
“Maafkan saya om.. tante.. tolong maafkan saya. Bukan maksud saya merusak rumah tangga kak Fahrul. Saya hanya ingin menuntut pertanggungjawaban darinya atas anak yang saya kandung,” ucap Reisa di sela-sela isaknya.
“Icha.. apa yang kamu lakukan? Sejak kapan anak dalam kandunganmu menjadi anakku?” geram Fahrul.
“Kakak masih menyangkalnya? Aku tahu kakak marah karena aku mempertahankan janin ini. Aku tidak menurutimu saat kakak memintaku untuk menggugurkannya, seperti yang sudah-sudah.”
Mata Fahrul membelalak, tak menyangka wanita yang dulu begitu disayanginya, bahkan rela melakukan apapun untuknya kini tengah melontarkan fitnah kejam padanya. Dia langsung menoleh pada Maira, airmata Maira luruh begitu mendengar pengakuan Reisa. Fahrul bergegas menghampiri Maira lalu berjongkok di hadapannya.
“Mai.. itu ngga benar, Mai. Reisa ngga pernah hamil anakku, dulu atau sekarang. Itu fitnah Mai.. aku berani bersumpah.”
Fahrul menggenggam erat tangan Maira, wajah cantiknya sudah bersimbah airmata. Pria itu tak mempedulikan pandangan orang tua atau mertuanya. Yang dipedulikan hanya Maira. Dia tak ingin sang istri termakan fitnah keji Reisa. Reisa semakin geram melihat Fahrul yang justru menenangkan Maira, alih-alih membela diri di hadapan orang tua dan mertuanya.
“Sejak kapan kamu berhubungan dengan anak saya?” terdengar suara Darmono, ayah Fahrul.
“Sudah lama om. Kami berpacaran sebelum kak Fahrul menikah.”
“Ngga mungkin anak saya menghamilimu, jangan fitnah kamu,” bela Asti. Biar bagaimana pun Fahrul adalah anaknya, nalurinya sebagai seorang ibu tentu saja ingin melindunginya.
“Begitu anak ini lahir, saya bersedia melakukan tes DNA. Asal om dan tante tahu, kak Fahrul juga yang sudah merenggut keperawananku. Karena bujuk rayunya, aku melepas hal paling berharga untuknya,” Reisa menangis tersedu-sedu.
Fahrul menolehkan wajahnya ke arah Reisa. Dirinya sudah benar-benar muak dengan akting yang dipertontonkan wanita itu. Memang benar dirinya orang pertama yang menyentuh Reisa. Namun itu karena pengaruh obat perangsang yang dimasukkan ke dalam minumannya. Dan belakangan pria itu baru tahu kalau Reisa sendiri yang menaruh obat perangsang tersebut.
Pria itu mengangkat tubuhnya kemudian berjalan menuju Reisa. Dengan kasar ditariknya tubuh Reisa hingga berdiri. Lagi-lagi wanita itu bermain drama dengan menjerit kesakitan padahal cengkeraman tangan Fahrul tidaklah kencang.
“Hentikan sandiwara murahanmu ini! Dasar ular!!”
“Setelah tahu aku hamil dan mencampakkanku, sekarang kakak menyebutku ular. Tapi dulu kakak selalu mengatakan mencintaiku saat masih menikmati tubuhku. Aku tahu alasanmu meninggalkanku karena kamu tidak mau orang tuamu menarik semua modal di dealer milikmu kan? Kamu bersama istrimu hanya agar kehidupanmu tidak sengsara. Sebenarnya kamu hanya mencintaiku. Mengakulah kak.”
“REISA!!”
Wajah Fahrul nampak merah padam. Kini semua yang ada di ruangan menatap tajam ke arah Fahrul. Diam-diam Reisa tersenyum, hatinya puas bisa menghancurkan Fahrul dan Maira. Dia tak peduli Fahrul akan kembali atau tidak padanya. Karena tujuannya melakukan semua ini adalah tak ingin melihat pria itu hidup bahagia. Reisa juga sangat membenci Maira. Karena wanita itu, Fahrul berpaling darinya.
“Lebih baik kamu pulang sekarang. Kalau memang terbukti anak dalam kandunganmu adalah benih Fahrul, dia akan bertanggung jawab padamu. Silahkan kamu pergi,” tegas Darmono.
