
Tamu undangan datang bergantian untuk memberikan ucapan selamat pada pasangan pengantin. Seperti dugaan Rina, kehebohan memang terjadi, begitu tetangga dan ibu-ibu di sekitar rumahnya mengetahui kalau yang menjadi pasangan Rina adalah pria keturunan Pakistan yang katanya mirip artis Bollywood.
Setiap habis menerima ucapan selamat dari tamunya, Arnav selalu meminta ajakan berfoto. Juru foto yang mengabadikan pernikahan Arnav dan Rina sudah seperti tukang foto keliling saja. Hampir tiap menit diminta untuk mengarahkan kameranya. Rahman dan Ani hanya tersenyum saja melihat tingkah para tetangganya. Begitu pula dengan Diah dan Bryan yang ikut duduk di panggung pelaminan, sebagai wali dari Arnav.
Awalnya Rina tak mempermasalahkan itu. Namun lama-lama gadis itu kesal juga. Jika hanya para emak yang meminta foto, dirinya masih bisa memaklumi. Tapi teman-temannya juga ikutan ingin berfoto dengan Arnav. Ditambah dengan para ABG di daerah sana yang tiba-tiba sengaja datang ke resepsi hanya untuk melihat dan berfoto dengan Arnav.
Tapi ternyata bukan hanya Rina yang merasakan kedongkolan. Iza dan Ayura pun merasakan hal yang sama. Selain Arnav, Nick dan Denis juga menjadi incaran untuk diajak foto bersama. Wajah Denis yang seperti oppa-oppa Korea dan wajah blasteran Nick yang tampan tentu saja menarik perhatian mereka.
“Oppa.. foto bareng dong,” celetuk salah satu ABG sambil mengedip-ngedipkan matanya. Membuat Ayura dongkol sedongkol-dongkolnya.
“Oppa.. oppa.. dia bukan oppa, tapi abah! Sana pergi. Ngga ada foto bareng lagi, dia bukan artis,” sewot Ayura yang sudah tidak bisa menahan diri lagi.
“Ih kenapa jadi teteh yang sewot?”
“Ya iyalah, yang kamu panggil oppa.. oppa.. itu suamiku! Udah sana!”
Maira tak bisa menahan tawanya melihat ekspresi Ayura yang sudah terbakar emosi. Semenjak hamil kadar kegalakan wanita itu semakin bertambah saja. Denis berusaha menenangkan istrinya yang sepertinya butuh pemadam kebakaran. ABG yang tadi meminta foto bersama langsung menyingkir dan mendekati Nick.
“Kakak.. boleh foto bareng?” tak ada jawaban dari Nick, pria itu melirik ke arah istrinya yang masih menikmati salad buah dengan tenang.
“Kakak..” ucap ABG itu lagi dengan nada merajuk.
“Awas aja berani foto bareng, jangan harap ada jatah malam ini,” ujar Iza pelan namun tetap terdengar di telinga Nick.
“Foto bareng sama pengantin aja sana. Di sini ngga melayani permintaan foto bareng,” jawab Nick yang langsung disambut wajah cemberut sang ABG. Sambil menghentakkan kakinya dengan kesal, dia berlalu pergi.
“Sabar ya kak Iza, kak Ayu. Emang susah punya laki ganteng,” Sansan terkikik geli.
“Jadi maksudnya suami kamu ngga ganteng gitu?” celetuk Abe.
“Ganteng, mas. Cuma ngga ada nilai lebihnya, standar ketampanan orang Indonesia, sama kaya om onta Arab,” Sansan melirik ke arah Fahrul. Karuan pria itu langsung melotot ke arah Sansan.
“Untung lo bininya Abe. Kalau bukan, udah gue masukin keranjang kol terus dikirim ke pasar induk,” kesal Fahrul. Maira mengusap pelan punggung suaminya sambil terus tertawa. Sedang Sansan hanya mengendikkan bahunya saja dengan menampilkan wajah tanpa dosa.
Di sisi lain, Edo yang juga datang bersama dengan Rico mencoba menguatkan telinganya, karena Rivan yang sedari tadi duduk bersama mereka tak berhenti mengoceh. Ada saja yang ditanyakan pemuda itu pada Edo dan Rico.
“Om.. ini tatto naga kan?” Rivan menunjuk pada tatto yang ada di punggung tangan kiri Rico.
“Iya,” jawab Rico malas.
“Pasti om ngga pernah kalah dong kalau berhadapan dengan musuh.”
“Ya pernah lah.”
“Lah emang tuh naga kaga bantuin, om?”
