The Nick's Life

The Nick's Life
Rahasia Sansan



Ruangan berukuran 4x6 yang semula gelap berubah menjadi terang begitu lampu menyala. Tina memandangi anaknya yang tengah duduk di atas kasur dengan kepala dibenamkan ke lutut. Wanita itu kemudian mendekati Sansan. Dengan lembut dia mengusap kepala anaknya.


“Mama..”


“Kamu kenapa San?”


“Mama..”


Bukannya menjawab, Sansan malah menghambur ke pelukan sang mama. Tina membiarkan sang anak melampiaskan kegundahan dan kesedihannya. Hanya tangannya yang terus mengusap punggung Sansan. Setelah beberapa saat, Sansan menguraikan pelukannya.


“Ma..”


“Apa?”


“Tadi aku ketemu kak Abe. Dia ngajakin aku nikah.”


“Oh ya? Terus kamu jawab apa?”


“Aku bilang ngga. Dia ngajakin aku nikah karena permintaan om Syarif. Kak Abe butuh bantuan papanya buat cari temannya yang hilang, dia juga mau papanya setuju kalau kakaknya bercerai. Aku ngga mau ma.. dia mau nikah sama aku karena ada udang dibalik bakwan.”


“Tapi...”


“Tapi aku ngga tega lihat kak Abe hiks.. hiks..”


Tina merengkuh tubuh anaknya. Sebagai ibu, dia tahu perubahan sikap yang terjadi pada Sansan akhir-akhir ini ada sebab tertentu. Perkataan dan sikap kasarnya pada Abe hanya untuk menutupi perasaannya saja.


“Kamu... suka kan sama Abe?”


“Ngga..”


“Jangan bohong. Kalau ngga suka, ngga mungkin kamu nangis kaya gini.”


“Tapi kak Abe ngga suka sama aku ma..”


Sansan mengeratkan pelukannya di pinggang sang mama. Rahasia yang selama ini disimpannya rapat-rapat ternyata dapat tercium oleh ibu yang telah melahirkan dan membesarkannya.


Kedekatan Sansan dan Abe selama beberapa bulan memang telah menumbuhkan perasaan lain di hati gadis itu. Sikap konyol Abe, ucapannya yang terkadang membuat telinganya sakit justru menjadi pupuk yang terus menyuburkan perasaan cintanya. Bahkan gadis itu mulai berpikir untuk menerima perjodohan dengan Abe.


Saat hubungannya dengan Abe semakin dekat, Vicky, lelaki yang sejak awal kuliah disukainya tiba-tiba menyatakan perasaan padanya. Sansan bimbang, antara menerima cinta Vicky atau meneruskan perjodohan dengan Abe. Gadis itu lalu memancing Abe dengan mengatakan soal Vicky. Ternyata jawaban yang diterima justru membuatnya sakit hati. Abe terlihat gembira karena perjodohan mereka akhirnya akan batal.


Mengetahui kedekatan Sansan dengan Abe, membuat Vicky tak suka. Ternyata bukan hanya Abe yang tahu soal Vicky. Pria itu pun tahu tentang Abe dan teman-temannya. Demi menjauhkan Sansan dari Abe, dia membeberkan kebiasaan buruk Abe dan para sahabatnya. Bahkan dia membawa Talita, wanita yang pernah menghangatkan ranjang Arnav beberapa kali ke hadapan Sansan untuk menceritakan kebusukan lima sekawan itu.


Sejatinya Sansan tak terlalu peduli dengan masa lalu Abe. Setahunya Nick dan teman-temannya, juga Abe tengah berusaha memperbaiki diri. Namun yang membuatnya memutuskan untuk mundur ketika Talita mengatakan bahwa Abe sudah memiliki wanita idaman. Dan saat ini pria itu tengah berusaha berubah demi sang pujaan hati.


Tak ingin berkubang dengan perasaan sepihak, Sansan mengambil langkah ekstrim untuk memutuskan hubungan mereka. Dia sengaja berkata kasar dan menyebarkan keburukan Abe. Dia ingin melupakan rasa cintanya dengan cara membenci.


