
***
SMAN 45 JAKARTA
Kaila masih di dalam kelas masih setia dengan beberapa buku tepatnya jam istirahat, semangatnya sama sekali tak terganggu dan berhenti belajar karena buku olimpiade hilang digantikan oleh beberapa buku pengganti, dan sedikit tenang karena dia sudah melaporkan sikap Reva kepada pa Bakri.
Dengan wajah Reva yang terus di tekuk karena Kaila sama sekali tak goyah apalagi menyerah, sampai-sampai Reva bingung harus berbuat apa agar Kaila menyerah dari olimpiade.
" Reva Kaila kalian berdua di panggil sama pa Bakri di ruangannya" Panggil salah satu teman sekelasnya memanggil Reva untuk pergi ke ruangan pa Bakri.
Dengan wajah santai dan juga membersihkan beberapa buku di meja kemudian memasukannya ke dalam tas, Kaila bergegas menuju ke arah ruangan pa Bakri. berbanding terbalik dengan Kaila Reva malah menekuk wajahnya ia sudah bisa menebak jika Kaila saingannya itu telah melaporkan perbuatannya.
Di ruangan pa Bakri.
Reva kaget karena melihat sang ayah telah duduk di bersama dengan pa Bakri dan juga beberapa guru kesiswaan tak lupa dengan kepala sekolah yang siap untuk menindak akan kelakuan Reva dan yang pasti tak hanya Reva dan Kaila Saras dan juga Shella yang ikut terbawa dalam kasus ini. Seketika tangan Reva bergetar ia menunduk takut jika Kaila menemukan bukti kelakuannya itu lalu ia duduk tepat di hadapan pa Bakri begitupun dengan Kaila.
" Baik bapa seperti yang sudah saya katakan sebelumnya, saya sangat prihatin dengan kelakuan yang di perbuat oleh Reva karena saat tahu betul jika Reva merupakan salah satu anak yang berprestasi di sekolah ini tetapi setelah saya melihat CCTV saya kaget akan kelakuan anak bapa ini" jelas pa Bakri, dengan Reva yang bertanya-tanya apa jangan-jangan saat dirinya mengurung Kaila di toilet terekam? bagiamana ini jika ayahnya memarahi habis-habisan saat tiba di rumah? Reva tak bisa berkata apapun karena bukti CCTV di tampilkan di layar dengan Kaila yang terus memperhatikan pembicaraan.
" selain perlakuan yang dilakuan Reva sudah menjadi bullying apalagi saat ini Reva telah mengambil buku olimpiade milik Kaila yang di ambil oleh Reva berserta teman-temannya, saya tidak tahu pasti kenapa Reva melakukan hal tersebut jadi saya butuh penjelas dari Reva, silahkan Reva bapa butuh penjelasan kamu" sambung pa Bakri meminta Reva untuk menjelaskan maksud dari perilakunya yang kurang baik pada Kaila.
Tubuh Reva bergetar dengan terus memainkan kakinya tak tahu harus menjawab apa, jika ia jujur sudah pasti ia akan di marahi oleh ayahnya itu tapi jika ia bohong pasti Kaila akan meminta bantuan pada Dira dan bukti pun sudah ada jelas jika itu dirinya.
" Reva" Panggil pa Bakri lagi untuk pada Reva agar menjelaskan motif akan kelakuannya, Reva melihat ke arah sang ayah seakan ayahnya itu memberikan kode untuk segera berbicara, Reva menarik nafas dalam untuk menjelaskan semuanya hingga akhirnya angkat bicara.
" Saya iri pada Kaila pa" hanya kalimat yang keluar dari Reva yang tak mampu menjelaskan jika dirinya kesal terus-terusan di pojokan sang ayah untuk mengalahkan Reva harga diri ayahnya akan hancur jika mengatakan hal tersebut.
" kenapa kamu harus iri pada Kaila ?"
" maaf atas perlakuan saya pa" Tak menjawab pertanyaan pa Bakri dia hanya menyesali perbuatanya itu yang walaupun di dalam hatinya ia sangat marah pada Kaila karena telah merusak nama baiknya di sekolah.
