
WARNING!!!
DEMI MENJAGA KEMURNIAN IBADAH PUASA. MOHON BACA SETELAH BERBUKA.
TERIMA KASIH😉
******************************************
Dengan kecepatan sedang, Nick memacu kendaraannya membelah jalanan tol Cipularang. Iza yang masih dalam pengaruh obat, lebih banyak tertidur sepanjang perjalanan. Waktu menunjukkan pukul setengah dua siang, Nick memutuskan untuk beristirahat sejenak sambil menunaikan ibadah shalat dzuhur. Di KM 88, pria itu membelokkan kendaraannya memasuki rest area. Setelah memarkirkan mobilnya, dia membangunkan Iza.
“Zi.. sayang.. bangun..” Nick menepuk pelan pipi istrinya.
“Udah sampe mas?”
“Belum sayang. Ini di rest area, kita shalat sama makan dulu.”
Nick membukakan seat belt di tubuh sang istri. Iza terdiam sejenak, berusaha mengumpulkan sisa-sisa kesadarannya. Nick mendekatkan wajahnya kemudian mengecup bibir Iza.
“Ayo kita turun.”
Dibelainya lembut kepala Iza membuat senyum wanita itu terbit. Nick semakin bersikap manis dan romantis saja padanya. Perlahan Iza menegakkan tubuhnya. Dia lalu mengambil tasnya kemudian turun dari mobil. Sambil bergandengan tangan, mereka berjalan menuju masjid untuk shalat dzuhur.
Keduanya memasuki masjid Al-Safar, masjid ini merupakan masjid terbesar se-rest area. Bangunan masjid ini cukup unik, mengusung bentuk asimetris. Ridwan Kamil, sang arsitek yang merancang bangunan ini sengaja membuat bangunan seperti iket kepala Sunda. Saat berada di dalam, keduanya berpisah menuju tempat wudhu masing-masing.
Wajah Iza lebih segar setelah terkena air wudhu. Usai menunaikan shalat dzuhur, Nick mengajak Iza menuju pujasera. Mereka berkeliling food stall, memilih makanan apa yang ingin dinikmatinya. Pilihan Iza jatuh pada salah satu kuliner khas Indonesia, bakso. Nick pun memesan dua porsi bakso dan dua gelas jus jeruk. Keduanya lalu menuju salah satu meja, menunggu hidangan mereka datang.
“Mas.. gimana soal kedai?”
“Masih direnovasi, sebentar lagi selesai. Barang yang dipesan juga datang dua hari lagi. Kalau ngga ada kendala, minggu depan sudah opening.”
“Mudah-mudahan ngga ada kendala lagi ya mas.”
“Aamiin..”
“Sudah tahu siapa yang merusak kedai?”
“Aku yakin kalau dalangnya Amelia. Waktunya barengan sama foto yang dikasih ke abah. Aku yakin dia dalang dibalik semua ini. Aku juga dapet kabar dari pak Hilman kalau dia baru aja dipecat dari jabatannya. Mungkin itu alasannya melakukan semua, dia masih berpikir kalau hilangnya klien berhubungan dengan aku.”
“Dia dipecat dari jabatannya kenapa harus menyalahkan mas. Dia aja yang kompeten. Dasar rubah licik. Pengen kucakar-cakar itu mukanya yang pas-pasan.”
“Hahahaha..”
Nick tak dapat menahan tawanya mendengar ucapan sang istri. Iza yang selalu bersikap lemah lembut, ternyata bisa juga bersikap garang. Seorang pelayan datang mengantarkan pesanan. Melihat asap baso yang mengepul, selera makan Iza langsung bangkit. Dia segera menambahkan kecap, saos dan sambal ke dalam mangkok baksonya.
“Zi.. sambelnya jangan banyak-banyak. Nanti kamu sakit perut.”
“Kalau ngga pedes bukan makan bakso namanya, tapi makan kolek.”
Pria itu hanya menggelengkan kepalanya melihat sang istri menambahkan tiga sendok sambal ke dalam mangkoknya. Iza mencicipi kuah baksonya lalu menambahkan satu sendok lagi. Nick langsung menyingkirkan wadah sambal begitu melihat Iza hendak menambahkannya lagi.
“Udah cukup.”
Iza hanya memberengut dan mulai memakan baksonya. Sebenarnya dia masih ingin menambah sambal, tapi melihat wajah Nick, wanita itu mengurungkan niatnya. Keduanya menikmati makanan sambil sesekali diselingi perbincangan.
“Nanti kita ke rumah kakek?”
“Ke rumah om Wahyu. Sekarang kakek sama nenek tinggal di rumah om Wahyu. Dulu mereka tinggal di Bale Endah. Tapi karena sering kebanjiran, om Wahyu mengajak kakek dan nenek tinggal bersamanya. Rumah di sana juga dijual.”
