The Nick's Life

The Nick's Life
Pengantin Baru



Tongkat yang dipegang Iza bergerak ke sana kemari. Wanita itu tengah menghafal letak barang-barang yang ada di dalam rumah. Ridho sengaja tidak membeli banyak barang untuk rumah yang baru dibelinya, untuk memudahkan Iza bergerak di dalam rumah. Iza mulai belajar mandiri agar tak selalu menyusahkan Meta atau kakaknya.


Sudah seminggu lamanya mereka menjadi warga kota Bandung. Ridho membeli rumah tipe 36 di sebuah perumahan yang ada di wilayah Bandung Tengah. Pria itu mencari perumahan yang tidak terlalu jauh dari kampus tempatnya mengajar.


Kehidupan pernikahan Ridho dan Meta belum berjalan seperti pasangan normal lainnya. Meta masih belum tidur sekamar dengan Ridho. Semenjak menikah sampai hari ini, gadis itu masih menemani Iza tidur. Setiap kali Iza meminta Meta tidur di kamar Ridho, dia selalu beralasan masih belum berani meninggalkan Iza sendiri. Seperti biasa, hampir setiap malam menjelang tidur, Iza dan Meta selalu berdebat.


“Met.. kamu mau tidur di sini lagi?”


“Iya.”


“Ya ampun Met, mau sampai kapan?”


“Aku belum bisa ninggalin kamu. Kalau tiba-tiba pas tengah malem kamu mau minum atau ke kamar mandi gimana?”


“Stop gunain aku sebagai alasan. Kalau minum, aku bisa sediain minuman di kamar. Kalau ke kamar mandi, bang Ridho udah siapin tali yang dhubungin ke kamarku sebelum tidur. Jadi itu semua bukan alasan lagi. Udah sana ke kamar abang, aku ngga enak loh sama abang.”


“Ish kenapa kamu yang bawel sih? Bang Ridhonya aja santuy.”


Iza tak tahu harus berbicara apa lagi pada sahabatnya ini. Dia selalu mempunyai alasan untuk mendebat perkataannya. Iza membaringkan tubuhnya lalu memejamkan matanya. Dengan gerakan pelan, Meta naik ke kasur lalu berbaring di samping Iza.


Meta berusaha keras memejamkan matanya, namun rasa kantuk masih belum juga menghinggapinya. Telinganya masih bisa mendengar suara yang berasal dari ruang di depan kamarnya. Pertanda kalau Ridho masih belum selesai dengan pekerjaannya. Pria itu memang lebih senang bekerja di meja makan. Sambil berjaga kalau Iza membutuhkan sesuatu katanya.


Terngiang kembali di telinganya ucapan Iza tentang hak dan kewajiban seorang istri. Bukannya Meta mengabaikan kewajibannya, hanya saja dia merasa Ridho tak membutuhkan dirinya. Memang belum ada perasaaan apapun di hatinya untuk Ridho, tapi bukan berarti dia senang diabaikan selama ini.


Ridho selalu menyiapkan kebutuhannya seorang diri. Menyiapkan pakaian kerja, membuat kopi, bahkan tak jarang dia mencuci piring bekas makan atau pakaian kotornya sendiri. Terkadang Meta merasa tak berguna. Bahkan untuk urusan dapur pun pria itu terlihat cekatan. Sepertinya bagi Ridho, dirinya hanya sebatas pengasuh Iza saja. Itulah yang membuatnya bertahan tidur di kamar adik iparnya.


Meta beranjak dari tidurnya ketika tak lagi mendengar suara-suara di depan kamarnya. Pelan-pelan dia membuka pintu kamar. Lampu di ruangan depan kamar sudah mati. Gadis itu lalu berjalan menuju dapur. Piring dan gelas kotor yang ada di bak cuci piring, kini sudah bersih dan tertata rapih di rak.


Aku benar-benar ngga berguna untukmu, bang. Sepertinya ucapanmu bisa mengurus Iza seorang diri benar adanya. Dan aku dengan bodohnya melemparkan diriku padamu. Aku ngga lebih hanya beban untukmu.


