Perfect Partner

Perfect Partner
Buku harian 02



Deni membuka halaman kedua buku harian tersebut, dan langsung membacanya dengan Dira yang memperhatikan dengan seksama pada saat sang ayah membacanya, Deni menitihkan air mata semakin dalam penyesalan yang ia rasakan setelah membaca buku harian sang istri begitu menderita istrinya dulu bahkan istrinya itu selalu menuliskan di akhir tulisannya.


aku percaya suatu hari suamiku pasti berubah.


Begitulah akhir dari semua curhatan yang di tuliskan oleh sang istri, Deni tak sanggup lagi membaca semua penderitaan dan curhatan yang di tuliskan istrinya tersebut Deni menangis memukuli dirinya sendiri dan melukai dirinya sendiri ia sangat-sangat menyesal istrinya selalu berharap cinta darinya dan selalu mengharapkan dirinya berubah, tapi sekarang dirinya sudah berubah dan telah mencintai sang istri tapi apalah daya semuanya sudah terlambat.


Dira yang begitu penasaran dengan isi dari buku harian tersebut langsung mengambilnya dan membaca halaman kedua yang baru saja di baca oleh sang ayah, Dira pun ikut menangis setelah membaca isi dari buku harian tersebut ternyata ibu dan ayahnya di jodohkan dalam pernikahan, ayahnya sama sekali tak mencintai ibunya tapi sang ibu selalu berharap cinta dari sang ayah, Dira terus menangis dan membaca halaman berikutnya Dira tersenyum saat membaca bahwa dirinya di lahirkan halaman tersebut menceritakan semua tentang Dira, tapi betapa perihnya Dira saat membaca.


aku pikir suamiku akan berubah setelah kelahiran anak kita, tapi ternyata dia sama saja masih cuek dan dingin terhadapku walaupun begitu aku masih bersyukur suamiku masih mau memperhatikan anaknya.


Dira menangis histeris, Dira pikir selama ini ayah dan ibunya saling mencintai tapi ternyata tidak hanya sang ibu lah yang mencintai ayahnya tersebut, sampai pada akhirnya Dira membaca pada bagian dimana ibunya sangat sakit hati ketika melihat sang ayah sedang bermesraan dengan wanita lain, seakan rasa sakit yang ibunya rasakan dulu di rasakan juga oleh Dira, wajah Dira memerah air matanya terus membanjiri pipinya, sedangkan sang ayah tertunduk di lantai dan menangis menyesali semuanya, tangannya di lumuri darah karena telah memukuli tembok untuk meluapkan kekesalan yang ia perbuat di masa lalu.


Dira sangat marah pada sang ayah tapi ia menahan emosinya dan terus membaca halaman berikutnya.


wanita itu datang menemuiku dia bilang ia sedang mengandung anak dari suamiku bahkan ia bilang padaku bahwa Meraka akan segera menikah betapa sakit hatiku mendengar semua ini serasa duniaku runtuh keluarga yang selama ini aku bangun, bahkan aku selalu sabar menunggu cinta dari suamiku tapi semuanya hancur suamiku benar-benar tak mencintaiku.


Setelah membaca itu Dira semakin marah pada ayahnya itu dan membanting kan buku harian sang ibu ke depan sang ayah yang sedang tertunduk di lantai, dan menampilkan halaman yang baru saja di baca oleh Dira lantas Deni pun mengambil buku harian itu dan membacanya, ia semakin marah pada dirinya dan juga kebodohannya di masa lalu, ia telah mendapatkan istri yang begitu sempurna api ia malah mengabaikannya demi seorang wanita yang telah menghancurkan keluarganya, sungguh tak pantas untuk di maafkan.


Dira terus menangis merasakan semua isi dari buku tersebut, apalagi ia juga membaca dari buku tersebut bahwa ibunya itu tidak pernah mengeluh sekali pun ia selalu memendamnya sendiri, dan betapa bodoh ayahnya itu telah mendapatkan mutiara tapi malah di tinggalkan dan lebih memilih kerikil di jalanan.


