
Dengan langkah elegan, Diah memasuki gedung berlantai sepuluh. Tujuannya adalah untuk menemui Alfi yang sedang berada di Golden Club. Club yang didatanginya berada di lantai 9 hingga 10 gedung milik salah satu bank swasta. Golden Club menyediakan berbagai fasilitas bagi kaum hawa, mulai dari perawatan kecantikan, fitnes center, cafe dan lounge untuk tempat berkumpul kaum sosialita.
Jari lentik Diah memencet tombol sembilan yang ada di dinding lift, dan tak lama kemudian pintu tertutup. Kotak besi tersebut perlahan bergerak naik. Diah membalikkan tubuhnya menghadap ke belakang, menatap Nick yang tengah menyandarkan punggungnya ke dinding lift.
“Nick.. kamu ngapain sih ngikutin mommy?”
“Aku cuma jagain mommy. Takutnya tante Alfi bawa preman buat nyakitin mommy.”
“Kamu tuh.. mana mungkin si Alfi bawa preman ke sini. Mau menicure pedicure tuh premannya kalau diajak ke sini?”
Nick tergelak mendengar ucapan sang mommy. Untung saja hanya ada mereka berdua di dalam lift. Saat Diah mengatakan akan menemui Alfi, Nick membatalkan rencananya mengawasi temannya yang tengah mendekor kedai kopinya. Dia memilih mengantar mommy-nya lebih dulu.
“Udah mommy tenang aja, aku ngga bakal gangguin mommy. Aku cuma jadi bodyguard mommy aja. Jaga-jaga kalau ada yang nyakitin mommy,” Nick membalikkan tubuh Diah hingga kembali menghadap ke depan.
“Go mommy hempaskan si tante Alfi sampai ke dasar jurang.”
“Kalau ngga inget bunuh orang bisa masuk penjara, mommy mau kasih dia kopi sianida.”
“Tetrodotoxin aja mom sekalian,” Nick terkekeh.
Diah hanya menyunggingkan senyuman tipis di bibirnya. Matanya menatap panel yang menunjukkan pergerakan lift. Pintu lift terbuka ketika tiba di lantai sepuluh. Dengan langkah mantap dia keluar dari kotak besi tersebut, disusul Nick dari belakang. Dia terus berjalan menuju lounge yang terletak di bagian ujung lantai ini.
Wanita itu berhenti sejenak di depan pintu masuk lounge yang lumayan luas. Nampak beberapa wanita berkumpul di beberapa spot. Matanya berkeliling mencari sosok Alfi. Kemudian pandangannya berhenti di sebuah meja yang terdapat empat orang wanita di sana, salah satunya adalah Alfi.
“Cih.. itu yang namanya Alfi. Kok Denis mau sih sama kantong keresek.”
“Maksud mommy?”
“Itu mukanya permakan semua, hasil oplas. Cantikan juga mommy, tanpa permak, asli dari Sang Pencipta.”
Diah mengibaskan rambutnya kemudian memakai kacamata hitamnya yang sedari tadi bertengger di atas kepalanya. Nick hanya terkekeh mendengar ucapan narsis sang mommy. Selain narsis, Diah juga memiliki kepercayaan diri yang tinggi, terkadang dia juga bersikap arogan agar tidak mudah ditindas. Tak heran banyak lelaki yang kepincut dengan pesona wanita itu.
High heels yang dikenakan Diah terdengar mengetuk lantai yang dipijaknya, membuat orang-orang yang ada di lounge melihat ke arahnya. Dia terus berjalan kemudian berhenti di depan meja yang ditempati Alfi. Keempat wanita yang tengah bergosip langsung terdiam begitu menyadari kehadiran Diah. Tiga teman Alfi menatap tak berkedip ke arah Nick yang berdiri di belakang Diah sambil memasang wajah cool-nya.
“Halo.. maaf mengganggu, apa saya bisa bicara dengan Alfi,” ucap Diah seraya melepas kacamatanya.
“Saya?” Alfi menunjuk dirinya sendiri.
