
“Mai..”
Maira menghentikan langkahnya ketika Fahrul memanggilnya. Pria itu tak pernah kenal lelah untuk menemuinya. Dia selalu saja datang, hanya untuk melihat keadaannya. Terkadang Fahrul datang membawa banyak makanan, sampai Maira meminta bu Sarni membagikannya pada para tetangga.
Kali ini Fahrul mendatangi Maira di tempat kerjanya. Pria itu sengaja menunggu sejak sejam lalu demi bisa bertemu sang istri dan mengajaknya makan siang. Sepertinya Fahrul memang serius ingin memperbaiki hubungannya dengan Maira. Perlahan namun pasti, perasaan cintanya pada wanita itu mulai tumbuh dan berkembang.
“Kita makan yuk.”
“Aku ngga laper.”
“Mai.. please. Lihat muka kamu pucet gitu, kamu sakit Mai?”
Maira terdiam, akhir-akhir ini dia memang kehilangan selera makan. Jika biasanya Maira tak pernah melewatkan sarapan, tidak kali ini. Wanita itu tak pernah berselera mengkonsumsi makanan pagi-pagi. Dan sekarang, dirinya mulai merasa kelaparan. Akhirnya dia menerima ajakan Fahrul.
Dengan cepat Fahrul membukakan pintu mobil untuk Maira. Kemudian memutari bodi mobil dan naik ke belakang kemudi. Tak lama mobil yang dikendarainya meluncur pergi. Ayura hanya memperhatikan keduanya sambil menggandeng tangan Azka.
Fahrul membelokkan kendaraannya memasuki sebuah restoran padang. Maira mengatakan sedang ingin memakan makanan khas Sumatera Barat. Tanpa banyak pertanyaan, pria itu langsung mengiyakan saja. Keduanya turun lalu masuk ke dalamnya. Masih belum banyak pengunjung yang datang. Jam makan siang masih sekitar tiga puluh menit lagi.
Seorang pelayan membawa beraneka lauk lalu menaruhnya di atas meja. Maira menelan ludahnya melihat banyaknya makanan yang tersaji di meja. Dia lalu mengambil cumi yang dibumbu kuning. Kemudian menambahkan juga cincang dan tak lupa daun singkong rebus serta sambal hijau.
Dengan lahap Maira memakan makanannya. Fahrul tersenyum melihat sang istri yang nampak bersemangat makan. Dia juga dibuat terkejut saat Maira meminta tambahan nasi. Wanita itu kemudian menambahkan gulai otak juga rendang ke dalam piringnya. Dan untuk minumnya dia memesan es teh manis.
Perut Maira terasa penuh setelah menghabiskan dua piring nasi, empat macam lauk dan segelas es teh manis. Tubuhnya yang tadi terasa lemas mulai kembali bertenaga. Sudah saatnya dia menanyakan perihal janji Fahrul yang akan menceraikannya. Tenggat waktu sebulan yang diminta Fahrul, nyatanya sudah lewat dua minggu.
“Kapan kamu akan memproses perceraian kita?”
“Nanti Mai.”
“Nanti kapan? Ini sudah lewat dua minggu dari yang kamu janjikan. Aku tidak bisa menunggu lagi. Semakin cepat kita bercerai, semakin baik untuk kita berdua.”
“Apa kamu ngga hamil Mai?”
Pertanyaan Fahrul sukses mengejutkannya. Untuk sejenak wanita itu terdiam. Dia baru sadar kalau sudah seminggu telat datang bulan. Tiba-tiba saja hatinya resah, dan Fahrul menangkap hal tersebut.
“Bagaimana kalau kita ke dokter dulu untuk memastikan,” Fahrul menyentuh tangan Maira.
“Tidak perlu,” Maira menarik tangannya.
“Langsung ajukan saja perceraian kita seperti yang kamu janjikan,” imbuhnya lagi.
Maira berdiri dari duduknya lalu bergegas keluar dari restoran. Fahrul buru-buru menyusulnya. Namun langkahnya tertahan ketika pelayan memanggilnya. Pria itu berbalik lalu menuju meja kasir. Hampir saja dia lupa membayar.
