The Nick's Life

The Nick's Life
Let's Get Married



Denis memacu kendaraannya dengan kecepatan tinggi. Kuda besi itu meliuk-liuk menyalip kendaraan di depannya. Mendengar suara tangis Ayura, sungguh membuat pikirannya kacau. Pria itu menurunkan kecepatannya sedikit saat membelokkan tunggangannya. Dan tak lama kemudian dia berhenti di depan kediaman Ayura.


Dengan cepat Denis melepaskan helm kemudian turun dari motornya. Mendengar suara motor Denis, Ayura yang tengah berada di dalam langsung keluar. Tanpa sadar wanita itu menghambur dalam pelukan Denis, membuat pria itu terjengit. Tubuh Denis terasa kaku, ingin rasanya balas memeluk punggung wanita itu namun tak berani.


Sadar telah melakukan yang tak semestinya, Ayura melepaskan pelukannya. Sebuah kata maaf keluar dari bibirnya. Untuk sesaat suasana keduanya terasa kaku. Melihat tamunya tak kunjung masuk, mama Ayura menyusul ke teras.


“Siapa Ay?”


“Ini Denis ma.”


“Assalamu’alaikum tante.”


“Waalaikumsalam.”


Denis meraih tangan mama Ayura kemudian mencium punggung tangannya. Wanita paruh baya itu mengenali Denis. Pria yang beberapa kali mengantar anak dan cucunya pulang.


“Azka.. di mana Azka?”


“Sepertinya Arif membawa ke rumahnya.”


“Di mana rumahnya? Biar aku yang menjemput Azka.”


“Arif tidak mau mengembalikan Azka sebelum aku bersedia menikah dengannya.”


“Dasar gila! Di mana rumahnya? Biar aku yang menjemputnya. Katakan, aku akan membawa Azka pulang malam ini juga.”


“Apa nak Denis yakin?”


“In Syaa Allah ma. Di mana rumahnya?”


“Di daerah pasar Jum’at. Aku kirim alamatnya ke hp-mu.”


Ayura mengambil ponselnya kemudian mengirimkan alamat rumah Arif. Denis menghubungi seseorang dengan ponselnya. Setelah berbicara sebentar, pria itu kembali pada Ayura.


“Aku pergi dulu.”


“Hati-hati, Den.”


Denis hanya menganggukkan kepalanya. Dia memakai kembali helmnya kemudian mulai menjalankan kendaraannya. Pria itu lagi-lagi memacu kendaraannya dengan kecepatan tinggi. Tak sampai setengah jam, pria itu sudah sampai di alamat yang diberikan Ayura. Di sana juga sudah menunggu seseorang yang tadi dihubunginya. Seorang pria mengenakan seragam polisi.


Melihat kedatangan Denis, pria itu segera mendekat. Tanpa membuang waktu, mereka segera menuju rumah Arif yang jaraknya hanya beberapa meter saja dari mereka. Setelah membuka pintu pagar, pria yang bersama Denis mengetuk pintu. Tak berapa lama seorang wanita paruh baya membukakan pintu.


“Selamat malam. Bisa bertemu dengan bapak Arif Mardani?”


Wanita paruh baya yang merupakan ibu Arif, terkejut melihat seorang polisi berdiri di depannya. Dengan cepat dia memanggil Arif. Denis terkejut saat mendengar suara tangis Arif, hampir saja dia merangsek masuk kalau tidak ditahan temannya itu. Tak lama Arif keluar.


“Selamat malam. Dengan pak Arif?”


“Benar. Ada apa ya pak?”


“Saya mendapat laporan dari ibu Ayura kalau bapak telah mengambil paksa anaknya. Silahkan bapak ikut saya ke kantor.”


“Sebentar-sebentar pak. Saya bukan membawa paksa, saya hanya ingin bertemu dengan anak saya. Apa salah kalau saya ingin mengahabiskan waktu dengan anak saya?”


“Azka bukan anakmu! Kembalikan Azka atau aku akan menyeretmu ke kantor polisi!”