Tawa Edo meledak mendengar ucapan nyeleneh Rivan. Ridho dan Meta yang duduk dengan mereka pun ikut tertawa. Dengan kesal Rico menjitak kepala Rivan. Tapi pemuda itu malah cengar-cengir tak jelas.
Perhatian mereka kemudian teralihkan pada sosok yang baru saja memasuki halaman rumah. Itu karena beberapa pria yang duduk dengan mereka langsung kasak-kusuk begitu melihat tamu yang baru datang. Seorang wanita dengan menggunakan dress midi berwarna ungu muda dan rambut tergerai yang dibuat curly di bagian bawahnya, plus make up yang tidak terlalu tebal tapi semakin menambah kecantikan wanita itu.
“Eh neng Wulan, kok baru dateng?”
“Dateng sama siapa neng?”
“Padahal bilang sama akang, kan bisa akang jemput.”
“Neng, meni geulis.”
Begitulah celotehan yang terdengar dari para pria yang dilewati oleh Wulan, janda kembang yang menjadi idola kaum lelaki di desa ini, baik yang masih jomblo maupun yang sudah gandengan. Rivan menyenggol lengan Edo seraya memberi kode. Soal Diah yang ingin mengenalkan Edo pada Wulan sudah menjadi rahasia umum.
Wulan menoleh ke arah Edo dan Rico kemudian melemparkan senyuman manisnya. Edo hanya melihat sekilas ke arah Wulan, kemudian melayangkan pandangan ke arah lain. Berbeda dengan Rico yang membalas senyuman wanita itu. Wulan terus berjalan menuju panggung pelaminan untuk memberikan ucapan selamat.
Turun dari panggung pelaminan, wanita itu menuju meja prasmanan untuk mengambil hidangan yang sudah tersedia. Dengan membawa piring di tangan kanan dan gelas air mineral di tangan kirinya, Wulan berjalan menuju kursi di dekat Rico kemudian mendudukkan diri di sampingnya.
Sambil mengunyah makanannya, Wulan membuka pembicaraan dengan Rico, dan tentu saja disambut baik oleh Rico. Dari pada telinganya harus mendengar ocehan Rivan yang tidak jelas, lebih baik mendengarkan suara Wulan yang terdengar merdu di telinga.
Dari panggung pelaminan, Diah terus memperhatikan Wulan yang terlihat asik berbincang dengan Rico. Sedangkan Edo malah berbincang dengan Rivan dan Ridho. Diah hanya menepuk keningnya saja. Yang rencana dijodohkan siapa, yang terkena panah cupid siapa. Wanita itu berbisik di telinga suaminya.
“Edo gimana sih, tuh janda bohay udah di depan mata malah dianggurin. Dipepet Rico kan jadinya.”
“Biarin aja. Bukan tipenya kali,” jawab Bryan santai.
“Terus tipenya yang kaya gimana?”
“Kaya ceu Enok yang jualan ubi Cilembu di Cipatat hahaha..,” jawab Bryan asal yang langsung dihadiahi pukulan oleh istrinya.
🍂🍂🍂
Keramaian pesta resepsi mulai menyurut. Satu per satu tamu undangan meninggalkan tempat pesta. Para sahabat Arnav juga sudah kembali ke hotel tempat mereka menginap, begitu pula dengan Bryan dan Diah. Namun begitu tamu undangan masih tetap berdatangan untuk memberikan ucapan selamat.
Pukul sepuluh malam, sudah tidak ada lagi tamu yang datang. Rahman beserta istri dan pasangan pengantin sudah bisa mengistirahatkan tubuhnya. Suasana rumah juga nampak sepi, kedua kakak Rina juga sudah kembali ke kediamannya masing-masing. Rahman dan Ani sudah masuk ke dalam kamar, sedang pengantin baru berada di lantai atas, tepatnya di kamar Rina yang sudah disulap menjadi kamar pengantin.
Rina duduk di sisi ranjang, jantungnya sedari tadi tak berhenti marathon. Telapak tangannya juga terasa dingin, kegugupan nampak jelas di wajahnya. Berbeda dengan Arnav yang terlihat sedikit tenang. Mungkin pengalaman di masa lalu yang membuatnya tak terlalu canggung berada satu kamar dengan wanita.
“Rin..”
“I.. iya a,” jawab Rina gugup.
“Kamu ngga ngantuk? Ayo tidur.”
“I.. iya.”
Wanita itu terjengit ketika merasakan pelukan tangan Arnav melingkari perutnya. Pria itu menyurukkan kepalanya ke tengkuk Rina seraya memberikan kecupan di sana. Tubuh Rina meremang, seakan baru saja mendapat setruman listrik. Ini kali pertama seorang lelaki menyentuhnya, selain abah dan kedua kakaknya.
