The Nick's Life

The Nick's Life
Romansa Pasangan Halal



Suara tangisan Nindya membangunkan Fahrul dari tidurnya. Pria itu beranjak dari kasur kemudian mengambil sang anak dari boks. Diperiksanya diaper yang dikenakan Nindya, ternyata sudah penuh. Sambil menguap Fahrul mengganti diapres putrinya. Dia sengaja tak membangunkan Maira yang nampak terlelap.


Setelah mengganti popoknya, Fahrul menggendong Nidya, berusaha menenangkan anak itu. Namun bayi berusia dua bulan itu masih saja menangis, sepertinya dia lapar. Fahrul tak punya pilihan lain kecuali membangunkan istrinya. Dengan tepukan pelan, Fahrul membangunkan Maira.


“Mai.. sayang.. bangun sebentar sayang.”


“Eunngghh…”


“Dya laper kayanya.”


Perlahan Maira membuka matanya kemudian menangkap Fahrul yang tengah menggendong anaknya. Wanita itu menegakkan tubuhnya lalu menyandarkan punggung ke headboard ranjang. Fahrul menyerahkan Nindya pada Maira. Wanita itu mulai menyusui anaknya.


Fahrul keluar kamar, tak lama kemudian dia kembali dengan segelas teh manis hangat di tangannya. Dia duduk di sisi ranjang kemudian membantu Maira meminum teh manisnya hingga habis setengah. Bukan hanya tubuhnya yang terasa hangat tapi juga hatinya. Sikap Fahrul benar-benar berbeda dari saat mereka menikah dulu. Kini pria itu melimpahinya dengan kelembutan dan kasih sayang.


Setelah puas menyusu dari sumbernya langsung, Nindya kembali tertidur. Pelan-pelan Fahrul mengangkat putrinya itu lalu kembali ditidurkan ke dalam boks. Pria itu lalu naik ke atas ranjang. Direngkuhnya tubuh Maira ke dalam pelukannya.


“Tidur lagi, sayang. Kamu pasti masih ngantuk.”


Maira tak juga memejamkan matanya. Rasa kantuknya hilang setelah memberi asupan gizi untuk anaknya. Tangannya lalu bergerak dan mengusap rahang Fahrul. Perasaan sakit, benci kini perlahan mulai berganti dengan perasaan cinta. Kasih sayang Fahrul berhasil membuat wanita itu memaafkan dan meredakan kebenciannya.


“Kamu bahagia, Mai?”


“Aku bahagia, a.”


“Maaf.. seharusnya aa memberikanmu kebahagiaan sejak awal kita menikah.”


“Lebih baik terlambat dari pada tidak sama sekali.”


“Terima kasih, Mai. Terima kasih sudah memaafkan dan memberi aa kesempatan kedua.”


Fahrul merapatkan tubuhnya kemudian mendaratkan ciuman di kening Maira. Ciumannya kemudian berlanjut ke kedua mata, pipi, hidung dan berakhir di bibir ranum sang istri. Pria itu memagut lembut bibir Maira, menyesap bibir atas dan bawah bergantian. Tangannya menelusup masuk ke dalam piyama istrinya kemudian mengusap punggung mulus itu. Dari bahasa tubuh Fahrul, Maira bisa tahu kalau suaminya itu menginginkan dirinya.


“Aku sudah selesai nifas dua minggu lalu, a. Kalau aa mau, aku siap.”


“Bagaimana perutmu? Apa masih sakit?”


“Ngga, a. Asal pelan-pelan.”


Fahrul menyingkap piyama yang dikenakan Maira lalu mencium perut yang terdapat bekas sayatan. Diusapnya pelan sayatan panjang itu seraya menciuminya berkali-kali. Fahrul kembali mencium bibir Maira, mel*matnya dalam seraya melepaskan kancing piyama satu per satu.


Maira memejamkan matanya menikmati semua sentuhan lembut suaminya. Suaminya itu tahu di mana letak sensitifnya dan mampu membuatnya melayang. Sebuah des*han lolos dari bibirnya ketika Fahrul memulai cumbuannya, membuat tubuh sang istri menggelinjang saat menerima kenikmatan bertubi-tubi.


