The Nick's Life

The Nick's Life
Terluka



PLAK!!


Sebuah tamparan mendarat di wajah Abe. Syarif benar-benar geram dengan kelakuan anaknya. Baru saja dia mendapat telepon dari Beni yang mengatakan Sansan membatalkan rencana pernikahan yang sudah dirancangnya. Bahkan Sansan berbicara langsung padanya alasan membatalkan pernikahan ini. Eni hanya mampu melihat dalam diam kemarahan sang suami pada anak bungsunya.


“Dasar anak tidak tahu diuntung! Mau sampai kapan kamu mencoreng nama keluarga?!”


“Maaf pa. Dari awal aku udah bilang ngga setuju dengan pernikahan ini. Tapi papa tetap memaksa.”


“Kamu sudah berjanji! Ketika kamu datang pada papa meminta pertolongan, kamu sudah berjanji akan menuruti keinginan papa.”


“Ya.. papa selalu seperti itu. Untuk membantu anak sendiri saja, papa meminta pamrih.”


Syarif bertambah geram. Pria itu kembali mengangkat tangannya, namun Eni segera mencegah suaminya menyakiti anaknya untuk kedua kali. Melihat Eni yang mulai menangis, Syarif mengurungkan niatnya. Dia menghempaskan bokongnya di sofa demi mengurangi emosi yang membuncah di dada.


“Apa benar kamu sering berkunjung ke klub malam seperti kata Sansan?”


“Iya pa.”


“Sudah papa duga, teman-temanmu tidak ada yang benar!”


“Mereka tidak pernah mengajakku berbuat maksiat pa. Aku sendiri yang memutuskan untuk melakukannya.”


“Termasuk tidur dengan perempuan lain?”


“Ngga.. Abe ngga mungkin melakukannya. Iya kan nak?” Eni menatap sang anak penuh harap.


“Ngga ma. Aku mungkin sering minum minuman keras tapi aku ngga pernah berhubungan dengan lawan jenis.”


Eni menghembuskan nafas lega mendengar jawaban sang anak. Namun tidak dengan Syarif, pria itu tetap menganggap apa yang dilakukan Abe adalah aib yang mencoreng nama baiknya.


“Silahkan tinggalkan rumah ini. Aku tidak sudi mempunyai anak sepertimu. Bikin malu saja.”


“Aku akan pergi, pa. Ma.. aku akan berusaha menengok mama lebih sering lagi.”


“Kamu baik-baik ya nak. Jangan terlalu letih bekerja, jaga kesehatan. Jangan menunda makan.”


“Iya, mama tenang aja.”


Abe meraih tangan Eni kemudian mencium punggung tangannya. Setelah itu dia berbalik dan menuju pintu keluar. Abe tak ada niat berpamitan dengan Syarif, toh ayahnya itu tetap akan mengabaikannya. Sejatinya Syarif kesal melihat sang anak yang tetap keras kepala. Harusnya Abe memohon agar dapat tetap tinggal di rumah, bukannya dengan mudah meninggalkan rumah seperti beberapa tahun lalu. Saat hendak mencapai pintu, terdengar suara Syarif menahan langkah sang anak.


“Apa kamu merasa sudah bisa hidup tanpa dukungan dari papa? Apa kamu pikir apa yang kamu capai sampai saat ini adalah murni hasil kerja kerasmu?”


“Apa maksud papa?” Abe menghentikan langkahnya lalu melihat ke arah sang papa.


“Apa kamu pikir diterimanya kamu bekerja di tempatmu sekarang tidak ada campur tangan papa? Direktur utama bank itu adalah teman papa. Papa meminta bantuannya agar meloloskanmu. Begitu juga dengan promosi jabatanmu, kamu pikir itu murni karena kerja kerasmu sendiri?”


Darah Abe mendidih mendengar semua ucapan Syarif. Secara tidak langsung pria itu telah mematahkan semua kebanggaan dan kerja kerasnya. Pernyataan Syarif sukses membuatnya meradang. Tanpa mengucapkan sepatah kata pun dia segera keluar dari rumah orang tuanya.


