
Rumah Axcel
Di ruangan musik Axcel sedang bermain piano dengan wajah yang tak dapat di artikan, semakin lama irama piano pun semakin cepat Axcel seperti melampiaskan semuanya pada piano itu dan akhirnya ia mengakhiri bermain piano tersebut, perutnya terasa lapar ia pun pergi menuju dapur untuk makan, makanan sudah tertata rapih di meja di siapkan oleh pelayan yang ada di rumah tersebut, Axcel pun duduk di bangku yang biasa ia duduki saat makan, Axcel mengambil makanan tersebut dan memakannya.
" Hallo byyyyy" Stella datang pada saat axcel sedang makan, seketika selera makan Axcel pun hilang ia langsung menghentikan makannya.
" Byy aku makan bareng sama kamu ya" Axcel benar-benar tidak tahan dengan semua sikap Stella, apalagi ia tidak mencintai Stella, Axcel tidak bergeming sama sekali terus memperhatikan Stella yang mulai duduk bergabung di meja makan.
" Ayo makan byy"
" Cukup Stella" Stella langsung menatap wajah Axcel.
" Ada apa byy"
" Sebaiknya loe pergi dari sini" ucap Axcel, seketika wajah Stella berubah jadi masam.
" Kamu ngusir aku, aku akan bilang sama papah buat berhentikan kontrak itu"
" Gue muak dengan semua sikap loe, loe selalu ngegunain kekuasaan loe buat dapetin semuanya yang loe mau" Axcel mengungkapkan semua unek-unek yang selama ini ia pendam dan tak berani untuk di ungkapkan, karena jujur saja Axcel sudah lelah ia tak peduli jika nanti ayahnya memarahinya dan perusahaan sang ayah bangkrut.
" Dan gak semua yang loe suka, loe bisa ngedapetinya dengan uang termasuk gue perasaan gue gak bisa loe tukar dengan kontrak itu"
" Jangan munafik kamu, emangnya kamu mau jika nantinya kamu jatuh miskin, aku akan benar-benar bilang pada papah buat batalin semua kontraknya" air mata Stella pun jatuh, Stella menangis sejadi-jadinya.
" Gue gak peduli" axcel meninggalkan Stella dan pergi menuju kamarnya untuk mengambil kunci motor dan jaketnya, axcel keluar sudah berpakaian rapih sekolah ia melirik tajam pada Stella yang sedang menangis, Axcel tak pedulu sama sekali ia keluar mengahampiri motornya lalu pergi meninggalkan pekarangan rumahnya, entah kemana axcel akan pergi.
Di meja makan Stella berdiri dari duduknya dan pergi meninggalkan rumah tersebut dengan air mata yang masih membanjiri pipinya, ia sakit hati dengan semua perkataan yang di ucapkan axcel, ia tidak akan segan-segan bilang pada sang ayah untuk membatalkan kontrak dengan ayah axcel.
Rumah Deni
Saat ini ia tengah menatap buku harian sang istri yang di pegang oleh tangannya, ia benar-benar penasaran apa isi dari buku harian istrinya tersebut, semoga saja Aldi bisa membujuk Dira untuk memberikan kalung tersebut padanya.
Deni terus merasa menyesali semua perbuatannya, semuanya benar-benar sudah terlambat. Ia pun merebahkan tubuhnya di kasur lalu memejamkan matanya untuk berpikir bagaimana caranya ia bisa membalikkan kepercayaan Dira seperti dulu, apa ia beritahu saja jika ia menemukan buku harian ibunya, pasti Dira akan luluh, tapi bagaimana cara mendekati Dira?. Ia memutuskan akan menunggu terlebih dahulu apakah Aldi akan berhasil atau tidak, saat memikirkan Dira ponsel Deni pun berdering dan menampakan nama Bimo.
" ada apa?" ucap Deni pada Bimo di sebrang telepon.
" tuan Amel pergi dari rumah sakit" Bimo mengatakan jika Amel pergi dari rumah sakit, Deni yang mendengar itu langsung membenarkan tubuhnya menjadi duduk sekaligus marah ketika mendengar Amel pergi dari rumah sakit.