***
Kaila hanya bisa diam melihat Reva yang sepertinya ia tahu jika Reva saat ini tengah ketakutan.
" apakah kamu janji tidak akan berbuat hal itu lagi pada Kaila atau siapapun?" tanya pa Bakri pada Reva yang tengah gemetar akan tatapan tajam dari ayahnya itu.
" iya pa saya janji"
" Kaila apakah kamu memaafkan Reva"
" Saya memaafkan Reva pa, tetapi saya minta buku olimpiade untuk di kembalikan" Kaila meminta Reva untuk mengembalikan bukunya, namun Reva sama sekali tak melihat ke arah Kaila ia terus-menerus menunduk dengan kaki yang terus ia goyangkan.
" permisi pa ini bukunya" Manager Hardi ayah dari Reva masuk kedalam ruangan tersebut membawa buku olimpiade yang diambil oleh Reva, Kaila langsung menerima buku tersebut dan tersenyum mengucapkan terimakasih karena bukunya telah di kembalikan.
" Tetapi karena Reva sudah melakukan hal yang sudah keterlaluan dan membahayakan nyawa untuk itu saya akan memberikan skors pada Reva dan juga kedua temannya selama tiga hari, saya harap itu bisa membuat Reva berpikir dan berubah sebelum nantinya Reva bertindak jauh dari ini" pa Bakri memberikan skorsing pada Reva karena ulahnya mungkin karena hukuman ini Reva akan terus di marahi oleh sang ayah karena telah berperilaku yang membuat nama baiknya tercoreng. tak lupa Saras dan juga Shella terkena imbasnya.
" terima kasih bapa, saya akan menasehati kalo begitu saya pamit" Hardi ayah dari Reva bangun dari duduknya setelah mendengar hukuman yang di terima oleh Reva lalu keluar setelah bersalam kepada pa Bakri dan juga kepala sekolah kemudian meninggalkan ruangan itu diikuti oleh sang manager.
Begitupun Reva beserta temanya keluar dari ruangan kesiswaan, meninggalkan Kaila yang masih ada di hadapan pa Bakri karena menyuruhnya untuk tidak meninggalkan ruangan tersebut karena ada sesuatu yang harus di bicarakan.
" Kaila mulai hari ini guru pembimbing yang akan mengajarkan kamu setelah pulang sekolah" ucap pa Bakri pada Kaila jika akan ada guru pembimbing yang akan mendampinginya belajar tentunya dengan di beri jawaban ekspresi wajah Kaila yang senang karena ia mendapatkan guru pembimbing tapi sekaligus bingung bagiamana cara membagi waktu agar dia bisa belajar setelah pulang sekolah sedangkan saat ini setelah pulang sekolah ia harus pergi bekerja.
" kenapa kamu diam?"
" Saya senang pa jika saya di berikan guru pembimbing tapi saya bingung"
" Bingung kenapa?"
" Saya bingung bagaimana cara membagi waktu"
" memangnya setelah pulang sekolah kamu kemana, apa ada urusan?"
" saya harus bekerja paruh waktu pa sampai jam 10 untuk membantu kedua orang tua saya"
" bekerja dimana?"
" di cafe pa jadi pelayan"
" Bagaimana jika kamu bilang sama bos di tempat kerjamu jika kamu akan ada olimpiade dan kamu akan masuk bekerja setelah bimbingan selesai, lagi pula tidak akan tiap hari untuk bimbingan"
" baik kalo begitu pa, tapi saya tidak bisa untuk hari ini karena saya akan berbicara terlebih dahulu pada bos saya pa"
" kenapa tidak lewat telepon saja"
" saya tidak memiliki ponsel pa"
" baiklah kalo begitu senyaman kamu saja asal hari H nanti kamu sudah benar-benar siap" pa Bakri sedikit memberi kelonggaran dan saran pada Kaila, Kaila berterima kasih karena pa Bakri mengerti akan kehidupannya itu lalu berpamitan pergi menuju kelas.
***
jangan lupa like komen dan vote ya gengs tambahin ke favorit juga ya oke, sampai ketemu di cerita selanjutnya oke gengs.
vote yang banyak ya