The Nick's Life

The Nick's Life
Happiness



“Papai..”


Edo membalikkan tubuhnya. Hatinya bergetar begitu Nick memanggilnya dengan sebutan yang begitu ingin didengarnya. Sejenak dia hanya mematung memandangi wajah putranya itu. Matanya sudah mulai berembun. Nick berjalan mendekati pria itu dan berhenti hanya beberapa senti saja darinya.


“Maafkan aku tidak bisa mengenalimu sebelumnya, papai. Terima kasih untuk semua yang sudah papai lakukan untukku selama ini. Juga untuk istriku.”


“Boleh papai memelukmu?”


“Tentu saja.”


Edo menarik Nick ke dalam pelukannya. Airmata yang sedari tadi menggelayut di pelupuk mata, akhirnya tumpah juga. Begitu pula dengan Nick yang terharu dengan pertemuan mereka. Pertemuan yang begitu diinginkan sejak beberapa bulan yang lalu.


“Di mana istrimu?” tanya Edo setelah menguraikan pelukan mereka.


“Sepertinya di lantai tiga. Pasti masih sibuk dengan pembukuan.”


“Ambil pegawai, jangan bebani istrimu dengan pekerjaan, biar bisa cepat punya momongan lagi.”


“Dia yang mau. Katanya sambil mengawasiku, takut ada pelanggan yang menggodaku.”


“Hahaha..”


Edo merangkul Nick kemudian menuju sofa yang ada di sana. Tangannya meraih cangkir kopi yang tadi dibuatkan Nick untuknya. Disesapnya perlahan cairan hitam kental yang sudah mulai berkurang panasnya.


“Ehmm.. kopi buatanmu memang enak. Papai belum menemukan kopi seenak buatanmu di Rio.”


“Benarkah? Mungkin karena aku membuatnya dengan penuh cinta dan sayang,” seloroh Nick.


“Bisa jadi,” Edo terkekeh.


“Adikku, siapa namanya?"


“Cattleya. Dia biasa dipanggil Leya.”


“Nama yang bagus, pasti dia cantik.”


“Kamu mau melihatnya?”


Nick menganggukkan kepalanya. Edo mengambil ponsel dari saku celananya kemudian membuka folder galeri. Dia memperlihatkan foto dirinya bersama seorang gadis cantik. Foto yang baru diambilnya beberapa bulan yang lalu.


“Kenapa papai tidak mengajaknya?”


“Belum. Nanti papai akan mengajaknya kalau dia sudah lulus sekolah. Dia sekolah dengan sistem boarding school. Di sana lebih aman untuknya. Mungkin mommy-mu sudah menceritakan soal kehidupan papai.”


“Iya. Aku turut berduka soal mama Emily. Apa Leya tau soal mama Emily?”


“Tidak, papai terpaksa berbohong padanya. Papai bilang kalau mamanya meninggal karena kecelakaan. Waktu kejadian itu, dia sudah masuk asrama. Untung saja papai sempat mengamankannya ke sana dan dia bisa selamat.”


Nick terdiam, kehidupan ayah kandungnya memang keras. Tapi di tengah itu, dia masih bisa mengawasi dan menjaga dirinya. Nick tidak ingat bagaimana pandangan dirinya dulu terhadap sang ayah kandung. Tapi yang dia tahu sekarang, hanya ada rasa kagum padanya, dan juga sayang.


“Apa Leya tahu tentangku?”


“Tentu saja. Papai menceritakan tentangmu juga mommy pada Emily dan Leya. Mamamu sangat ingin bertemu denganmu, namun sayang keinginannya tidak terkabul. Dan Leya tak sabar ingin segera lulus sekolah agar bisa ikut ke sini.”


“Apa dia anak yang ceria, pendiam, atau pemalu mungkin?”