🍂🍂🍂


Semua rekan kerja Abe terkejut ketika tiba-tiba saja Abe mengajukan surat pengunduran diri. Terlebih lagi dalam hitungan minggu pria itu akan diangkat menduduki posisi baru sebagai kepala kantor cabang pembantu (KCP). Bagas yang sudah berteman sejak mereka mengikuti tes rekruitmen menghampiri rekannya yang tengah menikmati minuman dingin di kedai minuman dekat kantor usai jam kerja mereka.


Setelah memesan minuman yang sama, Bagas mendudukkan diri di samping Abe. Beberapa hari lalu kegaduhan juga terjadi di kediaman orang tuanya saat Sansan memutuskan untuk membatalkan pernikahan. Kedua orang tua juga dirinya cukup terkejut ketika Sansan memaparkan semua alasannya membatalkan pernikahan. Termasuk kenyataan tentang sepak terjang Abe selama ini.


Sebagai pribadi, Bagas tak pernah menilai buruk apa yang Abe lakukan. Walau bukan hal yang baik dan melanggar norma agama, namun menghabiskan waktu di klub malam dan meminum minuman keras sudah menjadi hal lumrah belakangan ini. Bagas hanya mencoba berpikir dari sudut lain yang berbeda. Mungkin saja Abe melakukan hal tersebut untuk mengalihkan kepenatan dan stress di tempat kerja. Di luar kebiasaan buruk temannya itu, baginya sosok Abe tetap pria yang baik. Tapi sepertinya sang adik tak sependapat dengannya.


“Be.. lo kenapa ngundurin diri?”


“Ngga apa-apa. Gue cuma mau cari suasana baru aja. Melakukan pekerjaan yang lebih menantang. Gue agak jenuh dengan pekerjaan yang sekarang.”


“Lo mau gue percaya alasan receh lo? Gue tau bener gimana kerja kerasnya elo buat capai posisi kaya sekarang. Dan sekarang lo bilang jenuh dan mau lepas semua. Come on man, you better give me another good reason (ayolah, kamu harus memberiku alasan lain yang lebih bagus).”


“Gue ngerasa apa yang gue lakuin selama ini sia-sia aja. Ternyata diterimanya gue di perusahaan dan pencapaian gue selama ini karena campur tangan bokap. Pak Salim itu temennya bokap ternyata. Dan masuknya gue karena andil bokap termasuk posisi yang gue capai sekarang.”


Bagas terdiam sejenak mencoba memahami apa yang dikatakan temannya itu. Antara percaya dan tidak mendengar semua itu. Karena pak Jonathan, atasan mereka mengatakan hal apa saja yang menjadi bahan pertimbangan dan penilaian seseorang diangkat menjadi kepala KCP. Dan menurutnya Abe memang layak menduduki posisi tersebut.


“Apa ini ada hubungannya dengan pembatalan pernikahan?”


“Maksud lo?”


“Ya kali aja bokap lo marah dan bilang itu semua buat bikin lo kesel atau marah. Karena gue sama sekali ngga percaya kalau lo bisa sampai sejauh ini karena nepotisme.”


“Tapi itu kenyataannya kan.”


“Be.. gue minta maaf ya soal Sansan. Harusnya dia ngga perlu membeberkan hal buruk tentang lo ke bokap. Maklum aja, namanya masih muda, jiwanya masih labil.”


“Santai aja bro. Lagian dia ngga salah kok, gue emang brengsek,” Abe terkekeh.


“Gue cabut dulu ya.”


Abe menepuk pundak Bagas kemudian keluar dari kedai. Pria itu memasuki kendaraannya kemudian melaju pergi. Bagas hanya memandangi kepergian temannya. Andai saja Sansan melihat perubahan yang terjadi pada Abe, mungkin adiknya itu tidak akan mencap buruk temannya itu. Akhir-akhir ini dia melihat perubahan signifikan dari Abe. Pria itu sudah mulai menjalankan kewajibannya, mendirikan shalat. Hal yang tak pernah dilakukan Abe sejak dia mengenalnya.


🍂🍂🍂


Abe menghentikan kendaraannya ketika dari kaca spion dia melihat kejadian mencurigakan. Nampak tiga orang pria tengah mengelilingi seorang gadis. Pria itu turun dari dalam mobil lalu berjalan menghampiri ketiga pria tersebut.


“Hey!! Sedang apa kalian?!” teriak Abe.


