
" jadi selama ini Mira tidak pernah bercerita semuanya pada mamah" mendengar itu penyesal terus menghantui Deni, kenapa baru sekarang dirinya menanyakan soal Mira, dan kenapa baru sekarang ia perhatian dengannya?, Air matanya pun tak terasa lolos dari matanya, menyesali semua perbuatan yang dilakukannya terhadap sang istri.
" Coba kamu cari Buku harian Mira, pada saat itu ibu tak sengaja mempergoki Mira sedang menulis buku hariannya" ucap sang ibu, Deni pun langsung beranjak dari duduknya menghapus air matanya, dan berpamitan pada sang ibu untuk pulang mencari buku harian sang istri, Deni pun menuju parkiran dan mengendarai mobilnya membelah jalanan ibu kota menuju rumah.
Hanya butuh waktu 30 menit, Deni sampai di rumahnya dan langsung masuk ke dalam kamar untuk mencari buku harian sang istri, pasalnya dulu Mira sering sekali mencurahkan semua isi hatinya pada buku harian tersebut, ia tidak mau membebani orang terdekatnya dengan rasa sakit yang ia rasakan, begitu baiknya Mira sampai memikirkan hati orang di sekitarnya, ia selalu memendamnya sendiri, dan jika ia bercerita pasti Deni akan di marahi, ia tak mau itu terjadi, Mira yakin bahwa Deni akan berubah suatu saat nanti.
Deni terus mencari di setiap sudut ruangan tersebut tapi hasilnya nihil ia tidak menemukan buku tersebut dimana pun, sampai pada akhirnya Deni melirik laci di dekat ranjang yang belum ia periksa, Deni pun mendekatinya dan membuka laci tersebut, benar saja ia menemukan buku tulis berwarna coklat dengan gembok yang masih terkunci, Deni pun mencari dimana kunci dari gembok tersebut tapi sayang ia tidak menemukan kuncinya dimana pun. Deni frustasi, apakah sebaiknya ia menghancurkan gembok tersebut, tapi bagaimana jika buku itu ikut rusak, Deni terus mengacak-ngacak rambutnya frustasi.
Deni mengambil ponsel untuk menelpon sang ibu siapa tahu sang ibu mengetahui dimana kunci dari buku harian tersebut.
" halo mah"
" ada apa Deni, apakah kamu sudah menemukan buku harian Mira?" ucap sang ibu penasaran di sebrang telepon.
" sudah mah, hanya saja buku hariannya di kunci"
" kenapa tidak dibuka, kuncinya adakan?"
" justru itu mah, Deni tidak menemukanya dimana pun Deni pikir mamah tahu dimana kuncinya" ucap Deni dengan nada frustasi.
" tidak, kenapa kamu tidak hancurkan saja gemboknya" usul sang ibu.
" tadinya Deni juga berpikir seperti itu, tapi Deni takut buku hariannya akan rusak"
" ya sudah, kamu simpan terlebih dahulu buku itu, mamah akan tanyakan pada Dira, siapa tahu Dira tahu dimana kuncinya" saran sang ibu pada Deni, akhirnya Deni pun menuruti perkataan sang ibu dan memutuskan teleponnya, Deni meletakkannya di brangkas tempat ia menyimpan benda penting dan itu artinya buku harian itu juga sama pentingnya.
Rumah besar Pangestu
Nenek Dira baru saja sampai ke rumahnya dengan makanan yang di bawanya dari restoran saat bertemu dengan sang anak, ia pun langsung masuk dan mencari Dira.
" Dira..." panggil sang nenek pada cucunya, ia merasa heran kenapa tadi saat di parkiran rumahnya tidak melihat mobil Rosa, begitupun dengan axcel, pasalnya saat dirinya akan pergi ia menitipkan Dira pada Rosa dan Axcel tapi sekarang kemana Meraka, apakah sudah pulang?.
" iya nek" Dira pun muncul dari kamarnya, dengan rambut yang di Cepol ke atas , dan perban yang merekat di kepalanya.
" kenapa sepi, kemana axcel dan ibunya?" tanya nenek Dira.
" nenek bawa apa?" Dira tak menanyakan dari mana neneknya pergi, lagi pula ia tak mau tau dengan urusan sang nenek mungkin saja tentang arisan, pikirnya.
" nenek bawa makanan dari restoran yang biasa kita makan" ucap sang nenek.
" benarkah, Dira sangat merindukan makanannya nek, apakah Dira boleh memakannya sekarang?" mata Dira berbinar saat mendengar makanan tersebut dari restoran langganannya, sebab satu tahun lamanya ia tak pernah merasakan lagi makanan dari restoran tersebut.
" tentu saja, ayo kita ke meja makan" ajak sang nenek sambil menggandeng tangan Dira dan membawanya ke meja makan, nenek Dira memanggil pelayan di rumah tersebut untuk mengambilkan beberapa piring, setelah pelayan tersebut mengambilkan beberapa piring, Dira dan sang nenek menyantapnya, kakek Dira tidak berada di rumah tadi ia pamit untuk memancing ikan bersama teman-temannya, ya kakek Dira sekarang tidak berkerja ia hanya menikmati hidup hanya sekedar untuk senang-senang dan melihat sang cucu tumbuh besar.
Tak butuh waktu lama akhirnya dira pun selesai, ia merasa sangat kenyang dan terus mengelus perutnya, nenek Dira terus tersenyum melihat Dira yang makan begitu banyak, mata nenek Dira teralihkan oleh kalung yang di kenakan Dira, pasalnya kemarin saat dirinya Menganti baju Dira, ia tak melihat jika Dira memakai kalung, nenek Dira terus memicingkan matanya melihat kalung yang di kenakan Dira.
" ada apa nek?" ucap Dira pada sang nenek karena neneknya menatap begitu tajam pada Dira.
" sejak kapan kamu pakai kalung Dira, perasaan kemarin saat nenek mengganti pakaianmu kamu tidak mengenakan kalung itu" jawab nenek Dira, Dira pun mengeluarkan kalung tersebut yang tertutup sebagian oleh bajunya, betapa kagetnya nenek Dira melihat liontin kalung tersebut.
" oh ini nek, ini kalung pemberian mamah dulu saat akan ke Singapura mamah memberikan kalung ini, kenapa Dira memakai kalung ini karena Dira merasa jika kalung ini bisa menghadirkan sosok mamah" jelas Dira, kalung itu memiliki liontin berbentuk kunci.
" apakah kamu tahu kunci apa itu?" tanya nenek Dira dengan sangat penasaran.
" Dira gak tau jelas sih nek, yang pasti mamah bilang ini adalah kunci bahagianya mamah" Dira tersenyum sendu pada sang nenek, nenek Dira pun langsung memeluk Dira, Dira menerima pelukan sang nenek.
" ya sudah nek Dira masuk ke kamar ya, makasih untuk makanannya" dira melepaskan pelukan sang nenek, dan pergi meninggalkan sang nenek, nenek Dira hanya membalasnya dengan senyuman.
" apakah itu kunci dari buku harian Mira?" gumam nenek Dira, ia menarik nafas berat ketika mendengar perkataan Dira.
๐๐kira-kira bener gak ya kalung yang di pakai Dira adalah kunci dari buku harian Mira? terus ikutin ceritanya ya jangan lupa like, komen dan vote gengs.
sampai jumpa di episode selanjutnya, aku cinta kalian gengs
terus komen ya komen kalian adalah semangatku
ig@its_qilass