“Anak itu kalau sehari tidak membuat kepala papai pusing sepertinya akan terserang demam. Entah kenapa dia lebih mirip dengan mommy-mu. Sifat keras kepalanya, ketusnya, mirip sekali dengan Diah,” Edo menggelengkan kepalanya tak mengerti.


“Jangan sampai mommy dengar ini, bisa-bisa mommy besar kepala,” Nick terkekeh.


“Benar juga.”


Pembicaraan ringan di antara keduanya terus mengalir. Nick banyak menceritakan tentang hidupnya. Begitu pula dengan Edo. Mereka seperti tengah menebus waktu yang hilang. Sorot mata keduanya sarat akan kerinduan yang mendalam saat melihat satu sama lain. Hingga kemudian pembicaraan keduanya terinterupsi dengan kehadiran Iza.


“Papai..” Iza menghampiri Edo kemudian mencium punggung tangannya. Nick menarik tangan iza kemudian mendudukkan di sisinya.


“Kapan papai sampai?”


“Tadi malam. Baru sekarang papai ke sini.”


“Papai tidur di mana?”


“Di hotel.”


“Mas, nanti antar papai ke hotel. Ambil barangnya lalu pindahkan ke rumah,” Iza melihat ke arah suaminya.


“Iya, sayang.”


“Adik iparku tidak diajak?”


“Dia masih di asrama. Kalau sudah lulus, akan papai ajak ke sini.”


“Kamu mau lihat fotonya sayang?” tawar Nick yang langsung diangguki wanita itu.


Nick mengambil ponselnya, kemudian memperlihatkan foto yang tadi dikirimkan Edo padanya. Senyum Iza mengembang melihat wajah cantik adik iparnya itu.


“Siapa namanya?”


“Cattleya, panggilannya Leya,” jawab Nick.


“Nama yang cantik, secantik bunga anggrek Cattleya.”


“Benar. Mamanya sangat menyukai anggrek, makanya memberi nama itu.”


Edo memandangi Iza penuh haru. Menantunya itu langsung bersikap akrab padanya, tidak ada kecanggungan sama sekali, seolah mereka telah saling mengenal lama. Dapat dirasakan kasih sayang yang tulus dari menantunya itu.


“Zi.. apa kamu sakit? Kenapa wajahmu terlihat pucat,” tanya Edo.


“Iyakah?” Iza meraba wajahnya.


Sejak tiga hari lalu dia memang merasakan tubuhnya mudah lelah. Tapi wanita itu tidak ambil pusing dan menganggap hanya kelelahan saja karena suasana kedai selalu ramai. Nick memperhatikan Iza, wajah istrinya itu memang terlihat pucat. Dia merutuki dirinya sendiri yang tak peka dengan keadaan sang istri.


“Mau ke dokter?” tawar Nick.


“Ngga usah. Aku cuma kecapean aja kayanya. Papai, kita punya menu baru, papai harus coba.”


Iza berdiri dari duduknya, hendak mengambilkan makanan untuk mertuanya itu. Namun seketika tubuhnya terasa oleng, pandangannya menjadi gelap sesaat dan hampir terjatuh kalau Nick tidak langsung menangkapnya.


“Zi!”


“Kepalaku pusing, mas.”


“Ayo ke dokter.”


Nick membopong tubuh Iza kemudian membawanya pergi dari selasar. Edo bergegas mengikuti langkah putranya itu. Kecemasan seketika melanda, takut sesuatu terjadi pada menantunya. Para pengunjung kedai terkejut melihat sang pemilik keluar sambil membopong istrinya. Sebelum pergi, Nick menitipkan kedai pada Rengga, asistennya di kedai.


Mobil yang dikendarai Nick melaju kencang menuju rumah sakit. Belum pernah dia melihat Iza selemas ini. Sang istri berbaring di kursi belakang, ditemani oleh Edo. Pria itu segera menghubungi Diah dan memintanya segera ke rumah sakit.