Reisa mengambil tasnya, kemudian sambil menghapus airmatanya, dia keluar dari unit apartemen Fahrul. Tinggalah Fahrul yang harus menghadapi kemarahan semua orang. Darmono mendekati sang anak.
PLAK!!
PLAK!!
Dua buah tamparan keras mendarat di wajah Fahrul. Sudut bibir pria itu sampai terluka saking kerasnya tamparan. Maira terpekik melihatnya, refleks dia berlari ke arah sang suami. Tapi belum juga dirinya sampai, Surya menahan tangannya.
“Abah..”
“Biarkan suamimu menerima hukumannya,” suara Surya terdengar bergetar menahan amarah.
“Jadi seperti ini kelakuanmu? Dasar anak tidak tahu diri!!”
Kecewa sekaligus malu dengan kelakuan sang anak, Darmono mengambil sapu yang ada di dekatnya. Lalu memukulkan batang kayu itu ke tubuh anaknya. Asti memalingkan wajahnya, dirinya tak tega melihat anaknya disiksa, namun tak bisa berbuat apa-apa. Fahrul sendiri hanya pasrah menerima hukuman ayahnya.
“Bapak jangan pukul a Fahrul. Aku mohon pak,” seru Maira.
Darmono tak mempedulikan permohonan menantunya. Dia terus memukuli sang anak hingga batang sapu potong menjadi dua. Maira melepaskan diri dari sang ayah kemudian berlari menuju Fahrul. Dipeluknya pria itu, airmata mengalir dari kedua matanya.
“Jangan menangis Mai. Aku ngga apa-apa,” Fahrul mengusap punggung istrinya.
“Kemasi barang-barangmu Mai. Kita pulang ke Bandung sekarang!” titah Surya.
“Ngga abah. Aku tetap di sini dengan suamiku.”
“Suami? Dia sudah mengkhianatimu, dia berselingkuh dengan perempuan lain dan kini tengah mengandung anaknya.”
“Itu bukan anak a Fahrul. Mai berani jamin itu, abah. Tolong jangan pisahkan kami. Sekarang aku sedang hamil. Apa abah tega memisahkan anak dari ayahnya?”
“Ini demi kebaikanmu Mai. Ikut abah pulang sekarang. Abah tidak mau terjadi sesuatu padamu karena lelaki brengsek ini. Ummi.. bereskan pakaian Maira!”
“Bereskan barang-barang kita, bu. Kita pulang hari ini juga. Aku ngga sudi berlama-lama tinggal satu atap dengannya. Dan Fahrul, besok bapak mau kamu kembalikan semua modal yang sudah bapak berikan. Bapak akan mengutus pak Heri untuk mengurus penarikan modal.”
Asti dan Reni segera melakukan apa yang diperintahkan suami mereka. Surya menyusul ke dalam kamar untuk membereskan barang-barang mereka seraya menarik tangan Maira. Darmono duduk di sofa sambil terus memperhatikan sang anak. Tubuh Fahrul luruh jatuh ke lantai, hal yang ditakutkannya terjadi. Mertuanya memisahkan Maira darinya.
“Bapak memasukkanmu ke pesantren karena ingin kamu menjadi laki-laki soleh. Bapak melepasmu pergi ke Jakarta karena percaya kamu bisa menjaga diri. Nyatanya kamu malah melemparkan kotoran ke wajah bapak.”
“Maafkan aku, pak. Aku akan memperbaiki semua. Tolong jangan pisahkan aku dengan Maira. Aku mencintainya, pak.”
“Jangan harap bapak akan membantumu. Bapak sudah tidak punya muka lagi di hadapan mertuamu. Lebih baik kamu melepaskan Maira, anak itu berhak mendapatkan pria yang lebih baik darimu.”
Darmono bangun dari duduknya lalu masuk ke dalam kamar. Kekecewaan jelas tergambar di wajahnya. Anak laki-laki satu-satunya yang dibanggakan selama ini justru memberikan luka terdalam untuknya.
Fahrul masih bertahan di tempatnya ketika semua sudah selesai berkemas. Surya terus memegang tangan anaknya. Sedari tadi Maira tak berhenti memohon padanya. Saat melintasi Fahrul, Maira kembali berusaha melepaskan diri. Fahrul berdiri kemudian mendekati mertuanya.
“Boleh saya berbicara sebentar dengan Maira. Sebentar aja, abi.”
