
Markas Deni
Jovan di ikat tangan dan kakinya, dengan mata yang di tutup oleh kain, Jovan terus berteriak meminta tolong, tapi percuma saja ia berteriak tidak akan ada yang menolongnya, Bimo pun mendekati Jovan dan membuka penutup matanya, Jovan kaget ketika melihat sekertaris sekaligus asisten Deni tersebut.
" Kenapa kaget?" Ucap Bimo sambil terus menyesap rokoknya.
" Mau apa kamu?" Jovan terlihat begitu ketakutan ketika dirinya di sekap oleh Bimo, ketika mereka berbincan Deni masuk dan langsung menghampiri Jovan.
" Kamu akan balas semuanya Jovan" Deni terus menatap tajam ke arah Jovan, terlihat sekali ketakukan Jovan oleh Deni, Deni menyunggingkan senyuman.
" Apa maksud kamu Deni" teriak Jovan pada Deni, berani sekali ia menyebut namanya dulu Jovan selalu memanggil tuan padanya tapi liat betapa beraninya dia, pikir Deni.
" Berani kamu sekarang heh" Deni sangat kesal melihat wajah Jovan sehingga dia benar ingin menghabisinya tanpa ampun.
" Aku tidak melakukan apapun terhadap keluargamu" belum juga Deni bertanya apa yang di lakukan Jovan terhadap almarhum istrinya tapi Jovan malah membela diri dan mengelak dengan perbuatannya.
" Kamu pikir saya bodoh, saya tau kamu yang menghasut almarhum istri saya iya kan"
" Menghasut? Wanita gelapmu itulah yang telah menghasut dan memprovokasi istrimu" Jovan mengulangi perkataan Deni.
" Apa maksudmu?" Deni mengernyitkan dahinya tak mengerti maksud dari perkataan Jovan.
Jovan menceritakan semua rencana yang dulu ia rencana bersama Amel.
Flashback on
Amel menghampiri istri Deni di rumah Deni, ia langsung masuk tanpa permisi sama sekali dan langsung mencarinya.
" Ada apa kamu kemari?" Ucap istri Deni yang muncul dari halaman belakang rumahnya. istri Deni itu bernama Mira.
" Sebaiknya kamu pergi dari sini" Amel terus terang niatnya.
" Apa maksudmu?" Mira semakin tak mengerti dari perkataan Amel, ia tahu siapa Amel tapi ia sama sekali tidak ada niat untuk memisahkan sang suami dengan Amel, karena ia tahu suaminya sangat mencintai Amel, jadi ia akan membiarkan suaminya lah yang melepaskan Amel.
" Yah, kamu tahu lah Deni lebih mencintaiku dan kamu istri yang tak pernah di cintai" Amel menyunggingkan senyumannya, Mira terus menatap Amel yang sedang berbicara, ia hanya bisa membuang nafas kasar perkataan Amel itu ada benarnya juga.
" Terus apa mau mu?" Tanya Mira, dan menyilangkan kedua tangannya di depan dada.
" Sekarang ini aku sedang mengandung anak Deni, jadi aku harap kamu pergi saja dari kehidupan Deni, kita akan segera menikah" Amel merasa puas mengatakan itu semua pada istri Deni, Mira yang mendengar itu hatinya sakit seperti di tusuk-tusuk, ternyata suaminya benar-benar tak mencintai dirinya, ia pikir setelah kehadiran Dira Deni akan berubah tapi ternyata salah Deni malah semakin menjadi-jadi.
" Pergi kamu sekarang" usir istri Deni pada Amel, Amel pun menyunggingkan senyumannya merasa dirinya telah menang dan berhasil menghasut Mira ersebut, dengan mengatakan bahwa dirinya berpura-pura hamil, ia tinggal tunggu saja apa yang akan di lakukan Mira tersebut.
Flashback off
" Sialan, Bimo tutup lagi mulutnya dan sekap dia jangan sampai dia kabur" ucap Deni pada Bimo, Bimo pun menganggukan kepalanya menuruti perkataan dari Deni, Jovan yang akan di ikat terus menggoyang-goyangkan badannya untuk menghindari Bimo, Deni keluar dengan muka yang memerah karena telah mendengar cerita dari Jovan tapi ia juga tidak bisa percaya begitu saja pada Jovan pasalnya dia adalah orang yang telah mengkhianatinya dan bisa jadi itu hanya untuk membebaskan dirinya.
