
Tak lama dari itu Deni dengan anak buahnya datang, dengan emosi yang meninggi deni menembakan pistol yang selalu ia bawa tepat di perut penjaga yang akan menyerangnya begitu pun dengan Bimo ia menembakan pistol miliknya pada penjaga yang kedua Deni melepaskan ikatannya dari Dira sedangkan anak buahnya membawa Aldi yang pingsan dan segera membawanya ke rumah sakit.
Dira mengikuti Deni menuju mobil, mereka berdua sama sekali tak berbicara dan mengikuti mobil yang membawa Aldi menuju rumah sakit, sampailah mereka di rumah sakit Aldi langsung di bawa ke UGD, saat menunggu Aldi yang sedang di tangani Deni langsung mengabari kedua orang tua Aldi.
Dira cemas dengan keadaan Aldi ia tak berhentinya mondar-mandir ke sana kemari, dari lorong rumah sakit Rosa dan Raka datang dengan wajah yang sangat cemas mengkhawatirkan anaknya, Dira langsung memeluk Rosa dan menangis di pelukannya begitu juga dengan Rosa.
Sedangkan Raka menghampiri Deni yang sedang duduk terdiam di kursi tunggu dengan tatapan kosong, Raka menepuk bahu Deni ia pun menoleh pada seseorang yang menepuk bahunya.
Deni hanya melihat sekilas dan kembali menatap kosong, Raka sangat iba dengan Deni yang sekarang ia sangat mengerti situasi yang sedang di alami oleh Deni.
Rosa melepas pelukannya dari Dira dan mengusap air mata yang turun dari mata Dira.
" Aldi Tante, aku takut Aldi kenapa-kenapa" ucap Dira pada Rosa yang air matanya terus mengalir walaupun Rosa sudah mengusapnya, apalagi dia tahu semua yang dialami Dira sekarang.
" ga papa sayang Aldi pasti baik-baik aja diakan kuat" jawab Rosa sambil tersenyum agar dira sedikit merasa tenang.
keluarlah dokter dari ruangan UGD dengan suster di sampingnya, mereka semua mendekati dokter tersebut untuk mengetahui kondisi Aldi sekarang.
" apakah disini ada orang tua pasien?" tanya dokter tersebut pada semua orang yang berada di hadapannya.
" saya dok"
" kalian tidak usah khawatir pasien cuman pingsan akibat pukulan di lehernya, dan sebentar lagi pasien akan segera siuman kami akan memindahkan pasien ke ruang rawat inap" jelas dokter tersebut, mereka semua merasa lega mendengar penjelasan dari dokter tersebut.
" untuk tuan silahkan ikuti suster agar bisa mengisi formulir agar pasien secepatnya di pindahkan ke ruang rawat inap" ucapnya lagi, Raka mengikuti arahan dari dokter tersebut dan pergi untuk mengisi formulir agar Aldi cepat di pindahkan ke ruang rawat.
Dira berhenti menangis setelah mendengar keadaan Aldi, ia sangat senang mendengar Aldi baik-baik saja ia pun tersenyum pada Rosa dan Rosa membalasnya.
Ruang rawat.
Aldi sudah di pindahkan ke ruang rawat menunggu Aldi siuman, tak begitu lama Aldi pun tersadar dan membuka matanya secara perlahan, Dira tersenyum melihat Aldi membuka matanya.
" syukurlah kamu siuman" ucap Rosa pada sang anak sambil mengusap dahi anaknya, Aldi tersenyum pada sikap sang mamah, sedari tadi Dira dan Rosa menunggu Aldi di ruangan rawat tersebut sedangkan Deni, Bimo dan Raka menunggunya di luar.
Deni meminta Bimo untuk meninggalkannya agar memberi ruang untuk berbicara dengan Raka, saat Bimo pergi meninggalkan mereka berdua Deni pun mulai berbicara pada Raka.
" Ka maaf gue udah bawa Aldi ke dalam urusan gue" ucap Deni, mereka berdua cukup dekat sehingga tidak perlu berbicara secar formal.
" ga papa den, yang terjadi sudah terjadi lagi pula kalo pun loe gak minta sama Aldi untuk jagain Dira, pasti Aldi akan ngelakuin sendiri"
" gue bener-bener minta maaf"
" Amel dan Jovan"
" Jovan? dia masih berani" Raka tidak menanyakan tentang Amel karena semuanya sudah di ceritakan oleh Aldi saat di rumah, hampir semuanya ia tahu tentang keluarga teman akrabnya itu dari cerita sang anak.
" tapi tenang aja, dia ga bakalan bisa berkutik lagi"
" emang apa yang loe perbuat?"
" Gue akan buat perusahaannya itu bangkrut" ucap Deni menyunggingkan senyumannya, Deni tak akan pernah mengampuni Jovan lagi ia benar-benar marah dengan perbuatannya itu, apalagi ia berani menyekap sang anak dan tak akan pernah memaafkannya, Raka tak menjawab lagi ia hanya diam dan tahu sekali jika Deni sudah bertindak sesuatu ia akan pernah menariknya.
Di dalam ruangan Aldi, Dira merasa bersalah karena Aldi berbaring di rumah sakit seperti ini karena ingin menyelamatkan dirinya, ia menatap sendu pada Aldi yang duduk di brangkarnya.
" ga papa Ra gue kan kuat" ucap Aldi pada Dira sambil mengacak-ngacak rambut Dira, Dira menampakan wajah cemberut pada Aldi.
" ga usah cemberut tuan putri, pangeranmu selamat dari Medan perang" ucap Aldi sangat terdengar menggelikan di telinga Dira ia pun langsung memasang wajah tajamnya karena tidak suka di panggil seperti itu, jika saja Aldi sehat ia pasti akan menjitak keningnya itu tapi untuk kali ini ia akan membebaskan Aldi, Aldi melihat Dira sangat kotor apalagi perban yang menempel di kepala Dira.
"mending loe pulang"
" loe ngusir gue?" ucap Dira menatap tajam pada Aldi, Menurut Aldi ketika Dira memasang wajah yang seperti itu Dira terlihat sangat menggemaskan ia ingin sekali mencubit pipinya tapi ia tahan karena takut Dira semakin marah.
" loe bau, mending mandi dulu sana" sambil mencubit hidungnya dan mengendus pada badan Dira.
" apaan sih gue wangi tau"
" wangi apanya, tuh liat baju loe masih pake baju seragam sekolah kotor lagi" Dira pun memperhatikan penampilannya dan memang benar jika dirinya sangat kotor, Rosa hanya memperhatikan Meraka berdua selalu tersenyum ketika Dira dan Aldi beradu mulut.
" tapi loe gimana?"
" cieee khawatir ya, loe sama gue"
" apaan sih" Dira pun keluar dari kamar rawat Aldi, memang dia sedikit khawatir dengan kondisi Aldi, tapi ia memilih mengikuti perkataan Aldi dan pulang untuk membersihkan badannya.
👋👋hai-hai gengs up nih, jangan lupa like komen dan vote.
terus ikutin ceritanya sampai jumpa di episode selanjutnya byee love you♥️♥️♥️♥️♥️
ig@its_qilass