Saat Abe tertusuk ketika menolongnya, sebenarnya Sansan kembali ke tempat kejadian tapi sayang pria itu sudah tak ada di sana. Paginya ketika dirinya menghubungi Abe, Arnav menceritakan kejadian yang menimpa Abe. Sansan datang ke rumah sakit untuk menjenguk, namun dia tak berani masuk. Gadis itu baru masuk ke ruangan saat tak ada orang dan ketika Abe tertidur.


Tapi setelah apa yang dilakukannya, ternyata perasaannya tak pernah hilang. Kemarin saat Abe datang dan mengajaknya menikah, jauh dalam lubuk hatinya Sansan berharap ajakan menikah Abe karena pria itu mencintainya juga.


Tina menguraikan pelukan sang anak. Dihapusnya airmata yang membasahi wajah cantik Sansan. Dipandanginya sejenak anak bungsunya ini. Andai saja Sansan mau menceritakan lebih awal soal perasaannya pada Abe. Mungkin dia bisa membantu menjembatani hubungan mereka.


“Sekarang apa rencanamu?”


“Aku ngga tau ma. Aku takut kecewa dan sakit hati kalau terima ajakan kak Abe. Tapi aku juga ngga bisa lihat dia bersedih ma. Hiks.. hiks.. aku harus gimana ma?”


“Abe itu anak yang baik dan juga bertanggung jawab. Mama setuju kalau kamu berencana menerima ajakannya menikah. Cinta itu bisa tumbuh karena terbiasa, San. Mama yakin, suatu saat nanti Abe akan membalas cintamu.”


“Tapi kata Talita, kak Abe udah punya perempuan pilihannya sendiri.”


“Apa kamu pernah melihatnya atau bertemu? Atau apa pernah Abe mengatakannya padamu?”


“Ngga pernah.”


“Kalau begitu jangan terlalu percaya berita yang belum tentu kebenarannya. Lebih baik kamu tanyakan langsung padanya. Siapa tahu itu hanya akal busuk Talita dan Vicky supaya kamu dan Abe berpisah.”


Sansan terdiam merenungi ucapan sang mama. Bisa jadi apa yang dikatakan mamanya itu benar. Sansan menggelengkan kepalanya pelan. Dia sungguh tak tahu apa yang harus dilakukan. Namun wajah sendu Abe yang menatapnya penuh permohonan terus terbayang di pelupuk matanya.


🍂🍂🍂


Sansan turun dari taksi online yang ditumpanginya. Sejenak dia memandangi gedung beratap hijau di depannya. Hari ini dia sudah bertekad untuk bertemu dengan Syarif. Setelah menghembuskan nafas panjang, gadis itu melangkahkan kakinya masuk. Di depan pintu masuk, seorang security menahannya.


“Mau bertemu dengan siapa dek?”


“Mau bertemu pak Syarif Perdana Kusuma dari fraksi Amanat Demokrat.”


“Komisi berapa dek?”


“Hehehe.. ngga tau pak.”


“Anggota dewan itu banyak dek, jumlahnya. Adek harus tahu yang mau ditemui ada di komisi berapa biar saya bisa kasih tahu di mana ruangannya.”


“Oh gitu ya pak. Sebentar.”


Sansan mengambil ponsel kemudian menghubungi papanya untuk menanyakan tentang ayah dari Abe. Setelah berbicara sebentar, gadis itu mengakhiri panggilannya.


“Komisi 5 pak.”


“Sudah buat janji?”


“Belum sih pak. Tapi saya ini calon menantunya. Kalau ngga percaya, bapak tanya aja sama pak Syarifnya.”


“Komisi 5 ada di gedung nusantara II lantai 2.”


“Ok pak, makasih.”


Dengan senyum lebar gadis itu melangkahkan kakinya menuju gedung yang dimaksud kemudian naik ke lantai dua. Baru kali ini dia menjejakkan kaki di gedung dewan perwakilan rakyat itu. Biasanya dia hanya melihat dari layar televisi saja. Itu pun kalau ada berita demonstrasi mahasiswa. Sesampainya di lantai dua, gadis itu ditunjukkan ruangan Syarif oleh salah satu staf di sana.


TOK


TOK


TOK


“Masuk.”


Mendengar suara dari dalam. Sansan membuka pintu kemudian masuk ke dalam. Syarif cukup terkejut melihat kedatangan Sansan. Dia bangun dari duduknya kemudian menghampiri gadis itu. Sansan mencium punggung tangan Syarif.


