
Ketika Deni dan Bimo berbicara di luar, Aldi duduk seorang dir di ruang tamu, masih dengan kepala yang bertanya-tanya, apa yang terjadi pada Dira, apa mungkin ancaman bu Amel yang dikatakan Dira tadi?, Pikirnya, nenek Dira pun datang dengan nampan yang berisi minuman dan makanan untuk di suguhkan pada Aldi.
" Silahkan di minum di" ucap nenek Dira pada Aldi, Aldi pun langsung meraih minuman yang di berikan nenek Dira, dengan penuh penasaran akhirnya Aldi memberanikan diri untuk bertanya pada nenek Dira.
" Sebenarnya apa yang terjadi nek?" Tanya Aldi pada nenek Dira, nenek Dira pun menoleh pada Aldi.
" Tadi Dira sempat di culik, tapi untungnya dira di temukan sama Bimo asisten ayahnya Dira" ucap nenek Dira berterus terang pada Aldi, Aldi kaget ketika mendengar Dira di culik.
" Di culik?" Aldi mengulang perkataan nenek Dira, nenek Dira tidak menjawab pertanyaan Aldi.
" Di culik siapa nek? Maaf tadi kalo Aldi gak salah denger sama perempuan, apakah Bu Amel nek?" Ucapnya lagi.
" Darimana kamu tahu?" Ucap nenek Dira kaget mendengar perkataan Aldi barusan, karena Aldi mengetahui semuanya.
" Tadi di sekolah Dira bilang sama Aldi nek, kalo Bu Amel mengancamnya" jelas Aldi.
" Kenapa kamu gak bilang sama nenek di?" Tatapan tajam nenek Dira melihat pada Aldi, Aldi menundukan kepalanya merasa bersalah karena telah meninggalkan Dira a di sekolah tadi.
" Maaf nek tadi Aldi pulang duluan untuk jemput adik Aldi" ucap Aldi dengan memasang wajah yang sangat menyesal.
" Sudahlah semuanya sudah terjadi, sekarang kita harus berhati-hati" ucap nenek Dira sambil menepuk bahu Aldi, agar Aldi tidak merasa bersalah lagi, Aldi tersenyum simpul pada nenek Dira.
" Ya udah kalo gitu nek, Aldi pamit" ucap Aldi sambil berdiri dan menyalami nenek Dira, Aldi pun melangkahkan kakinya menuju pintu, Aldi berpapasan dengan Deni.
" Aldi" ucap Deni memanggil nama Aldi, Aldi pun tersenyum pada Deni.
" Om, Aldi pamit pulang om"
" Aldi, om harap kamu akan selalu jaga Dira" ucap Deni dengan menatap manik Aldi dengan sungguh-sungguh.
" Iya, om janji maaf kalo tadi Aldi kecolongan" ucap Aldi meminta maaf pada Deni.
" Ga papa, semuanya udah terjadi" Deni langsung memeluk Aldi, karena ia sudah menganggap Aldi sebagai anaknya juga.
" Ya udah kalo gitu Aldi pamit om" Aldi langsung melepaskan pelukan Deni dan berpamitan, Aldi menuju motornya dan pergi meninggalkan rumah besar Pangestu.
Deni masuk kembali kedalam untuk berpamitan pulang pada kedua orang tuanya.
" Mah Deni pamit pulang dulu ya, Deni titip Dira"
" Iya mamah akan jaga Dira, kamu jangan khawatir"
Saat Deni berpamitan dengan sang ibu, ayahnya turun dari tangga dan berkata.
" Kamu tidak usah khawatir tentang Dira, Dira aman di sini, kamu urus dulu masalah mu itu" ucap kakek Dira, Deni pun menganggukan kepalanya dan bersalam untuk pamit pulang.
Jam 06.00
Dira bangun dari tidurnya, badannya masih terasa sakit dan ngilu untuk di gerakan apalagi di bagian lehernya, nenek Dira datang ke kamar Dira dengan membawa sarapan untuk Dira.
Nenek Dira menyuapi bubur yang di bawanya, Dira memakannya tanpa menolak karena dari kemarin perutnya terasa sangat lapar, apalagi setelah tenaganya di kuras habis saat melawan penjaga yang menyekapnya. Dira melahap habis bubu tersebut, setelah itu perban yang melekat di kepala Dira dingganti dan mengoleskan salep untuk luka memar di leher dan tangan Dira.