Ibu Arif terkejut, bergegas dia masuk ke dalam dan beberapa saat kemudian kembali dengan Azka dalam gendongannya. Melihat Denis, Azka langsung mengarahkan tangan pada pria itu. Dengan cepat Denis mengambil Azka. Anak itu langsung memeluk leher Denis erat.


“Azka ngga apa-apa sayang?”


“Azka takut om huhuhu..”


“Jangan takut, ada om di sini.”


“Gue peringatin sama elo. Jangan pernah ganggu Ayura lagi. Dia itu calon istri gue. Sekali lagi lo bawa pergi Azka, gue ngga segan-segan buat kirim lo ke neraka!”


“Ini peringatan buat pak Arif. Kalau berbuat sekali lagi, maka saya akan langsung membawa anda ke kantor polisi,” tambah teman Denis.


Tanpa menunggu jawaban dari Arif, kedua orang itu segera meninggalkan kediaman Arif. Tangan pria itu mengepal kencang. Harusnya tadi dia langsung membawa Azka pergi jauh.


“Brengsek!”


“Jangan cari masalah, Rif. Sudah jangan berhubungan lagi dengan Ayura. Kamu yang dulu berselingkuh dan bercerai darinya. jadi lupakan saja, masih banyak perempuan lain.”


“Tapi aku masih menginginkan Ayura, bu.”


“Sesukamu saja. Tapi ibu dan bapak tidak akan membantumu lagi.”


Dengan kesal wanita itu masuk ke dalam rumah. Anak lelakinya ini selalu saja membuat kepalanya pusing. Setelah bercerai dari Ayura, Arif selalu saja berganti-ganti wanita. Dan kini dia ingin kembali pada mantan istrinya begitu melihat Ayura telah bertransformasi menjadi wanita cantik dan mandiri. Timbul keinginannya untuk bersatu kembali dengan mantan istrinya itu.


Denis sampai di tempat dia memarkirkan kendaraan roda duanya. Dia mendudukkan Azka di atas motor kemudian menghampiri temannya yang juga sudah bersiap hendak pergi.


“Bro.. thanks ya.”


“Santai aja. Gue langsung balik ya, masih ada syuting nih.”


“Ok.. sekali lagi thanks. Kapan-kapan gue traktir.”


Pria itu hanya mengangkat jempolnya kemudian menjalankan kendaraan roda duanya. Denis melepaskan jaketnya kemudian memakaikan ke tubuh Azka. Dia lalu naik ke atas motor dan mengenakan helmnya. Kuda besi itu kemudian melaju pergi.


🍂🍂🍂


“Azka!!”


Ayura langsung menghambur ke arah sang anak begitu Denis baru saja sampai. Digendongnya Azka seraya mendaratkan ciuman bertubi-tubi di wajah anaknya. Ibu Ayura menyambut kepulangan cucunya begitu juga dengan ayahnya. Ayura mengajak Denis masuk ke dalam rumah.


“Nak Denis.. terima kasih sudah membawa Azka pulang.”


“Sama-sama bu.”


Nenek Azka terlonjak ketika tiba-tiba Azka turun dari gendongannya kemudian berlari ke arah Denis. Anak itu langsung naik ke pangkuan Denis dan kembali memeluk leher pria itu. Kedua orang tua Ayura terpana melihat kedekatan cucunya dengan Denis.


“Sepertinya Azka sayang sekali padamu.”


“Saya juga sayang Azka, bu. Bapak.. ibu.. ada yang mau sampaikan. Maaf sebelumnya kalau ini terkesan mendadak.”


“Ada apa nak Denis?”


“Saya mau melamar Ayura.”


“Apa??”


Bukan hanya kedua orang tua Ayura, tapi orang yang dilamar pun ikut terkejut. Denis sendiri nampak tenang, selama dalam perjalanan tadi, dia sudah memikirkan hal ini masak-masak.


“Apa nak Denis serius?”


