The Nick's Life

The Nick's Life
Lamaran



“Begini om.. maaf sebelumnya kalau kedatangan saya mendadak dan di waktu yang kurang tepat. Saya bermaksud melamar Meta.”


Kedua orang tua Meta terkejut mendengar ucapan Ridho. Meta juga tak kalah terkejut. Gadis itu tak menyangka Ridho menyetujui usulannya untuk menikah. Ditatapnya Ridho yang masih bertahan dengan wajah tanpa ekspresinya.


“Maaf nak Ridho, Meta..”


“Papa.. bisa kita bicara sebentar?”


Meta langsung memotong ucapan ayahnya. Kemudian dengan cepat Meta menarik kedua orang tuanya masuk ke dalam kamar. Gadis itu mendudukkan kedua orang tuanya di sisi ranjang, sedang dirinya duduk di lantai di depan keduanya.


“Meta.. ada apa ini? Kenapa tiba-tiba Ridho melamarmu?”


“Maaf pa. Tapi aku mau menikah dengan bang Ridho.”


“Meta.. Arnav sudah melamarmu. Tidak etis kalau abah menerima lamaran Ridho.”


“Aku tau pa. Tapi aku sudah menolak lamaran Arnav.”


“Apa?” Lina, mama Meta terkejut mendengarnya. Jujur saja wanita itu menyukai Arnav dan senang saat pria itu mengatakan ingin menikahi Meta.


“Kenapa Met? Kenapa kamu menolak lamaran Arnav dan memilih menikah dengan Ridho? Bukannya kamu juga menyukai Arnav?”


Tak ada jawaban dari Meta. Gadis itu menundukkan kepalanya seraya mengatupkan mulutnya. Sejujurnya dia tak tahu harus beralasan apa. Ide menikah dengan Ridho adalah spontanitas saja.


“Apa ini ada hubungannya dengan Iza?” tanya Efendi. Pria itu menghela nafasnya melihat anggukan kepala sang putri.


“Meta.. mama tahu kamu sayang Iza. Mama dan papa juga tidak akan melarangmu membantu Iza. Tapi pernikahan bukanlah hal main-main, sayang. Ini menyangkut hidupmu. Pernikahan adalah ibadah terpanjang seorang muslim. Apa kamu sudah siap? Apa kamu yakin dengan keputusanmu?”


“Aku tahu ma, mungkin alasanku ini tidak bisa diterima mama dan papa. Tapi aku ingin melakukannya. Ummi tidak bisa ikut pindah ke Bandung, bagaimana bang Ridho bisa mengurus Iza sendirian? Mungkin aja ada orang yang mau dipekerjakan, tapi bukankah lebih baik aku yang bersama dengannya? Tapi aku menyerahkan semuanya pada papa dan mama. Kalau kalian tidak mengijinkan, aku tidak akan memaksa.”


Meta mengusap buliran bening yang begitu saja keluar dari matanya. Lina hanya terdiam saja melihat anaknya yang malah menangis. Efendi memejamkan matanya. Sebagai ayah, dirinya berat melepas sang anak menikah dengan pria yang mungkin tidak mencintai anaknya. Tapi dirinya pun tak bisa menutup mata. Dia tahu betapa sayangnya Meta pada Iza. Kalau bukan karena Iza, mungkin mereka sudah kehilangan Meta saat anaknya itu berusaha bunuh diri dengan menenggak racun serangga. Jika Iza tak datang tepat waktu, nyawa Meta sudah melayang.


“Apa kamu bisa bertanggung jawab dengan pilihanmu?”


“In Syaa Allah pa. Aku akan bertanggung jawab dengan pilihanku.”


“Walau kamu dan Ridho tidak saling mencintai, tapi pernikahan yang nanti akan kalian jalani itu nyata, bukan sebuah permainan. Sesulit apapun keadaan kalian nanti, papa ngga mau kalian menjadikan perceraian sebagai jalan keluarnya. Apa kamu sanggup?”


“Iya pa. In Syaa Allah aku sanggup.”


“Baiklah. Ayo..”


Efendi beranjak dari duduknya. Begitu juga dengan Lina, dia berdiri lalu membantu Meta untuk bangun. Ketiganya keluar dari kamar lalu kembali ke ruang tengah. Ridho masih menunggu dengan sabar sampai ketiganya kembali duduk di hadapannya.


“Nak Ridho serius mau melamar Meta?”


“In Syaa Allah serius om.”


“Baiklah, kalau nak Ridho serius. Kami menerima lamaranmu. Kapan rencana kalian menikah?”