Fahrul membukakan pintu untuk Maira. Dia harus bisa membujuk istrinya itu untuk memeriksakan diri ke dokter. Dirinya sungguh berharap sang istri hamil, dengan begitu dia masih punya tambahan waktu untuk meluluhkan hati Maira.
“Mai.. ayo kita ke dokter.”
“Ngga perlu.”
“Kenapa?”
“Karena aku ngga hamil.”
“Ngga ada salahnya untuk memastikan. Kamu tahu, wanita yang tengah mengandung itu tidak bisa bercerai. Jadi ayo kita pastikan dulu. Kalau kamu tidak hamil, aku akan melakukan apapun yang kamu inginkan.”
Maira menoleh ke arah Fahrul. Sebenarnya Maira tak ingin memeriksakan diri, dia takut kalau dirinya benar-benar hamil. Wanita itu sedikit curiga karena akhir-akhir ini sering melakukan hal di luar kebiasaan atau memakan makanan yang tidak disukainya. Dan yang lebih parah, dia merasa senang kalau berada di dekat Fahrul. Walau dia selalu mengusir pria itu, tapi dalam hatinya senang bisa melihat suaminya.
Melihat Maira yang masih saja bungkam, tanpa bertanya lagi, Fahrul langsung mengarahkan kendaraannya menuju rumah sakit khusus ibu dan anak yang memang lokasinya tak jauh dari posisinya sekarang. Setelah memarkirkan mobil, dia segera mengajak Maira masuk. Terpaksa Maira mengikuti keinginan suaminya.
Dengan harap-harap cemas, Maira menunggu gilirannya untuk diperiksa. Dia hanya tinggal menunggu dua orang lagi untuk bisa bertemu dengan sang dokter kandungan. Pintu ruangan periksa terbuka, baik Maira dan Fahrul terkejut melihat Reisa keluar dari dalamnya. Sontak Maira melihat ke arah Fahrul.
“Ngga Mai.. bukan aku. Sejak kamu pergi dari rumah, aku sudah ngga berhubungan lagi dengannya.”
Melihat ada Fahrul juga Maira di kursi tunggu, Reisa segera menghampiri kedua orang tersebut. Maira mencoba bersikap tenang walau dadanya bergemuruh hebat. Reisa mendudukkan diri di samping Fahrul, lalu memeluk lengan pria itu. Terkejut dengan yang dilakukan Reisa, Fahrul refleks melepaskan tangan Reisa.
“Aku hamil kak. Aku hamil anak kita,” Reisa mengusap perutnya yang masih rata.
“Dokter bilang kandunganku sudah berjalan dua bulan. Ini anak kita kak,” lanjutnya lagi.
“Sejak kapan itu menjadi anakku? Kita sudah lama tidak berhubungan, apa kamu lupa?”
“Tentu saja ini anakmu, percintaan terakhir kita akhirnya berbuah juga.”
“Terakhir kita berhubungan empat bulan yang lalu, bagaimana bisa kandunganmu yang baru dua bulan menjadi anakku. Dan satu lagi, aku selalu memakai pengaman saat bersamamu.”
Fahrul terpaksa mengecilkan suaranya saat mengatakan itu semua. Tak ingin semua orang yang ada di sana mendengarnya, termasuk Maira. Namun sayangnya pendengaran Maira cukup tajam, hingga dia bisa mendengar tiap kata yang keluar dari mulut suaminya. Walau bersyukur anak yang dikandung Reisa bukan anak Fahrul, namun hatinya kesal mengetahui kalau Reisa sering berbagi keringat dengan suaminya.
Sedang Reisa langsung terbungkam mendengar penuturan mantan kekasihnya itu. Niatnya ingin merusak kebersamaan Fahrul dan Maira berantakan gara-gara kebodohannya. Harusnya dia mengatakan usia kandungannya lebih tua dari semestinya.
“Apalagi yang kamu tunggu? Lebih baik kamu pergi dari sini. Berhenti mengganggu suamiku sebelum aku mengumumkan pada semua orang kalau kamu hanya seorang pelakor murahan yang hamil di luar pernikahan tanpa tahu siapa ayahnya.”