“Iya. Kenalkan, saya Diah. Kalau tidak mengganggu, saya ingin membicarakan soal bisnis.”
“Bisnis apa?”
“Yang pasti menguntungkan.”
Diah menampilkan senyum manisnya. Sebagai pemuja kehidupan mewah, tentu saja Alfi tertarik mendengar tawaran Diah. Apalagi penampilan Diah menunjukkan kalau wanita itu berasal dari kalangan atas. Alfi berdiri kemudian mengajak Diah menuju meja lain di tempat yang lebih privat. Nick mengikuti keduanya dengan langkah pelan.
Alfi mempersilahkan Diah untuk duduk. Wanita itu segera menarik kursi di hadapan Alfi, sedang Nick duduk di sampingnya. Alfi terus memperhatikan Nick, yang wajahnya nampak familiar. Alfi memang tidak mengenal teman-teman Denis. Dia hanya sekali bertemu saat di Bandung beberapa waktu lalu.
Alfi mengangkat tangannya untuk memanggil pelayan. Kemudian dia memesan minuman untuk kedua tamunya. Sang pelayan segera mencatat pesanan kemudian berlalu meninggalkan meja.
“Dari mana anda tahu tentang saya?” Alfi membuka percakapan.
“Salah satu teman saya merekomendasikanmu padaku.”
“Oh ya? siapa?”
“Tidak penting. Yang penting kita sudah bertemu.”
“Bisnis apa yang anda tawarkan?”
“Denis.”
“Denis?”
“Hmm..”
Pembicaraan keduanya terhenti ketika pelayan mengantarkan pesanan mereka. Diah mengambil cangkir minumannya kemudian menyesapnya perlahan. Alfi masih menunggu kelanjutan pembicaraan mereka.
“Kenapa kamu mengganggu Denis?” lanjut Diah.
“Aku sudah tidak ada hubungan lagi dengan Denis. Kalau kamu mau, kamu boleh memilikinya.”
Sikap ramah Alfi berubah sinis begitu Diah menyinggung nama Denis. Wanita itu masih sakit hati atas penolakan Denis. Dia juga geram melihat Diah yang dianggapnya sebagai wanita baru Denis.
“Apa kamu begitu kesepian sampai mengejar-ngejar laki-laki yang lebih pantas menjadi anakmu?”
“Lalu bagaimana denganmu? Dia juga lebih pantas menjadi anakmu,” Alfi menunjuk pada Nick.
“Tidak usah mengalihkan pembicaraan. Aku mau kamu jauhi Denis, jangan pernah coba-coba mengganggunya apalagi menyakitinya lagi.”
“Sudah kubilang kalau aku sudah tidak berhubungan lagi dengannya.”
“Oh ya? kalau begitu kenapa kamu membocorkan hubungan Denis dengan Teresa pada Alex. Kamu ingin membalas sakit hatimu pada Denis melalui orang lain. Pintar sekali, menggunakan Alex agar tanganmu tetap bersih. Tapi menurutku itu adalah cara pengecut.”
Alfi cukup terkejut mendengarnya. Setahunya dia sudah melakukan semua serapih mungkin. Dia sengaja membocorkan perihal hubungan Denis dengan Teresa pada Alex, selain untuk membuat hubungan Denis dengan Teresa buruk, juga demi membalaskan sakit hatinya.
“Iya.. memang aku yang melakukannya. Apa maumu?”
“Tinggalkan Denis, dan jangan pernah mengganggunya lagi.”
“Baik, aku akan melakukannya. Tapi sebagai gantinya, serahkan simpananmu untukku maka aku akan melepaskan Denis. Kamu bisa bersama Denis sampai mati.”
Diah mengepalkan tangannya mendengar kata-kata Alfi. Sedari tadi wanita itu sudah berusaha menekan emosinya, namun Alfi berhasil memancingnya. Sedang Alfi hanya tersenyum sinis ke arah Diah, merasa sudah di atas angin.
“Jangan menguji kesabaranku, Alfi. Aku bukan orang yang murah hati. Lakukan saja apa yang kuminta dan jangan banyak tingkah. Laki-laki di sampingku ini, anakku, dia adalah sahabat Denis. Dan artinya Denis adalah anakku juga. Sebagai seorang ibu, aku peringatkan padamu, berhenti mengganggu anakku.”