Surya melepaskan pegangannya di tangan Maira. Pria itu kemudian meninggalkan keduanya. Dia menunggu sang anak di dekat pintu. Matanya terus memperhatikan apa yang dilakukan sang menantu.
Tangan Fahrul bergerak mengusap airmata di wajah Maira. Pria itu pun tak kuasa menahan tangisnya melihat sang istri yang sebentar lagi akan meninggalkannya. Ditariknya Maira ke dalam pelukannya.
“Ikutlah dengan abi. Aku akan membereskan dahulu semua masalah di sini. Nanti aku akan menyusul dan menjemputmu.”
“Bagaimana aku bisa makan dan tidur kalau ngga ada aa di sampingku.”
“Aku akan menghubungimu setiap hari. Aku ngga akan lama, sayang. Beri aku waktu membereskan urusan kantor. Aku janji, akan secepatnya menemuimu. Maafkan aku, aku sudah berjanji tidak akan membuatmu menangis lagi. Tapi nyatanya kamu menangis lagi.”
Maira semakin tersedu dalam pelukan Fahrul. Tak rela rasanya dipisahkan secara paksa seperti ini di saat keduanya berusaha memperbaiki kapal yang hampir karam. Fahrul mengurai pelukannya kemudian menghapus airmata Maira. Sambil menggandeng tangan sang istri, Fahrul berjalan menghampiri ayah mertuanya.
“Maafkan aku, abah. Aku memang pernah melakukan kesalahan yang menyakiti Mai. Namun sekarang aku menyesal dan berusaha memperbaiki semuanya. Tapi kalau abah berpikir usahaku masih belum cukup, aku mohon berikan kesempatan padaku. Aku akan membuktikan kalau anak yang dikandung Reisa bukan anakku, aku juga akan berusaha menjadi suami yang lebih baik lagi untuk Mai dan berjuang mendapatkan cintanya.”
“Sudah terlambat. Seharusnya kamu lakukan itu di awal pernikahan kalian. Setelah anak kalian lahir, segera ceraikan Maira.”
Tanpa menunggu jawaban Fahrul, Surya membawa pergi Maira dari hadapan pria itu. Fahrul mengikuti langkah ayah mertuanya. Maira terus menolehkan kepalanya ke belakang, airmatanya kembali bercucuran. Langkah Fahrul terhenti di depan lift. Matanya terus memandangi Maira yang ditarik masuk oleh Surya. Buliran bening membasahi pipinya begitu pintu lift tertutup dan wajah Maira tak bisa dilihatnya lagi.
“Mai....”
🍂🍂🍂
Arnav dan Abe segera menuju kedai Nick begitu Fahrul mengajak mereka bertemu di sana. Sambil menunggu kedatangan sang sahabat, ketiganya berbicara sambil bersenda gurau. Sesekali Abe memegangi perutnya yang masih terasa sakit jika banyak tertawa.
“Si kunyuk belum ada kabar? Susah banget tuh orang dihubungi,” ucap Abe.
“Terakhir gue telpon hpnya mati. Anda terhubung pada tembok, gitu mulu kata operatornya hahaha,” Abe menoyor kepala Arnav.
“Nick, si Iza ada ngidam yang aneh-aneh ngga?”
“Alhamdulillah ngga. Cuma dia udah kaya putri tidur, ngga bisa nempel ke bantal bawaannya pasti langsung tidur.”
“Ya ngga apa-apa. Dari pada tetangga apartemen gue. Tiap malem suaminya nganter istrinya yang lagi hamil turun ke deket lampu merah."
“Ngapain?”
“Bininya belum bisa tidur kalau belum meluk tiang listrik hahaha...”
“Serius?”
“Seriusan. Coba tar malem lo ke apartemen gue. Biasanya mereka turun jam sepuluhan.”
“Mending istri gue. Kalau tidur mintanya dipeluk gue, tuh suaminya ngga cemburu ama tiang listrik?”
“Kalau bisa ditebang, kayanya pengen ditebang aja tuh tiang listrik hahaha..”
“Selingkuhnya ajib ama tiang listrik.”
“Lo kenapa, Rul?” tanya Nick.
“Mai.. dia dibawa pulang abahnya ke Bandung.”
“Kenapa? Bukannya kalian udah rujuk ya.”
“Kemarin Reisa dateng dan bilang semuanya ke bokap dan mertua gue soal hubungan kita. Dia juga bilang kalau anak yang dikandungnya itu anak gue.”