“Om Wahyu tinggal di mana?”
“Ciumbuleuit.”
“Mommy cuma punya adik om Wahyu?”
“Iya.”
“Berarti mas punya adik sepupu dong. Laki-laki apa perempuan?”
“Om Wahyu punya dua anak. Dua-duanya laki-laki. Kenapa? Kamu mau jodohin sama bang Ridho ya kalau perempuan.”
“Iya.. aku ngga mau bang Ridho jadi jomblo akut hihihi..”
“Emang bang Ridho umur berapa sih?”
“27 tahun.”
“Ck.. masih muda. Tenang aja, Allah pasti sudah menyiapkan jodoh yang baik untuknya.”
“Aamiin..”
Setelah mengisi perut, Iza mengajak Nick ke mini mart untuk membeli minuman dingin dan beberapa camilan. Baru kemudian keduanya masuk ke dalam mobil. Sebelum meninggalkan rest area, Nick memilih mengisi bahan bakar terlebih dahulu.
🍂🍂🍂
Kedatangan Nick dan Iza disambut penuh sukacita oleh Diah, kedua orang tuanya juga keluarga sang adik. Yayan, kakek Nick memeluk erat cucunya ini. Cucu yang telah lama tak ditemuinya setelah Diah memutuskan menikah dengan Bryan. Lelaki itu memutus hubungan dengan sang anak karena kecewa dengan keputusannya yang begitu mudah berpindah keyakinan.
“Ya Allah Nick.. aki kangen sama kamu. Alhamdulillah aki masih diberi umur bertemu denganmu,” Yayan menepuk punggung sang cucu.
Yayan mengurai pelukannya, memberi kesempatan pada istrinya, Imas, untuk melepas kerinduan pada sang cucu. Dengan airmata berderai, Imas memeluk cucunya. Dulu dia sering membawa Nick berjemur usai dimandikan. Wanita itu juga yang merawat Nick saat bayi ketika Diah bekerja. Diah menyusut airmatanya, keharuan menyeruak ke dalam dadanya. Wanita itu bahagia bisa berkumpul kembali bersama keluarganya.
“Maafin enin, harusnya sejak dulu enin menengokmu.”
Nick mengurai pelukannya kemudian menghapus airmata di wajah enin yang sudah dipenuhi keriput. Perasaan Nick pun sama bahagianya seperti sang mommy. Impiannya bisa berkumpul dengan keluarga akhirnya terwujud. Pria itu kemudian membawa enin ke hadapan Iza.
“Enin.. kenalkan, ini Iza, istriku.”
“Ya Allah Nick, kamu sudah menikah?”
Nick menganggukkan kepalanya. Iza mendekat lalu mencium punggung tangan Imas dengan takzim. Imas memeluk Iza seraya mengusap punggung wanita itu pelan. Kebahagiaannya kembali bertambah dengan hadirnya anggota baru dalam keluarganya.
“Kamu pinter Nick, istrimu geulis pisan,” puji Imas.
“Iya bu. Mata Nick jeli juga,” timpal Sinta, istri Wahyu sambil tersenyum.
“Kangen-kangenannya udah dulu. Ayo Nick, Iza duduk dulu,” Wahyu mengajak keponakannya duduk di sofa.
Bersama dengan Iza, Nick duduk di sofa diikuti yang lainnya. Tak lama kemudian Sinta datang membawakan minuman dan camilan. Saat yang bersamaan, kedua anak lelaki Wahyu datang. pria itu langsung mengenalkannya pada Nick.
“Nick, Iza.. kenalkan ini anak om. Yang besar ini namanya Ganjar, sekarang lagi kuliah tingkat dua. Yang bungsu ini Galih, masih kelas 3 SMU.”
Ganjar dan Galih menyalami Nick dan Iza bergantian. Keduanya kemudian bergabung duduk di sofa. Selama ini mereka hanya mendengar cerita tentang Nick dari papa, kakek dan neneknya saja. Kini mereka bisa bertemu langsung dengan cucu pertama yang hilang. Dan ternyata Nick adalah sosok yang ramah dan hangat, mereka bisa langsung akrab dengannya.
🍂🍂🍂
Wahyu menghampiri Nick yang tengah duduk santai di teras bersama Ganjar dan Galih setelah shalat isya berjamaah di masjid. Melihat Wahyu, Galih segera berdiri untuk memberikan kursinya. Dia lalu berdiri di samping sang ayah.
“Nick.. bukannya om mengusir. Bukan juga ngga mau kamu menginap di sini. Tapi di rumah ini cuma ada empat kamar. Semuanya sudah terpakai. Jadi, bagaimana kalau kamu dan Iza menginap di hotel saja. Om sudah reservasi kamar hotel buat kamu.”
