
Deni dan anak buahnya membawa Amel di satu tempat yang jauh dari pusat kota, Amel pun di biar duduk di lantai dengan tangan dan kaki yang diikat, Deni tidak segan-segan menghukum siapa saja orang yang telah berani mengusik ketenangannya apalagi menyangkut sang anak, Amel pun perlahan membuka matanya dan melihat sekitar tempat yang sama sekali ia tak tahu dimana.
" Sudah sadar kamu heh" ucap Deni dengan memegang dagu Amel, Amel pun merasa ketakutan dengan sikap Deni yang seperti itu, dulu Deni tidak pernah sekasar ini pada dirinya.
" Kenapa takut?" Tanya Deni dengan menatap tajam pada Amel, Amel malah menghilangkan rasa takutnya dan malah menatap tajam pada Deni, Deni yang melihat Amel seperti itu langsung menyunggingkan senyumannya.
" Sekarang jawab, dimana kamu sembunyikan Dira?" Tanya Deni dengan sedikit kasar pada Amel, tapi lagi-lagi Amel tidak menjawab perkataan Dira.
" Jadi kamu gak akan jawab ya" ucap Deni sambil melepaskan dagu Amel dengan sangat kasar.
" aku gak akan kasih tau kamu dimana Dira" tantang Amel dengan wajah menatap tajam pada Deni, Deni pun merasa sangat kesal karena Amel berani sekali dengan dirinya, batas kesabaran Deni hampir habis tapi ia tidak mau langsung berbuat gegabah.
" Saya tanya baik-baik sekali lagi dimana kamu sembunyikan anak saya"
" Aku gak akan kasih tahu kamu sebelum kamu kembali dengan aku"
" Kamu ga waras yah heh, saya sudah bilang hubungan kita sudah berakhir" tegas Deni pada Amel, Amel pun tertawa dengan sangat keras.
" Hahahaha....., Ok kalau begitu jangan harap Dira bisa pulang dengan selamat" ancam Amel.
" Kamu pikir saya bodoh heh, sebelum Dira kamu apa-apakan, jangan harap kamu juga akan pulang dengan selamat" ancam balik Deni pada Amel.
" Itu jauh lebih bagus karena aku akan mati di tangan kamu, dan anak kamu akan mati di tangan anak buahku, jadi kita impas Dira gak akan sama kamu begitu pun aku" ucap Amel dengan menatap muka Deni, Deni begitu geram dengan perkataan Amel barusan, orang ini benar-benar sudah tidak waras, pikirnya.
" Ambil ponselnya, kita lacak anak buah yang nyekap dira" merasa tidak ada gunanya lagi berbicara dengan Amel, Deni pun menyuruh Bimo untuk mengambil ponsel Amel dan melacak keberadaan anak buahnya, tadinya ia akan melacak melalui ponsel Dira tapi saya ia tidak memiliki nomer Dira, karena Dira enggan untuk memberikan nomor ponselnya pada sang ayah, Bimo pun memerintahkan bawahannya untuk melacak anak buah dari Amel, Amel yang tahu Deni akan melacak keberadaan anak buahnya pun langsung kembali tertawa.
" Hahahaha....., Percuma kamu gak akan bisa melacak dari ponsel itu" celetuk Amel, dengan tangan dan kaki yang masih terikat dilantai, Deni tidak menggubris perkataan Amel ia terus menyuruh anak buahnya untuk melacak nomor tersebut.
" Maaf tuan tidak ada nomor siapapun di ponsel ini" ucap anak buahnya yang di tugasnya untuk melacak nomor tersebut, ternyata perkataan Amel barusan benar, Deni tidak akan bisa melacak nomor anak buah Amel dari ponsel tersebut, emosi Deni semakin memuncak ia pun memerintahkan anak buahnya untuk menyekap Amel di ruangan yang kosong, Deni dan Bimo dengan beberapa anak buahnya langsung meninggalkan tempat tersebut.
Tempat Dira di sekap.
Disisi lain Dira sudah sadar dari obat biusnya tapi ia pura-pura masih memejamkan mata untuk merencanakan sesuatu, Dira melihat disekelilingnya terdapat banyak bangku dan meja dengan sedikit penerangan di atas kepalanya, ia melihat beberapa penjaga yang menjaga dirinya entah siapa yang menyuruhnya untuk menyekap dirinya.
Dira melihat tumpukan bangku di samping tempatnya, Dira sama sekali tidak diikat ia di biarkan begitu saja oleh seseorang yang menculiknya, Dira pun menendang bangku tersebut hingga terjatuh dan menimbulkan suara kegaduhan yang mengundang beberapa penjaga yang menghampirinya, Dira pun langsung menutup kembali matanya saat penjaga itu datang, Dira melihat wajah penjaga tersebut tapi sayang itu bukan orang yang dulu axcel perintah, tapi apa mungkin ini kelakuan axcel, atau jangan-jangan ini kelakuan Bu Amel, pikirnya.