“Bagaimana jika aku tidak mau?” tantang Alfi.
Diah tersenyum tipis, dia mengambil cangkir kopi miliknya kemudian menyesapnya kembali. Sedang matanya terus menatap ke arah Alfi. Setelah meletakkan cangkir, Diah mencondongkan tubuhnya ke arah Alfi. Kemudian tangannya bergerak mencengkeram rahang wanita itu.
“Helmi Irawan adalah suamimu, benar? Dia adalah pengusaha batu bara yang terkenal. Hanya dengan satu kedipan aku bisa membuatnya bertekuk lutut di hadapanku. Aku akan membuatnya menceraikanmu dan menjadikanmu gembel di jalanan.”
“Ancamanmu tidak mempan. Suamiku bukan tipe yang mudah tertarik pada wanita.”
“Kamu mau bukti?”
Diah mengeluarkan ponselnya, kemudian menunjukkan video saat dirinya menghadiri pesta ulang tahun salah satu kolega John Smith. Di sana terlihat dia tengah berbincang dengan Helmi. Bahkan Diah berdansa begitu mesra dengan pria tersebut. Kini giliran Alfi yang terbakar amarah.
“Kau!!!”
“Turuti perintahku, jauhi Denis atau ucapkan selamat tinggal pada kehidupan mewahmu. Kasihan wajahmu yang sudah menghabiskan ratusan juta rupiah untuk operasi kalau kamu tidak bisa melakukan perawatan.”
Alfi terdiam seribu bahasa. Sepertinya Diah tidak main-main dengan ancamannya. Melihat bagaimana sikap sang suami pada Diah, dia bisa tahu kalau Helmi tertarik pada wanita itu. Diah tersenyum penuh kemenangan. Dia berdiri dari duduknya kemudian mengenakan kembali kacamatanya. Dilihatnya Alfi yang masih tergugu di tempatnya lalu perlahan kakinya melangkah meninggalkan tempat tersebut.
🍂🍂🍂
Setelah dua minggu dirawat di rumah sakit, Denis diperbolehkan pulang. Semua sahabat Denis, termasuk Iza dan Maira membantu kepulangan pria tersebut. Abe meletakkan tas pakaian Denis di atas bed, Maira membereskan camilan yang tersisa, sedang Fahrul membereskan urusan administrasi.
“Den, kamu pulang ke rumah aja. Kalau ke apartemen nanti ngga ada yang ngurus kamu,” usul Maira.
“Mai bener Den. Mending pulang ke rumah. Lo kan masih harus minum obat, kalau ngga ada yang ngingetin nanti bablas kelupaan.”
Denis hanya berdecih saja mendengar ucapan Fahrul. Pasti ada udang di balik bakwan kenapa sahabatnya itu mendukung usulan istrinya. Dengan dibantu Arnav, Denis keluar dari ruang inap. Mereka langsung meluncur ke rumah orang tua Denis.
Kepulangan Denis disambut oleh bu Sarni dan juga Ayura yang membantu membuatkan aneka makanan. Fahrul menurunkan tas baju milik Denis, tak lama dia juga menurunkan koper miliknya. Denis menyeringai melihat koper milik Fahrul. Terjawab sudah mengapa sang sahabat menyetujui usulan Maira.
“Eh lo ngapain bawa koper?” tanya Abe.
“Gue juga mau ikut tinggal di sini. Bantuin Maira ngurus tuh kunyuk.”
“Heleh, modus,” ledek Denis.
Fahrul sama sekali tak merasa terganggu dengan ledekan temannya itu. Dia segera masuk sambil menggeret kopernya. Maira juga tak berkomentar apapun, dia ikut masuk menyusul yang lainnya.
“Kenapa kopernya ditaruh di sini?”
“Kan aku tidur di sini sama kamu.”
“Aku ngga mau. kamu tidur aja di luar, atau tidur sama Denis.”