“Ngga ngerepotin. Anggap aja itu hadiah pernikahan dari om. Kalian kan masih pengantin baru, masa tidurnya misah sih,” Wahyu melayangkan tatapan menggoda ke arah keponakannya.
“Bener bang. Anggap aja bulan madu,” timpal Ganjar.
“Bang, ajarin dong gimana caranya biar dapet pasangan cantik dan solehah kaya kak Iza,” seru Galih.
“Sekolah aja dulu yang bener, jangan mikirin perempuan,” sembur Wahyu.
“Iya pa, iya. Ngegas mulu bawaannya.”
“Dia lagi ngincer dede gemez pa,” ucap Ganjar.
“Siapa dede gemez?”
“Itu tukang seblak yang dagang di deket rumah sakit. Umurnya udah kaya enin tapi minta dipanggil dede gemez hahahaha...”
“Dih najong. Mending jomblo daripada ama dia. Nenek-nenek ngga inget umur. Ganjen aja bawaannya, ngga bisa lihat pucuk,” kelutus Galih.
“Hahaha..”
Ucapan Galih langsung disambut gelak tawa Nick, Wahyu juga Ganjar. Ketiganya tergelak melihat ekspresi Galih yang bergidik geli ketika membicarakan tukang seblak fenomenal di lingkungan mereka.
Sementara itu di dalam kamar, Diah tengah berbicara dengan Iza. Wanita itu mendengarkan cerita Iza tentang apa yang terjadi pada mereka. Termasuk rencana Rahardi yang ingin menjodohkan Iza dengan anak salah satu temannya.
“Jadi ummi dan kakakmu sudah tahu soal pernikahan kalian?”
“Iya mom.”
“Bagaimana reaksi mereka?”
“Alhamdulillah mereka bisa menerimanya bahkan mendukung hubungan kami. Ummi bilang mau bertemu dengan mommy kalau mommy sudah pulang nanti.”
“Pasti, nanti mommy akan bertemu dengan ummi. Lalu.. apa kamu dan Nick sudah....”
Iza menganggukkan kepalanya pelan saat mengetahui kemana arah pembicaraan mertuanya ini. Senyum terbit di wajah Diah, berbeda dengan Iza yang tersipu malu melihat tatapan Diah yang menggoda.
“Harusnya kalian melakukannya sejak dulu. Mungkin aja mommy udah punya calon cucu.”
Diah mengusap perut rata Iza, membuat wajah wanita itu semakin memerah saja. Diah tersenyum melihat sang menantu yang salah tingkah.
“Lalu bagaimana rencana kalian sekarang? Di mana kalian akan tinggal?”
“Kalau mommy mengijinkan, aku akan tinggal bersama mommy dan Nick di apartemen.”
“Tentu saja mommy setuju. Tapi bagaimana dengan abimu?”
“Aku mengambil langkah ini demi menghindari abi. Aku mau abi berhenti menjodohkanku dengan laki-laki pilihannya.”
“Kamu tenang aja. Kamu punya dua orang ibu yang akan mendukung dan melindungimu. Mommy juga ummi akan melakukan apapun demi kebahagiaan kalian. Kami ngga akan membiarkan siapapun mengusikmu, termasuk abimu yang menyebalkan itu.. uuppss.. maaf.. mommy keceplosan,” Diah menutup bibir dengan tangannya.
“Ngga apa-apa mom. Abi emang nyebelin.”
Diah tertawa kecil mendengarnya. Lidahnya memang telah terbiasa menyebut kata menyebalkan di belakang nama Rahardi. Dia menarik Iza ke dalam pelukannya. Sebenarnya wanita itu tak ingin anaknya menjalani pernikahan sirri seperti dirinya dulu. Tapi sepertinya takdir sudah menggariskannya seperti itu.
Setelah beberapa saat Diah melepaskan pelukannya. Dia kemudian beranjak dari duduknya lalu berjalan menuju lemari. Diambilnya paper bag dari dalamnya dan kembali duduk di samping Iza.
“Om Wahyu sudah menyewa kamar hotel untuk kalian. Katanya itu hadiah untuk pernikahan kalian. Dan ini, pakai ini nanti ya saat mau tidur.”
“Apa ini mom?”
“Baju tidur. Kamu pasti kelihatan cantik pakai pakai baju tidur ini. Dan mommy yakin Nick bakalan tambah sayang sama kamu.”
Kening Iza berkerut mendengarnya. Pakaian tidur seperti apa yang bisa memberikan efek seperti itu. Baru saja Iza akan membuka paper bag di tangannya, terdengar ketukan di pintu. Setelahnya, Nick masuk ke dalam kamar.
“Zi.. ayo.”
“Kemana?”
“Ke hotel. Kita pergi sekarang aja. Sekalian jalan-jalan dulu.”