Melihat Rina masih setia membelakanginya, perlahan Arnav membalikkan tubuh istrinya itu hingga berbalik ke arahnya. Mata Rina masih terpejam rapat, tak berani melihat wajah suaminya. Arnav mendekatkan wajahnya kemudian mendaratkan bibirnya di bibir ranum istrinya, membuat Rina membuka matanya. Tepat di saat itu, Arnav mel*mat bibirnya.
Tahu sang istri belum mempunyai pengalaman berciuman sama sekali, Arnav melakukannya secara perlahan. Membimbing istrinya yang masih gadis itu untuk membalas ciumannya. Perlahan, walau masih kaku, Rina mulai membalas ciuman Arnav.
Setelah Rina berhasil membalas pagutannya, lidah Arnav menerobos ke mulut sang istri dan bermain-main di rongga mulutnya. Ditariknya lidah Rina, membuat ciuman mereka bertambah dalam. Lama-lama Rina mulai terbuai ciuman suaminya. Arnav membawa tangan Rina untuk memeluk lehernya. Sedang tangannya mulai bergerilya di tubuh sang istri.
Sebuah des*han lolos dari bibir Rina ketika merasakan rematan di bukit kembarnya. Tangan Arnav menelusup masuk ke dalam piyama sang istri dan meraba perut ratanya. Tubuh Rina kembali meremang, telapak tangan suaminya seperti memiliki aliran listrik. Sambil terus memagut bibir istrinya, Arnav merubah posisi tubuhnya dan kini sudah berada di atasnya.
Sebelah tangannya membuka satu per satu kancing piyama hingga terbuka sempurna, kemudian kedua tangannya menelusup ke balik punggung dan membuka kaitan kain berenda yang menutupi keindahan bukit kembar istrinya. Kepala Rina terdongak ketika Arnav mulai mengulum salah satu bulatan kenyalnya.
Tubuh Rina tak enak diam, terus saja bergerak saat merasakan rasa geli bercampur nikmat yang diberikan suaminya diiringi dengan des*han dan lenguhan. Sebagai seorang yang sudah berpengalaman dalam hal ranjang, Arnav tahu bagaimana cara membangkitkan hasrat istrinya dengan terus memberikan sentuhan di titik-titik sensitifnya.
Rina tak sadar kalau semua pakaian yang dikenakannya sudah berpindah ke lantai. Matanya membelalak ketika melihat tubuh sang suami sudah tidak terbalut benang sehelai pun. Wajahnya yang putih langsung merona melihat tubuh tegap Arnav. Matanya kembali menutup ketika melihat belalai yang mengeras dan tegang.
Arnav menundukkan lagi tubuhnya ketika kembali memberikan cumbuan pada sang istri. Dirinya juga bersiap untuk menerobos gua tersembunyi dibalik hutan lindung yang belum terjamah siapa pun. Ular kobra miliknya sudah bersiap menuju sarang terbaru dan terakhirnya.
Rina tak kuasa menahan airmatanya saat rasa perih dan nyeri melandanya begitu ular cobra suaminya masuk ke dalam gua lembabnya. Jari Arnav bergerak menghapus buliran bening itu. Dirinya tadi cukup kesulitan untuk menembus tabir pertahanan sang istri. Ini pertama kali Arnav bermain dengan perawan ting ting.
Setelah melalui pergulatan panjang dan panas disertai des*han dan rintihan Rina, Arnav berhasil sampai ke puncaknya sesudah mengantarkan istrinya meraih pelepasan sebanyak dua kali. Lahar panas Arnav menyerbu masuk ke dalam rahim Rina dan menyisakan rasa lelah bagi keduanya.
Arnav menggulirkan tubuhnya ke samping Rina setelah mendaratkan ciuman di kening sang istri yang dipenuhi titik keringat. Sebenarnya dirinya masih ingin bermain lama, tapi mengingat ini adalah pengalaman pertama istrinya, Arnav menahan diri dan mempercepat permainan. Lagi pula sudah lama dia tak memasukkan ular kobranya ke dalam gua lembab, membuat sang ular mengeluarkan bisanya lebih cepat.
Lelah dengan percintaan mereka, Rina langsung terlelap dalam dekapan Arnav. Di wajahnya masih tersisa senyum kebahagiaan. Setelah tadi pagi sang suami mengikat janji suci di hadapan penghulu, kini hubungan mereka telah disempurnakan dengan ritual malam pertama. Di mana wanita itu menyerahkan jiwa dan raganya pada pria yang sudah resmi menjadi imam hidupnya.