Teriakan Abe membuat perhatian ketiga pria bertubuh besar itu teralihkan. Mereka langsung melihat ke arah Abe dan hal tersebut dimanfaatkan oleh sang gadis untuk melarikan diri. Tapi sayang, salah seorang dari mereka berhasil menahannya. Dia menarik dengan kasar tubuh gadis itu. Abe terkejut melihat gadis yang tengah diganggu para preman tersebut.


“Sansan..”


Dengan cepat Abe merangsek maju. Sansan juga terkejut melihat orang yang datang untuk membantunya adalah Abe. Sebisa mungkin gadis itu melepaskan diri dari cengkeraman salah satu pria di dekatnya, namun usahanya sia-sia. Tenaga pria itu terlalu kuat.


“Lepasin dia!” titah Abe.


“Emang lo siapanya dia, hah?!"


“Dia calon istri gue, mau apa lo? Lepasin!!”


Dua orang pria itu memberi kode pada temannya untuk tetap memegang Sansan, sedang mereka langsung mendekati Abe dan melayangkan pukulan pada pria itu. Dengan cepat Abe mengelak dari serangan. Perkelahian pun tak dapat terhindarkan. Abe yang memang menguasai ilmu bela diri, dapat menghindari serangan bahkan memukul balik lawan.


Melihat kedua temannya keteteran, pria yang tengah menahan Sansan segera datang membantu. Perkelahian terus berlanjut. Keadaan Abe mulai terdesak, namun dia terus berusaha melawan. Salah seorang mengeluarkan pisau lipat lalu kembali menyerang Abe.


Ketiganya terus menggempur Abe, dan sejauh ini pria tersebut masih bisa bertahan. Seorang yang memegang pisau mengarahkan benda tajam tersebut ke perut Abe. Dan saat bersamaan, terdengar suara sirine mobil polisi. Ketiganya langsung berlari meninggalkan tempat perkelahian.


Sansan dapat bernafas lega karena tipuannya berhasil. Dia mematikan suara sirine dari ponselnya lalu berjalan mendekati penolongnya. Abe merapihkan jaket yang menutupi tubuhnya.


“Makasih,” ucap Sansan tanpa melihat ke arah Abe.


“Sama-sama. Makasih juga buat sirinenya. Mau kuantar pulang?”


“Ngga usah.”


Sansan memperhatikan sejenak Abe yang sedari tadi hanya memasukkan kedua tangannya ke saku jaket. Kemudian gadis itu bergegas pergi menuju jalan besar yang tak jauh dari tempatnya berada. Dia menyetop sebuah taksi yang melintas lalu naik ke dalamnya.


Tubuh Abe mulai limbung, punggungnya bersandar ke bodi mobil dan perlahan tubuhnya luruh ke jalan. Terdengar ringisan dari mulutnya saat merasakan sakit yang begitu sangat di bagian kiri perutnya. Cairan merah merembes dari kemeja putih yang dikenakannya. Preman tadi berhasil melukai dirinya. Abe merogoh saku celana untuk mengambil ponselnya. Dengan tangan bergetar, dia menghubungi Arnav.


“Halo.”


“Ar...” suara Abe terdengar lemah dan nafasnya sedikit tersengal.


“Be..”


“Tolong gue..”


“Gue ketusuk. Tolong gue.. gue share lokasi sekarang.”


Abe memutuskan panggilan, kemudian jarinya mengetuk ikon share location dan mengirimkan pada Arnav lokasinya sekarang. Tangan Abe terkulai begitu selesai melakukannya. Tangan kirinya terus menekan luka untuk menahan darah yang tak henti keluar.


Sepuluh menit kemudian Arnav datang, ada Fahrul juga Nick bersama dengannya. Pria itu berteriak memanggil nama sahabatnya. Dia terkejut melihat Abe terkulai lemas di samping mobil. Darah cukup banyak keluar dari tubuhnya.


“Be!! Abe!!”


Mendengar teriakan Arnav, Nick dan Fahrul langsung mendekat. Bergegas mereka memasukkan Abe ke dalam mobil. Arnav langsung tancap gas, disusul oleh Fahrul dan Nick dari belakang.


“Be.. lo harus bertahan..”