Dengan gerakan pelan, Fahrul menggoyangkan pinggulnya sambil bibirnya terus menciumi wajah, leher, bahu dan dada sang istri. Des*han dan lenguhan keluar bersahutan dari bibir yang sudah membuatnya candu. Maira memeluk erat punggung Fahrul saat gelombang hangat menghantamnya. Fahrul menambah ritme gerakannya, dia juga ingin segera menggapai kepuasannya.


Sebuah erangan terdengar ketika pria itu berhasil melepaskan lahar panas ke dalam rahim sang istri. Setelah sekian lama berpuasa, akhirnya Fahrul bisa juga menyalurkan kecebong miliknya pada wadah yang semestinya. Diciuminya wajah Maira sebelum dirinya menggulirkan diri ke samping istrinya.


“Makasih Mai.. I love you.”


“I love you too..”


Perasaan Fahrul seakan terbang ke nirwana begitu mendengar Maira membalas pernyataan cintanya. Kembali ciuman bertubi dihadiahkan pada istrinya itu. Ditariknya selimut untuk menutupi tubuh mereka yang polos. Maira menelusupkan kepalanya ke dada Fahrul seraya memeluk pinggang suaminya itu.


🍂🍂🍂


Sinar mentari pagi mulai menunjukkan dirinya. Langit mulai diterangi cahayanya dan udara dingin berangsur menghangat. Setelah memandikan Nindya dan menjemurnya sebentar, Maira bermaksud membawa anaknya itu untuk berjalan-jalan di seputar rumah. Fahrul memilih menemani istri dan anaknya di hari libur ini.


Sambil mendorong kereta bayi yang membawa Nindya, Fahrul bersama Maira bermaksud melihat bazaar yang diadakan pengurus RW setempat. Di daerah tempatnya tinggal memang kerap mengadakan bazaar murah setiap sebulan sekali. Acara bazaar bukan hanya menjual sembako dengan harga murah, tapi juga dijadikan warga sekitar untuk menjajakan dagangannya.


Suasana lapangan tempat diadakan bazaar sudah ramai oleh pengunjung. Banyak juga warga yang berjualan di sana. Ada yang menjual aneka kue basah, masakan matang, camilan anak, sampai kebutuhan sandang dan perabotan rumah tangga.


“Hari ini kamu ngga usah masak. Kita beli masakan matang aja, gimana?” tawar Fahrul.


“Boleh, a.”


Keduanya kemudian menuju salah satu stand yang menjajakan makanan matang. Cukup banyak aneka masakan yang dipajang di sana. Maira kemudian meminta dibungkuskan pepes ayam, pepes tahu dan buntil daun singkong. Setelah membayar yang dibelinya, mereka lanjut menuju stand yang menjual aneka kue basah.


Maira mengambil beberapa kue sambil sesekali bertanya pada Fahrul. Penjaga stand yang merupakan wanita muda memberikan bungkusan berisi kue yang dibeli Maira seraya melemparkan senyum manis pada Fahrul. Maira sempat melirik ke arah suaminya itu, namun Fahrul nampak tak mempedulikan senyuman manis sang penjual. Dia malah asik bermain dengan Nindya yang baru saja bangun.


“Mai..” panggil seseorang ketika Maira dan Fahrul hendak meninggalkan area bazaar.


Maira terkejut melihat pria di hadapannya. Fahrul terdiam sejenak, berusaha mengingat lelaki di depannya ini. Wajahnya mengeras setelah ingat kalau pria ini adalah masa lalu sang istri. Pria yang sempat diimpikan Maira menjadi pendamping hidupnya.


“Kang Rizky,” sambut Maira dengan senyum di wajahnya dan semakin membuat Fahrul cemburu.


“Apa kabar Mai?”


“Alhamdulillah baik. Akang gimana?”


“Alhamdulillah baik, juga. Eh maaf, Fahrul ya. Apa kabar?”


Rizky mengalihkan pandangannya pada Fahrul yang sedari tadi melihat ke arahnya dengan wajah masam. Pria itu mengulurkan tangannya ke arah Fahrul dan langsung dibalas olehnya.


“Baik,” jawab Fahrul singkat.


“Ini anak kamu, Mai?”


“Iya, kang.”


“Assalamualaikum cantik,” sapa Rizky seraya melihat ke arah Nindya.


“Waalaikumsalam om,” jawab Maira dengan menirukan suara seperti anak kecil.