“Kenapa Mai? Aku kan masih suami kamu, jadi wajar dong kalau kita tidur sekamar.”
“Tapi aku ngga mau. Kamu lupa kalau kita sedang proses bercerai?”
“Mai.. please jangan bahas itu lagi. Ayo kita mulai semua dari awal lagi. Anggap aja ini sebagai permulaan. Aku dengan tulus minta maaf sama kamu atas semua yang kulakukan, telah menyakiti hatimu juga mengkhianatimu. Maafin aku Mai,” Fahrul menggenggam tangan Maira, namun segera ditepis oleh wanita itu.
“Aku sudah memaafkanmu tapi untuk melupakan semua yang sudah terjadi, aku masih belum bisa.”
“Aku akan menunggu sampai kamu siap menerimaku lagi.”
“Kalau begitu keluar dari kamar ini.”
“Mai aku mohon.”
“Kalau kamu bersikeras tidur di kamar ini, aku akan tinggal bersama Ayu sementara waktu.”
Fahrul menghela nafas panjang, mau tak mau dia harus mengalah kali ini. Tak apa tidak tidur bersama, yang penting dia bisa tinggal satu atap lagi bersama sang istri. Fahrul membuka pintu kamar kemudian menggeret kopernya keluar. Dia membawa koper ke kamar Denis. Abe dan Arnav berusaha menahan tawa melihat temannya itu.
Makanan sudah tersedia di meja makan. Ayura mempersilahkan yang lain untuk menikmati hidangan hasil masakannya. Tanpa menunggu lama, semua langsung mengambil piring dan mengisinya dengan makanan.
Nick dan Iza memilih duduk di teras sambil menikmati makanan. Iza tak menyangka masakan Ayura ternyata begitu lezat. Nick juga terlihat sangat menikmatinya. Gadis itu merasa malu karena dirinya sama sekali tak bisa memasak. Hanya ceplok telor dan mie instan saja makanan yang pernah dibuatnya.
“Makanannya enak ya, Nick.”
“Iya, enak banget. Ngga nyangka Ayu pinter masak.”
“Maaf ya.”
“Kenapa?”
“Aku ngga bisa masak kaya Ayura.”
Nick menghentikan makannya lalu melihat ke arah Iza. Gadis itu menundukkan kepalanya. Dia merasa malu bersitatap dengan Nick.
“Zi.. memasak itu adalah sesuatu yang bisa dipelajari bukan bakat sejak lahir. Aku percaya, kalau kamu mau belajar, kamu pasti bisa membuat makanan seenak ini.”
“Emang kamu mau nunggu sampai aku bisa masak?”
“Kenapa ngga? Kamu aja mau nunggu sampai aku layak menjadi imammu.”
Senyum Iza terk*lum mendengar ucapan Nick. Pria itu selalu saja bisa menenangkan dan menyenangkan hatinya lewat kata-kata indahnya. Senyum Nick ikut terbit melihat senyum wanita yang dicintainya. Keduanya kembali melanjutkan makannya.
🍂🍂🍂
Selepas isya, semua sahabat Denis pamit pulang, kecuali Fahrul. Dikarenakan Fahrul menginap, bu Sarni yang awalnya akan menemani Maira memilih pulang ke rumahnya. Maira langsung masuk ke kamar begitu semuanya telah pergi meninggalkan rumah. Fahrul juga ikut masuk ke kamar Denis. Dia harus lebih bersabar menghadapi sikap keras kepala Maira.
Sementara itu, Nick masih dalam perjalanan mengantarkan Iza pulang. Alunan musik dengan volume kecil menyertai perjalanan mereka. Iza melirik ke arah Nick yang tengah fokus menyetir.
“Nick.. gimana perkembangan kedai kopi?”
“Alhamdulillah lancar. Interiornya juga sudah selesai, cuma tinggal tunggu barang-barang pesanan datang.”
“Alhamdulillah.. kalau pegawainya sudah dapat?”
“Rencananya minggu depan baru cari pegawai. Ngga banyak sih, untuk sementara paling ambil dua karyawan dulu. Kalau ngga ada halangan, bulan depan udah opening.”