Dira melihat empat penjaga yang menjaga dirinya, ia pun langsung mencari tas sekolah yang ia bawa, Dira melihat tak itu di geletakan begitu saja di lantai yang tidak jauh dari Dira, Dira langsung mencari alat yang di berikan sang kakek.
Flashback on
" Buat jaga-jaga aja" ucap sang kakek pada Dira dan mengelus-ngelus kepala Dira, Dira pun berpamitan pada sang kakek untuk pergi ke sekolah, Dira memasukan alat tersebut ke dalam tasnya. Mungkin saja kakek Dira tahu apa yang akan terjadi sama Dira, dan berpikir jika mantan kekasih ayahnya itu tidak akan diam saja, apalagi ia juga tahu jika dulu yang membuat rumah tangga anaknya hancur itu mantan kekasih anaknya
" Semoga kamu selalu dilindungi Dira" ucap sang kakek dan pergi menuju ke kamarnya.
Flashback off
Dira mengambil alat tersebut dan menggendong lagi tas sekolahnya, Dira langsung berjalan dengan sangat santai menuju penjaga-penjaga tersebut, karena kini ia memiliki alat pelindung untuk dirinya, penjaga tersebut langsung berjaga-jaga ketika Dira menghampirinya.
" Minggir" ucap Dira pada penjaga tersebut, walaupun di hatinya ada sedikit rasa takut untuk menghadapi para penjaga yang berbadan kekar ini, tapi Dira memberanikan Dira agar bisa lolos dari tempat tersebut.
" Kamu gak boleh keluar dari sini" ucap salah satu penjaga tersebut, Dira menyunggingkan senyumannya ia pu langsung mendorong badan penjaga tersebut balok kayu yang ada di lantai, tentunya tidak begitu saja Dira langsung meninju bagian sensitifnya, penjaga itu pun langsung tersungkur kesakitan, penjaga lainnya pun datang dan menyerang Dira, Dira yang memiliki kemampuan bela diri langsung melawan para penjaga tersebut dan di bantu oleh alat yang di berikan oleh sang kakek, dira terus meninju para penjaga tersebut, Dira melihat tali tambang berwarna coklat disana sontak ia langsung meraihnya dan memutar-mutar kan tali tambang tersebut di atas sesekali ia mengarahkan pada para penjaga tersebut, para penjaga itu di penuhi dengan luka lebam yang diberiakan oleh Dira melalui tali tambang tersebut, ada juga yang pingsan karena Dira mencambuknya di bagian kepala kini tinggal satu penjaga lagi yang harus Dira hadapi tanpa berpikir panjang saat penjaga itu mendekati Dira ia langsung menancapkan pisau tepat di bagian dada penjaga tersebut, darah mengenai baju seragam Dira, Dira pun langsung berlalu keluar dari tempat tersebut.
Tapi sayang saat keluar ia sama sekali tidak tahu dimana dirinya, Dira saat ini berada di sebuah hutan dengan pohon yang sangat menjulang tinggi, Dira langsung mengeluarkan ponselnya ia pikir mungkin ini hutan yang tak jauh dari kota, ponsel yang Dira nyalakan sama sekali tidak ada sinyal, samar-samar Dira mendengar suara gergaji mesin yang mungkin ada orang yang sedang memotong pohon, Dira pun mendekati arah suara tersebut.
" Maaf pa apakah bapa tahu kemana menuju jalan raya?" Tanya Dira pada bapak yang sedang menebang pohon tersebut, bapa tersebut memperhatikan penampilan dira yang begitu lusuh, mungkin ia tersesat.
" Memangnya kamu dari mana?" Tanya bapa tersebut pada Dira.
" Mmm... Saya habis di culik pa, saya harus pulang" ucap Dira berterus terang pada bapak tersebut, rekan kerjanya yang berada di sana pun menghampiri Dira.
" Memangnya kamu orang mana?" Tanya salah satu rekan bapak penebang pohon.
" Saya orang Jakarta pa" jawab Dira pada orang tersebut, bapak-bapak penebang pohon pun kaget yang mendengar jika Dira dari Jakarta, pasalnya saat ini Dira tengah ada di Bandung.
" Waduh kasihan sekali, kamu mau ikut kami dan kebetulan kami akan bawa kayu-kayu ini ke Jakarta" ucap bapak penebang pohon, Dira merasa bingung memang sekarang dirinya ada dimana, apakah bukan di Jakarta.
" Memangnya sekarang saya ada di mana pa?" Tanya Dira yang begitu penasaran.
" Sekarang kamu lagi ada di Bandung"
" Apa Bandung" Dira membelalakkan matanya bisa-bisanya dia dibawa sampai Bandung, dan untung saja dirinya bertemu dengan bapak yang menebang pohon.
" Iya, kamu mau ikut bapak ke Jakarta dan lagi pula ini sudah mau malam gak baik anak gadis pulang sendirian di tengah hutan gini" ucap bapak tersebut, Dira pun menganggukan kepalanya dan ikut bersama bapak penebang pohon tersebut.
👋👋hai-hai gengs sampai sini ya,jangan lupa like, komen dan vote, sampai jumpa di episode selanjutnya ya bye
ig@its_qilass