Melihat keakraban istrinya dengan mantan terindahnya, membuat Fahrul terbakar cemburu. Apalagi pria itu seakan tidak dilibatkan dalam percakapan kedua orang itu. Melihat gelagat Fahrul yang tidak enak, Rizky segera mengambil sesuatu dari dalam tas lalu memberikannya pada Maira.


“Akang mau kasih ini buat kalian. Tadi akang ke rumah tapi ngga ada. Alhamdulillah ketemu di sini.”


Maira mengambil kartu yang diberikan Rizky. Ternyata itu adalah undangan pernikahan Rizky. Maira senang mengetahui Rizky akan segera menikah. Pria itu memang berencana menikah setelah meraih gelar spesialisnya dan itu memang terwujud namun bukan dirinya yang menjadi pendamping seperti yang direncanakan dulu.


“Selamat ya kang. In Syaa Allah, aku sama aa Fahrul akan datang.”


“Ditunggu ya, Mai, Fahrul. Kalau begitu aku pulang dulu. Assalamu’alaikum.”


“Waalaikumsalam.”


Maira masih memandangi kartu undangannya begitu Rizky meninggalkannya. Dia tak mengenali nama sang mempelai wanita. Mungkin saja itu teman kuliah atau rekan seprofesi Rizky di rumah sakit.


“Ehem!!” Fahrul berdehem keras, mencoba mengalihkan perhatian sang istri kepadanya.


“Segitunya mandangin undangan pernikahan mantan,” sindir Fahrul.


“Aa cemburu?” Maira malah menggodanya.


“Emang aa ngga boleh cemburu?”


“Apa yang mau dicemburuin a? Kang Rizky kan udah mau nikah.”


“Ya kali aja masih ada perasaan yang tertinggal kaya lagu ST 12 tuh, rasa yang tertinggal.”


Maira tertawa pelan, gemas juga melihat suaminya yang tengah dilanda cemburu. Wanita itu kemudian menuju dapur dan memindahkan semua makanan yang dibelinya ke dalam piring dan mangkok. Dia kemudian menghampiri suaminya yang tengah menggendong Nindya.


CUP


Sebuah kecupan mendarat di pipi Fahrul begitu Maira mendudukkan diri di sampingnya. Wajah Fahrul yang semula masam menjadi tersenyum setelah mendapatkan stempel bibir dari istrinya. Maira membuka bungkus lemper kemudian menyuapkannya pada Fahrul.


“Kang Rizky memang sempat hadir dalam hidupku, tapi dia itu hanya masa lalu, sedang aa itu masa depanku. Suamiku tercinta dan ayah dari Dya, ngga ada yang lebih penting buatku dari pada aa.”


“Makasih sayang.”


“Iya, ini senyum.”


Fahrul memberikan senyum terbaiknya kemudian mel*mat sebentar bibir istrinya. Maira kembali menyuapi suaminya kue basah yang tadi belinya, bergantian dengan dirinya sambil sesekali mengajak bicara Nindya. Kebahagian jelas terlihat dari keluarga kecil itu.


🍂🍂🍂


Beni, Tina, Abe dan yang pastinya Sansan sudah bersiap untuk pergi. Hari ini Sansan akan menghadiri acara kelulusannya alias wisuda. Tubuh mungilnya sudah terbungkus kebaya muslim lengkap dengan hijab warna senada. Abe tak henti memandangi wajah istrinya yang terlihat begitu cantik. Setelah semua siap, Abe segera menuju mobil. Dia yang akan mengendarai mobil menuju gedung tempat Sansan akan diwisuda.


Setelah memarkirkan kendaraannya, Abe berserta yang lainnya segera menuju gedung. Suasana di sekitar gedung sudah dipenuhi para wisudawan beserta orang tua mereka. Berhubung satu wisudawan hanya mendapat dua undangan, maka Abe mengalah memberikan kesempatan pada mertuanya untuk melihat anak bungsunya disahkan secara resmi menjadi sarjana strata satu.


Pria itu memilih menunggu di luar gedung. Pihak kampus sudah menyediakan kursi dan juga layar lebar bagi para pengantar yang tidak bisa masuk ke dalam. Abe mendudukkan diri di salah satu kursi bersama pengantar lainnya. Di sampingnya masih tersisa satu kursi kosong dan tak berapa lama, seorang wanita seusianya duduk di sana. Dia melemparkan senyuman pada Abe.


