The Nick's Life

The Nick's Life
Berdamai



Nick membelokkan kendaraannya memasuki jalan pintas yang sering dilaluinya agar lebih cepat kembali ke hotel. Saat melintasi jalan yang sepi, tiba-tiba saja sebuah mobil menyalipnya kemudian berhenti di depannya. Nick menekan pedal rem dalam-dalam.


CIIIIIITTTT


Hampir saja kening Nick membentur kemudi karena rem mendadak yang dilakukannya. Dari arah spion terlihat sebuah mobil berhenti di belakang kendaraannya. Kemudian dari kedua mobil tersebut turun enam orang laki-laki berbadan tegap. Salah satunya mendekat lalu menggedor kaca mobil Nick.


“TURUN!!”


Nick masih terdiam di tempatnya. Matanya memperhatikan orang-orang yang tengah mengepung mobilnya. Sekali lagi gedoran terdengar di kaca jendelanya dan juga gebrakan di bagian depan mobilnya. Nick melepaskan sabuk pengamannya lalu turun dari mobil.


“Siapa kalian?”


“Sikat!!”


Tanpa membuang waktu, keenam orang tersebut langsung mengeroyok Nick. Dengan gerakan cepat, Nick menghindar kemudian berlari menuju tempat yang lebih luas. Perkelahian tak seimbang pun segera terjadi. Keenam pria tegap itu melayangkan pukulan bergantian pada Nick.


Nick yang memang memiliki kemampuan bela diri awalnya bisa mengimbangi gempuran mereka. Namun karena jumlah mereka yang terlalu banyak membuatnya keteteran juga. Baru saja dia menghindari tendangan dari arah samping, tiba-tiba dari arah belakangnya datang seseorang lalu menendang punggungnya.


Tubuh Nick jatuh tersungkur dengan posisi tengkurap. Seorang lagi maju membalikkan tubuh Nick lalu mendaratkan pukulan ke wajahnya. Seorang lagi datang menendang perutnya. Kemudian pukulan beruntun terus diterima Nick dari keenam orang tersebut.


Seorang pria bertubuh gempal dan berkepala botak mengambil tongkat baseball dari dalam mobil kemudian berjalan ke arah Nick. Dua orang penyerang mengangkat tubuh Nick kemudian memegangnya dengan erat. Pria bertongkat baseball itu mendekat lalu memukulkan tongkat tersebut ke arah perut Nick.


"Aaahgghhh..."


Terdengar erangan Nick menahan rasa sakit di perutnya. Pria yang memegang tongkat kembali bersiap mengarahkan tongkatnya ke arah Nick. Kali ini dia mengincar kepala pria tampan itu. Orang tersebut mengangkat tongkat di tangannya, saat dia mulai mengayunkan benda tumpul tersebut tiba-tiba Denis datang dengan motornya lalu menendang tubuh pria itu hingga jatuh tersungkur.


Denis menghentikan motornya. Dilepaskan helm dari kepalanya kemudian melemparkan pada salah satu orang yang mendekatinya. Perkelahian kembali terjadi. Tak lama Abe, Arnav dan Fahrul datang lalu membantu Denis melawan para penyerang Nick.


Pemimpin gerombolan tersebut mengeluarkan pisau kecil dari saku jaketnya lalu berjalan mendekati Nick yang masih terkapar. Belum sempat pria itu mencapai Nick, sebuah tendangan mengenai tangannya, membuat pisau di tangannya terjatuh. Kemudian tendangan berikutnya mengenai wajahnya hingga tubuhnya terjatuh. Abe mendekati pria itu lalu menarik kaosnya.


“Siapa yang nyuruh lo?!!”


BUGH


Sebuah hajaran mendarat di wajah pria itu, namun pria itu masih menutup mulutnya. Saat Abe akan menghajarnya lagi, sebuah tendangan mengenai tubuhnya. Pegangannya terlepas dan orang yang menendangnya segera menarik rekannya lalu berlari memasuki mobil mereka.