🍂🍂🍂


Pagi menjelang, setelah mandi, Meta memilih mengurus Iza lebih dulu. Dia menyiapkan pakaian yang akan dikenakan Iza lalu menaruhnya di atas kasur. Selanjutnya dia ke dapur untuk menyiapkan sarapan. Hari ini dia sengaja membuat sarapan lebih awal, agar tidak didahului Ridho.


Meta menaruh mangkok berisi nasi goreng di atas meja, disusul dengan tiga buah telor ceplok dan juga kerupuk. Kopi tanpa gula juga sudah disiapkan untuk Ridho serta segelas air putih. Senyumnya mengembang melihat sarapan untuk sang suami sudah tersedia.


Baru saja Meta akan masuk ke kamar suaminya untuk menyiapkan pakaian, Ridho keluar sudah mengenakan pakaian kerjanya. Walau lagi-lagi kalah cepat, Meta tak kecewa. Setidaknya dia sudah lebih dulu menyiapkan sarapan. Dia lalu memilih ke kamar Iza untuk mengajak adik iparnya sarapan.


“Zi.. abang berangkat dulu ya,” seru Ridho dari luar dan tanpa menunggu jawaban dari sang adik, Ridho keluar dari rumah.


Tak berapa lama Iza dan Meta keluar dari kamar, tepat ketika Ridho menjalankan kendaraannya. Meta lalu menuntun Iza ke meja makan. Hati Meta terasa perih ketika melihat sarapan yang disiapkan ternyata tak disentuh sama sekali oleh suaminya.


“Met.. abang ngga sarapan ya?”


“Iya, mungkin dia buru-buru ke kampus.”


Meta berusaha berprasangka baik pada sang suami. Namun dibalik itu kekecewaan demi kekecewaan menerpa dirinya. Ridho seperti tak pernah mengharapkan kehadiran dirinya dalam kehidupannya.


🍂🍂🍂


Waktu menunjukkan pukul Sembilan malam, tak biasanya Ridho baru pulang dari kampus selarut ini. Pria itu masuk ke dalam kamarnya. Meta bergegas menyiapkan makan malam di meja. Kemudian gadis itu masuk ke dalam kamar dengan membawa gelas berisi air putih untuk adik iparnya. Dia juga berpamitan hendak tidur di kamar sebelah, tepatnya di kamar Ridho.


Senyum Iza mengembang mendengarnya. Meta tersenyum getir melihat wajah sumringah Iza. Sejatinya keputusannya tidur di kamar Ridho untuk memastikan kembali tempatnya di sisi Ridho. Jika memang Ridho hanya menganggapnya tak lebih sebagai orang untuk menemani sang adik, maka Meta tak akan menuntut apapun dari pria itu. Dia juga tidak akan meminta cerai, seperti janjinya pada sang ayah untuk tetap bertahan dalam pernikahan ini sesulit apapun itu.


Sebelum menuju kamar, Meta melirik ke arah meja makan. Makanan yang disiapkan tadi ternyata belum tersentuh. Dengan gerakan pelan, Meta mengetuk pintu kamar. Begitu mendengar suara Ridho dari dalam, Meta membuka pintu lalu masuk ke dalamnya. Nampak Ridho tengah duduk di sisi ranjang sambil mengutak-atik ponselnya.


“Bang..”


“Hmm..” jawab Ridho tanpa melihat ke arah Meta.


“Abang ngga makan?”


“Aku udah makan,” pria itu masih khusyu dengan ponselnya.


Lagi, Meta merasakan kekecewaan atas sikap Ridho. Malam ini Meta sengaja tak makan malam bersama Iza karena menunggu Ridho pulang. Setidaknya sekali saja dia ingin merasakan bagaimana rasanya menahan lapar demi bisa makan bersama sang suami yang masih belum pulang dari mengais rejeki.


“Bang.. aku minta maaf.”


“Minta maaf untuk apa?” Ridho masih belum melihat ke arah Meta.”