Nick berhenti di depan pintu masuk IGD. Dengan cepat dia keluar kemudian mengeluarkan sang istri dan membawanya masuk. Seorang suster langsung mengarahkan pria itu ke salah satu blankar yang kosong. Nick membaringkan Iza di sana. Seorang dokter yang bertugas segera menghampiri blankar Iza dan memeriksanya.


“Bagaimana kondisi istri saya, dok?” tanya Nick tak sabar.


“Secara kesuluruhan baik. Tapi untuk lebih jelasnya, lebih baik istri bapak diperiksa ke dokter kandungan.”


“Hah? Kenapa dok?” Nick sudah seperti orang bodoh saja, dengan kesal Edo memukul belakang kepala sang anak.


“Istrimu hamil, Nick.”


“Ha.. hamil? Istri saya hamil dok?” tanya Nick tak percaya.


“Iya. Untuk lebih jelasnya kalian langsung saja periksa ke dokter kandungan. Kebetulan jam prakteknya belum berakhir.


“Kamu hamil, Zi. Alhamdulillah.. aku akan jadi ayah.”


🍂🍂🍂


Suasana kediaman Nick nampak ramai. Bryan dan Diah bergegas mengunjungi anaknya, begitu mendengar kabar bahagia tersebut. Begitu pula dengan Ridho dan Meta. Kehamilan istrinya hanya berselang empat bulan saja dari sang adik. Meta saat ini tengah hamil lima bulan, dan perutnya sudah terlihat sedikit buncit. Arnav juga ikut datang setelah mendengar kabar dari Rina.


Diah memasakkan banyak makanan untuk menantunya ini. Iza sendiri ingin dimasakkan kepiting saos padang. Wanita itu seperti dejavu, saat sang menantu meminta makanan yang sama saat kehamilan pertamanya dahulu.


Melihat makanan pesanannya sudah tersaji di atas meja. Iza nampak tak sabaran untuk segera mencicipinya. Diah meminta Rina membantu membawakan semua makanan ke ruang tengah mereka akan makan bersama di sana. Nick, Ridho dan Arnav ikut membantu menyiapkan semua. Nick mengambilkan makanan untuk istrinya itu.


“Mas..”


“Kenapa sayang?”


Iza membisikkan sesuatu di telinga istrinya. Nick mengulum senyum seraya mengambil piring milik Iza. Istrinya itu ingin makan sambil disuapi, namun malu mengatakan di depan semua orang, jadi hanya berbisik saja. Dia mulai menyuapi Iza yang makan dengan lahap.


“Ummi sudah dikasih tahu?” tanya Diah.


“Sudah, mom. Besok ummi sama abi ke sini.”


“Aku dengar kamu akan menikah,” ujar Edo pada Arnav.


“Iya, om.”


“Papai, panggil saja begitu, seperti Nick dan Iza.”


“Iya, papai,” ucap Arnav canggung karena tidak terlalu akrab dengan Edo. Namun sikap hangat pria itu membuat kecanggungan Arnav mencair.


“Ada yang kamu butuhkan?” tanya Edo lagi.


“Tidak ada, papai. Terima kasih.”


“Dia cuma butuh orang tua untuk mengantarnya melamar Rina,” timpal Nick.


“Apa kalian tidak mau mengantarnya? Keterlaluan,” Edo melihat pada Diah dan Bryan.


“Tutup mulutmu kalau tidak tahu, apa-apa,” sewot Diah yang disusul kekehan Bryan.


“Rina, di dekat rumah orang tuamu apa ada wanita yang siap menikah? Janda boleh, kalau bisa usianya masih produktif, tiga puluh sampai tiga puluh lima tahun,” celetuk Bryan dan tentu saja menarik perhatian semua yang ada di sana.


“Untuk siapa, dad? Jangan bilang daddy mau poligami,” seru Ridho yang langsung dihadiahi pelototan dari Diah. Namun Ridho hanya mengendikkan bahunya.


