Perfect Partner

Perfect Partner
Kaila



Di sisi lain tepatnya jalanan Kaila sedang berjalan kaki tidak bisa di pungkiri jika kakinya sangat lelah untuk membeli minum ia tidak punya, akhirnya setelah berjalan cukup jauh Kaila sampai di depan rumahnya ia langsung masuk di sambut oleh kedua orang tuanya dan langsung minum sepuasnya, dengan tarikan nafas yang sangat tersengkal-sengkal.


" pelan-pelan" ucap sang ibu yang melihat putrinya kelelahan, setelah minum Kaila memperlihatkan deretan giginya yang sangat rapi pada sang ibu.


" maafin ayah nak, kalo kaki ayah tidak lumpuh seperti ini" ucap sang ayah dengan kaki kiri yang lumpuh karena suatu kejadian, meminta maaf pada Kaila karena membuat Kaila harus berjalan pulang dari sekolah.


" ga papa ayah, biar aku sehat" jawab Kaila yang tak mau terlihat mengeluh di depan ayahnya.


" kamu mandi setelah itu kamu makan ya nak" kata sang ibu pada Kaila, Kaila kemudian masuk kedalam rumah yang begitu sederhana hidupnya sama sekali tak berkecukupan bahkan ia jarang di beri uang jajan oleh sang ayah, ibunya hanya seorang kuli cuci dan setrika pakaian jika ada tetangga yang menyuruh. Tapi Kaila sama sekali tak mengeluh akan hal itu, justru ia bahagia bisa hadir di tengah-tengah keluarga yang menyayanginya ya walaupun semua yang di mau harus ia tahan karena sadar akan keadaan.


Kaila menaruh tas di balik pintu mengambil handuk lalu keluar kamar tak lupa membawa baju ganti dan masuk ke dalam kamar mandi, setelah mandi dengan rambut yang diikat handuk karena basah ia duduk di meja makan yang sederhana, membuka tudung saji yang terlihat hanya ada tempe dan satu piring nasi di dalamnya. saat melihat itu Kaila memikirkan apakah orang tuanya sudah makan atau belum, karena ia hanya melihat sepiring nasi dan tiga tempe goreng yang ada di sana.


Ibunya pun bergabung dengan dirinya di meja makan, dan menatap lekat pada sang ibu seakan bertanya apakah ibunya itu sudah makan atau belum.


" ibu udah makan nak, sekarang makanlah" kata sang ibu yang tau akan perkataan yang tersembunyi di hati Kaila.


" Bener Bu?"


" iya"


Kemudian Kaila pun langsung memakan nasi itu sedikit demi sedikit, setelah tiga kali suapan.


" Kaila kenyang Bu"


" baru sedikit nak, ayo habiskan"


" Kaila udah makan tadi bu di sekolah"


" dapat uang dari mana kamu?"


" tadi ada seorang teman yang mentraktirku Bu, karena aku membantu dia mengerjakan pr-nya"


Kaila dengan sengaja berbohong, ia sangat tahu jika ibunya itu belum makan jadi dia hanya memakan itu tiga suapan dan sisanya untuk sang ibu, jika ayahnya sudah di pastikan makan mungkin nasinya hanya cukup untuk berdua jadi ibu Kaila mengalah untuk Kaila dan juga suaminya.


" Bu Kaila masuk dulu ya, mau belajar"


" iya"


Kaila masuk ke dalam kamarnya dengan tersenyum pada sang ibu ketika ibunya memakan makanannya, di dalam kamar Kaila langsung mengeluarkan buku pelajaran Ari dalam tasnya untuk ia bahas ulang, saat menuju perjalanan tadi ada seseorang yang sedang membagikan selembaran poster yang berisi tentang lowongan pekerjaan.


Kaila langsung menatap poster itu, persyaratannya hanya seorang wanita yang bisa membersikan piring dan juga ruangan, apalagi jam kerjanya setelah ia pulang sekolah, itu adalah kesempatan yang sangat bagus untuk dirinya, jika ia bekerja di sana ia bisa membantu biaya hidup kedua orang tuannya.


" oke besok aku datang aja ke cafe ini" kata Kaila dengan menatap poster tersebut serta bibir yang melengkung, Kaila memiliki mata bulat dengan tubuh yang tak mungil serta penampilan yang seadanya, jika di sekolah Kaila memiliki penampilan yang sangat rapih, ya tidak bisa di pungkiri jika dia adalah seorang ketua OSIS di sekolahnya.


Di mall


Dira dan juga Aldi sudah selesai bermain-main di tangan Dira terdapat boneka kodok yang di dapat Aldi tadi serta mereka juga mengambil beberapa foto di fotobox, di akhiri dengan senyuman dan tawa yang sangat bahagia mereka pulang dengan rasa bahagia di hato masing-masing, karena waktu juga sudah mulai malam jadi mereka berdua memutuskan untuk pulang.


Tepat di depan rumah Dira yang megah dengan dua penjaga tepat di depan gerbangnya ia turun.


" yah pulang deh kamu" ucap Aldi pada Dira seakan tak rela jika berpisah dengan Dira.


" besok ketemu lagi di"


" mau sama kamu terus"


Dengan dua penjaga memperhatikan mereka berdua tapi mereka berdua gak memperdulikannya.


" malu di" kata Dira.


" sakit Ra"


" tau ah" Dira langsung pergi melangkah kedalam rumah.


" tunggu" panggil Aldi pada Dira yang akan melangkah masuk kedalam pagar, Dira pun berbalik para penjaga tak berani menghentikan mereka berdua karena tahu siapa Aldi.


" apa lagi"


" kamu gak lupa?"


" apa?"


" selamat malem putri cantikku jangan lupa mimpiin aku" kata Aldi dengan wajah yang penuh ekspresi seakan menurutnya lucu, Dira menahan tawa dan jantung yang berdebar senang.


" udah?"


" kok gitu sih jawabnya"


" ya terus?"


" gak peka"


" apa?, to the point"


" malam juga pangeran gitu kek"


" malam juga pangeran kodok" jawab Dira tanpa ekspresi.


" mana senyumnya?"


" ulang gitu?"


" iya lah kalo engga aku gak mau pulang"


" selamat malam pangeran kodok" kata Dira mengulang lagi dengan senyum lebar pada Aldi dan juga menjulurkan boneka kodok pada Aldi.


" kamu peluk ya bonekanya biar mimpiin aku"


" ih"


" siapa tau aja pangeran kodok berubah jadi pangeran Cinderella"


" kalo gak berubah?"


" kamu harus cium aku" bisi Aldi pada telinga Dira, ekspresi Dira langsung berubah ketika Aldi mengatakan itu.


" nanti kalo udah sah baru boleh" tambah Aldi lagi.


" ya udah aku pulang ya semoga tidur nyenyak tuan putri" kata Aldi sambil menyalakan mesin motornya dan pergi dari depan rumah Dira, setelah Aldi pulang Dira langsung masuk kedalam rumah dan seorang pembantu datang menghampirinya.


" non"


" iya"


" tadi tuan berpesan pada saya untuk memberikan ini pada non" kata sang pembantu menjulurkan sebuah kunci sebuah motor, Dira langsung menerima dan tanpa bertanya lebih lanjut ia langsung naik ke kamarnya. sang pembantu memaklumi sikap Dira yang seperti itu.


Di sisi lain dari layar laptop Deni memperhatikan gerak-gerik Dira yang nampak senang kunci motornya di kembalikan.