" maafkan aku Mira, aku menyesal" Deni mengemudikan mobilnya menuju makan dimana Mira sang istri di makamkan, Deni pun turun dari mobil dan membeli buket bunga untuk menaruhnya di makam sang istri, ia berjalan menuju makam Mira, tak membutuhkan waktu lama Deni pun sampai di depan makam sang istri dan berjongkok.
Deni mengelus batu nisan Mira, tak terasa air matanya mengalir begitu menyesal dirinya telah menelantarkan istri sebaik Mira, dan lebih memilih kekasih gelapnya itu, Deni sekarang merasakan penderitaan yang dulu di alami oleh Mira mungkin dia selalu memendamnya sendiri, Deni memeluk batu nisan Mira.
" Aku janji akan selalu menjaga Dira" ucap Deni sambil mengusap air matanya, dan meletakan bunga yang di belinya tadi.
" aku pamit Mira, maaf untuk semuanya" Deni pun beranjak pergi dari makam Mira dan menuju mobilnya meninggalkan pemakaman tersebut.
Deni masih di selimuti rasa penyesalan yang amat dalam, semuanya sudah terlanjur dan Mira sudah meninggalkan dirinya.
Deni pun berinisiatif untuk menelepon sang ibu untuk mendengar cerita Mira, mungkin Mira selalu menceritakan pada sang ibu, Deni tak berani datang ke rumah sang ibu karena ia telah di ancam oleh sang ayah untuk tidak datang terlebih dahulu ke rumahnya sebelum menyelesaikan urusannya, Deni dan Mira menikah karena sebuah perjodohan, Deni tidak pernah di setujui untuk menikah dengan Amel, karena Ayah Deni sudah tahu kelakuan busuk Amel.
"halo, ada apa?" ucap sang ibu di serbang telepon.
" mah aku mau ketemu di restoran biasa"
" baiklah, mamah akan kesana untuk menemuimu"
Deni pun menutup sambungan teleponnya dan langsung melajukan mobilnya menuju restoran yang biasa di datangi oleh keluarga Pangestu.
1 jam kemudian Deni sampai di restoran tersebut, sambil menunggu kedatangan sang ibu ia langsung memesan makanan, tak beberapa lama sang ibu datang dan langsung duduk di hadapan Deni.
" ada apa kamu memanggil mamah kemari" ucap sang ibu to the point, Deni pun menghela nafas mempersiapkan pertanyaan yang akan ditanyakannya pada sang ibu.
" apa Mira pernah bercerita sesuatu pada mamah?" Deni memberanikan diri dan menatap wajah sang ibu dengan sangat serius.
" kamu baru menanyakan hal itu sekarang" ucap sang ibu dan memalingkan wajahnya dari sang anak.
" maaf Deni baru menanyakan soal hal ini" Deni memasang wajah penyesalannya dan mengusap wajahnya kasar.
" Mira tidak pernah bercerita banyak pada mamah, tapi dia selalu bilang bahwa ia akan mempertahankan rumah tangganya dan akan membuat kamu jatuh cinta padanya" sang ibu meneteskan air matanya karena ia tahu sesekali Mira menangis sendiri menahan semua rasa sakit yang di berikan oleh anaknya, Deni melihat sendu ke arah sang ibu dan terus mendengarkan cerita dari sang ibu.
" mamah selalu memaksa dia untuk bercerita, tapi sepertinya Mira tidak mau membagi rasa sedihnya itu ia pendam sendiri Deni" dengan terus sesegukkan sang ibu menceritakan itu semua.
memang yah penyesalan itu selalu datang di akhir, dan semuanya sudah terlambat untuk di lakukan, nasi sudah menjadi bubur
👋👋*hai-hai up nih, jangan lupa like, komen dan vote
sampai ketemu di episode selanjutnya.
ig@its_qilass