“Maaf karena belum bisa menjadi istri yang baik untukmu. Maaf karena sibuk mengurus Iza, aku ngga sempat menyiapkan pakaian kerjamu, kadang aku terlambat menyiapkan sarapan. Maaf…”


Meta tak bisa melanjutkan kata-katanya, airmatanya terlanjur luruh. Kata-kata yang sedianya ditujukan sebagai sindiran kepada sang suami justru semakin menegaskan kalau dirinya tak dibutuhkan oleh pria itu. Ridho mengangkat kepalanya, dia terkejut melihat Meta yang tengah menghapus airmata dengan punggung tangannya.


“Kamu kenapa?”


“Ngga apa-apa bang. Maaf udah ganggu waktu abang,” Meta memilih untuk pergi, dia tak sanggup melanjutkan percakapan ini. Lebih tepatnya tak sanggup kalau harus mendengar jawaban Ridho nantinya. Ridho berdiri lalu menahan tangan Meta.


“Kamu kenapa? Sakit?”


“Ngga.”


“Terus?”


“Aku cuma kecewa sama diriku sendiri. Aku merasa menjadi orang yang diperlukan di sini, nyatanya ngga. Abang benar waktu bilang ngga butuh aku untuk mengurus Zi. Abang benar waktu bilang bisa mengurusnya sendiri. Abang benar, kehadiranku ngga dibutuhkan di sini.”


“Maksud kamu apa sih?” Ridho semakin dibuat pusing dengan perkataan istrinya.


“Abang ngga pernah biarin aku siapin keperluan abang. Abang selalu mencuci peralatan bekas abang makan, abang juga sering mencuci baju sendiri, menyiapkan sarapan sendiri. Bahkan abang ngga mau makan sarapan yang aku buat tadi pagi. Malam ini juga, abang ngga mau makan, padahal aku udah siapin semua. Aku tuh udah kaya makhluk astral di hadapan abang.”


Akhirnya Meta berhasil juga mengeluarkan seluruh uneg-uneg yang sedari kemarin memenuhi hati dan pikirannya. Sambil berderai airmata Meta meninggalkan Ridho. Belum sempat wanita itu membuka pintu kamar, Ridho memeluk tubuhnya dari belakang.


“Maaf.. maafin aku..”


Dada Meta berdebar kencang ketika sang suami memeluk tubuhnya. Ini kontak fisik pertama setelah akad nikah mereka tempo hari. Ridho mengurai pelukannya lalu membalikkan tubuh Meta menjadi menghadapnya. Tangannya bergerak menghapus airmata yang membasahi wajah istrinya.


“Maaf.. bukan maksudku mengabaikanmu. Hanya saja.. aku terbiasa mengurus segala sesuatu sendiri. Kamu tahu, aku lama tinggal di negeri orang. Memasak, mencuci baju atau pekerjaan rumah lainnya sudah biasa aku kerjakan sendiri. Bukan aku tidak membutuhkanmu, aku hanya ingin mengurangi bebanmu. Aku tahu kamu pasti lelah membersihkan rumah, memasak, mengurus Zi sendirian. Maaf kalau tadi pagi aku tidak sempat sarapan karena ketua prodi tiba-tiba menelponku dan memintaku datang lebih awal untuk menggantikannya menguji sidang. Tadi sepulang kerja aku diajak makan malam bersama dekanat. Tolong jangan berpikir yang bukan-bukan.”


Ridho menangkupkan kedua tangannya di wajah Meta. Wanita di hadapannya ini hanya tergugu mendengar suaminya berbicara panjang lebar. Ini pertama kalinya Meta mendengar Ridho berbicara panjang dan lemah lembut padanya.


KRIUK


Kening Ridho berkerut mendengar suara alam yang berasa dari perut sang istri. Meta merutuki perutnya yang bernyayi tak ingat waktu. Perutnya memang lapar karena belum ada lagi makanan yang masuk ke perutnya sejak siang tadi.


“Kamu laper?”


“Ngga.”


“Itu tadi perut kamu bunyi.”


“Emang kalau bunyi tanda laper? Itu cacing di perutku lagi karaokean,” jawab Meta asal untuk menyembunyikan malunya.


KRIUK


Lagi perut Meta berbunyi. Ridho mengulum senyum melihat pipi Meta yang merona. Pria itu menarik tangan Meta lalu membawanya keluar kamar. Dia menuju meja makan lalu mendudukkan sang istri di salah satu kursi. Ridho lalu menarik kursi di sebelah Meta.


