Perfect Partner

Perfect Partner
Kalung Dira



Kakek Dira pun datang dengan asisten di sampingnya yang membawa pancingan, karena mereka baru saja pulang memancing, kakek Dira pun menyuruh asistennya untuk menyimpan pancingan itu, kakek Dira pun menuju ke kamarnya untuk membersihkan diri, pada saat membuka pintu kamarnya ia melihat sang istri sedang duduk di sofa kamar tersebut dengan wajah yang berpikir keras, dengan penasaran kakek Dira pun menghampirinya.


" Ada apa, kenapa berpikir seperti itu?" Nenek Dira pun langsung melihat asal suara tersebut.


" Kapan kakek pulang?" Tanya nenek Dira yang tak tahu sejak kapan suaminya itu ada di rumah tepatnya di kamar.


" Barusan, apa yang sedang nenek pikirkan?" Kakek Dira terus bertanya pada istrinya itu.


" Itu Deni menanyakan soal Mira"


" Kenapa dia baru menanyakannya sekarang?" kakek Dira mengernyitkan dahinya tak mengerti perkataan dari istrinya tersebut.


" Entahlah, aku pikir dia menyesal"


" Untuk apa menyesal semuanya sudah terjadi, dan sudah terlambat. Tak usah kamu pikirkan biar dia sendiri yang menyelesaikan, kita cukup memperhatikan Dira" ucap kakek Dira dan pergi menuju kamar mandi, nenek Dira berpikir tentang kalung yang di kenakan Dira apakah benar itu kunci dari buku harian Mira, tapi hatinya yakin sekali karena Mira lah yang memberikan kalung itu pada Dira, nenek Dira pun mengambil ponselnya di tas yang ia kenakan tadi, ia akan menelepon sang anak untuk memberi tahu jika tentang kalung yang di kenakan Dira.


"halo, Deni"


" iya ada apa mah?" ucap Deni melalui sambungan tersebut.


" Dira punya kuncinya, Mira memberikannya saat akan pergi ke Singapura, kunci itu di jadikan kalung yang sekarang di pake oleh Dira" ucap nenek Dira to the point pada anaknya.


" serius mah, tapi apakah Dira akan memberikan kunci itu?" Deni senang saat Dira memiliki kunci tersebut, tapi dirinya juga takut jika Dira tidak akan memberikan kunci itu, apalagi itu adalah barang berharga yang di berikan ibunya.


" entahlah mamah juga tidak tahu" ucap nenek Dira membuang nafasnya kasar.


" apakah mamah bisa membantuku?" ucap Deni meminta bantuan pada sang ibu, tak di sadari sedari tadi kakek Dira menguping pembicaraan istrinya dengan sang anak, kakek Dira pun langsung menghampiri sang istri dan langsung merebut ponsel milik istrinya.


" kamu usaha sendiri, jangan minta bantuan pada kami" ucap kakek Dira pada sang anak, Deni yang mendengar ayahnya yang berbicara kaget dan langsung terdiam kakek Dira pun mematikan sambungan teleponnya dan memberikan ponsel tersebut pada istrinya.


" jangan bantu dia lagi, biar dia urus sendiri masalahnya" ucap kakek Dira keluar dari kamar dan berniat untuk menuju kamar Dira dan memastikan kondisinya, nenek Dira pun mengikuti sang suami.


Kamar Dira


Mentari sudah tak menampakan sinarnya lagi dan akan berganti tugas dengan bulan, kini Dira sudah mandi dan memakai pakaian tidurnya ia menatap ke arah jendela yang menuju halaman rumah, angin sepoi-sepoi pun mengibarkan sebagian rambutnya yang di biarkan terurai, dengan tangan yang terus memegang kalung yang di berikan sang ibu, saat ini Dira sangat merindukan sang ibu, pintu kamar dira pun di ketuk.


Tokk...tokk


" masuk" pintu kamar pun terbuka dan menampakan nenek dan kakek Dira yang masuk ke kamarnya, Dira pun tersenyum pada mereka berdua.