“Sebelum pindah ke Bandung," jawab Ridho dan Meta bersamaan.


“Baiklah. Kalau kalian sudah siap, dua hari lagi kalian akan menikah.”


“Terima kasih om. Soal resepsi pernikahan, apa boleh kami menggelarnya satu bulan kemudian? Masih ada yang harus saya bereskan di Bandung.”


“Iya, silahkan.”


Efendi tak bisa menolak apa yang dikatakan calon menantunya itu. Dia paham akan situasi yang dialami Ridho. Pria itu juga tidak bisa melarang anaknya. Efendi cukup tahu sifat anaknya yang keras kepala. Dia hanya berharap keputusan yang diambilnya benar. Setidaknya Ridho adalah pria yang baik dan bisa dipercaya untuk menjaga anaknya.


“Terima kasih sekali lagi, om.. tante. Kalau begitu saya pamit pulang.”


“Iya nak Ridho. Kami tunggu lamaran resmimu besok.”


“Iya om. Assalamu’alaikum.”


“Waalaikumsalam.”


Ridho bersalaman dengan Efendi juga Lina lalu beranjak pergi. Meta menemani pria itu sampai ke depan mobil. Dia penasaran apa yang sudah membuat Ridho berubah pikiran.


“Apa yang membuat abang berubah pikiran?”


“Aku hanya tidak mau kamu bunuh diri karena aku menolak ide konyolmu.”


“Bang.. aku serius.”


“Kenapa kamu masih menanyakan alasannya? Alasanku menerima usulanmu menikah sama denganmu, ini semua demi Iza. Kamu puas?”


“Terima kasih bang.”


“Sebentar.. kamu tidak sedang menjalin hubungan dengan lelaki lain kan?”


“Sebenarnya aku sudah pernah dilamar, tapi aku menolaknya.”


“Kenapa?”


“Mau tau aja. Kepo banget sih.”


“Karena aku ngga mau disebut tukang tikung jodoh orang. Benar tidak ada laki-laki yang dekat denganmu?”


Meta hanya menganggukkan kepalanya pelan. Walau tak yakin dengan jawaban gadis di hadapannya, Ridho memilih untuk percaya saja. Meski konyol, tapi dia mengakui kalau ide pernikahan yang dicetuskan Meta menguntungkan dirinya. Akan ada orang yang bisa dipercaya untuk menjaga Iza. Dirinya juga berharap tidak ada orang yang terluka akan keputusannya ini.


🍂🍂🍂


Dokter Rega termenung di depan meja kerjanya. Jawaban atas lamaran kerja sebulan yang lalu diterimanya juga. Akhirnya dia diterima di rumah sakit besar yang ada di kota Bandung. Namun kini hatinya justru ragu untuk mengambilnya. Sosok Iza sudah mencuri perhatiannya dan dokter tampan itu tak mau berada jauh darinya. Tapi dirinya juga sudah terlanjur mengajukan pengunduruan diri. Rega mendadak dilema.


Untuk menghilangkan kesuntukkan, Rega memilih keluar dari ruang kerjanya lalu berkeliling rumah sakit. Langkah pria itu terhenti ketika melihat Iza tengsh duduk bersama seorang pria paruh baya di depan kamar rawat inap. Melihat wanita yang dirindukannya, tentu saja tak disia-siakan oleh Rega. Pria itu bergegas menghampiri Iza.


“Assalamu’alaikum.”


“Waalaikumsalam. Dokter Rega ya?”


“Iya. Alhamdulillah kamu bisa mengenali suara saya,” senyum dokter tampan itu mengembang.


“Sedang menjenguk seseorang?”


“Abi kecelakaan.”


“Innalillahi.. bagaimana keadaannya?”


“Alhamdulillah operasinya lancar. Tinggal pemulihan saja.”


“Boleh saya menjenguknya?”


“Silahkan dok.”


Dokter muda itu melangkahkan kakinya memasuki kamar rawat Rahardi. Kedatangannya disambut oleh Mina yang tengah menemani suaminya. Setelah melihat keadaan Rahardi dan berbincang sebentar dengan Mina, Rega keluar dari ruangan. Dia kembali menghampiri Iza lalu mendudukkan diri di samping Rahman.


“Apa ada keluhan dengan matamu?”


“Alhamdulillah ngga dok.”


“Kalau kamu ada keluhan, langsung saja hubungi saya.”


“Terima kasih dok. Tapi kalau boleh, saya minta rekomendasi dokter mata yang ada di Bandung. Siapa tahu dokter punya kenalan di sana.”