“Kamu pasti laper. Kamu belum makan malam?”


“Belum.”


“Kenapa?”


“Aku nungguin abang pulang.”


“Maaf ya..”


Ridho mengusak pelan kepala Meta. Dibukanya tudung saji, lalu mengisi piring kosong di depannya dengan nasi dan lauk pauk. Meta kembali dibuat tertegun denga sikap suaminya. Lamunannya buyar ketika Ridho memberikan piring berisi makanan pada Meta.


“Mau aku suapin?”


“Ngga usah.”


Meta mengambil piring dari tangan Ridho lalu mulai memakannya dengan perlahan. Ridho memandangi Meta yang tengah mengunyah makanan. Dia tak bisa menahan senyumnya mengingat bagaimana wanita itu tadi menangis seperti anak kecil. Meta malu sendiri makan sambil diperhatikan sang suami. Apalagi senyum tak lepas dari wajah kakunya dan itu membuatnya terlihat semakin tampan.


Uhuk.. uhuk..


Buru-buru Ridho mengambilkan minuman untuk sang istri. Dengan cepat Meta minum untuk melancarkan tenggorokan. Bisa-bisanya dia tersedak karena memikirkan Ridho. Tubuhnya meremang ketika tepukan pelan di punggungnya yang diberikan Ridho berubah menjadi usapan lembut.


“Udah makannya? Mau tambah ngga?”


“Ngga, udah kenyang.”


Meta berdiri lalu mencuci piring bekas makannya, dilanjut dengan memasukkan sisa makanan ke kulkas. Ridho dengan sabar menungguinya sampai urusan di dapur selesai sambil merapihkan kursi makan yang tadi didudukinya. Kemudian pria itu memeriksa pintu depan dan mematikan lampu ruang tamu.


“Mau tidur di mana?”


“Di kamar abang. Kan aku udah pamitan tadi sama Iza, masa balik lagi, kan malu.”


Ridho terkekeh, digandengnya tangan Meta masuk ke dalam kamar. Ridho memindahkan tas kerja yang masih tergeletak di atas meja. Meta melepaskan hijab instannya lalu menggantungnya di belakang pintu. Dengan gugup dia mendudukkan diri di sisi Ridho.


“Mau tidur?”


“Ya udah kita ngobrol aja dulu. Soal Nick, kamu tahu di mana dia tinggal? Aku perlu bicara dengan mommy-nya Nick.”


“Belum tahu bang. Tapi nanti aku coba tanya Mai.”


“Siapa Mai?”


“Istrinya Fahrul, sahabat Nick.”


“Kamu ngga kenal sama sahabat-sahabatnya Nick?”


“Hmm.. ada sih bang, tapi dia udah ganti nomer pas mereka sepakat menyembunyikan soal Nick dari Iza.”


“Sebenarnya kondisi Nick itu seperti apa? Kenapa mereka sampai tega sembunyiin Nick dari Iza.”


Meta menceritakan kondisi Nick seperti yang dikatakan Arnav padanya. Ridho mendengarkan keseluruhan cerita dengan seksama. Secara logika, dia bisa mengerti keputusan yang diambil Diah. Namun tak urung kekesalan juga melandanya. Sejatinya bukan hanya Nick yang menderita, kondisi adiknya pun jauh dari kata baik.


“Nanti aku coba tanya nomer Arnav ke Rivan. Biar abang langsung aja yang ngobrol sama dia.”


“Hmm.. besok kamu telepon Rivan. Semakin cepat berbicara dengan Arnav akan semakin baik.”


“Iya bang.”


“Jadi mulai malam ini kamu tidur di kamar kita?”


“Kamar kita?”


“Iya kamar kita. Kita ini sudah menikah, kalau kamu lupa.”


“Ish abang aja kali yang lupa, aku mah ngga.”


“Oh jadi kamu inget kalau suamimu itu aku bukan Iza.”


“Abang apaan sih.”


“Yang tiap malem kamu temenin tidur kan Iza bukan aku.”


“Ya abis abang ngga pernah nagajakin aku tidur di kamar.”