Pandangan Abe terus fokus pada layar lebar di depannya. Acara wisuda sudah dimulai. Setelah serangkaian kata sambutan yang membosankan, akhirnya sang pembawa acara memanggil para wisudawan terbaik dari perwakilan fakultas untuk disahkan terlebih dulu. Senyum Abe mengembang melihat sang istri menjadi salah satu wisudawan terbaik dari perwakilan fakultasnya.


Selain Abe, wanita di sebelahnya juga nampak bahagia saat seorang pria muda maju setelah dipanggil menjadi wisudawan terbaik dari fakultas teknik. Saking senangnya dia menepuk tangan Abe.


“Itu adikku. Aku ngga nyangka dia bisa jadi wisudawan terbaik,” ujar wanita itu pada Abe yang hanya dibalas senyuman tipis.


Pengesahan para wisudawan terbaik selesai dan disambung dengan pengesahan satu per satu wisudawan berdasarkan jurusan dan fakultas masing-masing. Perhatian wanita di sebelah Abe langsung beralih pada pria itu. Dia baru sadar kalau pria yang duduk di sampingnya berwajah tampan.


“Kira-kira acara wisudanya masih lama ngga ya?” tanya wanita itu memulai basa-basinya.


“Ngga tau juga. Mungkin tahun depan beresnya,” jawab Abe asal.


“Hahaha.. mas bisa aja deh. Oh iya, kenalin namaku Lala,” wanita bernama Lala itu menyodorkan tangannya ke arah Abe yang hanya dibalas asal oleh pria itu.


“Temennya ngga ikut?” tanya Abe.


“Siapa?” Lala terlihat bingung.


“Tinky winky sama Dipsy.”


Tawa renyah Lala kembali terdengar mendengar guyonan receh Abe. Bukan maksud tebar pesona atau sok akrab Abe melemparkan candaan. Dia hanya merasa bosan saja menunggu prosesi wisuda yang sudah memakan waktu satu jam lebih. Namun ternyata hal itu ditanggapi lain oleh Lala. Wanita itu semakin berusaha mengakrabkan diri dengan Abe.


“Eh iya, nama kamu siapa?”


“Pai.. panjangnya Paijo,” jawab Abe santai. Sebisa mungkin Lala menahan tawanya mendengar nama yang disebutkan pria di sebelahnya. Nama yang dirasa kurang cocok dengan wajah tampan Abe.


“Kamu di sini nungguin wisudanya siapa? Adek ya?”


“Bukan?”


“Pacar?”


“Bukan.”


“Terus siapa?”


“Istri.”


Jawaban singkat, padat dan jelas dari Abe langsung membungkam mulut Lala. Sebenarnya dia tak percaya dengan perkataan Abe. Dia hanya akan menunggu sampai orang yang ditunggu Abe keluar dari ruangan tempat wisuda.


Tiga puluh menit kemudian acara wisuda berakhir. Para wisudawan menghambur keluar dengan menggunakan toga. Ada yang melemparkan topi toga, ada yang berpelukan, ada juga yang menerima bunga dari pasangannya. Abe menepuk keningnya, dia lupa membelikan bunga untuk istrinya. Harusnya tadi, dari pada mengobrol tak jelas, lebih baik membeli bunga untuk Sansan.


Abe berdiri ketika melihat istri dan mertuanya datang mendekat. Sambil berlari kecil Sansan menuju suaminya dan memeluknya. Abe menyambut sang istri dengan senyum sumringah diiringi pelukan hangatnya. Tanpa malu dia juga menghadiahi ciuman di kening Sansan. Melihat adegan itu Lala akhirnya percaya kalau pria yang sempat ditaksirnya sudah mempunyai pasangan halal.


“Selamat ya sayang, kamu bisa jadi wisudawan terbaik. Istri mas emang hebat.”


“Makasih ya mas, udah semangatin aku sampai aku selesai kerjain skripsinya.”


“Ayo kita foto-foto dulu,” usul Beni yang diangguki oleh Abe dan Sansan. Keempatnya kemudian menuju booth foto yang ada di sana.


Tepat di sebelah booth foto, terdapat booth yang menjual rangkaian bunga. Abe langsung menuju booth tersebut untuk membeli sebuket bunga untuk istri tercinta. Sambil menunggu giliran berfoto, Abe memberikan bunga itu pada Sansan seraya mencium pipinya.