“Ada angin apa ini, kamu berkunjung ke sini?”


“Ada yang mau aku bicarakan om. Kalau om ngga sibuk.”


“Ayo duduk dulu.”


Sansan mendudukkan diri di salah satu kursi yang ada di sana. Syarif menarik kursi kerjanya ke dekat Sansan. Gadis itu nampak menarik nafas panjang sejenak sebelum memulai perkataannya.


“Om.. aku setuju menikah dengan kak Abe.”


“Benarkah?”


“Tapi om harus membantu kak Abe menemukan kak Nick. Dan om juga harus menyetujui kak Ambar bercerai.”


“Abe mengatakan semuanya padamu?”


“Iya om. Aku setuju menikah dengan kak Abe dan sebagai gantinya, om harus melakukan semua yang kak Abe minta.”


“Baik, setelah kalian menikah, om akan melakukan semuanya.”


“Temukan dulu kak Nick dan bantu kak Ambar bercerai. Kalau kak Nick sudah ketemu, aku akan segera menikah dengan kak Abe. Om ngga usah khawatir, aku ngga akan ingkar janji. Kedua orang tuaku juga sudah tahu soal ini. Kalau om ngga percaya, silahkan telepon papa.”


Syarif memandangi Sansan sejenak, kemudian pria itu berjalan menuju meja kerjanya. Dia meraih ponsel yang tergeletak di meja kemudian menghubungi asisten juga pengacaranya. Dia memerintahkan pada asistennya untuk mengerahkan bantuan untuk mencari keberadaan Nick. Lalu menghubungi pengacaranya untuk mengurus perceraian Ambar.


🍂🍂🍂


Apartemen Diah mulai didatangi oleh para sahabat Nick. Mereka sengaja berkumpul untuk membicarakan kembali tentang pencarian Nick. Bryan sudah meminta pada pihak berwajib untuk menemukan anaknya itu. Topan juga menyebarkan semua anak buahnya untuk mencari informasi.


Fahrul yang berada di Bandung tetap berkomunikasi dengan para sahabatnya. Dia juga berusaha mencari keberadaan Nick di sana walau tidak secara intens.


Suara bel di pintu mengalihkan perhatian mereka. Diah bergegas membukakan pintu. Sejenak dia tertegun melihat pria yang tak dikenalnya berdiri di depan pintu.


“Mau bertemu dengan siapa?”


“Mas Abenya ada?”


“Be..” panggil Diah.


“Ada apa mom? Pak Jerry..”


“Mas Abe.. saya diminta pak Syarif untuk membantu mencari teman mas. Bisa saya dapatkan informasi lebih detil? Saya akan segera menyebarkan informasi dan mengerahkan tim untuk melakukan pencarian.”


“Iya pak, ayo masuk.”


Abe mengajak Jerry bertemu dengan lainnya. Semua informasi tentang Nick diberikan pada Jerry, termasuk kapan terakhir kali pria itu terlihat di rekaman cctv rumah sakit. Setelah dirasa cukup, Jerry berpamitan. Dia harus bergerak cepat menemukan sahabat dari anak atasannya.


Abe nampak termenung begitu Jerry pergi. Setahunya dia tidak bisa memenuhi persyaratan yang diminta ayahnya. Lamunan pria itu buyar ketika ponselnya berdering. Melihat sang kakak yang menghubunginya, Abe dengan cepat menjawab panggilannya.


“Halo..”


“Be.. papa ngirim pengacaranya buat bantu proses perceraianku. Makasih ya, Be.”


“Aku? Aku ngga ngelakuin apa-apa kak.”


“Ngga mungkin papa bantu aku kalau bukan karena kamu. Sekali lagi makasih. Kakak pergi dulu ya.”


Panggilan berakhir ketika Ambar memutuskan sambungan. Abe kembali dibuat terkejut dengan penuturan kakaknya. Demi mengakhiri rasa penasarannya, Abe pun menghubungi ayahnya. Pada deringan keempat Syarif mengangkat panggilannya.


“Sudah pa. Apa yang membuat papa berubah pikiran?”


“Aku hanya menepati janji. Tadi pagi calon istrimu datang. Setelah Nick ditemukan, kalian akan langsung menikah.”