Sambil memacu kendaraannya dengan kecepatan tinggi, Arnav terus mengajak sahabatnya berbicara. Jangan sampai Abe kehilangan kesadarannya. Tak butuh waktu lama, mobil yang dikendarai Arnav tiba di rumah sakit. Dia memang memilih membawa Abe ke rumah sakit terdekat. Perawat di IGD langsung membawa Abe ke ruang tindakan. Arnav, Nick juga Fahrul menunggu dengan perasaan cemas.


Dua jam berlalu, akhirnya dokter yang menangani Abe keluar dari ruang operasi. Karena kondisi Abe kritis, dokter IGD langsung mengirim Abe ke ruang operasi. Dokter paruh baya tersebut langsung didatangi oleh Arnav, Nick juga Fahrul.


“Gimana keadaan teman saya dok?”


“Alhamdulillah operasinya lancar. Lukanya sebenarnya tidak terlalu dalam, tapi tusukan pisau mengenai salah satu pembuluh darah hingga dia kehilangan banyak darah. Terlambat sedikit saja kalian membawa ke sini, mungkin dia tidak dapat diselamatkan.”


Semua yang mendengar dapat bernafas lega karena sang sahabat dapat diselamatkan tepat waktu. Beruntung mereka semua sedang berkumpul bersama saat Abe menghubungi dan lokasi Abe tak terlalu jauh dari kedai Nick.


“Kita bisa lihat dia sekarang dok?” tanya Nick.


“Jangan dulu, kami masih akan memantau keadaan pasien. Jika kondisinya sudah stabil, kami akan memindahkannya ke ruang inap. Baru kalian bisa melihatnya.”


Ketiganya tak banyak bertanya lagi dan membiarkan sang dokter melanjutkan pekerjaannya. Beberapa saat kemudian, pintu ruang operasi terbuka. Seorang perawat keluar mendorong blankar dengan tubuh Abe berada di atasnya. Mereka langsung mengikuti sang perawat. Langkah ketiganya terhenti di depan pintu masuk ruang perawatan intensif.


“Lo udah telepon keluarganya?” tanya Nick pada Arnav.


“Belum. Lo aja yang telepon.”


“Denis udah dikasih tahu?” seru Fahrul.


“Udah.. tapi dia ngga bisa dateng. Ada pekerjaan yang ngga bisa ditinggalin katanya.”


“Tumben, biasanya dia gercep kalau denger salah satu kita kena musibah,” Fahrul nampak bingung.


“Mungkin dia lagi ngga bisa kemana-mana,” timpal Nick.


“Iya. Dia minta dikabarin terus soal Abe.”


Fahrul tak bertanya lagi, dia menghempaskan bokong di salah satu kursi tunggu. Jika Denis tak bisa datang, berarti memang ada hal penting yang tidak bisa dia tinggalkan. Nick mengeluarkan ponselnya kemudian menghubungi keluarga Abe. Walau sahabatnya itu tak pernah akur dengan sang ayah, namun di saat seperti ini, Syarif berhak tahu keadaan anaknya.


🍂🍂🍂


Setelah Abe siuman dan mendapat pantauan selama 1x24 jam di ruang intensif, pria itu sekarang sudah dipindahkan ke ruang perawatan. Dia hanya bungkam ketika Syarif menuduhnya terluka karena mabuk dan berkelahi dengan pengunjung klub malam. Dengan gerakan kepala dia melarang para sahabatnya menceritakan di mana mereka berhasil menemukannya.


Dengan kesal Arnav dan Fahrul keluar dari ruang perawatan. Nick tetap bertahan di sana untuk menenangkan sang sahabat. Walau kesal mendengar semua tuduhan tak berdasar Syarif, namun pria itu berusaha tetap tenang. Apalagi Abe juga terlihat tak peduli dengan semua tuduhan sang ayah.


Eni tak berhenti menangis, apalagi ketika Nick menyampaikan semua yang dikatakan dokter pasca operasi. Berulang kali wanita itu mengucap syukur dalam hati, Nick dan yang lainnya dapat menemukan Abe tepat waktu.


“Lihatlah.. ini akibat dari perbuatan liarmu,” kecam Syarif.


“Cukup!! Apa begini caramu menghadapi anak kita yang baru saja lolos dari maut? Orang tua macam apa dirimu ini!!”


Baik Abe maupun Nick terkejut mendengar kemarahan Eni. Begitu pula dengan Syarif, pria itu tak menyangka istrinya yang biasa diam dan menurut padanya kini berani berteriak kepadanya.


