
Saat ini Bu Amel sedang menyusun rencana untuk membalas rasa sakitnya kepada keluarga Pangestu, entah rencana apa yang akan di rencanakan Bu Amel yang pasti dia tidak akan membuat kehidupan keluarga Pangestu tenang.
" tunggu tanggal mainnya Deni Pangestu" ucap bu Amel menatap foto dirinya dan Deni ayah dari Dira.
Rumah sakit Citra Medika
Dira sudah menghabiskan browniesnya, sedangkan Rosa, Aldi, nenek dan kakek Dira sedang berbincang-bincang, Ada seorang dokter masuk ketika mereka sedang berbincang.
" selamat sore dira" ucap dokter itu pada Dira, Dira hanya menjawabnya dengan senyuman, dokter itupun memeriksa keadaan Dira dan melihat perban yang terpasang di kepala Dira.
" Bagaimana keadaan cucu saya dok" ucap sang kakek kepada dokter.
" kondisi Dira mulai membaik, panasnya juga mulai turun, besok Dira sudah boleh pulang, nanti malam saya akan mengganti perbannya"
" baiklah saya permisi dulu" ucapnya lagi dan berlalu keluar dari ruangan rawat Dira.
" syukurlah nak kamu sudah baikkan" ucap Rosa pada Dira sambil mengelus pipi Dira, Dira hanya membalasnya dengan senyuman, ia merasa sosok ibunya hadir, saat Rosa mengelus pipinya.
" Dira Tante pamit ya nanti malem, Tante kesini lagi sama om Raka" ucap Rosa berpamitan, tak lupa menyalami nenek dan kakek dira, rosa pun melangkah keluar dari ruangan Dira.
" Loe gak pulang juga" ucap Dira pada Aldi.
" loe ngusir gue, ya udah gue pulang aja deh" ucap Aldi dengan memasang muka sedihnya dan melangkah menuju pintu.
" sana pulang sana" ucap Dira sambil menahan tawanya, sedangkan nenek dan kakek Dira hanya menggelengkan kepalanya melihat kelakuan cucunya dengan Aldi.
" Dira bener nih loe ngusir gue" ucap Aldi dengan memasang muka yang memelas pada Aldi.
" hahahhaaaaa......" tawa Dira pecah dia tak sanggup melihat Aldi yang memasang muka melasnya itu.
" ko loe ketawa sih" ucap Aldi dan kembali menghampiri Dira.
" abisnya muka melas Lo itu bikin gue jijik tau ga"
" jahat banget sih loe" ucap Aldi sambil memasang muka yang cemberut.
" hahahaha..." Dira kembali tertawa, nenek dan kakek Dira pun ikut tertawa karena kelakuan sang cucu yang begitu usil, nenek Dira tersenyum senang karena melihat Dira tertawa seperti itu.
saat mereka semua tertawa bersama seseorang masuk ke dalam ruangan Dira, seseorang itu yang tak lain adalah ayah Dira, Dira yang sedang tertawa pun seketika langsung berhenti karena melihat sang ayah yang masuk ke dalam ruangannya, dan mereka semua berhenti dari tertawannya.
" bagaimana keadaan kamu nak" ucap Deni dan mengelus pipi Dira, tapi tangan Deni di tepis oleh Dira, Dira langsung menyembunyikan tubuhnya di balik selimut, ia tidak mau melihat wajah sang ayah.
Kakek Dira pun langsung membawa anaknya itu keluar, Deni pun mengikuti ayahnya keluar.
" pah Deni mau lihat Dira doang" ucap Deni dengan memasang muka memohonya.
" papah gak larang kamu buat ketemu Dira, tapi papah tolong untuk saat ini kamu biarin Dira tenang dulu" ucap kakek Dira pada anaknya itu.
" tapi pah Deni mau tau kondisi Dira" ucap Deni masih memasang muka memohonya.
" tapi pah"
" gak ada tapi-tapian"
" kondisi Dira gimana pah?" tanya Deni kepada sang ayah, Deni sangat mencemaskan kondisi Dira.
" seperti yang kamu liat tadi, kondisi Dira mulai membaik dan besok Dira boleh pulang"
" syukurlah kalo begitu" ucap Deni sangat bersyukur karena kondisi Dira mulai membaik apalagi besok Dira di perbolehkan untuk pulang.
" besok Dira pulangnya ke rumah papah aja" ucap kakek Dira pada anaknya Deni.
" tapi pah"
" papah gak mau Dira kenapa-kenapa jika tinggal sama kamu"
" Deni janji gak akan lakuin hal yang sama lagi"
" papah janji akan kembalikan Dira jika kamu sudah benar-benar berubah" ucap kakek Dira dan berlalu masuk ke dalam ruangan Dira, Deni saat ini sangat frustasi karena ayahnya tidak mengijinkan dirinya bertemu dengan Dira, ia menyadari kenapa sikap ayahnya seperti itu.
Deni berlalu pergi meninggalkan rumah sakit, ia memberikan ruang untuk Dira menenangkan diri, dan membiarkan Dira untuk tinggal sementara bersama kedua orang tuanya, kali ini dirinya tidak mau egois lagi dan bertindak gegabah.
pada saat Deni menuju parkiran rumah sakit, tiba-tiba hpnya berdering, ia pun merogoh sakunya, dan tertera nama Amel.
" ada apa" jawab Deni dengan sangat ketus kepada Bu Amel.
" santai-santai Deni" ucap Bu Amel di sebrang telepon.
" mau apa kamu telepon saya, kita sudah tidak ada hubungan apa-apa lagi"
" aku nelpon kamu, karena aku kangen kamu"
" kalo gak ada yang di bicarakan saya tutup telponnya" ucap deni.
" dengar ini, aku gak akan biarin keluarga kamu hidup dengan tentram" ucap Bu Amel di sebrang telepon, dan langsung memutuskan sambungan telponnya.
" halo Amel, Amel" ucap Deni pada telpon yang sudah di putuskan oleh Bu amel, Deni sangat marah dengan perkataan Bu Amel barusan, apa yang akan di lakukan Amel, apakah Amel akan balas dendam, pikir Deni.
Deni pun langsung menuju mobilnya, dan menjalankan mobilnya lalu pergi meninggalkan parkiran rumah sakit, Deni melajukan mobilnya ke arah rumah Bu Amel.
👋👋hai-hai gengs aku up lagi walaupun badanku masih kurang sehat, tapi karena komen kalian sangat menyemangati author jadi author berusaha terus up, dan jangan lupa like, komen, dan vote.
sampai jumpa di episode selanjutnya dan terus ikutin ceritanya ya
ig@its_qilass