“Wah minta digibeng tuh cewek. Ayo kita datengin dia, eneg gue ama kelakuannya.”
“Luka lo masih belum kering, nyet. Main gibeng-gibeng aja,” celetuk Arnav.
“Kok Reisa bisa tahu kalau ortu ama mertua lo lagi ada di apartemen lo?”
“Ngga tau.”
“Berarti dia ngawasin lo. Dia emang udah niat ngerusak rumah tangga lo kalau begitu. Si Denis masih punya bukti soal Reisa kan. Kasihin aja ke infotainment, biar nyusruk tuh cewek,” kesal Abe.
Fahrul merenungi ucapan Abe. Dia juga bingung kenapa Reisa bisa sampai tahu kedatangan orang tua dan mertuanya. Sepertinya benar kalau wanita itu hendak menghancurkan hidupnya.
“Mau diapain tuh cewek bilang aja, Rul,” seru Arnav.
“Gue ngga urus dia dulu, nanti aja. Nick, gue mau jual dealer gue sekarang-sekarang bisa ngga?”
“Nanti gue telpon pak Dewa dulu.”
Nick merogoh saku celananya lalu menghubungi Dewa, salah satu kenalannya yang berminat membeli dealer milik Fahrul. Sejak Maira hamil, Fahrul memang memutuskan menjual dealer miliknya. Dia berniat mengakui semua perbuatannya pada sang ayah dan mengembalikan modal yang diberikan kepadanya. Nick mengenalkannya pada Dewa. Namun pria itu masih membutuhkan waktu mengurus dana pembelian dealer.
“Kata pak Dewa bisa aja, tapi mungkin pembayarannya dibagi tiga termin, DP 25%, pembayaran kedua 35%, sisanya terakhir. Soalnya dia masih nunggu pencairan pinjaman dari bank. Asetnya yang di luar negeri juga masih diurus penjualannya.”
“Ngga apa-apa. Yang penting gue ada uang buat bayar gaji karyawan sama lunasin hutang ke bank.”
“Emangnya bokap lo udah narik semua modalnya?”
“Udah. Barusan gue ketemu pak Heri. Uang buat bayar gaji karyawan sama setoran ke bank ditarik langsung.”
“Buset, sadis juga ya bokap lo.”
“Kira-kira lo butuh berapa buat bayar gaji sama lunasin hutang ke bank?”
“Kurang lebih 5 milyar lah.”
“Lo jual dealer berapa ke pak Dewa?”
“Gue jual sesuai aset yang ada sekarang aja. Dealer yang di Margonda tuh murni aset gue semua. Di sana kan dealer mobil second. 70% mobil yang dipajang di sana gue beli langsung, sisanya yang nitip. Kalau dealer yang dua kan ngga, sistemnya kerjasama. Paling gue hitung modal buat bikin kantor aja. Bangunannya juga masih sewa. Gue minta 20 M ke pak Dewa.”
“Modal bokap lo berapa?”
“14 M.”
“Wah plus plos dong. Sisa 1 M doang. Lo mau usaha apa abisnya?”
Fahrul hanya menggelengkan kepalanya. Saat ini masih belum terpikirkan hendak berusaha di bidang apa. Prioritasnya saat ini hanya mengembalikan modal dan melunasi hutang di bank saja.
“Begitu urusan dealer beres, gue bakalan ke Bandung. Mungkin gue bakalan pindah ke sana.”
“Yakin lo?”
“Kalau gue di sini, bagaimana gue bisa ngeyakinin abah nerima gue lagi. Mai juga lagi hamil, gue pengen ada di deket dia terus. Dia ngga mau makan kalau bukan gue yang beli makanannya, dan dia juga ngga bisa tidur kalau ngga gue temenin.”
Tenggorokan Fahrul terasa tercekat saat mengatakan itu semua. Kepalanya tertunduk, kesedihan kembali menyeruak dalam hatinya. Pria itu kembali menangis. Nick menepuk-nepuk pelan punggung sahabatnya.
“Sabar Rul. Kadang saat kita berusaha menjadi pribadi yang lebih baik, cobaan yang datang justru semakin bertubi. Gue percaya lo bisa lewatin ini semua. Kalau Mai memang jodoh lo, lo pasti bisa bareng dia lagi.”