“Tanpa diajak, harusnya kamu tahu di mana seharusnya kamu berada.”


PLETAK


Ridho menyentil pelan kening Meta kemudian keluar kamar. Pria itu lupa belum memasang tali yang menghubungkan kamar Iza dengan kamar mandi. Setelah memasangkan tapi dengan benar, Ridho kembali ke dalam kamar. Terlihat Meta masih berada di tempatnya semula.


“Ayo tidur, sudah malam.”


Ridho merangkak naik ke atas Kasur lalu membaringkan tubuhnya. Meta terdiam sebentar. Tanpa dikomando jantungnya langsung dag dig dug, membayangkan dirinya tidur satu ranjang dengan Ridho. Pelan-pelan Meta membaringkan tubuhnya di samping sang suami.


“Hmm.. bang.."


“Apa?”


“Besok ada guru yang datang ke rumah. Iza mau belajar huruf braile katanya. Sambil menunggu donor mata, dia harus mulai membiasakan diri dengan keadaannya sekarang. Kita belum tahu kapan Iza bisa dapet donor mata yang pas untuknya.”


“Gurunya perempuan atau laki-laki?”


“Perempuan, bang.”


“Aku ikut aja. Kamu pasti tahu apa yang terbaik untuk Zi.”


Suasana menjadi hening. Meta melirik ke arah Ridho yang berbaring dengan posisi telentang. Dia terjengit saat tiba-tiba Ridho mengubah posisi menjadi menghadapnya.


“Met..”


“Apa bang?”


“Lihat sini kalau diajak ngobrol suami.”


Meta merubah posisi berbaringnya menjadi menghadap Ridho. Dia terkejut karena posisi Ridho begitu dekat dengannya. Nafasnya terasa tercekat saat mata Ridho menatap dalam ke arahnya.


“Tadi ketua prodi nawarin aku ambil alih mata kuliah dosen yang mengajukan pensiun dini. Menurutmu aku ambil ngga?”


“Ambil aja bang."


“Tapi nanti aku bakalan tambah sibuk. Selain mata kuliah, aku juga harus ambil alih semua mahasiwa bimbingannya. Lumayan banyak, ada dua puluh orang. Mana kebanyakan perempuan. Jujur, abang paling males bimbingan sama mahasiswi. Kadang mereka ngga fokus kalau lagi diterangin.”


“Mereka fokusnya sama muka ganteng abang,” Meta terkikik geli.


“Oh jadi kamu mengakui kalau aku ganteng?”


“Ish apaan sih, narsis.”


Meta buru-buru membalikkan tubuhnya. Namun dengan cepat Ridho menahannya seraya menarik pinggang Meta hingga semakin mengikis jarak di antara mereka. Untuk sesaat pandangan mereka bertemu dan saling mengunci. Tangan Ridho bergerak mengusap pipi Meta membuat jantung gadis itu bertalu-talu dengan kencangnya.


“Ternyata seperti ini rasanya menyentuh perempuan.”


Ridho meraih tangan Meta lalu menaruh ke dadanya. Dapat Meta rasakan jantung sang suami berdetak sama kencang seperti dirinya. Perlahan Ridho mendekatkan wajahnya lalu mengecup bibir Meta. Tubuh keduanya seperti tersengat aliran listrik. Wajah Meta sampai merona.


“Met.. aku tahu pernikahan kita terjadi dengan alasan demi Iza. Tapi aku akan menjalani pernikahan ini dengan sungguh-sungguh. Aku sungguh berharap Allah akan segera menumbuhkan rasa cinta di hatimu untukku.”


“Kok aku aja?”


“Karena tidak sulit bagiku untuk mencintaimu. Tapi kata Iza sulit buatmu jatuh cinta padaku.”


“Ya gimana mau cepat jatuh cinta kalau sikap abang selalu jutek, wajahnya kaku, ngga pernah senyum.”


Ridho tergelak, Meta menyebutkan semua hal yang pernah dikatakan sang adik sebelumnya. Meta tertegun melihat suaminya yang tengah tertawa. Pemandangan seperti ini termasuk langka baginya.


