The Nick's Life

The Nick's Life
Kenangan Pahit



Suasana kedai kopi Nick sudah ramai dikunjungi pengunjung sejak dibuka jam sembilan pagi. Pengunjung terus berdatangan silih berganti, membuat Nick dan kedua pegawainya cukup kerepotan. Untung saja ada Iza dan Rina yang datang membantu. Iza membantu mengurus pesanan, kedua pegawainya membantu membuat pesanan, mengantar pesanan serta membersihkan meja dan peralatan kotor.


Rina sendiri diberi tanggung jawab mengelola. Sudah tiga hari lalu, kedai kopi ini menyuguhkan menu tambahan bagi pengunjung. Menu tambahan masih berupa camilan yang dibuat sendiri oleh Rina. Jika respon pengunjung baik, bukan tidak mungkin Nick akan menambahkan menu makanan berat nantinya.


Kalau usulan catering yang dicetuskan Arnav sudah mulai berjalan, bisa jadi Nick akan mempekerjakan chef profesional untuk menangani dapur karena tak ingin mengganggu waktu Rina memulai usaha cateringnya. Nick dan Iza sangat mendukung usulan Arnav dan berharap Rina bisa mengembangkan bakat dan hobi memasaknya menjadi bisnis yang menguntungkan.


Semakin sore, tamu yang berdatangan semakin banyak. Para sahabat Nick yang memutuskan untuk kumpul bareng terkejut melihat kondisi kedai yang penuh, hampir semua meja yang tersedia terisi. Ayura berinisiatif membantu Rina di dapur, sedang Sansan membantu melayani pengunjung.


Arnav yang baru saja tiba segera bergabung dengan para sahabatnya. Nick yang melihat para sahabatnya berkumpul, memilih bergabung. Urusan pesanan, sementara diserahkan pada pegawainya. Pria itu menarik kursi di samping Arnav.


“Rame bener kedai lo,” ujar Arnav.


“Alhamdulillah. Apa karena weekend ya.”


“Bisa jadi. Tapi bisa jadi juga karena pelanggan lo yang lama udah tahu kalau lo buka kedai di sini. Kali aja mereka nyempetin ke Bandung sambil liburan,” celetuk Fahrul.


“Iya, bisa jadi juga. Thanks ya Ar, lo udah promoin di medsos.”


“Siapa dulu, Arnav,” sahutnya jumawa. Abe dan Denis hanya mencibir kepedean sahabatnya.


“Eh gimana pesanan catering Rina?”


“Lumayan, Nick. Pas gue promo besoknya ada pesanan 10 pax. Nah buat minggu depan lebih mantul. Pesan 50 pax selama 5 hari. Cuma gue takut Rina kecapean kalau ngga ada yang bantu. Lo kira-kira bisa bantu cari orang ngga buat bantu dia?”


“Nanti deh, gue coba tanya daddy atau mom.”


“Udah jadiin aja itu usaha bersama kalian. Rina yang kelola, elo yang modalin,” usul Fahrul.


“Nah bener tuh. Masa selamanya lo mau jadi kacung, contoh gue yang sudah beralih jadi usahawan,” seru Abe.


“Bener, kali aja dari usaha bersama jadi berbaring bersama,” celetuk Denis yang langsung disambut gelak tawa lainnya.


Arnav menendang kaki sahabatnya ini yang selalu tanpa saringan saat berbicara. Namun tak ayal senyumnya mengembang juga. Berada dekat dengan Rina, walau hanya berbincang ringan, selalu bisa membuat moodnya baik. Keceriaan Rina membuat dunianya yang semula suram sejak ditinggal menikah Meta, kini berangsur cerah kembali.


“Ntar lah, gue belum kenal juga sama bokapnya. Gara-gara masalah Nick sama si bahlul, gue jadi agak trauma kalo mau ngajak cewek nikah. Takut dapet mertua julid kaya mereka berdua hahaha..”


“Abahnya Rina baik kok,” celetuk Nick.


“Kaya lo inget aja.”


“Ya gue emang ngga inget, tapi waktu ketemu pas resepsi Meta, gue bisa ngerasain kebaikannya dan rasa nyaman waktu bicara sama abah.”


“Emang beneran baik, Ar. Kan gue juga pernah ketemu waktu jemput Iza dulu, pas mereka nikah. Orangnya bukan hanya ramah tapi open minded. Gue jamin lo bakalan bahagia dapet mertua kaya abah,” sambung Denis.


“Udah buruan lamar, jangan sampe ditikung lagi buat kedua kali,” ujar Fahrul.


“Nanti lamarannya kaya gini. Maaf abah, kedatangan saya ke sini untuk mengutarakan niat baik saya, mau melamar abah jadi mertua saya hahahaha..”