“Jodoh untuk papai, biar ada istri yang bisa mengurusnya,” jawab Bryan, membuat Edo langsung terbatuk.


“Ada. Namanya Wulan, umurnya 32 tahun, janda tanpa anak. Sudah tujuh tahun jadi janda, cantik dan masih montok,” Rina terkikik ketika menceritakan janda kembang yang tinggal dekat rumah orang tuanya. Janda selalu jadi rebutan kaum lelaki dan membuat para istri keki.


“Kalau begitu, saat lamaran Arnav, kamu ikut saja, Do. Nanti biar aku melamar Wulan untukmu,” goda Bryan.


“Aku setuju. Nanti aku yang akan membujuk Wulan,” timpal Diah.


Edo menatap kesal ke arah pasangan suami istri di sebelahnya yang terus saja menggodanya. Gelak tawa langsung terdengar melihat reaksi Edo yang sudah seperti anak muda saja. Wajah pria itu nampak memerah.


🍂🍂🍂


Hari beranjak malam, kediaman Nick yang semula ramai, kini nampak sepi. Rina dan Edo sudah masuk ke kamar masing-masing untuk beristirahat. Nick dan Iza juga sudah masuk ke dalam kamar. Keduanya tengah berbaring di kasur. Kepala Iza rebah di atas lengan suaminya, dan posisi tubuh mereka menyamping, sambil berhadapan.


“Zi.. terima kasih. Terima kasih untuk hadiah terindah ini,” Nick mencium punggung tangan sang istri dengan mesra.


“Alhamdulillah, kita diberi kepercayaan lagi ya, mas.”


“Iya, semua berkat kesabaran dan doa-doa kita. Allah mengganti apa yang sudah diambil dari kita dahulu. Waktu hamil dulu, apa kamu mengidam sesuatu?”


"Tidak ada yang aneh. Hanya aku tidak mau jauh darimu, mas. Aku baru bisa tidur kalau berada dalam pelukanmu.”


“Kalau sekarang?”


“Ehmm.. belum tahu.”


“Bagaimana kalau aku yang mengidam?”


“Ngidam apa?”


“Menengok calon anak kita,” bisik Nick pelan di telinga Iza seraya memberikan gigitan kecil di sana, membuat tubuh Iza meremang.


“Bukan ngidam itu, tapi emang mau mas aja.”


“Boleh sayang? Kata dokter boleh asal pelan-pelan,” bujuk Nick.


“Iya mas.”


Mendapat lampu hijau dari istrinya tentu membuat Nick senang. Pria itu tak membuang waktu dan memulai cumbuannya. Nick memperhatikan tubuh istrinya yang sudah tak tertutup apapun akibat ulahnya. Dia baru menyadari kalau di beberapa bagian tubuh sang istri sudah mengalami perubahan. Lebih berisi dan terlihat semakin menggemaskan.


“Kamu tambah seksi aja, Yang,” bisik Nick di telinga Iza.


“Mas genit.”


“Genit sama istri sendiri ngga salah, kan?”


“Iya sih. Tapi malu, mas,” Iza menutup wajah dengan kedua tangannya.


“Malu kenapa? Kan cuma kita berdua di sini,” Nick mel*mat bibir istrinya sekilas.


“Mas licik.”


“Licik kenapa?” tanya Nick yang sedang asik bermain dengan bukit kembar yang semakin besar dan berisi.


“Pakaian mas masih lengkap,” Iza mengerucutkan bibirnya.


Sambil terkekeh, Nick menegakkan tubuhnya kemudian melucuti pakaian yang dikenakannya satu per satu. Tanpa berkedip Iza memandangi tubuh tegap sang suami. Matanya menyiratkan gairah melihat suaminya yang sudah polos. Pria itu mengungkungi tubuh istrinya dan memberikan ciuman dan sesapan di beberapa titik sensitifnya, membuat sang empu tak enak diam.