Fahrul semakin terisak mendengar ucapan Nick. Punggungnya bergetar mengiringi isak tangisnya. Abe dan Arnav pun hanya mampu terdiam. Seakan turut merasakan kesedihan yang dialami sang sahabat.
🍂🍂🍂
Dibantu Abe, Fahrul membereskan barang-barangnya. Pria itu memutuskan menjual unit apartemennya. Kebetulan ada pasangan pengantin baru yang berminat membelinya. Tak mau menyia-nyiakan peluang, Fahrul langsung saja menyetujui harga yang diajukan pasangan tersebut. Padahal harga yang ditawarkan di bawah harga pasar. Terlebih Fahrul menjual unit apartemennya lengkap dengan furniture dan barang-barang eletronik yang ada di dalamnya.
Abe yang sudah resmi menjadi pengangguran, lebih banyak membantu Fahrul mengurus penjualan dealer, penjualan unit apartemen sampai menemani pindahan. Rencananya Fahrul akan tinggal di kediaman orang tua Denis sampai dirinya siap pindah ke Bandung. Sampai saat ini, Denis belum bisa menemui para sahabatnya karena masih berada di rumah belajar Mualaf Center Indonesia.
Sejenak Fahrul memandangi apartemen yang sudah ditinggalinya selama lima tahun. Walau hanya sebentar, namun kenangan keberadaan Maira di sini begitu lekat dalam ingatannya. Pria itu baru saja akan pergi ketika ponselnya berdering. Tertera nama Maira di layar. Dengan cepat, Fahrul menjawab panggilannya.
“Assalamu’alaikum.”
“Waalaikumsalam. Aa gimana kabarnya?”
“Alhamdulillah baik. Bagaimana denganmu dan anak kita?”
“Aku dan anak kita kangen sama aa,” terdengar suara tangis Maira dari sebrang. Fahrul mengganti panggilan ke dalam bentuk video. Tak lama wajah Maira terpampang di layar ponsel.
“Udah tiga hari ini aku ngga bisa makan a.”
“Maafin aa sayang. Urusan di sini masih belum beres. Sekarang udah makan belum?”
“Belum.”
“Makan ya. Aa lihatin.”
Maira mengangguk, dia mengambil piring berisi nasi dan lauknya yang tadi diberikan ummi padanya. Wanita itu mulai menyuapkan nasi ke dalam mulutnya. Fahrul mengalihkan pandangannya ke arah lain saat matanya terasa memanas. Sebisa mungkin dia menahan airmata yang hendak jatuh.
“Sayurnya dimakan sayang,” ujar Fahrul.
“Ngga suka, a.”
“Sedikit aja, buat anak kita.”
Maira menurut, dia mengambil sedikit sayuran yang ada di piring lalu menyuapkan ke dalam mulutnya. Fahrul terus memperhatikan istrinya sampai selesai makan.
“Kalau mau makan, kamu telpon aa aja ya. Kamu ngga boleh melewatkan makan, kasihan anak kita.”
“Iya, a. Aa sendiri gimana? Kenapa aa kelihatan kurus?”
“Aa baik-baik aja. Cuma akhir-akhir ini emang sibuk ngurus penjualan dealer.”
“Aa serius mau jual Dealer?”
“Iya. Kalau semua udah beres, aa akan nyusul kamu ke Bandung. Aa akan berjuang sampai abah mengijinkan kita bersama lagi. Bantu aa dengan doa ya.”
“Iya, a.”
“Udah dulu ya, sayang. Aa mau pergi dulu. Assalamu’alaikum.”
“Waalaikumsalam.”
Sebelum mengakhiri panggilan, Fahrul mendekatkan layar ponsel ke bibirnya seakan tengah mencium pipi istrinya. Dia juga meminta Maira mengarahkan kamera ponsel ke perutnya. Fahrul kembali mencium layar ponselnya yang menunjukkan gambar perut Maira.
Setelah mengakhiri panggilan, Fahrul mengajak Abe pergi meninggalkan unit apartemennya. Kunci apartemen diserahkan ke resepsionis karena dia tak bisa menunggu sampai sang pemilik baru datang.
Dengan langkah mantap Fahrul meninggalkan gedung apartemen. Dia tinggalkan semua kenangan buruk di belakang, dan melangkah maju untuk menyongsong masa depan. Ada Maira dan calon anaknya yang menunggu dirinya.
🍂🍂🍂
Sabar Rul, ini ujian.
Ujian Akhir Semester😁