" Nih minum juga obatnya ya" nenek Dira menyodorkan obat pada Dira, Dira pun meminum obatnya, nenek Dira merasa kasihan dengan nasib Dira sekarang, karena ulah ayahnya dia lah yang menjadi korban, pikirnya, nenek Dira terus mengelus pipi Dira dengan sangat lembut.
Kakek Dira masuk ke dalam kamar untuk melihat kondisi Dira, ia pun tersenyum ketika melihat mangkuk yang di bawa istrinya tadi sudah kosong, itu artinya Dira memakannya dengan lahap.
" Istirahatlah dulu nak" ucap kakek Dira dengan mengelus pipi Dira dengan diikuti senyuman yang mengembang di bibirnya, Dira pun menuruti perkataan sang kakek Dira kembali merebahkan tubuhnya di kasur.
Nenek dan kakek Dira keluar dari kamar Dira membiarkan Dira untuk istirahat, nenek Dira pun meloloskan tangisannya karena melihat nasib Dira yang begitu memprihatinkan.
" Sudahlah Dira pasti bisa melewati ini semua" ucap kakek Dira, nenek Dira tidak membalas perkataan suaminya ia terus terisak tangis melihat nasib sang cucu karena ulah dari anaknya.
Di Rumah Pangestu
Deni menyuruh Bimo pagi-pagi untuk datang ke rumahnya, kesabarannya benar-benar sudah memuncak, Bimo pun datang dan langsung ke ruangan kerja Deni.
" Selamat pagi tuan" ucap Bimo pada Deni, Deni pun menyuruh Bimo untuk duduk di sofa yang berada di ruangan kerjanya.
" Kesabaran saya sudah hilang, buat luka dia seperti luka yang di terima oleh Dira" ucap Deni pada Bimo dengan memasang wajah yang sangat marah dan tangan yang mengepal kuat, Bimo yang melihatnya begitu ia tidak merasa aneh lagi karena sifatnya memang seperti itu, selalu keras saat siapa saja yang menganggu ketenangannya.
" Bagaimana dengan Jovan tuan?" Spontan Bimo bertanya soal Jovan pada Deni.
" Sekap dia dan bawa ke markas" kali ini Deni benar-benar marah ia pun tidak berpikir dua kali saat marah, Bimo pun mengikuti perkataan dari tuannya itu, ia berpamitan untuk melaksanakan tugasnya.
" jangan berpikir kamu bisa lolos kali ini Jovan" ucap Deni dalam hati, ia pun keluar dari ruang kerjanya menuju rumah besar Pangestu.
Di markas Deni
Amel sangat ketakutan dari kemarin dirinya di sekap oleh Deni, tapi ia juga merasa senang mungkin Deni juga belum menyelamatkan Dira, Bimo pun datang menghampiri Amel, Amel langsung menatap tajam pada Bimo.
" senjata makan tuan" ucap Bimo pada Amel, Amel mengernyitkan dahinya karena tidak mengerti perkataan dari Bimo.
" apa maksudmu?" tegas Amel pada Bimo, bimo tersenyum melihat Amel seperti itu.
" Nona Dira sudah selamat, sekarang kamulah yang di sekap dan kamu akan membayar luka yang di terima oleh nona Dira" ucap Bimo, Amel yang mendengar perkataan Bimo pun merasa ketakutan, bukannya Dira yang di sekap tapi kali ini malah dirinya.
" Deni gak akan berani apa-apain saya" ucap Amel pada Bimo, karena memang Deni tidak kasar pada dirinya, tapi ia juga merasa takut karena akhir-akhir ini sikap Deni berubah.
" jangan pikir tuan akan menyelamatkan mu" ucap Bimo pada Amel, Bimo pun menyuruh bawahannya untuk memberi luka persis seperti yang di terima oleh Dira, Bimo tahu semua kelakuan busuk Amel, ia pun sudah dari dulu memberi tahu tuannya agar tidak berurusan dengan wanita itu dengan sifat Deni yang sangat keras Deni enggan untuk percaya dengan omongan bimo, tapi sekarang ia senang akhirnya Deni sudah lepas dari wanita itu, Bimo pun keluar dari ruangan tersebut membiarkan para bawahannya melakukan tugasnya.
👋👋hai-hai gengs up nih aku, jangan lupa like, komen dan vote
sampai jumpa di episode selanjutnya bye♥️♥️♥️♥️♥️
ig@its_qilass