“Apa tidak cukup bagimu melihatnya terluka dan kamu malah menambah lukanya dengan kata-katamu? Dari pada kamu mengoceh tak karuan, lebih baik kamu cari siapa orang yang telah membuat anakmu seperti ini. Sekali saja kamu gunakan kekuasaanmu untuk hal berguna!”


“Ma.. aku ngga apa-apa.”


Abe mengusap punggung tangan sang mama. Eni kembali menangis, kesedihan dan kekecewaan bercampur menjadi satu. Saat bersamaan, Ambar, kakak Abe datang. Dia langsung menuju rumah sakit begitu Arnav mengabarinya.


“Be.. kamu ngga apa-apa?”


“Alhamdulillah, aku baik-baik aja kak.”


“Bagaimana kejadiannya sampai seperti ini? Nick apa kamu tahu sesuatu?”


“Ngga kak, Abe belum cerita apa-apa.”


“Aku ngga apa-apa. Kak, tolong bawa mama pulang.”


“Mama mau di sini.”


“Ada Nick sama yang lain ma. Mending mama pulang, mama harus istirahat. Besok kan mama bisa ke sini lagi.”


“Iya ma. Lebih baik mama pulang sama aku.”


Dengan berat hati, Eni mengikuti kemauan Abe. Dia mencium kening sang anak sebentar sebelum beranjak pergi. Syarif pun memilih untuk pulang karena kehadirannya pun tak diharapkan oleh sang anak.


“Kamu ke sini dengan siapa? Mana suamimu?”


“Papa tanyakan saja sendiri ada di mana dia sekarang. Dia lebih senang berkumpul dengan rekan separtainya dari pada menjenguk adik iparnya. Sungguh berbudi sekali menantu pilihan papa.”


Syarif hanya berdehem mendengar sindiran sang anak. Putri sulungnya ini memang dipaksa menikah dengan salah satu anak koleganya yang sama-sama berkecimpung di dunia politik. Tanpa pria itu sadari sang putri tak pernah bahagia dengan suami pilihannya. Hal itu pula yang semakin membuat Abe membenci sang ayah.


Sepeninggal keluarga Abe, ketiga sahabatnya segera masuk. Mereka perlu tahu apa yang sebenarnya menimpa sahabatnya ini. Setahu mereka, Abe bukan tipe orang yang mencari masalah dengan orang lain.


“Be.. sebenernya apa yang terjadi?” tanya Arnav.


“Pas pulang kerja. Gue lihat ada cewek yang digangguin preman. Ya udah gue tolongin, dan ternyata yang digangguin itu Sansan.”


“Terus Sansannya mana?”


“Pulang.”


“Dia ngga tahu kalau lo terluka gara-gara nolongin dia?”


“Gue yang suruh pulang. Udahlah ngga usah dibahas, yang penting gue udah selamat.”


“Katanya pernikahan kalian batal,” seru Nick.


“Hmm.. dia yang batalin.”


“Ngga tahu diri banget tuh cewek. Udah dibantuin, malah ngejelekkin elo ke orang tuanya sama keluarga lo,” kesal Fahrul.


“Lo tahu dari mana?”


“Kak Ambar yang cerita. Harusnya lo ngga usah bantuin tuh cewek. Biar dia jadi mangsanya si Vicky. Sumpah gue eneg banget sama tuh anak. Kepala aja yang ditutupin, kelakuannya minim akhlak.”


“Dia ngomong apa adanya, emang gue brengsek,” Abe terkekeh.


“Terus dia merasa lebih baik gitu dari lo? Dia itu cewek bego yang ngga bisa bedain mana cowok baik sama cowok brengsek. Cuma karena lo sering ke klub malam, dia samain elo sama si Vicky. Cetek banget pikirannya. Untung deh lo ngga jadi nikah sama dia. Mending cari perempuan lain aja yang bisa nerima lo apa adanya.”


Abe hanya menanggapi ucapan panjang lebar Fahrul dengan kekehan saja. Nick dan Arnav memilih diam walau mereka juga merasakan kekesalan yang sama dengan sikap Sansan.


🍂🍂🍂


**Mohon maaf beberapa hari ngga up karena kesibukan di RL.


Selamat Hari Raya Idul Fitri, Minal aidin wal faidzin, Mohon maaf lahir batin🙏**