“Saya serius bu, sangat serius. Kalau bapak dan ibu mengijinkan, saya ingin menikahi Ayura secepatnya. Saya ngga mau kejadian seperti tadi terulang lagi. Ini bisa berdampak buruk untuk perkembangan mental Azka.”


“Kalau bapak menyerahkan semuanya pada Ayura saja. Bagaimana nak?”


“Den.. bisa kita bicara sebentar?”


Denis mengangguk, dia bermaksud memberikan Azka pada neneknya namun anak itu tetap tak mau melepaskan pelukannya. Akhirnya Denis membawanya ke teras. Di sana Ayura sudah menunggu.


“Den.. apa maksudmu tadi?”


“Ngga, Den. Aku ngga bisa membiarkanmu berkorban begitu banyak untukku juga Azka.”


“Siapa yang berkorban? Aku mengajakmu menikah bukan karena masalah Arif, tapi karena aku ingin menikah denganmu. Aku ngga tahu sejak kapan Ay.. tapi sepertinya aku sudah jatuh cinta padamu, juga Azka. Aku tahu masa laluku bukanlah sesuatu yang bisa dibanggakan, dan aku mengerti kalau kamu jijik padaku. Tapi kalau kamu tidak mencintaiku, lakukanlah untuk Azka. Aku janji akan membuatmu juga Azka bahagia. Kalau kita menikah, aku bisa melindungi kalian. Aku juga tidak akan menuntut hakku kalau kamu tidak mau melakukannya. Yang penting, kamu dan Azka ngga diganggu Arif lagi.”


Tak ada jawaban dari wanita itu. Mata Ayura nampak berkaca-kaca. Ucapan Denis sungguh membuatnya terharu. Dia menatap Denis juga Azka yang masih berada dalam gendongan pria itu. Kemudian kepalanya mengangguk seiring dengan buliran bening yang membasahi pipinya.


Senyum terbit di wajah Denis melihat anggukan kepala Ayura. Pria itu melampiaskan kebahagiaannya dengan menciumi puncak kepala Azka. Tangan Ayura bergerak menghapus airmata di wajahnya. Dia sungguh tak menyangka, Tuhan memberinya jodoh lagi. Seorang pria yang usianya tiga tahun lebih muda darinya. Namun yang terpenting, pria itu menyayangi Azka.


🍂🍂🍂


Kendaraan milik Abe berhenti di kediaman orang tuanya. Kalau bukan karena masalah Nick dan juga sang kakak, rasanya dia enggan kembali ke rumah ini. Tadi saat dalam perjalanan, Ambar menghubunginya. Kakaknya itu mengatakan ingin bercerai dari suaminya. Selain kasar, ternyata kakak iparnya itu telah berselingkuh. Namun sang ayah justru menentang keputusan Ambar.


Eni terkejut sekaligus senang melihat kedatangan anak bungsunya. Wanita itu memeluk Abe erat. Kerinduannya pada anak lelakinya ini akhirnya terobati sudah. Karena sikap keras kepala suami dan anaknya, dirinya yang harus menderita.


“Papa ada ma?”


“Papa ada di ruang kerjanya. Bagaimana keadaanmu?”


“Alhamdulillah baik, ma.”


“Mama dengar kamu sudah mengundurkan diri dari pekerjaanmu.”


“Iya. Aku ke ruangan papa dulu.”


Eni hanya mampu memandangi punggung anaknya yang bergerak menjauh. Tak lama sosok Abe tak terlihat lagi, menghilang dibalik pintu ruang kerja suaminya. Tak ada sapaan apalagi sambutan saat Abe masuk ke ruangan kerja Syarif. Pria itu hanya menatap dingin ke arah anaknya.


“Ada apa menemuiku?” terdengar suara Syarif memecah kesunyian.


“Aku mau minta tolong. Nick.. dia menghilang, dia pergi dari rumah sakit. Aku minta tolong agar papa bantu mencarinya.”


