Perfect Partner

Perfect Partner
Kaila : kehidupan Reva



***


Di kediaman Reva


Saat ini Reva sangat tertekan karena kedua orang tuanya terus memaksa dirinya belajar dan belajar ia tidak boleh bermain ataupun berkumpul dengan temannya bahkan berangkat dan pulang sekolah dia selalu di jemput oleh sang supir, saat ulangan harian dilaksanakan ia selalu Frustasi dan stres akan tekanan tersebut.


Bahkan saat ini Reva masih dengan berbagai macam tumpukan buku dengan satu orang guru yang menemaninya, Reva memiliki paras yang cantik dengan rambut panjang yang hitam legam memiliki kulit putih dengan perawakan yang tinggi bak seorang model, memang mimpinya sejak dari dulu ingin menjadi seorang peraga busana atau model namun sayang cita-citanya itu harus terkubur dalam-dalam karena kedua orang tuanya ingin menjadikan Reva sebagai pengacara yang handal atau pun menjadi seorang dokter spesialis seperti pekerjaan orang tuanya.


Orang tua Reva menganggap jika menjadi seorang model hanya bisa memamerkan tubuhnya saja dan tidak terlalu di kenal oleh banyak orang, padahal sebagai model sama sekali tak seperti itu Reva sudah menjelaskan beberapa kali kepada kedua orang tuanya tapi hasilnya nihil.


" Reva kamu pelajari ini ya seperti ibu yang telah sampaikan" ucap guru les Reva padahal Reva masih belum selesai dengan soal yang di berikan tapi sang guru malah menambahkan lagi soal, kepala Reva rasanya mau meledak karena sedari tadi tak diberi kesempatan untuk istirahat dia dikekang terus belajar dan belajar, padahal sebelumnya saat ia selalu mendapatkan peringkat pertama hanya beberapa les yang di berikan oleh kedua orangtuanya tapi karena menurunnya peringkat Reva kedua orang tuanya menyuruh guru les Reva agar menambahkan jam serta pelajaran untuk Reva.


Reva sama sekali tak menjawab perkataan sang guru jika ia menjawab pasti gurunya itu akan memberitahu ayahnya yang otomatis akan memarahi dirinya, rasanya Reva seperti hidup di sebuah penjara untuk melakukan sesuatu yang tak sesuai dengan perintahnya.


Les pun berakhir Reva membereskan semua buku dengan sang guru memberikan soal yang harus di kerjakan oleh Reva, dengan berat hati Reva menerimanya ia berjalan menuju kamar dengan wajah yang terus di tekuk kemudian membaringkan tubuhnya untuk beristirahat sejenak.


Tiba-tiba sang ayah masuk ke dalam kamarnya dan melihat Reva yang tengah membaringkan tubuhnya seketika itu juga Reva langsung bangun dari tidurnya dan berdiri di hadapan sang ayah dengan wajah yang menunduk takut jika sang ayah akan marah.


" pantas saja peringkat kamu selalu turun jika ini yang kamu lakukan" ucap sang ayah yang bernama Hardi, Reva terus menundukkan kepalanya dengan meremas baju yang ia pakai dengan sangat kuat ia tak berani menjawab perkataan sang ayah.


" cepatlah belajar kau sudah di beri soal oleh guru les kerjakan itu sekarang juga" perintah Hardi dengan sangat tegas padahal Reva baru saja selesai belajar ia hanya merebahkan tubuh sebentar, mau bagaimana lagi Reva berjalan menuju meja belajarnya membuka soal yang diberikan oleh guru lesnya itu dengan akget yang ia tahan melihat begitu banyak soal yang harus ia kerjakan semuanya.


" Bagus kamu harus seperti ini jika ingin sukses nantinya selamat mengerjakan sayang" Hardi mengelus rambut Reva anaknya itu kemudian keluar dari kamar Reva, seketika Reva langsung membanting buku yang berisikan soal itu ke dalam kasur mengacak-acak sprei kasurnya meluapkan semua kekesalan karena terlalu tertekan dan menjerit sekuat tenaga.


