
kantor polisi
30 menit kemudian sampailah mereka di kantor polisi terdekat, untuk meminta keterang dari Amel yang di tuduh sebagai maling, Amel pun diintrogasi oleh polisi yang menangkapnya.
" Kenapa kamu melakukan itu?"
" Saya benar-benar tidak melakukan apapun pa, saya hanya menyelamatkan diri" jawab Amel sejujur-jujurnya, polisi itu mengernyitkan dahinya mencerna penjelasan dari Amel.
" Menyelamatkan diri?" Polisi itu pun mengulangi perkataan Amel.
" Iya pa saya tadi di kejar sama orang, dan gak sengaja saya masuk ke rumah tersebut, saya mohon pa bebasin saya" ucap Amel, polisi itu memperhatikan pakaian yang Amel kenakan dan memar yang berada lehernya ya iya lihat, mungkin memang benar Amel berusaha menyelamatkan diri, ia pun terus mengingat-ingat pernah bertemu dimana dengan Amel, ia pun mengingatnya ternyata dia adalah salah satu guru di SMA 45.
" Kamu guru di SMA Negeri 45 kan?" Tanya polisi itu, ia bertemu dengan Amel pada saat sosialisasi narkoba di sekolah tersebut.
" Benar pak, saya guru di sana" Amel pun mengingat-ingat dimana ia pernah bertemu dengan polisi tersebut, benar ia pernah bertemu di sekolah.
" Karena tidak ada bukti bahwa kamu mencuri di rumah tersebut, jadi saya bebaskan kamu" polisi itu membebaskan Amel karena memang tidak ada bukti bahwa Amel mencuri dari rumah tersebut.
Rumah besar Pangestu
Dira yang merasa aneh dengan perasaanya, karena sejak awal ia bertemu lagi dengan Aldi ia tidak pernah merasakan hal aneh yang ia rasakan, tapi kenapa sekarang seperti canggung saat di tatap matanya oleh Aldi. Aldi yang melihat Dira canggung ia pun berinisiatif untuk memecah kecanggungan itu.
" Ra gue punya tebak-tebakan?" Ucap Aldi, Dira pun langsung memperhatikan Aldi.
" Jangan garing ya awas aja kalo garing"
" Hewan, hewan apa yang cuman satu huruf?" Ucap Aldi pada Dira, Dira pun berpikir memikirkan tebak-tebakan yang di berikan Aldi, Dira pun mengingatnya karena ini adalah tebak-tebakan yang begitu familiar di telinganya
" Gue tahu, i kan basi gue udah sering denger tuh" Aldi merasa kecewa karena Dira mengetahui jawabannya dengan Dira yang menunjukan wajah angkuhnya.
" Kali ini loe pasti gak tau"
" Apa emang?" Dira menantang Aldi, dengan tangan yang dilipat di dadanya.
" Jus, jus apa yang gak enak?"
" Apaan semua jus enak menurut gue, yang gak enak itu cuman liat muka loe aja" jawab Dira ketus, Aldi pun menarik nafas berat.
" Loe ga tau kan" Dira tidak tahu jawaban dari tebak-tebakan Aldi dan membiarkan Aldi memberi tahukan jawabannya.
" Jus a friend" Aldi tertawa dengan terbahak sedangkan Dira bingung tak mengerti apa yang di tertawakan Aldi, Dira merasa aneh dengan Aldi yang tertawa sendiri, Aldi tertawa karena menertawakan nasibnya dengan Dira karena Dira hanya menganggapnya teman.
" Apa yang lucu sih, gak lucu tuh" jawab Dira jutek, Aldi pun langsung menghentikan tawanya.
" Ra"
" Hmmm" jawab Dira sambil memakan brownies yang belum ia habiskan.
" Emangnya loe ga mau denger penjelasan bokap loe dulu apa?" Sontak Dira langsung menghentikan aktifitasnya dan menatap tajam pada Aldi.
" Ya engga, emang loe gak kasian dengan bokap loe siapa tahu dia mau memperbaiki semua kesalahannya" jelas Aldi, seketika mood Dira pun turun, ia malas mendengarkan perkataan Aldi.