" Dira kenapa kamu tidak istirahat?" ucap sang kakek dan duduk di sofa yang berada di kamar Dira diikuti oleh nenek dira, Dira pun menghampiri nenek dan kakeknya ia duduk di atas kasur dengan wajah yang mengarah pada nenek dan kakeknya.


" Dira bosan kek" ucap Dira dengan memasang wajah yang cemberut.


" kenapa kamu tidak panggil Aldi saja untuk kamu ajak ngobrol" jawab sang kakek, ia tidak menyarankan Dira untuk jalan-jalan keluar karena situasinya masih sang kacau jika Dira di biarkan keluar rumah, nenek Dira hanya memperhatikan pembicaraan suami dan cucunya itu.


" halo tuang putri pangeranmu menelepon" suara di sebrang telepon sana sepertinya familiar untuk Dira, apalagi menyebutnya dengan nama tuang putri siapa lagi kalo bukan Aldi, Dira pun memutarkan bola matanya malas mendengar perkataan Aldi barusan, Aldi memang selalu ada saat Dira membutuhkannya.


" Halo pangeran kodok" ucap Dira kembali mengejek Aldi dengan sebutan itu.


" jahat banget sih loe"


" bodo amat, o ya kebetulan loe nelepon gue, gue mau minta tolong sama loe"


" minta tolong apa sih tuan putri, apa sih yang engga buat tuan putri" lagi-lagi Aldi memanggilnya begitu, Dira merasa jijik dengan Aldi yang selalu memanggilnya seperti itu.


" jangan panggil gue tuan putri, gue jitak loe"


" iya deh, loe mau minta tolong apa?" Aldi pun tidak mau berdebat lagi dengan Dira dan mengikuti perintah Dira.


" bisa beliin gue brownies yang waktu itu loe beliin gak"


" kirain minta tolong apa, ternyata gue di suruh jadi Abang grab nih"


" loe ga mau, katanya loe akan selalu ada buat gue mana buktinya coba"


" iya-iya deh gue turutin apa yang loe mau"


" nah gitu dong, o yah satu lagi sama jus stroberi di cafe biasa ya"


" Baik tuan putri laksanakan" Aldi pun memutuskan sambungannya, ia cemberut ketika terakhir Aldi menyebutnya dengan panggil itu lagi. Dira pun menyimpan nomor telepon Aldi di ponselnya, setelah menelpon dengan Aldi ia samar-samar mendengar keributan di luar sana, Dira pun keluar dari kamarnya untuk melihat keributan tersebut, dan ternyata yang membuat keributan tersebut adalah ayahnya Dira pun malas untuk melihat wajah sang ayah ia berbalik dan menuju kamarnya, tapi saat akan menuju kamar tangannya terlebih dahulu di pegang oleh sang ayah, Dira pun membalikan badan dan melihat sang ayah.


" Dira" panggil Deni, Dira pun memutar bola matanya malas.


" ada apa?" Dira menjawabnya.


" apakah papah boleh meminjam kalung mu itu" Dira mengerutkan dahinya untuk apa sang ayah meminjam kalungnya?.


" boleh yah" Deni memasang wajah yang memohon pada Dira, nenek dan kakek Dira hanya memperhatikan pembicaraan anak dan cucunya itu.


" saya tidak akan memberikan kalung ini" Dira pun melepaskan genggaman tangannya dan kembali ke kamarnya, Deni tahu pasti Dira tidak akan semudah itu memberikan kalungnya, Deni akan sedikit demi sedikit membujuk Dira agar Dira mau memberikan kalungnya, kakek Dira pun menggelengkan kepalanya karena tindakan anaknya itu terlalu gegabah, dan benar-benar tidak berubah.


👋👋hai-hai gengs maaf ya telat, jangan lupa like, komen dan vote


sampai ketemu di episode selanjutnya


ig@its_qilass