Perfect Partner

Perfect Partner
Sang ayah



Menu yang di pesan pun datang dengan berbagai olahan stoberi, mata Dira sangat berbinar melihat hidangan yang serba stroberi itu dan terbersit tentang kenangannya dengan sang ibu, tapi Dira menepis itu tersenyum pada sang ayah lalu memakannya dengan sangat lahap.


" pelan-pelan nak" kata Deni pada Dira yang nampak semangat makannya, Deni tak berhenti tersenyum melihat sang anak pasalnya ia baru pertama kali melihat Dira makan dengan lahap seperti ini, Dira membalasnya dengan senyuman manis.


1 jam mereka mengobrol serta makan akhirnya mereka memutuskan untuk pulang, tapi sebelum pulang Dira meminta ayahnya untuk pergi ke rumah nenek dan kakeknya.


" pah, papah selalu datang ke makam mamah tiap pagi?" kata Dira saat berada dalam mobil, Deni pun langsung melihat ke arah Dira.


" papah selalu menyempatkan untuk datang ke makam mamah kamu, papah benar-benar menyesalinya, dan papah harap tak akan terulang kedua kalinya sama kamu"


" pah apakah papah tau Dira memaafkan papah karena mamah"


" mamah?"


" mamah datang ke dalam mimpi Dira pah, mamah bilang bagaimana pun papah adalah papah Dira dan selamanya akan seperti itu, mamah juga bilang lupakan semuanya anggap saja ini takdir yang harus mamah jalani" jawab Dira dengan air mata yang turun dari mata memegang kalung pemberian sang ibu, Deni menghentikan mobilnya menepi di sisi jalan dan langsung memeluk Dira dengan sangat erat.


" pah, mamah itu baik banget pah"


" iya nak papah tau mamah kamu itu sempurna sekali, papah yang bodoh yang telah menyia-nyiakan berlian yang lebih memilih kerikil jalanan"


mereka berdua menangis dengan Deni yang memeluk Dira dengan sangat erat seakan tak mau kehilangan anaknya, dulu ia sangat jauh dengan sang anak hingga melewatkan masa pertumbuhan Dira namun sekarang ia tak mau menyia-nyiakan pertumbuhan Dira.


Setelah beberapa jam mereka berpelukan lalu Deni kembali melajukan mobilnya menuju rumah kedua orang tuannya, menuruti permintaan dari sang putri yang kini sudah berbaikan dengannya, dan akhirnya pun sampai mereka berdua masuk ke dalam rumah dengan saling tersenyum raut wajah yang sangat bahagia membuat nenek dan kakek Dira bingung apa yang terjadi di antara mereka berdua.


" ada apa ini?" kata nenek Dira pada anak dan ayah itu bingung dengan sikapnya, biasanya mereka berdua bertengkar bahkan Dira susah sekali tersenyum pada ayahnya itu.


" kita udah habisin waktu bareng nenek"


" o yah kalian udah baikan?"


" iya"


" apakah kalian sudah makan?"


" sudah"


" kalo begitu ceritakan bagaiman kalian bisa dekat ya"


Nenek dan Dira duduk berhadapan dengan ayah serta kakeknya, Deni menceritakan semuanya ada rasa senang, sedih dan bahagia semuanya bercampur menjadi satu akhirnya anak dan ayah itu kembali akur.


Di rumah Deni.


Dira dan Deni pun sudah berada di rumahnya Dira berpamitan pada sang ayah untuk pergi ke kamar dan mandi, setelah itu Dira menelpon Aldi untuk menceritakan semua yang ia lakukan dengan sang ayah berbagi kebahagian dengan Aldi, yang kini sudah berstatus pacar, dengan posisi tengkurap serta boneka kodok yang Aldi berikan pada Dira.


" halo" kata Dira setelah telepon itu diangkat oleh Aldi.


" halo tuan putri pangeran di sini apakah ada yang bisa saya bantu" jawab Aldi di sebrang telepon, mendengar jawab dari Aldi membuat Dira tersenyum.


" iya tuan putri disini akan melaporkan kegiatan tuan putri hari ini" jawab Dira menirukan suara Aldi, lalu mereka berdua tertawa bersamaan.


" siap saya akan mendengarkan kegiatan tuan putri cantik hari ini"


" di udah dong aku cape ketawa, aku mau cerita nih"


" oke, silahkan"


Dira menceritakan kebersama dengan sang ayah, dan Aldi mendengarnya sangat bahagia.


***


hai-hai gengs up nih, jangan lupa like komen dan vote😉