
Pagi hari Dira bangun, ia merasa sangat lapar, Dira keluar dari kamarnya dan menuju dapur. Saat menuju dapur dia berpapasan dengan ayahnya.
" Udah mendingan kamu Ra" tanya sang ayah sambil memegang kening Dira, Dira tidak menjawab dan pergi meninggalkan sang ayah, Deni yang melihat sikap Dira seperti itu lagi dia bertekad akan segera menyelesaikan semua salah paham ini.
Dira memang tidak benar-benar membenci ayahnya, sesekali ia juga suka memperhatikan ayahnya dengan sembunyi-sembunyi.
Sampailah Dira di dapur dan ada pembantu rumah tangga yang sedang menyiapkan sarapan untuk Dira dan ayahnya. Semua makanan sudah tertata rapih di meja, Dira mendudukkan bokongnya di kursi disusul ayahnya yang baru saja turun dari kamarnya, Mereka berdua pun sarapan.
Dira dan ayahnya tidak banyak bicara, hanya suara dari piring yang beradu dengan sendok yang di pakai, mereka berdua saling membisu, sampai pada akhirnya ada seorang wanita masuk kedalam rumahnya.
" Selamat pagi Dira" ucap wanita itu, ternyata wanita tersebut adalah Bu Amel, Dira yang melihat Bu Amel seketika selera makannya langsung hilang, dia langsung beranjak dari duduknya, dan berniat kembali masuk ke kamar, tapi niatnya di halangi oleh ayahnya yang menahan Dira untuk duduk kembali, tapi Dira tidak menurut dia tetap melanjutkan niatnya, lagi pula badannya masih terasa lemas.
" Dira, papah mau bicara sama kamu" ucap Deni dengan menatap punggung Dira yang ingin menaiki tangga. Dira yang mendengar itu langsung membalikan badannya dia akan memberi kesempatan ayahnya untuk berbicara.
" Kamu duduk dulu sini" ucap Deni, Dira pun kembali ke tempat duduknya, sedangkan Bu Amel duduk di sebelah ayahnya, Dira yang melihat itu merasa sangat geram, pasalnya itu mengingatkan dia akan kejadian dulu. Dira memasang muka dengan sangat geram dia ingin sekali pergi dari tempat itu tapi tadi dia berjanji pada dirinya untuk memberikan ayahnya berbicara.
"Dira" ucap Deni memanggil Dira
" Apa"
" Papa mau jelasin sesuatu ke kamu"
" Terus"
" Sebenernya papa dan Bu Amel itu udah pacaran sebelum menikah dengan mamah kamu" ucap Deni dengan sangat berhati-hati agar Dira tidak salah paham lagi. Dira kaget tak percaya semakin marah lah Dira. Dira tidak menjawab dia hanya menyapa tajam pada Bu Amel.
" terus kalo misalkan papah udah pacaran sama dia sebelum sama mamah kenapa emang?" jawab dira dengan sangat ketus
" Papah sama bu Amel gak di restuin sama orang tua papah alias nenek dan kakek kamu"
" Pantes ga di ijin sama nenek dan kakek, orang dia wanita murahan" ucap Dira dengan menatap ke arah Bu amel, Bu Amel hanya membuang nafas dengan berat dan membiarkan Deni yang menjelaskan.
" Jaga ucapan kamu Dira, papah gak cinta sama mamah kamu dira" bentak Deni
" Kalo emang papah gak cinta sama mamah yah paling enggak ngehormatin mamah sebagai istri papah, Jelas mamah lebih terhormat dari pada wanita j***** ini" ucap Dira dan menunjukkan jari telunjuknya ke arah Bu Amel.
" DIRA" bentak Deni dengan sangat keras.
" Liat sikap papah barusan, papah berani-beraninya bentak Dira dan membela wanita j***** itu, bahkan mamahpun ga pernah bentak Dira" ucap Dira dengan sedikit membentak, Dira membendung air matanya agar tidak lolos dari matanya, muka Dira memerah hatinya sangat sesak ingin sekali dia berteriak melepaskan semua beban ini.
" Dasar wanita j***** ga tau malu"
PLAKKK...