“Nick.. jadi karena temanmu kamu datang menemuiku. Kamu selalu saja mementingkan orang lain dibanding keluargamu.”


“Karena temanku selalu ada di saat aku membutuhkan. Selalu membantuku tanpa pamrih. Tidak seperti seseorang yang kukenal. Orang yang mengalirkan darahnya di tubuhku tapi selalu meminta imbalan jika aku meminta sesuatu darinya.”


Batin Syarif tertohok mendengar sindiran anaknya. Dia bangun dari kursi kerjanya kemudian berpindah duduk di sofa. Dengan gerakan kepala dia meminta Abe ikut duduk dengannya. Pria itu kemudian mendaratkan bokongnya berhadapan dengan sang ayah.


“Hanya itu yang kamu minta? Mencarikan temanmu itu?”


“Ijinkan juga kak Ambar berpisah dengan suaminya.”


“Pilih salah satu, Nick atau perceraian kakakmu.”


“Cih.. apa benar papa itu ayahku?”


“Baiklah.. papa akan melakukan keduanya. Tapi kamu harus menikah dengan wanita pilihan papa.”


“Baik.”


“Sansan.. papa hanya menginginkan dia sebagai menantu papa.”


“Dia tidak mau menikah denganku kalau papa lupa.”


“Take it or leave it. Buat Sansan mau menikah denganmu atau lupakan tentang Nick juga perceraian kakakmu.”


Rahang Abe nampak mengeras. Dia sudah menduga kalau bantuan yang diminta pasti harus dibayar dengan pernikahan. Tapi Abe tak menyangka kalau Syarif masih menginginkannya menikah dengan Sansan.


Tanpa mengatakan apapun pada Syarif, Abe berdiri dari duduknya kemudian keluar dari ruangan kerja papanya. Dia pergi begitu saja tanpa mempedulikan panggilan sang mama. Abe masuk ke dalam mobil lalu memacunya dengan kecepatan tinggi.


Di depan sebuah taman Abe menghentikan kendaraannya. Beberapa kali dia memukulkan tangannya ke setir untuk melampiaskan kekesalannya. Pria itu lalu menghempaskan punggungnya ke jok mobil. Tangannya meremat erat rambutnya. Syarat yang diajukan papanya benar-benar menyulitkannya. Mengingat bagaimana sikap gadis itu padanya, rasanya mustahil membuatnya mau menikah dengannya.


Abe melihat jam di pergelangan tangannya. Waktu hampir pukul lima sore. Dia ingat kalau hari ini jadwal kuliah Sansan sampai sore. Setelah berpikir sejenak, akhirnya pria itu memutuskan untuk bertemu dengan Sansan. Demi Nick dan Ambar, dia akan berusaha membujuk gadis itu. Walau kemungkinan besar akan ditolak. Setidaknya dirinya sudah mencoba.


🍂🍂🍂


Bersama beberapa temannya, Sansan keluar melewati gerbang kampus. Matanya langsung menangkap mobil Abe yang terparkir di dekat kios rokok. Dia seperti dejavu melihat Abe duduk di atas kap mobil, menunggu dirinya selesai kuliah. Dengan malas, gadis itu menghampiri Abe.


“Ayo kuantar pulang.”


“Terima kasih, tapi aku mau pulang sendiri.”


“San.. tunggu. Ada yang mau kubicarakan. Bisa ikut denganku sebentar?”


“Soal apa? Bicara saja di sini. Ngga pake lama, waktuku ngga banyak.”


Abe sedikit ragu melihat sikap Sansan yang tak bersahabat. Tapi begitu mengingat Nick dan Ambar, pria itu kembali membulatkan tekadnya. Dia bangun dari duduknya kemudian mendekati Sansan.


“San.. ayo kita menikah.”


“Nikah? Hahaha... apa aku ngga salah dengar? Menikah? Hahaha..”