“Untuk siapa?”


“Untuk saya dok. In Syaa Allah dalam waktu dekat saya akan pindah ke Bandung.”


Rega terkejut sekaligus senang mendengarnya. Di saat dirinya mengalami kebimbangan, Tuhan memberikan jawaban untuknya. Pria itu semakin yakin dengan perasaannya pada Iza. Lamaran pekerjaannya diterima, Iza yang pindah ke Bandung seperti jalan yang telah direncanakan Tuhan untuknya.


“Kebetulan, saya juga akan pindah ke Bandung. Sebulan yang lalu saya melamar ke salah satu rumah sakit di sana dan diterima. Jadi, kamu nanti bisa tetap melanjutkan perawatan bersama saya.”


“Oh.. syukurlah.”


Rahman terus memperhatikan interaksi Iza dengan dokter Rega. Sebagai orang sudah banyak makan asam garam kehidupan, pria itu tahu kalau Rega menyukai keponakannya. Pria itu sedikit cemas, pasalnya Ridho telah menceritakan kebenaran tentang Nick padanya.


“Kalau begitu saya permisi dulu. Mari pak.”


“Ummi.. abah.. apa bisa aku minta tolong pada kalian besok?”


“Tolong apa?” tanya Rahman.


“Menemaniku untuk melamar Meta.”


“Apa???” tanya Mina, Rahman dan Iza bersamaan.


“Kamu mau melamar Meta? Kamu serius? Bukannya sudah ada yang melamar Meta?”


“Meta sudah menolaknya, ummi. Makanya aku maju untuk melamarnya.”


“Tapi.. kenapa bisa? Apa jangan-jangan kamu sudah suka sama Meta dari dulu makanya kamu selalu menolak kalau mau ummi kenalkan dengan perempuan?”


“Iya, ummi.”


Ridho mencari aman dengan mengiyakan saja pertanyaan ibunya itu. Dia mengusap tengkuknya gelisah karena pandangan Mina yang terus melihatnya secara intens. Berbeda dengan Iza, gadis itu nampak termenung. Dia tahu betul bagaimana perasaan Meta dan juga kakaknya. Di antara kedua orang itu tidak ada perasaan cinta sama sekali. Pernikahan mereka pasti ada hubungannya dengan dirinya.


“Kalau memang itu keputusanmu, abah akan mendukung. Jam berapa kamu mau melamar?”


“Bada maghrib, abah. Setelah papa Meta pulang kerja.”


“Baiklah. Niat baik memang harus disegerakan.”


“Kalau begitu, aku pulang ya, ummi. Iza juga cape. Abah mau menginap di rumah?”


“Boleh.”


Rahman, Ridho dan Iza berdiri dari duduknya. Setelah menyalami Mina, Ridho membimbing Iza. Ketiganya berjalan menuju lift. Banyak pertanyaan di benak Iza, namun dia berusaha menahannya. Masih ada Rahman di antara mereka. Iza menunggu waktu berdua saja dengan sang kakak untuk membicarakan pernikahan dengan Meta.


🍂🍂🍂


Prosesi lamaran berjalan lancar. Kedua keluarga sepakat hanya mengadakan akad nikah saja mengingat waktu kepindahan Ridho yang mepet. Pernikahan akan digelar besok malam, selepas isya di kediaman Efendi. Pria itu sudah menghubungi temannya yang bekerja di KUA. Pernikahan diadakan secara sederhana dengan mengundang beberapa tetangga dekat sebagai saksi agar tidak menimbulkan fitnah.


Kedua keluarga juga membicarakan perihal resepsi yang dijanjikan Ridho akan digelar sebulan setelahnya. Mina dan Lina sepakat yang akan bertanggung jawab mengurus persiapan resepsi. Setelah beberapa hal penting disepakati, Lina mempersilahkan para tamu untuk mencicipi hidangan.


Iza memilih duduk di dekat kolam ikan yang ada di bagian depan rumah. Ridho berjalan mendekati sang adik dengan piring di tangan, lalu duduk di sampingnya. Meta sendiri memilih menghindari Iza, dia tahu pasti kalau sahabatnya itu akan banyak bertanya soal keputusannya menikah dengan Ridho.


“Abang..”


“Hmm..”


“Kenapa abang mau menikah dengan Meta?”


“Kan abang udah bilang alasannya kemarin.”


“Bohong. Aku tahu abang bohong. Apa kalian menikah karena aku?”


“Bukan. Kami menikah karena memang Allah telah menakdirkan kami untuk menikah.