🍂🍂🍂
Dua bulan kemudian
OEK
OEK
OEK
Ridho memandang haru melihat anak pertamanya lahir ke dunia. Kecupan bertubi diberikan pada sang istri yang sudah berjuang melahirkan buah hati mereka dengan selamat. Ungkapan terima kasih dan cinta pun tak lupa keluar dari bibir pria itu.
Asisten bidan yang membantu proses persalinan Meta, segera menimbang dan mengukur bayi merah yang baru saja lahir. Berikutnya bayi itu dibersihkan lalu diberikan pada Ridho untuk diadazankan. Setelah mengucap basmalah, Ridho segera mengumandangkan adzan di telinga kanan anak lelakinya.
“Alhamdulillah, anaknya lahir selamat dan sehat dengan anggota tubuh lengkap ya, bapak, ibu. Beratnya 3,2 kg dan panjangnya 51 cm,” jelas asisten bidan seraya menaruh sang bayi di atas dada Meta untuk diinisiasi dini setelah diadzankan.
Meta terus memandangi anaknya yang tengah mencari-cari sumber kehidupannya. Wanita itu mendesis pelan ketika mulut sang anak menyesap puncak bukit kembarnya. Ridho tak melepaskan pandangan dari sang anak seraya mengusap puncak kepala istrinya. Apa yang dilakukan anak dan suaminya mengalihkan rasa sakit yang dirasakan saat sang bidan menjahit organ intinya.
Setelah keadaan Meta dipastikan baik-baik saja, dia diperbolehkan pindah ke kamar perawatan. Kedua orang tua pasangan itu langsung menyambut cucu mereka, begitu pula Nick dan Iza yang ikut datang. Mina menggendong cucu pertamanya dengan bahagia seraya melangkahkan kaki menuju kamar perawatan.
Kamar perawatan Meta tak sepi dari orang-orang yang bergantian menjenguk. Hanya Mina dan Lina yang bertahan di dalam kamar. Selain para sahabat Meta dan Ridho, rekan seprofesi Ridho juga banyak yang datang mengucapkan selamat pada pasangan muda itu. Bahkan ada beberapa mahasiswa bimbingan Ridho yang ikut datang menengok.
Malam harinya keramaian di kamar itu baru berhenti. Hanya tinggal Meta, Ridho beserta bayi mereka. Bayi lelaki tampan yang diberi nama Muhammad Arsyad Abdillah itu sudah tertidur di dalam boks bayi. Meta meminta Ridho ikut berbaring dengannya di bed dan dituruti oleh pria itu.
CUP
Ridho mendaratkan ciuman di pipi Meta, tak disangka wanita itu juga membalas ciuman sang suami. Ridho tersenyum seraya meraba pipinya yang terkena cap bibir Meta. Sekarang istrinya sudah tak malu bersikap mesra padanya, begitu juga dirinya.
“Terima kasih, sayang. Sudah memberikan bayi yang tampan untuk abang.”
“Sama-sama abang. Kan itu sahamnya abang juga,” Meta terkikik geli. Sepertinya wanita itu sudah tertular otak oleng Sansan. Selama masa kehamilan kemarin, Sansan memang sering berkunjung ke rumahnya.
Ridho menciumi wajah istrinya dengan gemas. Saat ini kehidupan pria itu sudah sempurna. Begitu banyak kebahagiaan yang diberikan padanya. Kini dia siap menjalani peran baru sebagai seorang ayah. Memberi pelajaran dan contoh yang baik, bukan hanya dengan kata-kata tapi juga dengan sikap.
“Abang pengen punya anak berapa?”
“Baru aja lahiran, udah nanya itu. Nantangin ya?”
“Nanya aja, bang.”
“Ehmm.. berapa ya? Maunya tiga atau empat. Tapi sedikasihnya aja sama Allah. Dikasih lebih dari itu juga In Syaa Allah sanggup.”
“Ish.. abang aja yang hamil.”
“Hahaha.. kan kamu yang nanya, sayang.”
"Ya jangan borongan juga bang.."
"Hahaha.. bisa aja," Ridho mencubit pelan hidung sang istri.
“Ngantuk, bang.”
“Tidur, mumpung Arsyad udah nyenyak juga.”
Ridho menarik Meta ke dalam pelukannya. Kedua tangannya mengusap tubuh sang istri di bagian kepala dan juga punggung. Nyaman berada dalam pelukan sang suami dan terbuai usapan lembutnya, tak butuh waktu lama untuk Meta terlelap. Tak berapa lama Ridho pun menyusul tidur, tubuhnya juga lelah menjaga sang istri semalaman yang tengah mengalami kontraksi.
🍂🍂🍂
**Selamat Arnav udah jebol gawang. Selamat juga Ridho untuk kelahiran Arsyad.
Semakin mendekati ending ya😘**