“Woi!!! Jangan kabur lo!!”


“Den, biarin aja. Mending kita urus Nick,” seru Abe.


Abe dan Arnav mengangkat Nick yang tak sadarkan diri. Mereka membawa Nick ke mobil Arnav. Fahrul membuka mobil Nick lalu mengambil kunci mobilnya. Kemudian pria itu menuju kendaraan milik Arnav.


“Bawa Nick ke rumah sakit. Mobil Nick biar gue yang urus,” seru Fahrul.


“Gue mau cari tahu preman tadi. Nanti gue nyusul ke rumah sakit,” ujar Denis.


Arnav menganggukkan kepalanya lalu masuk ke dalam mobil. Abe juga bergegas menuju mobilnya kemudian menyusul Arnav. Denis memakai kembali helmnya dan menaiki motornya. Kendaraan roda dua itu langsung meninggalkan Fahrul yang tengah menghubungi salah satu anak buahnya untuk menemui dirinya.


🍂🍂🍂


Diah memasuki ruang IGD, tangannya sibuk menyibak tirai bilik perawatan, mencari keberadaan anaknya. Matanya kemudian menangkap sosok Abe tengah berbicara dengan dokter. Wanita itu bergegas menghampiri Abe.


“Abe.. Nick mana?”


“Eh mom, Nick di situ.”


Abe menunjuk bilik di belakangnya. Diah langsung menghampiri sedangkan Abe melanjutkan pembicaraannya dengan dokter. Diah memandangi Nick yang terbaring di atas blankar. Terdapat beberapa memar di wajahnya. Abe mendekati Diah.


“Nick kenapa Be? Kenapa dia sampai begini?”


“Ada yang mengikuti Nick terus dia dicegat dan dipukuli.”


“Siapa yang melakukannya? Apa salah Nick?”


“Aku juga ngga tau mom. Denis lagi coba kejar pelakunya.”


“Apa kata dokter? Apa lukanya ada yang parah?”


“Lambung Nick memar akibat pukulan benda tumpul. Tulang selangkanya juga bergeser. Tapi tadi sudah ditangani. Itu bahunya udah dipakein penyangga bahu.”


Diah menangis mendengar penuturan Abe. Sejak kecil Nick tidak pernah sakit parah yang mengharuskannya dirawat di rumah sakit. Tapi sekarang putranya itu harus terbaring lemah.


Arnav yang telah selesai mengurus administrasi kembali ke bilik perawatan Nick. Di belakangnya tampak menyusul Denis dan Fahrul. Mereka menyampingkan pertikaian dan fokus pada masalah Nick.


“Gimana Ar? Udah beres?”


“Udah, bentar lagi Nick bakal dipindahin ke ruang perawatan.”


“Den, gimana? Ketemu ngga pelakunya?”


“Ngga kekejar tapi gue berhasil foto plat mobil mereka. Nih..” Denis menyerahkan ponselnya pada Abe.


“Sekarang giliran elo, Be,” lanjut Denis.


“Lah kok gue?”


“Bokap lo kan punya koneksi di kepolisian. Minta lacak nopol ini.”


“Ogah.. tau sendiri bokap gue, tiap gue minta sesuatu pasti minta kompensasi.”


“Ah elah palingan lo disuruh nikah ama tuh bocil,” jawab Denis santai yang langsung mendapat toyoran dari Abe.


“Bentar.. bocil siapa? Lo mau nikah, Be?” sela Arnav.


“Kepo lo!”


“Permisi...”


Pembicaraan mereka terjeda saat dua orang perawat mendekat seraya mendorong bed untuk Nick. Dibantu oleh Arnav, Fahrul juga Abe, perawat tersebut memindahkan Nick ke bed kemudian membawanya ke ruang perawatan. Diah mengikuti bed yang membawa Nick ke lantai lima, tempat ruang perawatan khusus pria berada.