" Emang dia pernah merasa kasian gitu sama gue dan almarhum nyokap gue" Aldi yang mendengar perkataan Dira seperti itu langsung terdiam.
" Dira dia bilang mau memperbaiki semuanya"
" Oh jadi sekarang loe berpihak sama dia, iya" salah paham pun terjadi, tadinya Aldi akan menjelaskan sedikit demi sedikit pada Dira tapi sayang sepertinya hati Dira susah untuk di dekati, apalagi sifat keras kepala yang sangat besar.
" Bukan gitu maksud gue Ra"
" Terus apa?" Emosi Dira memuncak, dan menatap tajam pada Aldi.
" Jadi bokap loe punya buku harian nyokap loe, dan bukunya ke kunci terus kunci itu yang loe pake sekarang" Aldi terpaksa mengatakan itu sekarang jika di tunda-tunda akan banyak salah paham yang terus menghantui Dira, mungkin ini adalah yang terbaik untuk menyatukan Dira dengan ayahnya.
Dira kaget mendengar perkataan dari Aldi, Dira yang notabene sifatnya sama seperti ayahnya yang tak mau mendengarkan penjelasan apapun dari sang ayah, Dira langsung menyandarkan tubuhnya dan meloloskan air matanya.
" Gue gak mau loe nyesel Ra"
" Gue harap loe bisa dengerin penjelasan bokap loe" Dira pun mendengarkan perkataan Aldi, dan omongan Aldi memang ada benarnya.
Dira pun langsung berdiri dan beranjak pergi meninggalkan Aldi dengan pipi yang basah dengan air mata karena rasa sakit yang di berikan ayahnya kembali membayangi Dira. Dira pun masuk kedalam kamarnya dengan membanting pintu kamar tersebut.
Aldi membiarkan Dira masuk untuk memberikan waktu Dira berpikir, nenek dan kakek Dira yang mendengar suara dari lantai bawah langsung turun untuk melihat dari mana suara itu berasal, tapi mereka tak melihat Dira dengan Aldi di ruang tamu, mereka pun menghampiri Aldi untuk menanyakan apa yang terjadi.
" Aldi ada apa ini?" Tanya kakek Dira yang penasaran kenapa Dira tak menemaninya di ruang tamu.
" Maaf kek, tadi Aldi bilang sama Dira soal buku harian ibunya" kakek Dira menatap tajam pada Aldi yang kini Aldi tengah menundukan kepalanya.
" Dari mana kamu tahu tentang buku harian itu?"
" Tadi om Deni yang cerita dan minta tolong sama Aldi buat bujuk Dira kek" kakek Dira yang mendengar perkataan Aldi merasa geram pada anaknya, padahal dia sudah bilang pada anaknya tersebut untuk menyelesaikan masalahnya sendiri dan jangan melibatkan orang lain.
" Ya sudah tidak papa dan biarkan Dira berpikir" ucap nenek Dira, Aldi pun berpamitan untuk pulang dengan wajah yang tak dapat di artikan.
kamar Dira.
Dira berhenti menangis dan mengatur nafasnya untuk bernafas karena jujur menangis membuat ia sesak, ia memikirkan perkataan Aldi, apakah benar ayahnya ingin memperbaiki semua ini? apakah benar ayahnya menemukan buku harian ibunya? tapi setelah di pikir-pikir saat dirinya sakit dulu sebelum kejadiannya separah ini ayahnya lah yang mengurus dirinya ketika sakit, bahkan membuatkan dirinya bubur, apa dia beri kesempatan ayahnya? akhirnya Dira pun memutuskan untuk memberi kesempatan pada sang ayah, karena sifat yang menurut juga dari sang ibu yang selalu memberi kesempatan pada ayahnya padahal ia selalu di sakiti, tapi kali ini Dira akan melihat apakah memang benar ayahnya akan memperbaiki semuanya, apalagi ia juga tidak mau menyesal nantinya.
Dira pun merebahkan tubuhnya di kasur dan langsung terbawa ke alam bawah sadarnya.
👋👋hai-hai up nih gengs, jangan lupa like komen dan vote
sampai ketemu di episode selanjutnya ♥️♥️♥️♥️♥️
ig@its_qilass