
Bimo menunggu anak buahnya menyelesaikan tugasnya sambil menyesap rokok yang ia bawa, beberapa saat kemudian anak buahnya menghampiri Bimo dan mengatakan bahwa tugasnya sudah selesai, Bimo sangat senang karena Amel sangat tersiksa, dulu ia selalu menahan diri pada Amel saat masih bersama Deni tapi kini Amel telah di buang oleh tuanya. Bimo pun masuk ke dalam ruangan tersebut, Amel tergeletak karena dapat cambukan di leher dan tangannya, ia sama sekali tak berdaya badannya tergeletak di lantai.
" Makanya jangan macam-macam kamu" ucap Bimo pada Amel, Amel tak sanggup membuka matanya untuk melihat Bimo yang berada di depannya, akhirnya Amel tak sadarkan diri setelah di siksa oleh anak buah Deni. Bimo yang melihat Amel memejamkan matanya tersenyum dan berkata.
" Jangan berpura-pura, saya tidak akan termakan oleh aktingmu itu" ucap Bimo berjongkok melihat Amel, ia pun menggoyang-goyangkan badan Amel, Amel pun masih tidak sadarkan diri, Bimo langsung memanggil bawahannya dan memerintahkan untuk membawa Amel ke rumah sakit, bagaimana pun ia hanya di perintahkan untuk melukai Amel sesuai luka yang Dira terima, akhirnya Bimo pun membawa Amel ke rumah sakit.
Rumah Besar Pangestu
Deni baru saja sampai di rumah sang ayah, ia pun langsung turun dari mobil dan masuk kedalam rumah tersebut, Deni melihat orang tuanya sedang sarapan bersama di meja makan, Deni langsung menghampiri dan mendudukkan bokongnya di kursi.
" Tumben kamu kesini?" Ucap sang ayah sambil memakan sarapannya, ibunya hanya melirik Deni sekilas ia masih kesal dengan sikap sang anak yang telah membuat Dira menjadi terluka.
" Aku mau ketemu Dira pah, gimana kondisi Dira?" Ucap Deni menatap pada ayahnya.
" Papah kan sudah bilang kamu jangan khawatir dengan Dira, kamu urus dulu masalahmu itu dan pastikan jangan pernah bawa Dira dalam masalahmu itu" ucap ayahnya sama sekali tidak menatap sang anak.
" Deni sudah selesaikan semuanya pah" ucap Deni menyakinkan sang ayah, ayahnya pun menghentikan aktifitas makannya dan menyapa pada Deni.
" Yakin kamu sudah menyelesaikan masalah kamu?" Jawab ayahnya dengan menatap tajam ke arah Deni, Deni tidak menjawab perkataan ayahnya dia hanya diam dan tak bergeming.
" Jangan bilang asisten kamu yang menyelesaikan semua ini" ucapnya lagi, perkataannya itu membuat Deni langsung diam tak berkutik, bagaimana bisa ayahnya tahu kalo Bimo lah yang mengurus semuanya.
" Tapi pah yang pentingkan aku sudah...." Omongannya terpotong oleh sang ayah.
" Yang punya masalah siapa, yang menyelesaikan masalah siapa, bener-bener gak berubah" ayahnya langsung pergi beranjak dari meja makan dan naik menuju kamarny, saat naik menuju kamarnya ia pun membalikkan badannya.
" O ya jangan berani-beraninya kamu menginjakan kaki kamu ke rumah ini sebelum masalah kamu selesai" ucapnya dan melanjutkan langkahnya.
Deni hanya menarik nafasnya dan beranjak dari duduknya, ia pun tidak berpamitan dengan sang ibu dan langsung pergi begitu saja, ibunya pun hanya menggelengkan kepalanya melihat sikap anaknya yang tidak pernah berubah.
Aldi masuk ke gerbang rumah besar Pangestu dan saat itu juga Aldi melihat mobil Deni pergi dari rumah tersebut, Aldi pun tidak menghiraukan tersebut, ia langsung masuk ke dalam rumah tersebut dengan membawa jinjingan buah-buahan untuk di berikan pada Dira.
" Pagi nek" ucap Aldi pada nenek Dira yang sedang duduk di kursi ruang tamu setelah sarapan dan senyuman yang mengikutinya, nenek Dira pun berdiri ketika melihat Aldi, Aldi memakai pakaian seragamnya mungkin dia mampir dulu ke sini untuk melihat kondisi Dira.
" Nih nek buat Dira, gimana kondisinya sekarang nek?" Tanya Aldi yang penasaran dengan kondisi Dira.
" Masih kurang sehat di, sekarang Dira lagi istirahat ada dikamar kalo kamu mau liat tinggal ke kamar Dira aja" jawab nenek Dira pada Aldi.
" Gak usah nek takut ganggu, Aldi kesini cuman mau tau kondisi Dira sama kasih ini ke nenek" Aldi menyerahkan jinjingan buah yang di bawanya tadi, ia pun berpamitan untuk berangkat ke sekolah, Aldi pun keluar dari rumah tersebut dan menaiki motornya lalu pergi meninggalkan rumah besar Pangestu, Aldi mengendarai motornya menuju sekolah.
SMA NEGERI 45 JAKARTA.
Sampailah Aldi di sekolah, ia pun memarkirkan motornya di parkiran yang biasa ia parkiran motornya, saat hendak turun dari motornya kaki Aldi yang ikut turun mengenai seseorang yang berjalan di belakang motor Aldi, seseorang itu pun langsung tersungkur ke tanah setelah Aldi menyepaknya tidak sengaja, Aldi sadar ia telah menyepak seseorang dengan kakinya spontan ia langsung melihat orang tersebut.
" Loe ga papa?" Aldi merasa sangat bersalah karena orang tersebut terjatuh setelah di sepak olehnya, seseorang tersebut pun berdiri dan menepuk-nepuk bajunya yang kotor, saat orang tersebut melihat mendongakkan wajahnya Aldi pun mengenal seseorang tersebut.
" Loe" Aldi merasa kesal, ia merasa ketika bertemu dengan seseorang tersebut dirinya selalu saja sial, dan ternyata seseorang tersebut adalah Kaila.
" kenapa gue harus ketemu sama Kaka kelas yang nyebelin ini lagi sih" ucap kaila dalam hatinya, ia terus memutarkan bola matanya.
" gue denger ya loe bilang apa" ucap Aldi menatap Kaila, Kaila pun kesal bagaimana Aldi bisa tahu omongannya dalam hati.
" sekarang loe minta maaf sama gue" ucap Aldi pada Kaila, Kaila pun langsung mengernyitkan keningnya, ia yang kena sepak kenapa harus dirinya pula yang minta maaf.
" kenapa harus saya yang minta maaf?" jawab kaila membantah perkataan Aldi, Aldi yang mendengar jawaban dari Kaila dirinya merasa kesal.
" karena gue Kakak kelas loe, jadi loe harus minta maaf" jelas Aldi, tidak mau berdebat lagi dengan Aldi, Kaila pun pergi meninggalkan Aldi.
" Dasar loe ya gak tau tatak rama ya" teriak Aldi pada Kaila, Kaila terus berjalan tanpa mendengarkan Aldi, Aldi pun langsung melangkahkan kakinya menuju kelas.
♥️up lagi nih gengs, jangan lupa like, komen dan vote.
ig@its_qilass