Iza hanya mengangguk, dia bergegas bersiap. Nick mengambil koper yang belum sempat dibongkar lalu memasukkan paper bag yang tadi diberikan Diah. Tak butuh waktu lama untuk mereka untuk bersiap. Diah dan yang lainnya mengantar pasangan itu sampai ke teras. Beberapa saat kemudian, mobil yang dikendarai Nick meluncur pergi.
🍂🍂🍂
Setelah berjalan-jalan mengelilingi kota Bandung dan menikmati jagung bakar, Nick memacu kendaraannya menuju hotel tujuan. Wahyu memilih sebuah hotel bintang lima yang terletak di daerah Dago atas untuk keponakannya menginap. Usai melakukan check in, seorang bell boy mengantar keduanya menuju kamar yang terletak di lantai 11.
Nick dan Iza masuk ke kamar junior suite room yang disiapkan Wahyu untuk mereka. Sebuah ranjang berukuran king size, lemari, meja rias, mini bar tersedia di kamar lengkap dengan jendela 90 derajat untuk menikmati pemandangan indah dari baliknya.
Begitu pula dengan kamar mandinya dilengkapi dengan shower dan bath tub yang langsung menghadap ke arah jendela. Sambil berendam, mereka bisa menikmati pemandangan.
Nick memasukkan koper ke dalam lemari kemudian menghampiri Iza yang tengah menikmati pemandangan dari balik jendela. Tangannya bergerak memeluk bahu sang istri. Iza merebahkan kepalanya di dada bidang Nick. Untuk sesaat keduanya hanya diam menikmati kebersamaan mereka.
Tangan Nick bergerak turun dan kini berada di perut Iza. Sebelah tangannya menyibak rambut sang istri kemudian mendaratkan ciuman di leher putih itu. Mata Iza terpejam menikmati sentuhan bibir Nick yang terus bergerak menelusuri leher dan tengkuknya. Sebuah gigitan kecil di telinganya membuat tubuh wanita itu seperti tersengat aliran listrik saja.
“I love you,” bisik Nick di telinga Iza.
Perlahan pria itu membalikkan tubuh Iza hingga menghadapnya. Jarinya bergerak mengusap rambut panjang sang istri yang tergerai. Kemudian tangannya menahan tengkuk Iza saat dia membenamkan bibirnya di bibir ranum itu. Dengan gerakan lembut, Nick menyesap bibir atas dan bawah Iza bergantian.
“Sudah malam. Ayo kita tidur.”
Iza hanya menganggukkan kepalanya. Wanita itu kemudian berjalan menuju lemari. Dibukannya koper lalu mengambil paper bag yang diberikan Diah. Dia juga mengambil kaos dan juga celana joger milik Nick lalu memberikannya pada sang suami. Iza bergegas menuju kamar mandi, sedang Nick memilih berganti pakaian di kamar.
Mata Iza terus memandang pantulan dirinya di cermin. Dia sungguh tak menyangka, mama mertuanya memberikan hadiah baju tidur seksi untuknya. Lingerie berwarna hitam membungkus tubuhnya hanya sebatas paha saja. Belahan dada yang rendah membuat bukit kembarnya sedikit menyembul. Belum lagi bahan lingerie yang semi transparan semakin membuatnya terlihat seksi.
Sebuah ketukan di pintu membuyarkan lamunannya. Suara Nick yang memanggil namanya membuat dada wanita itu berdegup semakin kencang. Tak ingin membuat suaminya cemas, Iza memutuskan untuk keluar. Dipegangnya erat handle pintu sebelum tangannya bergerak membukanya.
Nick hanya terpaku di tempatnya melihat penampilan sang istri yang terlihat begitu menggoda. Iza menggigit bibir bawahnya, rasa grogi menyerangnya begitu melihat tatapan Nick yang seakan men*lanj*nginya. Perlahan Nick berjalan mendekat, dada Iza semakin berdegup kencang. Nafasnya semakin tertahan ketika pria itu makin menipiskan jarak di antara mereka.
Tanpa aba-aba Nick langsung menyambar bibir Iza. Sebagai lelaki normal, tentu saja dia tak bisa menahan hasratnya melihat penampilan sang istri. Tanpa melepas pagutannya, pria itu menggendong Iza lalu membawanya ke ranjang. Perlahan Nick membaringkan tubuh Iza di atas kasur dengan dirinya berada di atasnya. Cumbuannya terus berlanjut dan semakin membuat keduanya terbakar g*irah. Di tengah udara kota Bandung yang dingin, Nick kembali memberikan nafkah batin untuk sang istri.
🍂🍂🍂
**Hayoo bacanya abis maghrib kan🙈
Takutnya lupa, nih dikasih lagi visual Iza & Nick.
Nick**
Iza