Setelah memastikan selang infus terpasang dengan baik, suster yang bertugas merawat Nick pun undur diri. Denis menghempaskan tubuhnya di atas sofa. Arnav mendaftarkan Nick di ruang rawat inap VIP junior suite. Dia sengaja memilih ruangan jenis itu agar para sahabatnya lebih leluasa saat menunggui Nick.


“Mom mending pulang aja. Kata dokter tadi paling pagi Nick bangunnya,” ujar Abe.


“Iya mom mending pulang aja. Biar kita di sini yang jaga Nick,” Arnav ikut menimpali.


“Ayo mom aku antar. Besok pagi aku jemput mom lagi.”


Denis berdiri kemudian meraih tangan Diah. Dia membimbing wanita paruh baya itu keluar dari ruangan. Diah pun tak kuasa menolak permintaan sahabat dari anaknya itu. Walau berat, Diah memutuskan pulang ke apartemen.


“Rul, lo ngga pulang?” tanya Arnav.


“Ngapain pulang. Mending di sini aja.”


“Kasihan Mai sendirian,” seru Abe.


“Lupa lo, Mai lagi diumpetin si kampret.”


“Oh iya.”


Abe menepuk keningnya. Fahrul mendorong tubuh Abe untuk bergeser ke samping agar dirinya mendapatkan ruang untuk duduk. Demikian pula dengan Arnav, dia mendaratkan bokongnya di sisi kanan Abe. Jadilah Abe diapit dua sahabatnya yang bertubuh tinggi besar. Di antara yang lain, postur tubuh Abe memang yang paling kecil.


🍂🍂🍂


Iza berjalan mondar-mandir di dalam kamarnya. Setelah berbicara dengan ummi, gadis itu memutuskan untuk menghubungi Nick. Namun pesan yang dikirimkannya semalam tak juga mendapat balasan. Jangankan dibalas, dibaca pun tidak. Iza mengambil ponselnya kemudian membuka aplikasi whats app. Dilihatnya deretan pesan yang terkirim untuk Nick namun belum terbaca.


To My Beloved Nick :


Nick...


Kamu di mana?


Bisa kita ketemu?


Nick.. answer please (tolong jawab).


Iza kemudian menghubungi Rivan untuk menanyakan perihal Nick. Rivan mengatakan kalau semalam Nick masih datang mengaji dan teman-temannya datang menyusul. Mendadak perasaan Iza tak enak, dia takut kalau Nick kembali pada kebiasaan lamanya berpesta dengan para wanita dan juga meminum minuman keras.


Didorong rasa takut dan juga penasaran, Iza akhirnya memutuskan untuk menghubungi Nick. Terlihat tulisan berdering di ponselnya yang artinya ponsel Nick aktif. Namun sampai deringan terakhir, panggilannya tak diangkat. Iza kembali menghubungi Nick, lagi-lagi tak diangkat. Tak menyerah, Iza terus menghubungi pria itu. Akhirnya pada percobaan kelima, panggilannya terjawab.


“Halo..”


Iza mengerutkan keningnya mendengar bukan suara Nick yang menjawab panggilannya. Dia melihat ponselnya untuk memastikan benar Nick yang dihubunginya.


“Halo.. Zi..”


“Iya. Maaf ini dengan siapa? Nick mana?”


“Nick sakit?”


“Iya Zi. Nick lagi dirawat di rumat sakit Medika Pratama.”


“Ruang apa?”


“Ruang Tulip kamar no 5.”


“Aku ke sana sekarang.”


Iza mengakhiri panggilannya. Gadis itu bergegas berganti pakaian. Setelah itu dia memesan ojek online. Dimasukkannya dompet juga ponsel ke dalam tas selempang kecilnya lalu bergegas keluar kamar. Keadaan rumahnya tampak sepi, karena abinya sedang mengajar dan ummi berada di butik. Iza mengirimkan pesan pada Mina tentang kepergiannya. Beberapa menit kemudian, ojek yang dipesannya tiba. Dengan cepat gadis itu memakai helm lalu naik di belakang sang driver.