“San.. aku mau bicara jujur padamu. Temanku Nick, dia mengalami kecelakaan, ingatannya hilang dan sekarang dia kabur dari rumah sakit. Aku harus menemukannya karena kondisinya sedang tidak baik. Sudah lima hari kami belum juga bisa menemukannya. Aku meminta bantuan papaku. Dia bersedia membantu dengan syarat, aku harus menikah denganmu.”


Kembali terdengar tawa Sansan, namun kali ini terdengar sedikit sumbang. Gadis itu seperti tengah menertawakan dirinya sendiri. Sansan menatap lekat ke arah Abe seraya melipat kedua tangannya di dada.


“Jadi hanya itu? Itu alasan kakak mau menikah denganku?”


“Ada satu lagi.”


“Apa?” dada Sansan berdebar menanti alasan kedua Abe.


“Supaya kakakku bisa bercerai dengan suami brengseknya.”


“Daebak.. alasan kakak drama banget. Aku turut berduka atas apa yang terjadi dengan kak Nick juga kak Ambar. Tapi maaf, aku ngga bisa menikah dengan kakak. Aku ngga mau menggadaikan kebahagiaanku hanya demi kepentingan kakak.”


Sansan segera membalikkan tubuhnya. Gadis itu bermaksud pergi. Namun dengan cepat Abe menahan tangannya. Dia memegang kedua bahu Sansan kemudian membalikkan tubuh gadis itu menghadapnya. Abe menatapnya dengan putus asa.


“Aku tahu kalau aku terdengar egois. Tapi aku mohon, San. Aku mohon menikahlah denganku.”


“Aku ngga mau.”


Abe menjatuhkan tubuhnya. Dia berlutut di hadapan Sansan. Gadis itu terkejut melihat reaksi Abe. Beberapa orang yang ada di dekat mereka langsung mengarahkan pandangan pada Abe.


“San.. aku mohon menikahlah denganku. Aku janji akan melakukan apapun permintaanmu. Kita bisa membuat perjanjian pra nikah. Aku tidak akan menuntut apapun darimu, aku tidak akan meminta hakku, kamu bisa bebas melakukan appaun yang kamu mau dan aku akan menceraikanmu jika kamu menginginkannya. Aku akan melakukan semua yang kamu inginkan, tapi tolong... menikahlah denganku.”


Abe menatap penuh permohonan pada Sansan. Diraihnya tangan gadis itu dan menggenggamnya erat. Sansan melihat ke arah Abe dengan tatapan yang sulit diartikan.


“Bangun.. Be.”


Suasana hening di antara Abe dan Sansan pecah dengan kehadiran Diah. Begitu mendengar dari Arnav kalau Abe bermaksud menemui ayahnya. Wanita itu sudah bisa menebak kalau Abe diminta menikah dengan Sansan. Dia lalu meminta Arnav mengantarkannya ke kampus Sansan. Dia yakin kalau Abe akan menemui Sansan di kampusnya.


“Mom..”


“Bangun, Be. Kamu tidak perlu mengemis padanya. Masih ada daddy, Topan dan yang lain yang akan mencari Nick. Dengan atau tanpa bantuan ayahmu, kita pasti bisa menemukan Nick. Ayo bangun, jangan buat hati mommy bertambah sedih melihatmu seperti ini.”


Diah membantu Abe berdiri karena pria itu masih bertahan di tempatnya. Perlahan Abe berdiri. Dia kembali melihat ke arah Sansan, berharap gadis itu mau merubah keputusannya. Namun tak ada sepatah kata pun yang keluar dari bibirnya. Diah menarik Abe menuju mobilnya.


“Masuk.. ayo kita pulang.”


Melihat tak ada reaksi dari Sansan, Abe akhirnya masuk ke dalam kendaraannya. Tak lama mobil berjenis sedan itu bergerak menjauh, disusul kendaraan Arnav dari belakang. Sansan hanya mampu memandangi mobil Abe yang semakin menjauh dengan tatapan nanar.


🍂🍂🍂


Ada yang hilang, ada yang mau nikah, mentang² udah masuk musim nikah🤣🤣