Perfect Partner

Perfect Partner
Pangeran



Kediaman Jovan


Saat ini anak buah Deni tengah memantau kediaman Jovan, dengan diberi arahan oleh sekertarisnya, sekertasi Deni bernama Bimo, Bimo bisa disebut sebagai tangan kanan dari Deni, ia sangat di percaya oleh Deni, Anak buah Deni yang mengikuti Bimo berjumlah sembilan orang dan membawa dua buah mobil untuk di kendarai, untuk saat ini mereka tidak akan langsung membalas dendam pada Jovan, mereka akan mencari tahu terlebih dahulu pada siapa sekarang Jovan berlindung.


Deni membalas dendam pada Jovan, karena ia tahu kebusukan dari Jovan yang telah menggelapkan sebagian penghasilan perusahaannya pada saat kerja sama, apalagi ia juga tahu jika kepergian Dira dan istrinya dulu adalah Jovan, karena anak dari Jovan akan merencanakan penyekapan kepada Dira agar Deni tunduk terhadapnya, hal itu lah yang membuat dirinya ingin balas dendam.


Bimo dan bawahannya terus memantau kediaman Jovan, mereka semua memantau dari arah kejauhan sehingga Jovan tidak akan mengetahuinya, Jovan pun keluar dari rumahnya, dan melajukan mobil keluar dari halaman rumahnya. Bimo dan bawahannya pun mengikuti kemana arahnya Jovan melajukan mobilnya, sampailah Jovan di suatu rumah yang begitu mewah dan megah. Bimo menghentikan mobilnya jauh dari rumah yang di masuki oleh Jovan,Bimo bertanya-tanya rumah siapakah ini, dan untuk apa Jovan ke rumah ini?, pikir Bimo.


Turunlah Bimo diikuti oleh yang lainnya untuk mencari tahu rumah siapakah ini, Bimo pun mengumpulkan bawahannya.


" kalian semua berpencar, dan ingat kita harus bermain dengan cantik" ucap Bimo pada bawahannya. Mereka semua pun berpencar, Bimo menyelinap masuk ke dalam gerbang dan melumpuhkan satpam yang sedang berjaga tanpa ada suara sedikit pun, ia juga tidak lupa untuk mematikan kamera cctv yang di pasang di sekitar gerbang agar tidak meninggalkan jejak.


Bimo berjalan dengan sangat pelan dan tak bersuara, Bimo pun mendekati jendela utama rumah tersebut, ia melihat Jovan sedang berbincang dengan seseorang lelaki paruh baya, Bimo mengeluarkan sesuatu dari sakunya dan ternyata itu adalah alat penyadap suara, ia hanya perlu menempelkan alat itu ke tembok agar bisa mendengar pembicaraan dari Jovan dan rekannya.


" Jadi bagaimana kerja sama kita tuan?" ucap Jovan pada lelaki paruh baya itu, Bimo pun mengenali dengan siapa Jovan berbicara, lelaki itu adalah salah satu petinggi perusahaan yang sangat berpengaruh di kota ini, ia terus mendengarkan pembicaraan dari mereka berdua.


" kerja sama itu akan saya tanda tangani, jika anak kamu mau jadi pacar anak saya stella" ucap lelaki itu.


" Baik tuan saya akan bujuk anak saya supaya mau berpacaran dengan anak anda"


Bimo kembali ke mobilnya sekarang ia tahu siapa yang akan melindungi Jovan, ternyata Jovan melakukan hal yang sama seperti yang dulu ia lakukan terhadap bosnya, lalu menyuruh anak buahnya untuk kembali secepatnya ke mobil, mereka pun masuk ke mobil dan melajukan mobilnya meninggalkan rumah tersebut menuju kediaman Deni untuk melaporkan semua informasi yang mereka dapatkan.


Pukul 06.00 Dira sudah bersiap-siap untuk pulang dan meninggalkan rumah sakit yang sangat membosankan menurutnya, saat ini Dira ditemani oleh Aldi, nenek, dan kakeknya, mereka semua senang karena Dira akhirnya di perbolehkan pulang, seseorang pun masuk ke dalam ruangan Dira dengan dokter di sampingnya.


" papah mau anter kamu boleh ya?" ucap Deni pada Dira, tapi lagi-lagi Dira tidak menjawab dan tidak mau melihat wajah ayahnya, Deni hanya menarik napas dengan sangat berat.


Mereka semua keluar meninggalkan ruangan rawat tersebut menuju parkiran rumah sakit dimana mobil mereka di parkiran, Aldi selalu berjalan sejajar dengan Dira dan neneknya, sedangkan Deni ia berjalan sejajar dengan ayahnya.


" Papah kan sudah bilang kasih waktu buat Dira, kenapa kamu masih ngeyel" tegas kakek Dira pada anaknya.


" tenang aja pah, Deni cuman mau nganterin Dira aja" ucap Deni dengan berjalan sedikit cepat agar tidak sejajar dengan ayahnya lagi.


Sampailah mereka di parkiran, Dira lebih memilih naik mobil bersama nenek dan kakeknya, dan Aldi menaiki mobil Deni ayah dari Dira, mereka pun melajukan mobilnya meninggalkan halaman rumah sakit.


Rumah Keluarga besar Pangestu


Sampailah mereka di rumah kakek dan nenek Dira, tanpa berbasa-basi Dira langsung masuk ke dalam rumah dan masuk ke dalam kamarnya, Meraka pun masuk ke dalam rumah tersebut, Deni yang melihat Dira langsung masuk ke dalam kamarnya lagi-lagi hanya menarik napas dengan sangat kasar, dulu dira sering sekali menginap di rumah nenek dan kakeknya sehingga Dira memiliki kamarnya sendiri,letak kamar Dira tidak di lantai atas, alasannya dulu saat Dira selalu menginap di rumah tersebut Dira masih kecil sehingga takut terjadi apa-apa jika kamar Dira di lantai atas. Rumah ini memiliki tiga lantai dengan lantai yang terakhir adalah rooftop , desain rumah klasik Belanda yang sangat mewah dan megah dengan lampu kristal yang menggantung di setiap ruangannya, Aldi yang baru pertama kali di ajak ke rumah nenek dan kakek Dira sangat takjub dengan kemegahan rumah tersebut, ya walaupun rumahnya pun mewah dan megah tapi rumah nenek dan kakek Dira berbeda.


" ini sih kaya pangeran nganterin putri kerumahnya" ucap Aldi di dalam hati sambil sedikit tersenyum.


😊jadi sekarang Taulah siapa Jovan ya kan udah di kasih clue tuh hehe, terus ikutin ceritanya ya dan jangan lupa like, komen, dan vote.


komen terus komen karena komen kalian adalah semangatku.


ig@its_qilass


bye-bye sampai ketemu di episode selanjutnya


saranghae ♥️♥️♥️♥️♥️