan kalau luka di kepala pasien melebar dari otak kecil, menjalar ke otak tengah dan besar. Saraf di otak kecilnya terhimpit karena benturan yang terjadi. Walau operasi berhasil, namun saraf yang terhimpit ini tetap menjadi ancaman. Jika pasien terlalu memaksakan diri untuk mengingat jati dirinya, maka saraf yang terhimpit ini akan kembali meradang. Dan jika saraf ini pecah, maka bisa jadi nyawa pasien terancam. Untuk saat ini lebih baik pasien tidak memaksakan diri mengingat masa lalunya. Saya sarankan untuk berkonsultasi dengan psikiater, pasien perlu merelaksasi pikirannya supaya tidak terus memaksakan diri untuk mengingat dan jauhkan dirinya dari sesuatu yang memicu dirinya untuk menarik ingatannya kembali.


Diah jatuh terduduk di lantai. Kakinya sudah tak mampu menopang tubuhnya lagi. Tangisnya kembali pecah mengingat keadaan anak semata wayangnya. Bryan yang sedari tadi mengikuti dari belakang segera menghampiri dan membantunya berdiri. Bryan membimbing Diah kembali berjalan. Namun langkahnya terhenti begitu melihat Rahardi berdiri di hadapannya.


“Mau apa kamu ke sini?”


“Aku ingin tahu keadaan Nick.”


“Untuk apa? Untuk apa kamu menanyakan keadaannya!!”


“Maafkan aku. Aku menyesalinya semuanya. Aku bersedia menerima hukuman apapun darimu, aku mohon beritahu keadaan Nick. Iza sudah sadar dan terus menanyakannya.”


“Nick sudah meninggal.”


“Apa???”


Baik Rahardi maupun Bryan terkejut mendengar jawaban wanita itu. Wajah Rahardi nampak pucat mendengar kabar kematian Nick. Yang ada di pikirannya saat ini hanyalah anaknya. Bagaimana reaksi Iza jika mendengar Nick sudah tiada.


“Nick sudah pergi untuk selamanya. Apa kamu puas??!! Kamu sudah berhasil memisahkan Nick dengan Iza. Sekarang kita tidak ada urusan lagi. Pergi dan jangan muncul di hadapanku lagi!!”


“Izinkan aku dan Iza mengikuti pemakamannya.”


“Tidak perlu!! Aku akan membawanya ke Bandung hari ini juga. Pergilah..”


Diah melepaskan diri dari Bryan kemudian bergegas meninggalkan Rahardi yang masih terlihat shock. Bryan segera menyusul Diah yang berjalan semakin menjauh. Sambil menyusut airmatanya, Diah menuruni anak tangga.


Maafkan mommy, Zi. Mommy terpaksa melakukan ini. Bukan mommy ingin memisahkan kalian, tapi Nick tidak bisa bersamamu lagi. Mommy lakukan ini agar dia bisa bertahan hidup. Jika kalian masih berjodoh, kalian pasti akan bersama lagi.


🍂🍂🍂


😅 Jangan marah ya, readers. Jangan salahin gue, salahin yang buat cerita🏃🏃🏃