
Sampailah mereka di rumah sakit terdekat, Adelia langsung di bawa oleh berangkat menuju UGD dengan Dira yang masih terus terisak tangis melihat Adelia yang memejamkan matanya, dari belakang axcel dan Aldi mengikutinya untuk menemani Dira.
Mereka bertiga menunggu Adelia di periksa oleh dokter, Dira terus terisak tangis dan menyalahkan semua yang terjadi pada dirinya. Dari jauh terlihat ini Adelia yang berjalan dengan sangat cepat dengan otomatis Dira langsung memeluk ibu Adelia dengan sangat erat karena merasa bersalah, ibu Adelia pun ikut menangis bersama Dira.
" Gak papa dira, semuanya akan baik-baik aja" ibu Adelia berusaha tegar di depan teman-teman Adelia padahal di dalam hatinya ia sangat khawatir dengan kondisi sang anak dan takut kehilangannya.
" maaf in Dira tante ini semua salah Dira" Dira terus menyalahkan dirinya, tangisan Dira semakin menjadi.
" udah ya, doain aja semoga Adelia baik-baik aja" ibu Adelia melepaskan pelukannya dari Dira, tak lama dokter yang memeriksa Adelia keluar, semua orang yang ada disana mendekati dokter tersebut untuk mengetahui kabar dari Adelia.
" apakah ada orang tua pasien di sini?"
" saya dok" jawab ibu Adelia, dengan raut wajah yang khawatir.
" pasien akan kami pindahkan ke ruang ICU, dan untuk ibu mari ikut saya"
Dokter pun berjalan meninggalkan ruang UGD dengan berangkat Adelia yang di bawa menuju ruang ICU.
" Del loe harus kuat" Dira semakin terisak tangis ketika melihat Adelia di bawa keruang ICU itu mengingatkannya tentang kejadian sang ibu, kakinya lemas tak mampu ia berjalan nafasnya tak bisa ia atur akhirnya Dira tersungkur ke lantai dengan menangis sejadi-jadinya.
Aldi mendekati Dira tapi sayang ia kalah cepat dengan axcel, axcel langsung mendekati Dira dan memeluknya.
" Adelia pasti baik-baik aja, kamu tenangin diri kamu aja ya"
lagi-lagi Aldi melihat pemandangan yang seperti ini, hatinya sakit sekali Dira sepertinya sangat nyaman diperlukan axcel, ingin sekali ia menyingkirkan axcel dari pelukan Dira, tapi untuk saat ini ia tidak egois mungkin Dira dalam keadaan kalut.
" kamu bisa berdiri?" tanya axcel karena melihat Dira yang begitu lemas, tangisannya berhenti tatapannya kosong.
" Dira"
Aldi menghampiri Dira yang berhenti menangis karena Dira tak menyaut panggilan axcel. saat Aldi mendekat pada Dira, Dira langsung memeluk Aldi dan kembali menangis meluapkan tangisannya, bayangan sang ibu saat meninggal di rumah sakit kembali menghampirinya, ia takut Adelia akan bernasib sama dengan sang ibu.
" loe tenang ya Ra" Aldi mengusap punggung Dira untuk menenangkannya, hati axcel sakit ketika Dira yang terlebih dahulu memeluk Aldi dengan sangat erat.
" gue takut Adel kenapa-kenapa"
" kalo terus nangis kaya gini, Adel juga bakalan sedih mending sekarang kita keruangan ICU ya" Dira berhenti menangis mengikuti perintah Aldi dan berjalan berdampingan, axcel seperti hilang harapan Dira begitu dekat dengan Aldi wajahnya masam melihat Dira dan Aldi berjalan berdampingan.
Di depan ruang ICU terdapat kaca yang besar sehingga dari luar Dira dapat melihat Adelia yang sedang memejamkan matanya dengan alat yang menempel di sekujur tubuhnya, sepertinya kondisi Adelia sangat memburuk, Dira Kemabli meneteskan air matanya.
