
Setelah makan bersama di rumah Aldi, Dira langsung pulang di antar oleh Aldi, Aldi sesekali terus menatap Dira dari kaca spion, tak butuh waktu lama akhirnya sampai di depan rumah Dira.
" yah udah sampe" kata Aldi yang kecewa karena tak terasa sudah sampai di depan rumah Dira, Dira tersenyum pada Aldi karena melihat ekspresi Aldi.
" besok kan kita ketemu lagi di sekolah"
" ah andaikan kamu dan aku sudah menikah pasti kita takkan akan tinggal terpisah seperti ini"
" hahaha sudahlah mending sekarang kamu pulang oke nanti kita bisa teleponan"
" oke deh, sampai jumpa di telepon tuan putri" ucap Aldi lalu melajukan motornya meninggalkan rumah Dira, Dira pun masuk melihat mobil sang ayah yang terparkir, Dira masuk dan tak menghiraukan sang ayah yang duduk di ruang tamu.
" Dira kemarilah" panggil Deni pada Dira yang berjalan begitu saja melewatinya, tanpa menjawab Dira langsung mendekati sang ayah dengan wajah datarnya tanpa ekspresi.
" duduklah dulu" ucap Deni pada sang ayah, Dira pun duduk berhadapan dengan sang ayah, tadinya Deni mengharapakan jika Dira akan duduk di sampingnya tapi mungkin Dira belum sepenuhnya memaafkan Deni, Deni hanya bisa membuang nafas kasar.
" apakah kamu masih belum memaafkan papah?" tanya Deni berat pada Dira pasalnya Deni masih merasa jika Dira jauh darinya, tak berani membukakan diri pada Deni.
" aku sudah memaafkan papah" jawab Dira dengan wajah biasa saja.
" tapi kenapa kamu seperti menjaga jarak dengan papah"
" aku belum terbiasa"
" papah memaklumi itu, tapi bisakah kamu menceritakan keluh kesahmu pada papah sehingga papah tahu apa yang kamu rasakan saat ini"
" aku akan mencobanya" ujar Dira lalu berdiri dari duduknya dan pergi naik untuk menuju ke kamar, sedangkan Deni terus menatap punggung Dira yang masuk ke dalam kamar, Deni tak bisa menyalahkan Dira yang tak menceritakan keluh kesahnya, tapi ini semua gara-gara dirinya yang terlalu jauh dengan Dira sehingga Dira enggan untuk bercerita padanya.
Di dalam kamar Dira.
Dira terus menatap foto keluarga, dengan dirinya yang masih kecil di pangkuan sang ibu yang tersenyum lebar dengan nampak dua gigi, Dira terus menatap foto keluarganya itu mengingat semua kenangan bersama sang ibu, tak terasa air matanya turun Dira tak bisa menampik jika saat ini dia sangat merindukan sang ibu, dari arah pintu Deni masuk ia melihat Dira yang sedang menatap foto, lalu menghampirinya dan memeluk Dira.
" ada papah di sini nak sekarang papah akan selalu ada denganmu" kata Deni pada Dira yang menangis di dekapannya, Deni memeluk Dira dengan sangat erat ia juga ikut menangis mengingat perlakuan dirinya pada almarhum sang istri.
" papah Dira kangen mamah"
" Dira tenang yah ada papah yang akan gantiin mamah"
Dira terus menangis mengingat semua yang pernah dilakukan dengan sang ibu, tapi saat ia mengingat ketika ayahnya mengkhianati ibunya dan membuat ibunya meninggal Dira langsung melepaskan pelukan Deni dan menyuruh Deni untuk keluar dari kamarnya, Deni menerima semua perlakuan Dira padanya, ia juga membenci dirinya sendiri menyesal telah meluluskan itu semua.
Di kamar, Dira masih terus menangis bayagan ayahnya yang mengkhianati sang ibu serta wanita yang menghancurkan keluarganya mulai teringat kembali dengan jelas ia terus menangi dengan memanggil ibunya sampai Dira tertidur.
" mamah, Dira kangen" panggil Dira yang ternyata sang ibulah yang membangunkannya.
" mamah juga kangen sama anak mamah yang cantik ini"
" mamah jangan tinggalin Dira"
" mamah akan selalu bersamamu sayang"
" benarkah?"
" iya"
" mamah jangan pergi ya aku gak mau ditinggal"
Dira yang tertidur bermimpi sang ibu sayang kedalam mimpi, ia sangat senang ibunya datang bibirnya terus tersenyum.
" kan ada papah sayang"
" aku benci papah mah, aku mau mamah"
" tidak boleh seperti itu nak, bagaimana pun juga itu adalah papahmu"
" tapi papah udah jahat sama mamah"
" gapapa ini adalah jalan takdir mamah sayang, jadi kamu harus bisa memaafkan papah"
" aku sudah memaafkan papah, tapi setiap aku melihat papah kejadian itu selalu melintas di pikiranku"
" kamu harus memaafkannya dengan sepenuh hati ya mamah pergi dulu"
" mah, mamah jangan tinggalin Dira" teriak Dira kemudian bangun dari tidurnya dan kembali menangis.
" mah aku masih merindukan mamah" air matanya kembali berlinang, tapi di sisi lain ia senang bisa bertemu dengan sang ibu walau hanya di dalam mimpi, Dira yang masih mengenakan pakaian sekolah melihat ke arah jam menunjukan pukul 9 malam, Dira mengusap air matanya memikirkan semua perkataan sang ibu dalam mimpi lalu bergegas mandi karena tubuhnya terasa lengket tidak nyaman.
Dira turun kelantai bawah untuk minum, karena di kamarnya persediaan air minum sudah habis, ia bertemu dengan sang ayah yang tengah mengotak-ngatik laptopnya di ruang tv, ia berjalan menuju dapur, mengambil gelas lalu mengisinya dengan air dan langsung meneguk air tersebut sampai habis, lalu Dira berinisiatif untuk membuatkan kopi untuk ayahnya yang sedang bekerja di ruang tv, Dira membawakan kopi tersebut pada sang ayah, Deni yang melihat Dira membawakan kopi ia langsung tersenyum pada Dira.
" terima kasih" kata Deni pada Dira sang anak.
" jangan terlalu malam papah bisa sakit sebaiknya cepatlah tidur" jawab Dira lalu kembali naik ke kamarnya, Deni terus tersenyum karena Dira memperhatikannya ya walaupun dengan tanpa ekspresi setidaknya Dira sudah mengkhawatirkannya.