
Mereka pun sampai di sebuah mall, mereka berjalan berdampingan semakin dekat layaknya seorang anak dan ayah lalu memutuskan untuk makan di salah satu restoran, memesan beberapa makanan.
" Dira maafkan papah yang dulu ya" kata Deni meminta maaf dengan penuh perasaan, Dira pun tersenyum pada sang ayah dengan memegang tangannya.
" Iya pah Dira udah maafin papah" jawab Dira, Deni tersenyum pada Dira, ia sangat bahagia hubungannya dengan sang anak semakin membaik.
" Dira bolehkah papah tau apakah kamu punya hubungan lebih dengan Aldi?"
" iya pah, aku dengan Aldi sekarang pacaran"
" syukurlah, papah percaya pada Aldi dia itu orang yang sangat baik persis dengan om Raka ya walaupun sedikit menjengkelkan.. haha"
" hahaha papah benar Aldi juga seperti itu"
" ya pastinya buah gak akan jatuh jauh dari pohonnya"
" tapi kayaknya Aldi jauh lebih pecicilan di banding dengan om Raka"
" kayanya sama deh"
Anak dan ayah pun bercerita kesana kemari, mengisi semua waktu yang hilang dulu, dengan sesekali tawa yang mereka buat, setelah itu makanan sampai mereka langsung memakannya, beberapa saat setelah makan mereka berkeliling mall kembali membelikan barang yang Dira mau, walaupun sang ayah akan membelikan apa yang anaknya mau tapi Dira tak membeli di luar kebutuhannya yang memanfaatkan kesempatan, Dira membeli beberapa kebutuhannya setelah itu Deni mengajak Dira ke suatu tempat, entah kemana yang pasti saat ini mereka berhenti di salah satu cafe dengan tema stoberi serta di dalamnya beberapa tanaman stoberi.
Dira yang sangat menggemari apapun yang berbau stroberi matanya berbinar senang karena sang ayah mengajaknya ke tempat tersebut.
" aku suka banget pah"
" papah baca di buku harian mamah, katanya kamu suka banget sama stroberi jadi papah bawa kamu ke cafe ini"
" makasih papah" ucap Dira lalu melihat-lihat buah stroberi yang nampak segar dan besar, mereka duduk di kursi dengan lukisan buah stroberi, semuanya benar-benar bertemakan stroberi dengan cat yang di padukan dengan warna putih.
Beberapa menu pun mereka pesan, Deni senang sekali melihat ekspresi Dira yang berubah seratus derajat pasalnya saat bertemu dengan atau Deni menyapa anaknya itu pasti Dira memberinya dengan tanpa ekspresi, senyuman Dira yang sangat manis mengingatkan dirinya akan almarhum sang istri yang persis sekali dengan Dira.
" Dira kamu mau beli tanaman stoberi untuk di rumah?" tanya Deni.
" aku mau pah, tapi bagaimana jika aku tak bisa merawatnya"
" tenang aja nanti akan papah Carikan tukang kebun yang pandai dengan buah stroberi"
" beneran pah"
" iya"
" makasih papah"
Perlahan Deni mengetahui semua yang di sukai Dira dari buku harian sang istri, betapa detail istrinya itu menuliskan semua perkembangan Dira mulai dari kecil hingga akhirnya dia meninggalkan Dira, lagi-lagi ia menyesali dirinya, telah menyia-nyiakan istri sebaik itu tapi apalah daya semua yang berkaitan dengan istrinya sudah terjadi dan tak akan bisa ia tebus dengan memperbaikinya, namun yang hanya bisa ia lakukan mendekatkan diri dengan sang anak, mempelajari semua sifat yang di miliki Dira saat ini, yang tentunya pasti dia tahu betapa keras sifat Dira seperti dirinya, Deni tersenyum pada Dira.