Di luar kamar Reva pembantu rumah mendengar jeritan Reva sudah dan itu sudah biasa ia dengar dari kamar Reva, ia juga bisa merasakan bagaimana frustasinya Reva dengan semua tekanan yang di berikan oleh sang ayah.


Di dalam kamar Reva terus mengacak-acak kamarnya hingga tak berbentuk ia cape akan semua tekanan yang di berikan oleh dirinya bahkan sang ibu tak bisa di ajak berbicara dengan dirinya sudah pasti ibunya itu membela sang ayah.


" makan dulu non" Salah satu pembantu masuk ke dalam kamar Reva dengan membawa makanan dan juga minuman.


" buat apa aku makan bahkan kedua orang tuaku hanya menyuruhku untuk belajar dan belajar, pergi sana aku tak mau makan" Reva mengusir pembantunya untuk pergi dan mengunci diri dari dalam.


Malam tiba Reva masih belum mengerjakan soalnya ia malah melamun sekaligus puas karena telah meluapkan semuanya di dalam kamar.


" Reva sayang" panggil sang ibu yang bernama Dahlia memanggil sang anak untuk keluar.


" buka pintunya nak" Dahlia khawatir dengan kondisi Reva yang berada di dalam kamarnya ia mendapatkan kabar jika sedari tadi Reva tak kunjung keluar dari kamar bahkan tak makan apapun.


" bi ambil kunci serep kamar Reva" suruh Dahlia pada sang pembantu yang menemaninya untuk membujuk Reva keluar, tak lama sang pembantu datang dengan kunci serep kamar Reva.


Dahlia langsung membuka kamar Reva berapa kaget melihat kamar Reva yang begitu berantakan barang-barang berserakan di lantai bahkan buku-buku, Dahlia langsung menghampiri Reva yang tengah duduk melamun tanpa menjawab perkataan dari ibunya.


" Reva sayang makan dulu nak" Dahlia berusaha mengajak Reva untuk berbicara namun hasilnya nihil Reva sama sekali tak berbicara padanya.


" mamah pergi aja aku gak mau mamah di sini" Reva mengusir ibu dan juga pembantunya itu keluar dari kamar tak lama ayahnya datang dari arah pintu seketika Reva langsung terdiam.


" Reva apa yang kamu lakukan, papah suruh kamu belajar bukannya malah marah-marah gak jelas begini" ucap Hardi yang marah melihat sikap Reva yang menurutnya kekanak-kanakan.


Dahlia berusaha menahan sang suami agar tak terus memarahi Reva lalu mengajak suami ya itu untuk keluar dari kamar Reva menyuruh pembantunya untuk memberikan Reva makanan.


Reva memungut buku soal yang di berikan gue lesnya ia duduk di meja dengan air mata yang keluar dari matanya ia sangat takut jika ayahnya marah dan jika peringkatnya turun pasti Reva akan lebih-lebih mendapatkannya dari ini.


pembantu datang membawa nampan berisi makanan dan juga minuman dengan Reva yang tak lagi menolak lalu menyuruh pembantu untuk pergi dari kamarnya.


Sampai larut malam Reva masih mengerjakan soalnya itu dengan terus menguap dan mata yang tak tahan akan kantuk masih banyak soal yang harus dia kerjakan bahkan makanan dan minuman yang diberikan untuknya sama sekali tak ia sentuh.


Reva meremas kertas yang salah ketika memikirkan Kaila salah satu saingannya jika saja Kaila mengalah pasti Reva tidak akan mendapatkan hal ini dan bertambah lesnya, dia terus meremas kertas mengambil buku olimpiade milik Kaila lalu mencabik-cabik buku itu hingga tak berbentuk.


" Kaila kenapa loe harus ada di hidup gue" teriak Reva.


***


jangan lupa like komen dan vote ya gengs tambahin juga ke favorit oke gengs dahh