Mata Reisa membelalak mendengar ucapan Maira. Tangannya mengepal erat, kulit wajahnya yang putih seketika memerah. Dengan menahan amarah, dia segera berlalu meninggalkan Fahrul juga Maira.
“Terima kasih Mai.”
“Aku melakukannya bukan untukmu. Tapi demi harga diriku. Apa jadinya kalau dia membuat keributan di sini. Istri sah bertemu dengan kekasih gelap suaminya di dokter kandungan. Apa kamu mau semua orang di sini mengetahuinya?"
Maira segera bangun dari duduknya begitu suster memanggil namanya. Fahrul ikut berdiri kemudian menyusul sang istri masuk ke ruang praktek. Senyuman tersungging di bibirnya. Apapun alasan yang Maira katakan, tapi dia bahagia wanita itu masih menganggap dirinya suami.
Hampir saja Fahrul menangis saat dokter mengatakan titik hitam yang terlihat di layar adalah bakal calon anaknya. Tuhan mengabulkan doanya, Maira kini tengah mengandung anaknya. Percobaannya yang hanya sekali ternyata membuahkan hasil. Kandungan Maira sendiri masih berumur satu bulan.
Fahrul mendengarkan dengan seksama apa yang dikatakan sang dokter. Apa yang boleh dan tidak dilakukan selama mengandung. Dokter juga menjelaskan resiko kehamilan di trimester pertama dan gejala apa saja yang dialami sang ibu di awal kehamilan. Berbeda dengan Maira yang masih belum percaya kalau dirinya tengah berbadan dua. Pikirannya berhamburan tak tentu arah. Rencananya segera bercerai dari Fahrul berantakan.
“Ini resep untuk vitamin dan juga obat penambah darah. Jangan lupa untuk mengkonsumsi makanan bergizi, akan lebih bagus jika ditunjang dengan susu untuk ibu hamil. Hindari minuman yang mengandung cafein karena bisa menghambat nutrisi untuk anak.”
Pesan-pesan terakhir sang dokter membuyarkan lamunan Maira. Setelah mengucapkan terima kasih, Fahrul mengajak sang istri keluar dari ruang pemeriksaan. Tak ada reaksi apapun saat Fahrul menggandeng tangannya. Lain lagi dengan Fahrul yang nampak sumringah.
🍂🍂🍂
Bu Sarni memandangi kantong belanjaan yang diletakkan Fahrul di atas meja makan. Satu per satu dikeluarkan isi di dalamnya yang kebanyakan camilan. Empat dus susu hamil dengan rasa berbeda, roti tawar dua bungkus, selai cokat, kacang, nanas, sarikaya, keju oles, biskuit kering berbagai merk dan rasa, buah-buahan dan masih banyak lagi.
“Ngeborong supermarket neng,” ucap bu Sarni.
“Tanya aja sama yang beli bu,” jawab Maira santai. Wanita itu lalu masuk ke dalam kamar.
“Neng Maira hamil?” tanya bu Sarni pada Fahrul yang hanya dijawab anggukan saja olehnya.
“Kapan produksinya,” gumam wanita itu pelan.
Semua makanan yang dibeli Fahrul dimasukkan bu Sarni ke dalam lemari. Semua ditata berdasarkan jenis makanannya. Roti tawar dan aneka selai ditaruh di atas meja, sedang buah-buahan dimasukkan ke dalam kulkas.
“Bu.. saya pulang dulu. Saya titip Maira, kalau ada apa-apa tolong langsung hubungi saya. Dan ini untuk ibu,” Fahrul memberikan amplop berisi uang pada bu Sarni.
“Apa ini? Tidak usah repot-repot, saya sudah digaji sama mas Denis.”
“Uang dari Denis itu gaji untuk membersihkan rumah. Uang dari saya, karena ibu sudah menjaga Maira untuk saya. Tolong diterima bu, saya dengar ibu sedang butuh uang untuk sekolah anak ibu.”
Bu Sarni terdiam, dia memang tengah kebingungan mencari uang untuk membayar biaya praktek sekolah anaknya yang masih duduk di bangku SMK. Fahrul memilih langsung pulang tanpa berpamitan karena biasanya Maira juga tak menginginkannya tinggal terlalu lama.