“Dasar sedeng!”


Sebuah toyoran didaratkan Arnav ke kepala Abe. Yang lain tak bisa menahan tawanya mendengar celetukan Abe. Setelah menikah pun otak geser Abe masih belum berubah, apalagi sang istri juga tak kalah geser darinya. Tawa kelima orang itu terhenti ketika mendengar perdebatan Sansan dengan salah satu pengunjung.


“Gimana mba? Saya pesen semua menu yang paling mahal di sini dan saya bayar tiga kali lipat tapi mba temenin saya minum kopi.”


“Kalau saya kirimin kamu kopi sama camilannya ke rumah kamu selama setahun, gratis tapi sebagai imbalannya kamu jadi maskot di depan kedai, mau ngga?” balas Sansan tak kalah sengit.


Dia kesal dengan sikap sombong salah satu pengunjung. Awalnya pria itu hanya menggoda biasa tapi sekarang malah justru semakin kurang ajar. Melihat kegaduhan yang terjadi. Abe segera mendekati meja tersebut diikuti oleh Nick. Abe segera memeluk pinggang Sansan yang terlihat sudah emosi.


“Kenapa, Yang?” tanya Abe.


“Ada apa ini?” tanya Nick


“Ini loh, kak. Pengunjung yang ini songong banget. Masa dia minta aku nemenin dia minum kopi, udah gitu cuma dikasih imbalan minum kopi sama cemilan. Ganteng ngga, tapi gayanya udah kaya sultan,” cerocos Sansan.


“Maaf ya, harap bersikap sopan di sini. Dia bukan pegawai saya, dia istri sahabat saya. Saya tahu anda pelanggan di sini, tapi bukan berarti bisa bersikap seenaknya. Kalau anda tidak bersikap sopan di sini, silahkan pergi,” ujar Nick sopan.


“Eh gue tuh pembeli. Lo lupa apa kalau pembeli itu raja!”


“Memang pembeli adalah raja. Tapi untuk menjadi raja, seorang pembeli juga harus bersikap cerdas dan tahu bagaimana menempatkan diri. Kalau anda sopan, kami bisa bersikap lebih sopan. Tapi kalau anda kurang ajar, maka silahkan tinggalkan tempat ini. Jangan minta disebut sebagai raja kalau anda tidak bersikap sopan dan santun. Anda sudah bersikap kurang ajar pada istri dari sahabat saya, silahkan tinggalkan tempat ini dan tidak perlu membayar apa yang sudah dipesan. Silahkan.”


Nick menggerakkan tangannya, mempersilahkan pengunjungnya itu untuk pergi. Pengunjung itu menggeram kesal, tak menyangka Nick berani mengusirnya. Namun dia akhirnya memilih pergi setelah melihat Abe mengusakkan kepalan tangannya ke telapak tangan, ditambah dengan Fahrul, Arnav dan Denis yang berdiri dari tempatnya lalu melihat ke arahnya dengan tajam. Dua orang yang bersamanya juga ikut pergi.


“Maaf ya, San.”


“Ngga apa-apa kak. Emang songong tuh orangnya.”


“Eh kamu tadi sok-sokan mau kasih kopi gratis sama cemilan selama setahun, emangnya ada uangnya?” Abe menggoda istrinya.


“Ngga ada. Kan nanti mas yang nyicil,” Sansan terkikik. Abe mengusap puncak kepala istrinya kemudian memeluknya.


“Udah sana duduk lagi, mas. Aku masih ada kerjaan.”


“San.. makasih, ya.”


“Sama-sama kak.”


Sansan membereskan meja bekas pengunjung yang bersitegang dengannya tadi lalu membawanya ke dapur. Abe segera kembali ke meja, sedang Nick menuju tempat kerjanya. Pengunjung masih terus berdatangan ke kedainya.


Kepala Nick terangkat ketika mendengar suara lonceng di pintu. Dia tersenyum ke arah dua orang yang baru memasuki kedainya. Mereka adalah Rega dan Bila, keduanya memilih duduk di bar table.


“Selamat datang,” sapa Nick.


“Aku pesan yang biasa ya, Nick,” ujar Bila.


“Caramel latte. Kalau dokter?”


“Panggil Rega saja. Aku pesan iced cappucino.”


“Ok.. dan karena ini kunjungan pertama, aku kasih gratis cemilan.”


Rega tersenyum mendengar ucapan Nick. Dengan cepat Nick membuatkan pesanan untuk pengunjungnya ini. Mata Rega tak berhenti melihat Nick yang tengah meracik kopi. Dia terpana melihat kemahiran pria itu melukis di atas kopi pesanan Bila.Dalam waktu cepat dia telah menyelesaikan pesanan lalu memberikan pada dua orang di depannya.