Setengah jam kemudian, ojek yang ditumpanginya sampai di depan rumah sakit Medika Pratama. Iza berlari memasuki lobi rumah sakit kemudian memasuki lift yang kebetulan tengah terbuka pintunya. Jarinya memijit tombol lima dan tak lama kotak besi itu bergerak naik.


Sesampainya di lantai lima, Iza segera memasuki ruangan Tulip kemudian mencari kamar nomor lima. Diketuknya sebentar pintu kamar kemudian tangannya menggerakkan handle pintu.


“Zi..” sapa Denis.


Pandangan Iza langsung tertuju pada Nick yang tengah berbaring di bed. Bergegas gadis itu menghampiri bed. Dia terkejut melihat memar di wajah Nick. Sontak dirinya melihat ke arah Denis untuk meminta penjelasan. Iza terkejut mendengar penuturan Denis tentang insiden pengeroyokan Nick.


“Siapa yang melakukannya?”


“Masih belum tahu, Zi. Tapi kita lagi ngelacak plat nomor mobil yang dipakai para preman itu.”


Mendengar suara orang tengah bercakap-cakap, kelopak mata Nick bergerak-gerak. Telinganya tadi seperti menangkap suara Iza. Dan saat pria itu membukan matanya, terlihat Iza tengah berbicara dengan Denis.


“Zi..”


Iza menoleh begitu mendengar suara parau Nick memanggilnya. Dia segera menghampiri Nick seraya menarik kursi ke dekat bed. Denis membantu Nick untuk bangun dan merubah posisi bed sedikit tegak. Iza duduk di sisi bed sambil terus memandangi Nick.


“Kalian ngobrol aja dulu. Gue mau cari makan dulu.”


Denis menyambar tas pinggangnya kemudian bergegas meninggalkan kamar inap tersebut. Selain perutnya yang keroncongan, dia tak ingin menjadi obat nyamuk tak berasap di antara kedua orang tersebut.


“Kamu kenapa bisa kaya gini Nick?” tanya Iza begitu Denis meninggalkan mereka.


“Ngga tau Zi. Tiba-tiba aja mereka cegat aku dan nyerang aku.”


“Kamu kenal mereka?”


“Ngga.”


“Mereka begal bukan?”


“Bukan kayanya karena dia ngincer aku bukan mobilku.”


“Apa yang terluka? Lihat ini muka kamu babak belur begini,” Iza terlihat cemas.


“Aku ngga apa-apa Zi.”


Pembicaraan mereka terhenti ketika seorang suster masuk ke dalam ruangan. Dia menggeleng saat melihat Nick masih belum menyentuh makan siangnya. Iza bergeser memberikan ruang pada suster untuk memeriksa keadaan pria itu.


“Makanannya dimakan ya. Habis itu minum obatnya.”


“Iya sus.”


Suster menganggukkan kepalanya kemudian keluar dari ruangan. Iza mengambil nampan berisi makanan lalu meletakkan di atas nakas. Dibukanya plastic wrap yang menutupi mangkok bubur beserta lauknya.


“Makan dulu ya.”


Nick mengangguk. Dia mencoba menggerakkan tangan kirinya namun masih terasa nyeri. Terdengar desisan kecilnya dan itu tertangkap oleh Iza.


“Tangan kamu kenapa?”


“Ngga apa-apa, cuma bahuku sedikit diskolasi aja.”


“Terus gimana? Parah ngga? Harus dioperasi?”


Nick tersenyum melihat wajah Iza yang nampak panik. Rasa sakit yang dirasakan Nick seolah menghilang begitu melihat sang bidadari tengah mencemaskan dirinya. Kemudian kepalanya menggeleng untuk menenangkan kekasih hatinya itu.


“Aku ngga apa-apa Zi, jangan cemas gitu.”


“Beneran ngga apa-apa?”


“Iya sayang.”


BLUSH


Wajah Iza merona mendengar panggilan sayang dari Nick. Dia berdehem untuk menghilangkan kegugupan. Kemudian tangannya bergerak memasukkan lauk ke dalam bubur. Gadis itu mulai menyuapi Nick.