Mendengar suara mesin mobil Fahrul, Maira keluar dari kamarnya. Dia mendudukkan diri di ruang tamu. Bu Sarni segera menghampiri wanita itu lalu duduk di sampingnya. Dia masih penasaran akan kehamilan Maira.
“Neng Mai lagi hamil?”
“Iya bu,” wajah Maira nampak sendu.
“Kok sedih begitu. Ini rejeki dari Gusti Allah.”
“Bukannya saya ngga bersyukur bu. Tapi ibu tahu sendiri, saya sudah berencana bercerai. Dan sekarang saya terpaksa menundanya karena kehadiran anak ini,” Maira mengusap perutnya yang masih rata.
“Jangan bilang begitu neng. Disyukuri saja, mungkin ini jalan yang sudah ditentukan Allah untuk neng juga mas Fahrul. Mungkin jodoh neng dengannya masih panjang makanya ada anak di antara kalian. Neng jangan banyak pikiran, ingat sekarang neng ngga sendiri lagi. Ada janin di perut neng yang butuh perhatian, nutrisi. Ibu lihat juga mas Fahrul sudah banyak berubah. Ngga ada salahnya memberi kesempatan kedua. Allah saja maha pemaaf untuk semua hambanya yang berbuat dosa. Kenapa kita ngga, neng.”
Maira merenungi semua ucapan bu Sarni. Semua yang dikatakan wanita itu benar adanya. Sekuat apapun Maira mencoba mengikhlaskan apa yang sudah dilakukan suaminya, namun masih terasa berat untuknya menerima. Wanita itu bangun dari duduknya kemudian kembali ke kamar. Dirinya merasakan kantuk yang begitu sangat. Tak butuh waktu lama untuk Maira terpejam dan masuk ke alam mimpi.
🍂🍂🍂
Fahrul terduduk lemas di lantai kamar mandi. Sedari pagi sudah lebih dari empat kali dia memuntahkan isi perutnya. Kejadian seperti ini sudah dialaminya selama seminggu. Setiap pagi, dari mulai shubuh sampai jam sepuluh pagi, perutnya terasa mual dan seperti diaduk-aduk.
Bahkan baru kemarin siang dia dapat menikmati makanan, saat makan bersama dengan Maira di rumah makan padang. Pelan-pelan pria itu bangun dari duduknya lalu keluar dari kamar mandi. Disambarnya ponsel yang tergeletak di atas kasur yang sedari tadi berdering. Melihat panggilan dari bu Sarni, dia langsung menjawab panggilan.
“Assalamu’alaikum.”
“Waalaikumsalam. Ada apa bu?”
“Neng Maira pengen sarapan ketoprak tapi yang jualnya di dekat apartemen mas Fahrul katanya. Cabenya lima, tahunya satu aja.”
“Iya bu. Nanti saya belikan.”
Bu Sarni mengakhiri panggilan setelah menyampaikan pesan Maira. Dengan cepat Fahrul memakai pakaiannya lalu bergegas pergi. Sesuai pesanan, Fahrul membeli ketoprak yang mangkal di dekat gedung apartemennya. Setelah itu dia memacu kendaraannya menuju rumah orang tua Denis.
Kedatangan Fahrul sudah ditunggu Maira, bukan orangnya tapi ketoprak pesanannya. Bu Sarni segera memindahkan ketoprak ke dalam piring. Fahrul membeli tiga bungkus, masing-masing untuknya, Maira dan juga bu Sarni. Pria itu lalu menarik kursi di samping Maira. Perutnya berbunyi begitu melihat bumbu ketoprak yang begitu menggoda. Namun baru satu suapan masuk ke perutnya, pria itu bergegas menuju kamar mandi. Dia kembali memuntahkan makanan yang baru saja dimakannya. Maira dan bu Sarni hanya saling pandang saja.
Fahrul kembali ke meja makan sambil mengusap perutnya. Bu Sarni bergegas membuatkan teh manis hangat untuk pria itu. Keadaan Fahrul sedikit lebih baik setelah meminum teh manis hangat.
“Mas Fahrul sakit?” tanya bu Sarni.