KLIK


Syarif memutuskan sambungan. Calon istri yang dimaksud papanya pasti adalah Sansan. Bergegas pria itu mengambil kunci mobil yang tergeletak di atas meja. Tanpa mempedulikan panggilan Arnav, Abe keluar dari unit apartemen.


Mobil Abe sampai di depan kampus, bertepatan dengan berakhirnya jam kuliah Sansan. Seperti biasa, pria itu menunggu sambil duduk di atas kap mobilnya. Tak berapa lama, gadis yang ditunggunya muncul. Dengan gaya sok cool-nya, Sansan menghampiri Abe. Padahal hatinya cenat-cenut melihat pria itu.


“Masuk.”


“Mau kemana?”


“Udah masuk aja dulu.”


Tanpa menunggu pria itu menyuruh untuk yang ketiga kalinya, Sansan masuk ke dalam mobil. Setelah memakai sabuk pengaman, Abe segera menjalankan kendaraannya. Sesekali Sansan mencuri pandang pada Abe. Dia yakin kalau pria itu sudah mendengar dari Syarif kalau dirinya sudah menyetujui pernikahan.


Abe menghentikan kendaraannya di depan sebuah taman. Dia lalu mengajak Sansan turun dan berjalan memasuki taman. Abe ingin berbicara dengan santai. Pria itu penasaran juga, apa yang menyebabkan Sansan berubah pikiran. Abe menunjuk salah satu kursi yang terbuat dari semen kemudian mengajak Sansan duduk di sana.


“San.. makasih ya kamu mau menerima tawaranku. Berkat kamu, papa mau membantuku mencari Nick dan menyetujui perceraian kak Ambar. Apa yang membuatmu berubah pikiran?”


“Anggap aja itu sebagai ucapan terima kasihku karena kak Abe sudah beberapa kali menolongku. Tapi kalau boleh aku minta sesuatu.”


“Apa? Bilang aja San. Aku udah bilang, apapun syarat darimu, aku akan setuju.”


Sansan terdiam sejenak. Sebenarnya dia ragu untuk mengatakan ini, tapi dia tak mau menjalani pernikahan layaknya di novel-novel online yang sering dibacanya. Membuat perjanjian pra nikah, hidup masing-masing dan hal aneh lainnya. Dia hanya ingin menjalani pernikahan seperti pasangan lainnya.


“San..”


“Aku tahu rencana pernikahan kita dimulai karena suatu hal. Tapi aku mau menjalani pernikahan seperti pasangan normal lainnya. Aku akan menjalankan kewajibanku sebagai istri. Setelah menikah nanti, kak Abe adalah imamku, orang yang bertanggung jawab untukku, dunia akhirat. Aku ingin menikah sekali seumur hidup, makanya aku mau kakak buang jauh-jauh pikiran kakak soal perceraian. Kalaupun kakak mau menikah lagi dengan perempuan pujaan kakak, aku rela dipoligami.”


PLETAK


“Aaaww..” Sansan mengusap keningnya yang terkena sentilan Abe.


“Nikah juga belum udah nyuruh aku poligami.”


“Ya kan kali aja kak Abe mau nikah sama cewek yang kakak suka. Dari pada nanti kakak selingkuh di belakang kaya bang Fahrul.”


Abe kembali mengangkat tangannya, membentuk lingkaran jari tengah dan jempolnya, seperti hendak menyentil lagi. Sansan buru-buru menghalangi kening dengan tangannya. Ternyata pria itu menipunya, Abe justru mengusap puncak kepala Sansan.


“Aku juga hanya mau menikah sekali seumur hidup. Jadi buang jauh-jauh pikiran konyolmu itu. Terima kasih San, kamu menerima ajakanku menikah. Aku akan berusaha menjadi suami yang baik untukmu.”


“Terus hubungan kak Abe sama pacar kak Abe gimana? Kakak udah bilang sama dia kalau kakak mau nikah sama aku? Dia pasti sedih.”


“Pacar apaan sih?” Abe dibuat bingung dengan celotehan Sansan.


“Bukannya kak Abe udah punya wanita idaman lain, makanya ngga setuju soal perjodohan kita.”


“Kata siapa? Sok tau.”


“Kata Talita.”


“Talita?” Abe terdiam sejenak, mencoba mengingat nama yang disebutkan oleh Sansan. Kemudian jarinya menjentik saat mengingatnya.