Saat bersamaan, dua orang pengunjung masuk lalu mengambil tempat di dekat Bila dan Rega. Pengunjung kedai yang merupakan dua orang wanita muda terus melihat ke arah Nick. Sadar dirinya diperhatikan, Nick mendekati dua orang tersebut. Sejenak dia memperhatikan dua gadis itu, wajahnya tidak asing. Nick menebak mereka adalah pelanggan kedainya dulu.


“Hai.. kak,” sapa salah satunya.


“Akhirnya kita bisa juga nemuin kedai kakak. Kangen kita sama rasa kopi buatan kakak. Sama kangen juga lihat muka ganteng kakak,” gadis itu terkikik geli.


“Kalian pasti pelanggan Zicko Coffee di Jakarta,” tebak Nick.


“Betul banget. Aku ikut prihatin ya kak, katanya kakak kecelakaan dan amnesia.”


“Ya ampun kakak masih ingat pesanan kita,” seru salah satunya senang melihat mocca latte dengan gambar love di atasnya.


“Karena kalian pelanggan setia kedaiku, makanya aku ingat.”


“Oh iya, istri kakak mana?”


“Ada, itu,” Nick menunjuk Iza yang duduk di belakang meja kasir.


“Wah sekarang kak Iza sudah berhijab, tambah cantik.”


“Emang dulu belum?”


“Belum, kak.”


“Oh iya, kak Iza pasti udah lahiran ya. Terakhir pas kita dateng, kak Iza lagi hamil. Kakak juga seneng banget waktu itu.”


“Oh ya?”


Nick nampak terkejut mendengar ucapan gadis di depannya. Sontak dia melihat ke arah Iza. Istrinya itu tidak pernah menceritakan perihal anak padanya. Pantas saja dia merasakan sesuatu saat melihat dokter Reyhan bersama istrinya yang hamil. Juga ketika Ridho mengabarkan Meta hamil. Seperti pernah berada di posisi yang sama. Bila dan Rega saling berpandangan. Rega terkejut Iza tak mengatakan perihal keguguran yang dialaminya.


Nick beranjak dari tempatnya lalu mendekati Iza. Diusapnya pelan punggung istrinya itu. Iza melemparkan senyum pada Nick. Mata Nick menatap sendu ke arah wanita itu. pikirannya menerka-nerka, apa yang terjadi pada calon anak mereka, mungkinkah…


“Cape ngga sayang?” tanya Nick dengan tangan masih mengusap punggung sang istri.


“Ngga, kok.”


“Nanti jam 8 kita tutup.”


“Kok cepet banget, mas. Kan pengunjungnya banyak. Apa ngga sayang?”


“Ngga.. aku cuma mau menghabiskan malam ini lebih cepat dengan istriku.”


Sebuah kecupan mesra didaratkan Nick di puncak kepala Iza kemudian pria itu kembali ke tempatnya. Konsentrasinya sedikit buyar ketika gadis tadi menanyakan perihal kandungan Iza. Pikirannya tak berhenti berkelana memikirkan nasib anak dalam kandungan sang istri.


☘️☘️☘️


Tepat jam delapan malam, Nick benar-benar menutup kedainya. Mereka tidak menerima pengunjung lagi dan hanya menunggu sisa pengunjung pulang. Dia menyerahkan urusan kedai pada pegawainya. Pria itu langsung mengajak istrinya pulang ke rumah. Rasa penasaran yang sedari tadi menggelayutinya harus segera mendapatkan jawaban.


Setelah membersihkan diri, Nick menyusul Iza yang lebih dulu berbaring di kasur. Pria itu menyandarkan punggungnya ke headboard ranjang. Tangannya mengusap puncak kepala sang istri. Iza menegakkan tubuhnya kemudian ikut duduk di samping suaminya. Nick merengkuh bahu Iza kemudian membuatnya menyandarkan kepala ke dadanya.


“Sayang.. boleh aku tanya sesuatu?”


“Apa mas?”


“Apa kamu pernah mengandung?”


DEG


Iza terkesiap mendengar pertanyaan sang suami. Sontak dia menoleh ke arah Nick. Suaminya itu juga tengah memandang ke arahnya. Menunggu jawaban keluar dari bibirnya.


“Waktu bang Ridho bilang Meta sedang hamil, aku merasa pernah berada dalam posisi bang Ridho. Merasa bahagia atas berita kehamilan. Apa kita pernah memiliki anak?”