“Ngga tau bu. Udah seminggu ini kalau pagi sampai jam sepuluh pasti saya bawaannya mual terus. Apa yang saya makan pasti keluar lagi. Saya juga ngga n*fsu makan. Baru kemarin saya makan enak waktu bareng Maira.”
“Kayanya mas Fahrul lagi kena sindrom ibu hamil.”
“Maksudnya?”
“Biasanya kalau ibu hamil tuh suka mabok kalau pagi-pagi. Gejalanya itu mual, muntah, badan lemes, kurang n*fsu makan juga.”
“Nah itu yang saya rasain bu."
“Namanya kehamilan simpatik. Biasanya itu terjadi kalau suami sayang banget sama istrinya sampai dia yang mengalami gejala ngidam gitu. Tapi bisa jadi juga anak yang di dalem perut lagi balas dendam sama bapaknya karena udah nyakitin ibunya.”
Bu Sarni melirik ke arah Maira yang sedari tadi hanya diam saja. Akhir-akhir ini Maira tidak pernah ada keinginan untuk sarapan, tapi berbeda dengan hari ini. Minta dibelikan ketoprak yang di dekat apartemen Fahrul hanya alasan saja. Karena yang diinginkan memakan makanan yang dibelikan suaminya. Begitulah kesimpulan yang bisa ditarik oleh bu Sarni. Karena dia juga pernah mengalami hal serupa.
“Coba sekarang mas Fahrul minta maaf dulu sama anaknya. Siapa tahu keadaannya bisa lebih baik.”
Walau terdengar konyol, tapi Fahrul tetap mencobanya. Dia berlutut di depan Maira. Tangannya meraba perut sang istri yang belum berubah bentuknya. Dada Maira berdesir saat merasakan sentuhan tangan Fahrul.
“Maafkan aku, Mai. Selama menjadi suamimu, aku hanya menyakitimu saja. Maafkan papa nak, kamu hadir dengan cara yang tak diinginkan oleh mamamu. Tapi papa janji, tidak akan mengulangi kesalahan yang sama. Dan akan menjadi ayah yang baik untukmu, ayah yang bisa kamu banggakan nantinya. Tolong bantu papa agar mama mau memaafkan papa.”
Fahrul mencium perut Maira, tangisnya seketika pecah mengingat semua kesalahan yang dilakukannya pada sang istri. Mata Maira nampak berkaca-kaca, dengan gerakan pelan dia menyusut air di sudut matanya. Bu Sarni memilih pergi, meninggalkan pasangan tersebut, untuk memberi waktu pada keduanya.
🍂🍂🍂
Waktu sudah pukul sepuluh malam, namun Maira masih belum bisa memejamkan matanya. Tubuhnya terus berbalik ke kanan dan kiri. Matanya sudah memberat namun tetap tak bisa terpejam. Akhirnya wanita itu bangun dari tidurnya, dia memutuskan untuk meminum air hangat. Siapa tahu saja bisa membantunya tertidur.
Maira terkejut melihat bu Sarni yang belum pulang. Wanita itu masih menonton siaran televisi. Melihat Maira, bu Sarni segera menghampirinya.
“Neng Mai belum tidur?”
“Ngga bisa tidur bu.”
“Kenapa?”
“Ngga tau. Aku mau minum air hangat atau susu, siapa tahu bisa tidur habis itu.”
“Sebentar ibu buatkan susu.”
Bu Sarni pergi ke dapur lalu membuatkan susu hamil untuk Maira. Tak berapa lama dia kembali dengan segelas susu di kamarnya. Maira langsung meneguk susu hingga tak bersisa. Bukannya mengantuk, justru rasa kantuknya malah hilang.
“Kok aku jadi ngga ngantuk.”
“Mungkin dede bayinya pengen tidur sama papanya.”
“Ah bu Sarni jangan aneh-aneh deh.”
“Ibu juga dulu gitu. Walau lagi gedeg setengah mati sama suami, tapi namanya bawaan bayi, justru malah pengen nempel terus. Coba ditelpon mas Fahrulnya. Ibu yang telpon ya.”
“Ngga usah bu.”
“Ibu tahu neng masih marah sama mas Fahrul. Tapi neng jangan egois, sekarang ada calon anak yang membutuhkan perhatian bapaknya. Coba mengalah neng.”