“Nama kedainya apa?”
“Apa ya? Rahasia dong. Tunggu aja tanggal openingnya nanti.”
“Iih.. sok misterius banget, nyebelin.”
“Hahaha.. surprise sayang.”
Nick tertawa melihat wajah Iza yang cemberut. Tanpa sadar dia mengusak puncak kepala gadis itu. Tak ada protes dari Iza, dia hanya melihat Nick seraya tersenyum. Dadanya sedikit berdesir saat Nick melakukan itu.
Mobil yang dikendarai Nick akhirnya sampai juga di kediaman Rahardi. Kening Iza berkerut melihat sebuah mobil terparkir di depan rumah. Bersama dengan Nick, gadis itu turun dari mobil lalu masuk ke dalam rumah.
“Assalamu’alaikum.”
“Waalaikumsalam.”
Langkah Iza terhenti ketika dia melihat di ruang tamu, Rahardi tengah kedatangan tamu dua orang pria. Satu seumuran abinya, satu lagi seumuran sang kakak. Rahardi langsung meyambut kedatangan anaknya dengan seyum lebar. Dia berjalan mendekati Iza yang masih terpaku di tempatnya, begitu pula dengan Nick.
“Faisal.. kenalkan ini anak bungsuku Iza. Zi.. ini teman abi, om Faisal dan ini anaknya, Syehan.”
Iza langsung menoleh ke arah Rahardi. Namun pria itu nampak tak mempedulikannya. Dia terus mengarahkan pandangannya ke arah temannya itu. Iza meraih tangan Faisal kemudian mencium punggung tangannya. Hal yang sama juga dilakukan oleh Nick. Kemudian keduanya bersalaman dengan Syehan.
Nick terus memandangi Syehan. Sebagai seorang pria, dia bisa tahu kalau Syehan menaruh hati pada Iza. Dadanya bergemuruh, hatinya mulai dibakar cemburu. Apalagi begitu melihat sikap Rahardi pada Syehan yang berbanding terbalik dengannya.
“Kalau ini siapa?” tanya Faisal pada Nick.
“Dia..”
“Dia teman Iza. Bukan siapa-siapa,” Rahardi buru-buru menyela ucapan Iza.
Mata Iza membelalak mendengar jawaban Rahardi. Dia baru saja akan menyangkal namun urung dilakukan ketika melihat kepala Nick menggeleng.
“Om.. saya permisi pulang dulu,” ujar Nick.
Rahardi hanya mengangguk saja tanpa ekspresi. Iza melihat kesal ke arah abinya, kemudian dia melangkah keluar untuk mengantar Nick ke mobilnya. Semua itu dapat tertangkap jelas oleh Faisal juga Syehan, namun keduanya tak berkomentar apapun.
“Nick..”
“Zi.. biar aja. Kita harus lebih sabar.”
“Aku masih bisa sabar sekarang. Tapi kalau abi masih seperti ini, maka aku akan melakukan apa yang harus dilakukan.”
“Zi..”
“Jangan larang aku Nick. Kamu juga udah setuju dengan rencana kita kan?”
“Iya. Tapi lebih baik kalau kita mengikuti anjuran abah.”
“Kita lihat aja nanti.”
“Ya udah, kamu istirahat sana. Tenangin dulu pikiran. Aku pulang dulu.”
“Iya. Hati-hati.”
“Iya sayang. Assalamu’alaikum.”
“Waalaikumsalam.”
Nick masuk ke dalam mobilnya dan tak lama kemudian kereta besi itu mulai bergerak. Iza masuk ke dalam rumah. Sambil melemparkan senyum, gadis itu terus berjalan menuju kamarnya tanpa mempedulikan panggilan Rahardi.
🍂🍂🍂
Ada yang tau tetrodotoxin?
Tetrodotoxin itu racun ikan buntal. Khasiatnya ngga kalah dahsyat sama sianida. Tetrodotoxin itu ngga berbau dan ngga berwarna. Cuma dioles di bibir gelas aja udah mematikan.
Sekian pelajaran hari ini😁😎