“Abang tuh kelihatan lebih ganteng kalau tersenyum atau tertawa.”


“Oh ya? Kalau begitu aku akan banyak senyum dan tertawa mulai sekarang.”


“Tapi senyumnya sama aku aja, bang. Jangan ke mahasiswi abang, nanti disangkanya abang tebar pesona.”


Pria itu kembali tergelak. Ternyata mengobrol santai menjelang tidur malam mengasyikkan juga. Sepertinya ini akan menjadi kebiasannya mulai sekarang. Pillow talk cukup ampuh mencairkan suasana canggung di antara mereka.


“Met.. kamu sedang tidak halangan kan?”


“I.. iya bang.”


“Kalau begitu, apa boleh…”


Meta menganggukkan kepalanya begitu mengetahui kemana arah pembicaraan sang suami. Ridho kembali mendekatkan tubuhnya. Pria itu menyatukan bibirnya lagi, kali ini bukan kecupan, tapi sebuah ciuman. Walau baru pertama kali melakukannya, pria itu mengandalkan instingnya saja. Semakin lama, dia semakin lihai mel*mat dan memagut bibir istrinya.


Suasana di kamar pengantin baru itu semakin memanas ketika Ridho sudah mulai berani menyentuh tubuh istrinya. Tangannya bergerak menelusup ke balik piyama yang dikenakan Meta saat bibirnya sibuk menelusuri leher sang istri. Lenguhan pelan Meta terdengar ketika Ridho meremat pelan bulatan kenyal yang begitu menggodanya. Tanpa tergesa pria itu melepaskan semua benang yang menempel di tubuh keduanya.


Ridho mendekatkan bibirnya di telinga sang istri. Pria itu merapalkan doa dengan suara pelan, kemudian bersiap menjalakan ritual suami istri. Perlahan Ridho mulai melakukan penyatuan. Dengan gerakan lembut pria itu menggerakkan tubuhnya. Untuk pertama kalinya Ridho memberikan nafkah batin untuk sang istri.


🍂🍂🍂


Pagi hari di kediaman Ridho dimulai dengan kesibukan Meta di dapur untuk menyiapkan sarapan. Setelah menyiapkan pakaian untuk sang suami, wanita itu segera berperang dengan alat dapur. Tak butuh waktu lama baginya menyiapkan sarapan kali ini. Hanya kwitiaw goreng dan kerupuk saja.


Meta menaruh tiga buah piring, tiga gelas berisi air putih dan tak lupa kopi pahit untuk suaminya. Ridho keluar dari kamar seraya mengusak rambutnya yang masih basah dengan handuk kecil. Sehabis shubuh dia kembali bermain dengan sang istri. Wajah Meta merona mengingat kembali percintaan mereka semalam yang kembali diulangi sehabis shalat shubuh.


“Abang berangkat jam berapa?”


“Nanti jam delapan. Iza mana?”


“Masih di kamarnya. Tolong panggilin bang.”


Ridho mendaratkan ciuman di pipi sang istri sebelum menuju kamar Iza. Hal itu sukses memunculkan semburat merah di pipi Meta. Sikap Ridho berubah serratus delapan puluh derajat semenjak pembicaraan mereka semalam. Ditambah dengan penyatuan mereka, pria itu kini tak malu bersikap mesra padanya.


TOK


TOK


TOK


“Zi.. kita sarapan, yuk.”


“Iya bang.”


Iza meraba pinggiran meja, tempatnya menaruh tongkat. Tak lama wanita itu berdiri dan berjalan menuju pintu dengan bantuan tongkatnya. Di depan kamar, Ridho telah menunggunya dan langsung membimbingnya menuju meja makan. Meta membantu Iza untuk duduk. Tanpa sengaja dia menyentuh rambut Meta yang basah. Senyum Iza terbit, pasti kakak dan sahabatnya telah merasakan nikmatnya surga dunia.


🍂🍂🍂


Nick masih siap² nyari Iza. Ngintip pasangan pengantin baru dulu bentar yak..


Mohon mangap, adegan 21+nya disensor takut dipriiiiitttt terus kena lampu merah. Bayangin aja sendiri gimana perjaka belah duren perawan wakakakak...