Akhirnya Maira menyetujui saran bu Sarni, tapi dia meminta bu Sarni saja yang menghubungi Fahrul. Wanita itu segera menghubungi Fahrul. Dia hanya mengatakan kalau Fahrul harus ke rumah tanpa mengatakan alasannya. Bu Sarni ingin tahu apa pria itu benar peduli pada Maira.
Takut terjadi sesuatu pada Maira, Fahrul segera pergi setelah mendapat telepon dari bu Sarni. Pria itu mengemudikan kendaraannya dengan kecepatan tinggi. Untungnya lalu lintas mulai lengang dan Fahrul tak menemui hambatan untuk segera sampai di kediaman orang tua Denis.
Senyum bu Sarni terbit begitu mendengar suara mesin mobil berhenti di depan rumah. Bergegas dia segera membukakan pintu karena yakin Fahrul yang datang. Dengan wajah panik, Fahrul turun dari mobil lalu segera menghampiri bu Sarni.
“Mai kenapa bu? Dia baik-baik aja kan?”
“Iya mas. Dia cuma ngga bisa tidur. Mungkin dede bayinya pengen tidur sama ayahnya.”
“Hah??”
“Udah sana masuk. Ibu pulang dulu ya.”
Bu Sarni mendorong Fahrul masuk ke dalam rumah. Kemudian wanita itu melangkahkan kakinya pulang menuju rumahnya yang tak terlalu jauh. Fahrul masuk ke dalam rumah lalu mengunci pintu. Dilihatnya Maira tidak ada di ruangan, dengan memberanikan diri, Fahrul mengetuk pintu kamar lalu membukanya. Nampak sang istri tengah berbaring di kasur.
“Mai..” panggil Fahrul.
“Hmm..”
“Bu Sarni bilang kamu ngga bisa tidur.”
“Hmm..”
“Mau kutemani?”
“Hmm..”
Fahrul berjalan mendekat ke kasur, kemudian dia mengambil bantal juga guling lalu menaruhnya di lantai. Pria itu memilih tidur di lantai, takut kalau Maira masih belum mengijinkannya tidur seranjang. Fahrul lalu mengambil sajadah untuk alasnya berbaring. Maira terus memperhatikan apa yang dilakukan suaminya.
“Kenapa tidur di bawah? Ternyata sampai sekarang kamu masih belum mau tidur satu ranjang dengan istrimu,” dengan kesal Maira membalikkan tubuhnya membelakangi Fahrul.
“Bu.. bukan begitu Mai. Aku takut kamu ngga nyaman tidur seranjang denganku.”
“Tidur di sini!! Anakmu yang menginginkan tidur denganmu, bukan aku!”
Fahrul tercenung sejenak, namun setelahnya dengan cepat dia naik ke atas kasur. Kesempatan seperti ini tak boleh dilewatkan begitu saja. Dalam hati dia mengucapkan terima kasih pada anaknya yang masih sebesar kacang polong. Dengan gerakan pelan Fahrul naik ke atas kasur lalu membaringkan tubuhnya di samping Maira.
“Anak kita mau tidur sambil dipeluk papanya ngga?”
“Ngga ya? Ya udah tidur aja,” lanjut Fahrul setelah melihat tatapan Maira yang seperti Suzanna.
Fahrul mencoba memejamkan matanya. Dia tidur dengan posisi telentang. Diliriknya Maira yang sudah tertidur. Diam-diam dia tersenyum, dibalik kesusahannya mengalami morning sick, ada berkah terselubung juga. Pria itu terkejut ketika tiba-tiba Maira memeluknya. Pelan-pelan dia mengubah posisi tidurnya, mengangkat sedikit kepala Maira agar dia bisa merentangkan tangannya. Direbahkan kembali kepala Maira ke atas lengannya, kemudian dipeluknya tubuh sang istri. Dengan gerakan lembut, dia mendaratkan ciuman di puncak kepala sang istri.
🍂🍂🍂
Waduh si bahlul tokcer juga ya, sekali tusuk langsung jadi🤣
Nick keduluan nih, cebongnya si Nick nyangkut di mana yak🤣🤣🤣