“Makasih, mas.”


“Maaf, mas lupa siapin bunga.”


“Ngga apa-apa, Be. Biar lambat asal selamat,” cetus Tina.


“Selamat dari apa, ma?”


“Selamat dari amukan Sansan,” Tina terkikik geli apalagi setelah melihat mata anaknya membulat. Beni pun hanya mengulum senyumnya. Setelah Sansan wisuda, kini mereka hanya tinggal menunggu janji pasangan muda tersebut, memberi mereka cucu.


“Ayo, ma, pa.”


Abe mengajak mertuanya untuk berfoto bersama. Tangannya memeluk pinggang Sansan dengan mesra. Sang fotografer segera mengarahkan untuk bergaya di depan kamera. Pertama Sansan berfoto sendiri, foto kedua bersama orang tuanya, foto ketiga foto bersama orang tua dan suami dan terakhir foto berdua dengan Abe. Beberapa kali sang fotografer mengarahkan mereka untuk bergaya mesra.


🍂🍂🍂


Abe dan Sansan berbaring bersama di ranjang. Mereka membicarakan banyak hal di atas kasur. Sambil berbicara sesekali Abe mencium punggung tangan istrinya itu atau mendaratkan kecupan di area wajahnya.


“Rencanamu apa setelah lulus? Kamu mau kerja?”


“Emang aku boleh kerja, mas?”


“Boleh, asal kamu ngga lupa kewajibanmu aja.”


“Kemarin teh Rina nawarin aku bantu di cateringnya. Aku diminta bantu ngurus pembukuan sama ngatur pesanan. Menurut mas gimana?”


“Kalau kamu sanggup ambil aja. Waktu kerja sama Rina lebih fleksibel, ngga kaya di kantor.”


“Aku mau, mas. Sekalian aku belajar masak dari teh Rina. Aku kan pengen bisa masak makanan enak buat suami dan anakku nanti.”


Abe merangkum wajah Sansan lalu memagut lembut bibirnya. Sansan yang sudah mahir berciuman, mulai membalas pagutan suaminya.


“Papa sama mama tadi nanyain kapan mau ngasih mereka cucu.”


“Kamu maunya kapan?”


“Kapan aja aku siap. Kan udah selesai kuliahnya.”


“Kalau boleh milih, mas mau kita punya lebih banyak waktu berdua dulu. Pengen pacaran yang agak lamaan. Nanti kalau sudah punya anak, rasa sayang dan perhatian kamu pasti terbagi. Mas bakalan jadi yang kedua.”


“Idih belum apa-apa udah cemburu sama anak yang belum jadi.”


“Bukannya cemburu. Tapi setelah nikah, kita beberapa kali LDR-an. Jadi wajar kan kalau mas maih mau menikmati masa berdua kita. Tapi kamu ngga usah KB. Biarkan saja berjalan secara alami. Mungkin kita bisa pakai sistem kalender.”


“Aku terserah mas aja. Kapan kita pulang ke Bandung?”


“Lusa. Besok kita nginep di rumah papa. Mereka kangen sama kamu katanya.”


“Iya mas, aku juga kangen sama mereka.”


Abe mendekap istrinya, menarik tubuh mungil itu sampai tak berjarak lagi. Kemudian mel*mat bibir mungil yang kerap melontakan kata-kata yang membuatnya tertawa. Tangannya pun sudah sibuk meraba bagian tubuh Sansan. Setelah puas mel*mat bibir sang istri, Abe melanjutkan ciumannya ke area lain.


Des*han Sansan terdengar saat Abe mulai meremat dan menyesap bulatan kenyal miliknya. Suasana di kamar semakin memanas, bergantian keduanya saling memberikan cumbuan. Sansan sekarang juga sudah pintar bagaimana memancing hasrat Abe. Saat mereka sudah sama-sama sudah terkungkung dalam gairah, Abe memulai penyatuannya. Sepasang suami istri itu siap mendayung nirwana bersama hingga menuju puncak.


🍂🍂🍂


**Akhirnya bisa hadir lagi setelah sekian purnama kehilangan feel karena ilham tiba² menghilang entah kemana. Baru tadi si ilham ketemu setelah nanya mbah google.


Maaf yang udah nunggu lama sampe pegel. Aku juga pegel nungguin si ilham yang ngga nongol²🤭😂**