Deni menampar Dira dengan sangat keras, di pipi dira sekarang tercap tangan ayahnya.
" Papah berani-beraninya nampar Dira" ucap Dira sambil melototkan matanya yang kini air matanya turun ke pipinya, itu mengingatkan dia ketika ibunya di tampar dan kali ini terjadi sama dirinya.
" Oh saya tau kamu hanya mau harta dia kan heh iya kan" ucap Dira dengan sesegukkan hatinya sangat sakit sekali, ayah yang dia kagumi dulu kini sudah berubah. Kini Dira tidak menyebut deni dengan kata papah lagi melainkan dia, dia sakit hati dengan perlakuan ayahnya
" Jaga omongan kamu Dira" ucap Deni. Bu Amel menahan Deni agar dia tidak bertindak sesuatu lagi terhadap Dira. Gagal sudah penjelasan Deni kepada Dira, dira hatinya sekeras batu tidak mudah untuk meluluhkannya, hatinya terlanjur mengeras.
" Terserah kalian mau apa yang jelas gue benci sama kalian berdua" ucap Dira meninggalkan ayahnya dan Bu amel, Dira menaiki tangga menuju ke kamarnya dengan Isak tangis dan dada yang sangat sakit dengan perlakuan ayahnya. Saat dira ingin kembali ke kamarnya tiba-tiba kepalanya terasa berat tatapan matanyanya kabur perlahan gelap, akhirnya tubuh Dira tersungkur ke lantai tangga, tubuh Dira berguling ke bawah tangga sampai di lantai dasar dengan darah yang keluar dari hidung dan kepala Dira, mungkin Dira terbentur, Deni yang melihat Dira terjatuh dari tangga langsung mengangkat tubuh Dira dan membawanya menuju mobil untuk dibawa ke rumah sakit, Deni menangis melihat kepala Dira di penuhi dengan darah.
Sedangkan Bu Amel dia mengikuti deni, Deni tidak bisa mengemudi karena dirinya sedang memeluk dira dan takut kehilangan Dira, jadi Bu amel yang mengambil alih untuk mengemudi.
Sampailah mereka di rumah sakit, Dira langsung di bawa ke UGD, Deni tidak berhenti menangis dan menyesali perbuatannya. Dia tersungkur ke lantai ketika Dira di ruangan UGD, Bu Amel yang melihat itu merasa sedih dan membenarkan perkataan Dira, dia merasa bersalah, karena keluarga Deni hancur ulah dirinya, tapi Bu Amel tidak mau kehilangan Deni lagi, Deni adalah cinta pertama bu amel, dengan keegoisannya Bu Amel malah masuk ke dalam rumah tangga Deni, walaupun sebenarnya ibu Dira lah yang orang ketiga.
Deni terus menangis dengan tangan memeluk kakinya dia sangat-sangat menyesal dan takut kejadian yang menimpa almarhum istrinya terjadi kepada Dira.
" Tenang semuanya akan baik-baik saja" ucap Bu Amel.
" Aku gak mau kehilangan Dira Mel" ucapnya dengan sangat prustasi.
" Dira akan baik-baik aja" ucap Bu Amel menenangkan Deni dan memeluknya.
" Baru aja tadi malem Dira aku peluk Mel, aku gak mau kehilangan Dira mel, dia satu-satunya semangat hidupku" ucap Deni melepaskan pelukan Bu Amel, Bu Amel yang mendengar itu merasa kasihan, hubungan anak dan ayahnya retak gara-gara dirinya
" udah kamu tenangin diri kamu dulu ya"
Deni sangat-sangat prustasi dengan keadaan Dira sekarang, walaupun sikap Dira begitu dingin padanya, setidaknya dia masih bisa melihat Dira dengan badan yang sehat. Deni meraih ponsel di sakunya dan menelpon seseorang.
😊hai-hai gengs terus ikutin ceritanya ya author akan terus berusaha supaya ceritanya ga boring dan ga ngebosenin, jangan lupa like, komen, vote dan tambahkan ke favorit buat kalian yang belum, Sampai jumpa di next episode👋
Ig author@it_qilass bye bye