Mata Iza berkaca-kaca dengannya. Kenangan pahit saat dirinya mendapati kenyataan kalau calon anak yang masih ada di kandungannya tidak dapat diselamatkan ketika kecelakaan menimpanya. Melihat reaksi sang istri, Nick yakin sekali kalau tebakan akan nasib buah hatinya benar adanya.


“Zi.."


“Aku memang pernah mengandung mas. Tapi kita kehilangannya saat kecelakaan. Dokter bilang janin dalam perutku tidak bisa diselamatkan akibat benturan keras.”


Buliran bening luruh begitu saja dai kedua mata Iza. Isaknya langsung terdengar ketika Nick memeluknya. Pria itu pun tak bisa menahan kesedihannya, matanya mulai berembun.


“Maafkan aku mas..” lirih Iza.


“Harusnya aku yang meminta maaf. Aku tidak ada di sampingmu di saat terberatmu. Bagaimana kamu bisa menghadapi itu sendirian, Zi.. bagaimana dirimu bisa begitu kuat menjalani itu semua.”


Nick semakin mengeratkan pelukannya di tubuh sang istri. Wajah Iza sudah bersimbah airmata, begitu pula Nick, airmatanya sudah menganak sungai. Ketegaran Iza menghadapi cobaan hidup yang tak mudah semakin menambah kekagumannya pada sosok wanita dalam pelukannya dan membuat perasaan cintanya bertambah besar dan kuat. Nick menguraikan pelukannya kemudian menyatukan kening mereka.


“Kenapa kamu tidak mengatakannya, Zi.."


“Aku tidak ingin membebanimu lagi, mas. Sudah banyak kesedihan yang mas alami. Aku tidak sanggup harus mengatakan hal pahit lagi padamu. Aku tidak mau membuatmu bersedih lagi. Maaf mas, bukan maksudku menutupi.”


“Bagaimana dirimu bisa begitu kuat, sayang.”


“Kenangan akan dirimu mas, yang membuatku tetap kuat, juga ummi, abang dan Meta.”


“Terima kasih sudah bertahan di masa terberatmu. Aku mencintaimu, Zi.. kamu anugerah terindah yang Allah berikan untukku. Love you so much..”


“Aku juga mencintaimu, mas. Sangat….”


Cukup lama Nick mencium kening Iza. Cairan bening masih terus mengalir dari kedua matanya. Kemudian Nick menyatukan bibir mereka. Pria itu memberikan sapuan lembut di bibir sang istri yang kemudian berubah menjadi l*matan-lum*tan kecil. Iza membalas ciuman suaminya hingga akhirnya ciuman mereka bertambah intens.


Perlahan Nick membaringkan tubuh Iza tanpa melepaskan pagutan mereka. Pria itu masih terus memainkan bibirnya, lalu memasukkan lidahnya, menelusuri rongga mulut sang istri. Sambil memeluk leher Nick, Iza terus membalas ciuman suaminya. Keduanya mengakhiri ciuman saat dirasakan pasokan oksigen semakin menipis.


“Mari kita lupakan semua peristiwa pahit itu. Kita buka lembaran baru yang lebih indah.”


“Iya, mas.”


“Aku akan berusaha lebih kuat untuk membahagiakanmu mulai sekarang.”


“Aku bahagia, mas. Bisa kembali bersamamu sudah membuatku bahagia.”


“Kita tambah kebahagiaan kita dengan kehadiran anak, kamu mau?”


“Tentu saja.”


“Mau memulainya sekarang?”


Iza menganggukkan kepalanya pelan. Tangisannya tadi sudah berganti dengan senyuman. Nick kembali memagut bibir sang istri. Kali ini pria itu memberikan ciuman dalam, seraya menyentuh titik-titik sensitif di tubuh Iza. Sebuah des*han lolos dari bibir wanita itu saat Nick menyesap lehernya sedikit kencang. Sebuah bercak merah langsung tercetak di kulit putihnya.


Tubuh Iza tak enak diam ketika Nick terus menyentuh bagian tubuhnya. Des*han dan lenguhan bersahutan keluar dari mulutnya. Nick semakin terpacu untuk membuat sang istri terus mengeluarkan suara indahnya. Perlahan namun pasti, tangannya melepaskan satu per satu benang yang menempel di tubuh mereka.


Mata Iza menatap sayu ke arah Nick, saat suaminya itu sudah berhasil membuatdirinya pelepasan. Netra Nick pun sudah diselimuti kabut gairah, setelah memberikan l*matan di bibir istrinya, Nick memulai penyatuannya. Keduanya mulai berbagi kehangatan, berbagi keringat dan kenikmatan.


🍂🍂🍂


Jadi pada setuju Arnav sama siapa nih?


Pertama sama Bila, sekarang Rina😝