“Oh.. Talita yang itu. Ck.. wadah teh celup aja dipercaya. Aku ngga punya cewek idaman lain apalagi pacar. Masih jomblo. Eh bentar.. jadi kemarin-kemarin kamu marah ngga jelas sama aku, jangan-jangan kamu cemburu.”


“Ngga!” sangkal Sansan cepat.


“Masa?”


Abe mendekatkan wajahnya ke wajah Sansan. Pria itu menatap dalam mata bulat Sansan. Dengan cepat Sansan mengalihkan pandangannya ke arah lain. Hatinya berdentum tak karuan saat bersitatap dengan Abe.


"Kalau kamu cemburu juga ngga apa-apa. Aku suka," Abe mengul*m senyumnya, membuat jantung Sansan semakin berdetak tak karuan. Pria itu kemudian berdiri dari duduknya.


“Ayo..” suara Abe membuyarkan lamunan Sansan.


“Kemana?”


“Makan. Dari tadi cacing kamu nyanyi seriosa.”


“Dih fitnah.”


“Ngga usah malu. Tuh kedengeran lagi, laaaapaaarrr.”


Abe mengucapkan kata lapar dengan gaya bernyanyi seriosa. Dengan kesal Sansan memukul lengannya. Pria itu hanya terkekeh. Entah mengapa hatinya senang bisa kembali bercanda dengan gadis itu. Diam-diam Abe tersenyum, rasanya bahagia Sansan mau menerima ajakannya menikah. Bahagia bukan karena Nick dan Ambar saja, tapi bahagia bisa bersama dengan gadis itu selamanya.


🍂🍂🍂


Suasana tenang meliputi restoran bergaya Sunda. Lagu sabibilungan yang diputar semakin membuat suasana seperti pada pesta hajatan saja. Abe mengajak Sansan duduk di saung yang berjajar di bagian belakang restoran untuk menikmati makan siang.


Selain untuk makan siang, Abe juga akan berkumpul dengan kedua sahabatnya. Tadi Denis menghubunginya. Pria itu meminta bertemu karena ada yang ingin disampaikannya.


Abe mengambil ponselnya dan mengirimkan lokasi pertemuan kepada kedua temannya. Setelah itu, dia membuka aplikasi m-banking di ponselnya lalu memperlihatkan saldo rekening banknya pada Sansan.


“Apaan? Dih pamer.”


“Ini tabunganku. Uang ini dan mobil yang kupakai itu harta yang aku punya. Sebentar lagi kita kan nikah, yang artinya kamu yang bakal urus keuangan kita nanti. Aku sekarang pengangguran, jadi kamu harus pinter-pinter ngatur sampai usaha yang mau aku rintis sama Fahrul berjalan. Dua bulan lagi, aku harus bayar sewa apartemen, terus bayar uang kuliah kamu, belum lagi resepsi pernikahan kita. Kira-kira uangnya cukup ngga?”


“Kakak ngapain pusing? Kan uang kuliah aku dibayarin papa.”


“Kalau kamu jadi istriku, kamu udah jadi tanggung jawabku, termasuk biaya kuliah kamu.”


“Uang kuliah sampai akhir semester ini udah dibayar sama papa. Paling nanti bayar buat skripsi aja.”


“Skripsi? Emang kamu udah mau beres kuliahnya? Bukannya baru tingkat dua?”


“Udah mau beres kak. Aku kan ikut program akselerasi, makanya umur 16 aku udah kuliah. Pinter ya aku,” Sansan menaikturunkan alisnya.


“Biasa aja.”


Sansan menyebikkan bibirnya. Seperti biasa, Abe selalu mengeluarkan komen yang membuat telinganya panas. Namun dalam hati Abe memuji calon istrinya ini, selain cantik, ternyata gadis itu pinter juga. Wait, cantik? Masa sih? Gumam Abe dalam hati.


“Kamu mau resepsi kaya gimana? Kalau aku sih maleslah resepsi-resepsian, yang penting sah, halal di mata agama dan hukum udah cukup. Tapi kamu tahu sendiri, papaku kan public figur, mana mau dia bikin pesta sederhana.”


“Ya turutin aja kak. Lagian soal resepsi itu mah urusan orang tua kita. Ngga usah pusing biayanya, kita tinggal ngikut aja.”