Ibu Adelia datang mendekati kaca yang terdapat Adelia di dalamnya, ibu adelia tak dapat menahan tangisannya ketika melihat sang anak terbujur seperti itu, apalagi ia baru saja mendengar penjelasan dokter bahwasannya Adelia harus segera di operasi, dan jika Adelia di operasi kemukiman Adelia hidup sangat minim.
Dira kembali memeluk ibu dari Adelia tersebut dan menangis bersama, Adelia yang dulu bawel dan selalu tak mau diam sekarang terbujur lemas di ruang ICU, jika saja Adelia tak mengetahui dirinya berpelukan dengan axcel pasti kejadiannya tidak akan seperti ini, tapi apalah daya semuanya sudah terjadi. Adelia suatu bercerita banyak pada Dira bahwa ia sangat menyukai axcel, dan tadi saat di UKS dirinya baru berjanji jika ia tak akan dekat dengan axcel nasi sudah menjadi bubur, sekarang dira berharap Adelia akan baik-baik saja.
Tapi saat mereka melihat Adelia, tubuh Adelia kejang-kejang ibu Adelia pun kembali menangis begitu pun Dira, Aldi langsung memanggil dokter, dokter datang dengan sangat bergegas dan masuk ke ruangan Adelia, entah apa yang di suntikan oleh dokter sehingga Adelia kembali tenang, menurut penjelasan dokter tadi Adelia tidak hanya mempunyai riwayat penyakit jantung tapi juga dia mempunyai penyakit stif sejak dini, ibu Adelia sudah mengetahui itu, dan itu alasannya kenapa sang suami meninggalkan dirinya dengan Adelia, Dokter keluar, ibu Adelia menghampiri dokter.
" lakukan dok, tapi mohon selamatkan putri saya hanya dia satu-satunya harta yang berharga bagi saya" dengan sesegukkan ibu Adelia menangis meminta pertolongan dokter.
" kita akan selalu berusaha dan buat yang terbaik, untuk hasilnya kita serahkan semuanya pada yang di atas, ibu cukup bantu doa agar operasinya berjalan dengan lancar"
" mari ikut saya Bu untuk isi formulir persetujuan" ucap suster.
ibu Adelia pun mengikuti suster dokter memerintah perawat lainnya untuk menyiapkan ruang operasi dan memanggil dokter spesialis jantung untuk mengoperasi Adelia.
Tak perlu waktu lama Adelia langsung di bawa menuju ruang operasi dengan dira yang terus menangis, dan mengikuti dari belakang menuju ruang operasi.
Adelia masuk ke dalam ruang operasi, ibu Dalei baru saja datang mengisi formulir persetujuan dengan wajah yang sangat khawatir takut terjadi hal buruk pada Adelia.
5 jam berlalu operasi masih belum selesai, mereka berempat menunggu keluarnya dokter sesekali melihat lampu tanda operasi padam, tapi itu tak kunjung padam.
6 jam.....
7 jam....
10 jam berlalu lampu tanda operasi masih belum juga padam, ponsel Dira berdering dan menunjukan nama sang kakek mungkin kakek Dira khawatir dengan keadaan sang cucu.
" halo kek hiks.." dengan terisak sisa tangisan tadi.
" kamu dimana nak"
" Dira di rumah sakit kek"
" sedang apa kamu di rumah sakit, kamu sakit? di rumah sakit mana kakek akan ke sana sekarang"
" bukan Dira yang sakit kek, tapi temen Dira"
" ya udah kalo gitu, kamu jaga diri baik-baik ya jangan sampai kamu juga sakit"
" iya kek"
Dira memutuskan sambungan telepon dengan sang kakek, saat Dira selesai menelepon lampu operasi pun padam dokter keluar dengan wajah yang tidak dapat di artikan.
" bagaimana keadaan anak saya dok" dokter tak kunjung menjawab, ibu Adelia menggoyangkan badan dokter agar segera menjawabnya dengan sangat berat hati akhirnya dokter menjawab.
👋👋 hai-hai up nih gengs jangan lupa like komen dan vote.
sampai jumpa di episode selanjutnya love you ♥️♥️♥️♥️♥️
ig@its_qilass