" kenapa bisa lolos heh"
" gak becus, cuman jaga satu perempuan saja kamu tidak bisa pokoknya saya gak mau tahu kamu harus cari dia sampai ketemu" Deni pun memutuskan sambungan telepon tersebut.
" gawat kalo dia kabur, ia pasti melakukan sesuatu pada Dira" gumam Deni, ia pun merasa kesal dan marah lalu membantikan ponsel ke atas kasur dengan sangat kuat.
Di sisi lain Amel sedang berlari meninggalkan menjauhi rumah sakit yang merawatnya, ia berhasil lolos dari rumah sakit tersebut, saat perawat masuk ke dalam ruangan Amel, ia pun langsung menimpuk perawat tersebut dengan tangannya persis di leher sehingga perawat itu pingsan, ia menukar pakaiannya dengan perawat tersebut dan berhasil kabur, begitulah kira-kira.
Dari belakang ada satu mobil yang terus mengklason dengan sangat keras, Amel pun melihat ke belakang dan ternyata itu mobil yang kendarai oleh Bimo, ia terus berlari untuk menghindar dari Bimo. Bimo dan bawahannya turun untuk mengejar Amel yang mengenakan baju perawat tersebut.
" berhenti kamu" ucap Bimo, Amel terus berlari tidak memperdulikan panggilan dari Bimo, sampai pada akhirnya ia masuk ke dalam satu rumah warga yang ada di sana, Bimo kehilangan jejak Amel, ia berdecak kesal pasti tuannya akan marah besar padanya, Bimo terus menyisir darah tersebut pikirnya Amel pasti belum jauh kabur dari tempat tersebut, tapi sayang ia benar-benar kehilangan jejak Amel, Bimo menyuruh bawahannya untuk kembali ke dalam mobil.
Saat di rasa sudah aman Amel pun keluar dari rumah warga tersebut, tapi saat akan keluar ia di pergoki oleh pemilik rumah, pemilik rumah itu merasa curiga jika Amel adalah maling ia pun berteriak pada semua warga yang ada di sana.
" maling ....." teriak warga tersebut, semua warga berhamburan menuju asal teriakan tersebut, Amel berusaha kabur tapi sayang tangannya di cekal oleh salah satu warga.
Bimo yang berada di mobil melihat pada kaca spion, melihat semua warga berhamburan keluar entah ada apa itu pikirnya, ia pun tak memperdulikan itu.
" saya bukan maling" Amel membela dirinya.
" mana ada maling ngaku" jawab salah satu warga tersebut, warga tersebut langsung menggiring Amel ke rumah RT untuk di hakimi, pada saat Amel digiring oleh warga polisi yang sedang berpatroli pun datang melihat ada kejadian apa.
" ada apa ini?" ucap komandan polisi yang sedang berpatroli, semua warga melihat pada seseorang yang barusan berkata dengan seragam yang melekat di tubuhnya, warga langsung tahun jika itu polisi.
" ini pa dia maling di rumah saya" ucap sang pemilik rumah, Amel terus menggelengkan kepalanya dan melihat pada pak polisi tersebut, polisi tersebut melihat penampilan Amel dari atas sampai bawah sepertinya ia pernah melihat tapi dimana.
" tenang dulu semuanya, orang ini akan saya amankan" polis tersebut memerintah polwan yang ikut berpatroli untuk membawa Amel masuk kedalam mobil patroli, semua warga pun di bubarkan.
" Bu saya gak maling Bu, saya hanya menyelamatkan diri"
" kamu jelaskan nanti di kantor" polwan itu memborgol tangan Amel dan membawanya menuju kantor polisi terdekat.
👋👋 hai-hai gengs up nih.
kira-kira kenal gak ya polisi tersebut dengan Amel? terus ikutin ceritanya jangan lupa like, komen dan vote
sampai jumpa di episode selanjutnya ♥️♥️♥️♥️♥️
ig@its_qilass mampir ya