Dira keluar dari kamar sang ayah dan pergi meninggalkan rumah tersebut dengan mata yang tak henti-hentinya menangis, Deni terus membaca satu persatu isi dari buku harian tersebut istrinya benar-benar sempurna bahkan dia sabar mengahadapi semua sikap yang di berikan olehnya Deni berteriak sekeras-kerasnya meluapkan segala emosi dan terus memukuli kepalanya merasa sangat menyesal.


Bimo yang baru saja datang dan mendengar suara teriakan dari kamar tuannya ia pun langsung naik ke lantai atas dan melihat tuannya itu, Bimo melihat Deni sedang memukul-mukul kelasnya dengan darah yang terus mengalir di tangannya, Bimo pun mendekati Deni dan menghentikannya agar Deni tak menyakiti diri sendiri, ia merasa kasihan dengan apa yang di alami oleh tuannya itu tapi apa boleh buat ini semua adalah kelakuannya jadi dia juga harus menerima konsekuensinya.


" tenang tuan" ucap Bimo menenangkan Deni, dengan sifat yang keras kepalanya Deni malah berdiri dan terus memukulkan tangannya pada tembok kamar, kini tembok kamar itu di penuhi oleh darah yang keluar dari tangan Deni.


" bodoh, bodoh kau Deni" lagi-lagi Deni memukuli tubuhnya, Bimo mulai kewalahan dengan sikap Deni yang seperti itu.


" sadar tuan, sadar" akhirnya Deni berhenti dan langsung tersungkur ke lantai tangisannya tak berhenti.


" nasi sudah menjadi bubur" gumam Bimo.


" tenanglah tuan" Bimo pun membawa Deni ke atas kasur dan menelepon dokter untuk mengobati luka di tangan Deni, Deni sedikit tentang tapi wajahnya sedikit murung setelah ia meluapkan semua emosinya tatapan matanya kosong dan terus memeluk buku harian milik istrinya itu.


Dira langsung masuk dengan wajah yang masih memerah dan air mata yang membanjiri pipinya, Dira masuk kedalam kamarnya ia tak menggubris sapaan dari neneknya, nenek Dira merasa bingung dengan sikap Dira apakah ini mengenai anaknya lagi? nenek Dira pun menghampiri kamar Dira dan mengetuknya.


tokk....tokk


tapi Dira tak menggubrisnya sama sekali, malah terdengar teriakkan dari kamar Dira nenek Dira pun semakin khawatir Dira melakukan sesuatu di dalam kamarnya karena melihat emosi Dira yang buruk.


kakek Dira menghampiri istrinya itu dan melihat wajahnya seperti mengkhawatirkan sesuatu.


" ada apa?" tanya kakek Dira sangat penasaran.


" itu aku khawatir dengan Dira" kakek Dira semakin mengernyitkan dahinya tak mengerti maksud dari perkataannya.


" maksudmu"


" tadi Dira baru saja pulang wajahny merah dengan pipi yang di basahi air mata, dan baru saja dia berteriak di dalam kamar aku khawatir terjadi sesuatu"


" tenanglah walaupun Dira memliki sifat yang gegabah seperti anak kita tapi dia selalu berpikir jernih seperti menantu kita dia tidak akan melakukan sesuatu" ucap kakek Dira menenangkan istrinya tersebut, memang benar Dira memiliki sifat gegabah seperti ayahnya tapi sifat ibunya juga turun padanya.


" tapi..."


" sudahlah biarkan Dira menenangkan diri terlebih dahulu, kita jangan mengganggunya" nenek Dira pun menuruti perkataan sang suami ya walaupun masih ada rasa khawatir di dalam hatinya tapi sebisa mungkin ia menuruti perkataan sang suami.


👋👋 hai-hai up nih gengs, inget jangan selalu bertindak gegabah ya jika nantinya tidak mau menyesal dan selalu berpikir dengan tenang.


stay safe guys dan jangan lupa like komen dan vote.


sampai jumpa di episode selanjutnya


love you gengs♥️♥️♥️♥️♥️♥️


ig@its_qilass