“Ck.. aku ngga mau.”


“Sekali ini aja ngalah kenapa sih kak. Bikin seneng hati orang tua tuh pahalanya besar loh. Ngga usah ngerasa gengsi, terima aja pemberian mereka. Itu tuh salah satu cara menunjukkan kasih sayang mereka ke kita. Uang tabungan kakak mending dipake buat modal usaha sama kebutuhan kita sehari-hari.”


Abe terdiam, kata-kata Sansan ada benarnya juga. Ternyata dibalik mulut bawelnya, tingkahnya yang tidak mau diam seperti bola bekel, Sansan memiliki pemikiran yang dewasa. Bertambah satu lagi kekaguman Abe pada calon istrinya itu. Walau enggan, namun Abe harus mengakui kalau pilihan ayahnya kali ini tidaklah salah.


Seorang pelayan datang membawakan pesanan mereka. Nasi merah, pepes ikan mas, tahu, tempe goreng, sambal dan lalapan tertata di atas meja. Tak lupa pelayan itu juga meletakkan dua gelas es teh manis pesanan mereka. Setelah semua makanan tertata, pelayan tersebut meninggalkan saung.


Hampir saja Abe terpingkal ketika mendengar suara gemuruh dari perut Sansan, namun urung dilakukannya ketika melihat sorot tajam gadis itu. Tak sanggup menahan rasa lapar lebih lama, Sansan langsung melahap makanan di depannya. Tanpa malu dan jaim, Sansan menyendokkan nasi merah ke dalam piringnya dengan porsi yang cukup banyak.


Sambil makan, mereka terus berbincang membicarakan rencana Abe ke depan. Pria itu mengatakan kalau Bryan menawarinya membuat koperasi bersama dengan Fahrul. Koperasi yang nantinya akan menyalurkan hasil panen para petani yang ada di sekitar kebun Bryan. Dan kemungkinan besar, Abe akan pindah ke Bandung karena tak mungkin dia harus bolak balik Jakarta-Bandung.


“Kamu ngga keberatan kan kalau misalnya kita pindah ke Bandung?”


“Hmm.. ngga kok. Aku kan harus ikut kemana suamiku pergi.”


“Kalau koperasinya bisa berjalan dalam waktu dekat, mungkin kita harus LDR-an. Nanti kalau kamu sudah lulus kuliah, baru aku bawa ke Bandung.”


“Iya kak.”


Abe meng*lum senyumnya. Pembicaraan mereka sudah seperti sepasang kekasih yang tengah merencanakan masa depan bersama. Padahal hubungan mereka tidaklah seperti itu. Tapi pembicaraan dan sikap keduanya tak menunjukkan kalau pernikahan mereka terjadi karena unsur paksaan.


Abe mengulurkan tangannya ketika melihat sebutir nasi yang menempel di sudut bibir Sansan. Menggunakan ibu jari dan telunjuknya, dia mengambil butiran nasi itu. Untuk sesaat pandangan mereka bertemu dan saling mengunci.


“EHEM!!”


Adegan tatap-tatapan harus berakhir ketika Denis datang mengganggu kebersamaan mereka. Tanpa rasa bersalah sama sekali, pria itu duduk di hadapan pasangan yang sepertinya tengah dirasuki getar-getar cinta.


“Arnav mana?” tanya Denis.


“Belum dateng. Lo mau ngomong apaan? Penting banget emang?”


“Tar tunggu si tuan Takur dulu.”


Pucuk dicita, ulam pun tiba, orang yang ditunggu datang juga. Tanpa disuruh, Arnav langsung bergabung dengan kedua sahabatnya. Tak lupa dia melemparkan senyuman ke arah Sansan. Pria itu cukup senang mengetahui akhirnya Abe akan menikah dengan Sansan.


“Noh tuan Takur udah dateng, lo mau ngomong apaan?” tanya Abe tak sabaran.


“Gue mau minta tolong. Lo berdua jadi saksi gue ya.”


“Saksi apaan?”


“Saksi pernikahan.”


“Emang siapa yang nikah?”


“Gue. Lusa gue mau nikah sama Ayura.”


“APA??!!” tanya Abe, Arnav dan Sansan bersamaan.


🍂🍂🍂


Yang udah menghujat Sansan ditunggu permintaan maafnya ya🏃🏃🏃