“Maafkan aku, bang. Aku hanya menjadi beban untukmu juga Meta.”


Ridho menaruh piring di atas kursi yang ada di sana, kemudian merangkul bahu sang adik. Dibawanya Iza ke dalam pelukannya. Meta yang diminta mengantarkan makanan untuk Iza, memilih bersembunyi di balik tembok ketika mendengar kakak dan adik itu tengah berbincang.


“Zi.. kamu adik abang. Merawatmu sama sekali bukan beban untuk abang. Abang dan Meta bukanlah anak kecil yang mengambil keputusan secara gegabah. Kami sudah memikirkan ini matang-matang. Jangan jadikan pernikahan kami sebagai beban untukmu. Tapi anggaplah itu sebagai bentuk kasih sayang kami berdua untukmu. Yang harus kamu lakukan sekarang adalah menjalani hidup dengan baik, tidak berputus asa dengan keadaanmu dan berdoa semoga ada donor mata untukmu secepatnya.”


“Apa abang mencintai Meta?”


“Cinta datang karena terbiasa bukan? Abang yakin perasaan itu cepat atau lambat akan muncul di antara kami. Meta perempuan yang baik juga cantik, rasanya tidak sulit untuk menumbuhkan perasaan cinta, bukan begitu?”


“Hmm.. mungkin buat abang. Tapi.. aku ngga yakin buat Meta.”


“Kenapa? Apa Meta mencintai laki-laki lain?”


Jantung Meta berdegup kencang mendengar pertanyaan Ridho. Dia berharap Iza tak membuka perihal Arnav. Kalau Ridho tahu, bisa jadi dia akan membatalkan pernikahan ini. Walau belum terlalu lama bergaul akrab dengan Ridho, namun sedikit banyak Meta tahu bagaimana watak pria itu.


“Gimana Meta mau jatuh cinta sama abang, kalau abangnya aja jutek, dingin, terus tuh muka kaku banget kaya papan penggilesan. Banyakin senyum bang, senyum itu ibadah. Lagian senyum ngga bakal bikin abang panuan kan? Susah banget deh buat senyum.”


“Hahaha.. kamu tuh.”


“Nah gitu dong, ketawa, senyum. Abang kan tambah ganteng kalau senyum. Dijamin Meta bakalan klepek-klepek sama abang.”


“Bisa aja kamu tuh,” Ridho mengusak puncak kepala Iza.


Pria itu menguraikan pelukannya di bahu Iza lalu mengambil kembali piring yang dibawanya tadi. Dia mulai menyuapkan makanan pada adiknya. Hati Meta menghangat melihat perlakuan Ridho pada Iza. Walau belum ada cinta di hati mereka, Meta yakin Ridho akan memperlakukannya dengan baik. Gadis itu lalu mendekati Iza dan Ridho.


“Eh aku kira makanan buat Iza belum ada.”


“Kakakku emang the best kan, Met. Tahu aja adeknya lagi kelaperan.”


“Yah terus ini buat siapa dong? Abang udah makan belum?”


“Belum.”


“Ya udah ini abang makan dulu. Biar aku yang suapin Iza.”


“Eh jangan Met. Aku mau disuapin bang Ridho. Gimana aja kalau kamu yang suapin abang?”


Uhuk.. uhuk..


Ridho terbatuk mendengarnya. Sepertinya mode jahil sang adik sudah kembali. Jauh di sudut hatinya, pria itu merasa bahagia, sedikit demi sedikit kondisi Iza sudah mulai membaik. Tak sabar rasanya ingin segera mempertemukan Iza dengan Nick.


🍂🍂🍂


Efendi, Lina juga Meta mengantarkan Ridho beserta keluarganya sampai ke depan rumah. Acara lamaran selesai, besok malam mereka akan kembali untuk melaksanakan akad nikah. Setelah membantu Iza naik ke mobil, Ridho berpamitan pada calon mertua dan calon istrinya. Pria itu kemudian naik ke atas mobil dan melanjukannya.


Kedua orang tua Meta masuk ke dalam rumah, sedang gadis itu masih bertahan di tempatnya. Matanya menangkap mobil yang biasa dikendarai Arnav terparkir di depan masjid. Tak lama pria itu keluar bersama dengan ustadz Badar dan Rivan. Dalam hati Meta bersyukur Arnav masih mau melanjutkan pelajarannya bersama dengan Rivan.