“Zi.. kamu masih marah sama aku?”


“Kalau aku masih marah, ngga mungkin aku di sini. Maaf karena sudah bersikap kekanakan.”


“Ngga apa-apa. Tapi jangan diemin aku lagi ya. Aku lebih baik dimarahin kamu dari pada diabaikan.”


“Maaf Nick.”


“It’s okay sweet heart (ngga apa-apa sayang).”


Lagi kedua pipi Iza nampak kemerahan saat Nick memanggilnya dengan sebutan lain namun memiliki makna yang sama dengan kata sayang.


“Kamu masih mau menunggu aku kan Zi?”


“Iya.”


“Hmm.. waktuku untuk bisa berada berdampingan denganmu semakin lama aja. Untuk beberapa hari ke depan aku bakalan absen belajar ngaji.”


“Biar nanti aku telepon Rivan suruh dia ke sini pulang sekolah buat ngajarin kamu ngaji.”


“Emang mau?”


“Awas aja kalau ngga mau bakalan aku getok.”


“Hahaha jahat banget sih.”


Iza hanya membalas ucapan Nick dengan senyuman. Dia kembali menyuapkan bubur ke mulut Nick. Walau rasanya sedikit hambar, mau tak mau Nick menghabiskan makanannya karena tak ingin terkena semprotan Iza. Usai makan, Iza juga membantu Nick meminum obatnya.


“Makasih ya Zi.. berasa punya istri jadinya.”


“Aku kan lagi belajar ngurus suami,” balas Iza malu-malu membuat mata Nick berbinar.


“I love you Zi..”


Iza menatap Nick sebentar, senyuman tercetak di wajahnya kemudian menundukkan pandangan karena tak sanggup bersitatap lebih lama dengan pria itu. Walau tak ada jawaban dari mulut Iza, namun Nick yakin kalau gadis itu juga mencintainya.


“Aku harap secepatnya bisa menikahimu.”


“In Syaa Allah, aamiin.”


Kali ini senyuman lebar mengembang di wajah Nick. Dipandanginya tangan Iza yang tengah memegang besi penghalang bed. Ingin rasanya dia menggenggam tangan itu namun dirinya sadar kalau belum waktunya untuk menyentuh gadis tercintanya itu.


Tanpa pasangan itu sadari dua buah mata tengah mengawasi mereka dari dekat pintu. Diah yang tadinya hendak masuk, mengurungkan niatnya begitu melihat sang anak tengah bersama dengan Iza. Wanita itu menyandarkan punggungnya di tembok, tiba-tiba saja dia teringat pembicaraan terakhirnya dengan Nick. Saat anaknya itu meminta dirinya untuk berhenti menjadi wanita simpanan.


Awalnya tak ada niatan Diah mengikuti keinginan sang anak. Namun melihat kebahagian Nick tadi membuatnya berpikir ulang. Tidak pernah dia melihat sang anak sebahagia ini sebelumnya.


Lamunan Diah buyar ketika ponsel di tangannya bergetar. Nampak sebuah panggilan tak dikenal masuk ke ponselnya. Diah memilih mengabaikan panggilan tersebut. Namun karena ponselnya terus bergetar, akhirnya dia menjawab panggilan.


“Halo..”


“Halo. Saya tunggu kamu di kantin rumah sakit, sekarang.”


Kening Diah mengernyit mendengar suara perempuan dari seberang sana yang memintanya bertemu di kantin rumah sakit. Untuk sesaat wanita itu nampak terdiam, mencoba menerka siapa gerangan yang menghubunginya.


“Saya tunggu kamu sekarang.”


🍂🍂🍂


**Nah loh siapa tuh yang telepon mommy Diah. Bukan aku loh mom, suer✌️


Ehem!!! part Iza ama Nick bikin jiwa jomblo meronta😋


Harusnya bab ini up kemarin sore, tapi berhubung NT oleng, sampai tadi shubuh masih belum beres review. Semoga yang sekarang langsung lolos**