Pelan-pelan, Nick menyatukan miliknya dan menggerakkan tubuh dengan gerakan pelan, seolah takut menyakiti calon anaknya. Iza mend*sah pelan, menikmati apa yang dilakukan suaminya.


Tak ingin membuat istrinya lelah, Nick memilih bermain cepat. Setelah sang istri mendapatkan pelepasannya, pria itu ingin segera menuntaskan permainan. Nick memacu tubuhnya lebih cepat dan tak berapa lama dia pun sampai di puncaknya. Sebuah kecupan hangat diberikan pria itu di kening Iza yang dipenuhi titik keringat. Kemudian dia menggulirkan tubuhnya ke samping lalu menarik Iza dalam pelukannya.


“Terima kasih, sayang,” bisik Nick.


Nick bangun sebentar kemudian menarik selimut untuk menutupi tubuh polos mereka. Iza merapatkan tubuhnya ke dalam pelukan sang suami. Tak butuh waktu lama, wanita itu sudah terlelap dalam dekapan suaminya.


🍂🍂🍂


Hari yang dinanti Arnav tiba. Pria itu nampak menarik nafas panjang beberapa kali seraya menatap pantulan dirinya di cermin. Tubuhnya sudah terbalut beskap berwarna putih. Sekarang adalah waktu dirinya bertemu Rahman dan membayar tunai anak bungsu pria itu di hadapan penghulu.


Nick masuk ke dalam kamar yang ditempati Arnav. Dia beserta keluarga dan sahabat yang lain turut mengantar pria keturunan Pakistan itu melepas masa lajangnya. Sampai menjelang hari H, keluarga Arnav tidak ada yang datang. Arnav pun tak mempedulikannya, kehadiran Nick dan yang lain sudah cukup baginya. Kini anggota keluarganya bertambah dengan hadirnya Edo.


Iring-iringan kendaraan keluar dari hotel yang ditempati pengantar calon pengantin pria. Mereka menuju desa Cilember, tempat di mana keluarga Rina tinggal. Tak butuh waktu lama untuk mereka tiba di sana. Di depan kediaman Rahman, tenda berwarna putih dengan ornamen keemasan di pinggirnya sudah terpasang rapih, berikut dengan jajaran kursi. Di samping rumah, panggung kecil juga sudah tersedia yang nantinya akan diisi dengan hiburan dari para santri dari pesantren milik teman Rahman.


Kedatangan keluarga calon pengantin pria langsung disambut hangat oleh Rahman dan keluarga. Mina dan juga Rahardi sudah tiba sejak dua hari yang lalu untuk membantu persiapan pernikahan. Tak berselang lama, penghulu dari KUA setempat datang untuk menikahkan pasangan pengantin. Rahman segera mempersilahkan sang penghulu duduk di tempat yang sudah disediakan.


Seraya mengucapkan basmalah, Arnav duduk di hadapan Rahman. Di samping kanannya duduk kyai pemilik pesantren yang akan menjadi saksi dari pihak Rina. Sedang dari pihak Arnav, Bryan yang akan menjadi saksinya. Para sahabat Arnav berdiri berjajar di belakang mempelai pria. Setelah memeriksa kelengkapan dokumen pernikahan, sang penghulu mempesilahkan Rahman memulai ijab kabul. Pria itu meraih tangan Arnav dan menggenggamnya erat.


“Ananda Arnav Gulfaam, saya nikahkan dan kawinkan engkau dengan putri saya, Rina Mutaqinah binti Rahman Hidayat dengan mas kawin seperangkat alat shalat dan emas 20 gram dibayar tunai!”


“Saya terima nikah dan kawinnya Rina Mutaqinah binti Rahman Hidayat dengan mas kawin tersebut tunai!”


“Bagaimana para saksi, sah?”


“SAAAAAHHHHH..”


🍂🍂🍂


Uhuy Arnav udah ngga jones ya💃💃💃