Setelah berpamitan pada ustadz Badar, Arnav berjalan menuju mobilnya. Sudut matanya menangkap Meta yang berdiri di depan rumahnya. Untuk sesaat pandangan mereka bertemu dan saling mengunci. Gurat kesedihan nampak menggelayuti netra Arnav. Tak jauh berbeda, Meta pun merasakan hal yang sama. Gadis itu segera masuk ke dalam rumah karena tak dapat menahan airmatanya lagi.


Dengan tergesa Meta naik ke lantai dua. Dibukanya pintu kamar lalu segera menuju balkon, berharap masih bisa melihat Arnav. Airmatanya jatuh begitu saja saat melihat mobil Arnav meluncur pergi.


Maafkan aku Ar.. aku harap kamu bisa menemukan wanita yang lebih baik dariku. Aku harap kamu bahagia selalu. Maafkan aku yang egois ini, tapi sepertinya kamu memang bukan jodohku.


“Met..”


Meta buru-buru mengusap airmatanya begitu mendengar suara sang mama memanggilnya. Lani menghampiri Meta yang masih bertahan di balkon. Wanita itu tadi sempat melihat bagaimana interaksi sang anak dengan Arnav.


“Kamu masih mencintai Arnav?”


“Kenapa kamu menolak lamarannya? Mama yakin, bukan hanya Iza yang menjadi alasanmu. Ada apa sayang?”


Meta membalikkan tubuhnya ke arah sang mama lalu memeluknya. Lani membiarkan anaknya menumpahkan segala kesedihan. Tangannya mengusap lembut punggung Meta yang bergetar akibat isaknya. Kemudian wanita itu membawa Meta masuk ke kamar dan mendudukkannya di sisi ranjang.


Lani masih menunggu dengan sabar anaknya bercerita. Diambilnya tisu yang ada di atas meja lalu memberikannya pada Meta. Beberapa kali Meta menarik nafas panjang untuk menenangkan diri sambil menghapus airmatanya.


“Terkadang kita tidak bisa mendapatkan apa yang kita inginkan, benar kan ma?” Lani hanya menganggukkan kepalanya.


“Terkadang apa yang baik menurut kita, belum tentu baik menurut Allah.”


Masih belum ada tanggapan dari Lani. Wanita itu masih setia mendengarkan penuturan sang anak tanpa ada keinginan untuk menginterupsi. Meta pun melanjutkan perkataannya.


“Semenjak Arnav melamarku dan aku menerimanya, aku terus terus menerus berdoa, ma. Kalau memang Arnav adalah jodohku, aku minta kami didekatkan dan disegerakan menikah. Kalau bukan, maka datangkan pria lain untukku. Dua bulan belakangan ini aku selalu bermimpi, ada laki-laki yang datang padaku tapi bukan Arnav. Aku tidak tahu siapa karena wajahnya masih buram. Berkali-kali aku memimpikan itu, ma. Dan seminggu yang lalu aku bermimpi yang sama, tapi wajahnya sudah jelas. Itu.. wajah bang Ridho. Apa aku salah mengartikan kalau bang Ridho itu jodohku?


Kebohongan Arnav hanya alasanku saja untuk menolak lamarannya. Karena kalau kita memang tidak berjodoh, bagaimana pun caranya kami tetap akan berpisah. Bahkan mungkin dengan cara yang lebih menyakitkan. Apa aku salah ma?”


Meta menangis lagi. Lani kembali memeluknya, tenggorokannya serasa tercekat mendengar penuturan anak bungsunya. Dulu dirinya pun berada di posisi yang sama dengan Meta. Efendi bukanlah pria yang dicintainya, namun takdir telah menggariskan pria itu menjadi suaminya. Dan ternyata keputusannya saat itu tepat. Efendi bukan hanya suami yang baik, namun bisa menjadi ayah yang baik untuk ketiga anaknya. Dan pernikahan mereka bertahan dan bahagia sampai saat ini.


“Kalau memang ini keputusanmu, jalani semuanya dengan ikhlas. Setelah Ridho resmi menjadi suamimu, kamu harus bisa membuang semua perasaanmu pada Arnav. Ridho lelaki yang baik, mama yakin dia akan membahagiakanmu. Mama akan selalu mendoakan yang terbaik untukmu.”


Lani mencium puncak kepala sang anak. Meta mengeratkan pelukannya di pinggang Lani. Untuk malam ini saja dia mengeluarkan semua kesedihannya, agar esok, dirinya bisa menatap masa depan yang lebih baik bersama dengan Ridho.


🍂🍂🍂


**Duh gue punya saingan baru nih. Bang Ridho kok makin lama makin oke aja ya😎


Dokter Rega, antri belakang gue ya wakakakak**...