Perfect Partner

Perfect Partner
Menemui mamah



Keesokan harinya Dira bangun sangat pagi, setelah almarhum ibunya datang lam mimpi pagi ini Dira berniat untuk pergi ke makam sang ibu dengan mengendari motornya tak lupa sebelum datang pemakaman Dira membeli bunga, lalu kembali mengendari motornya, jalanan pun belum terlalu ramai karena mungkin masih terlalu pagi.


Sampailah di pemakaman, dengan matahari yang mulai naik, Dira memarkirkan motornya membuka helm lalu turun dari motor dengan bunga di tangannya menuju makan sang ibu, tak membutuhkan waktu lama Dira sampai di makam sang ibu dengan banyak sekali bunga yang berada di atas makam, Dira mengerutkan keningnya siapa yang selalu kemari apalagi ia melihat bunga yang masih segar-segar sepertinya orang tersebut selalu mengunjungi makam sang ibu, Dira melihat di sekeliling ia melihat sang penjaga makam lalu menghampirinya setelah meletakan bunga di makam sang ibu.


" pak" kata Dira pada penjaga makam yang sedang menyapu, penjaga makam itu menoleh saat Dira memanggilnya.


" iya ada yang bisa saya bantu?" jawab sang penjaga makam.


" bapa tau siapa orang yang meletakan banyak bunga di makam ibu saya yang itu" kata Dira sambil menunjuk makam sang ibu.


" oh itu dek, setiap jam 10 pagi ada seorang lelaki yang selalu menaruh bunga di sana"


" bisakah bapa memberitahu bagaimana ciri-ciri orang tersebut?"


" orangnya tinggi, dan mukanya agar sangar"


" apakah ini orangnya pak?" jawab Dira dengan memperlihatkan foto sang ayah.


" iya betul dek itu orangnya dia rajin sekali memberi bunga pada makam tersebut"


" setiap hari pak?"


" iya setiap hari"


" ya sudah terima kasih pak"


" iya sama-sama dek"


" mari pak" kata Dira berpamitan lalu Kemabli lagi ke makam sang ibu, ternyata selama ini ayahnya rajin sekali kemari.


" mamah, mamah benar-benar memiliki hati yang sangat baik" kata Dira dengan tangan yang menyentuh nisan sang ibu.


" mah aku berjanji akan memaafkan papah, jika mamah saja bisa bertahan dan selalu memaafkan kesalahan papah aku pun akan melakukan hal yang sama, mamah yang baik ya di sana jangan khawatirkan aku, aku sudah besar mah putri yang dulu selalu mamah manjakan kini sudah dewasa dan bisa menerima segala masalah yang datang" ucapnya lagi dengan menitihkan air mata, dengan mengusap nisan sang ibu dan terus menatapnya, lalu mencium nisan sang ibu dengan sangat lama.


" mamah Dira pamit dulu ya, besok Dira akan kesini lagi" kata Dira setelah mencium nisan sang ibu kemudian beranjak pergi dari pemakaman tersebut, menghapus air matanya sambil berjalan menuju motor, sampailah di parkiran kemudian menaiki motornya dengan memakai helm lalu pergi meninggalkan pemakaman, 15 menit kemudian Dira sampai di rumahnya langsung masuk ke dalam kamar karena jam menunjukan pukul 6 pagi ia bergegas bersiap untuk pergi ke sekolah.


Terlihat Deni yang keluar dari kamar, dengan wajah yang tersenyum karena Dira yang sudah siap dengan seragamnya dan nampak berbeda hari ini.


" selamat pagi" kata Deni yang sampai di meja makan, menyapa Dira selamat pagi.


" pagi" jawab Dira tanpa ekspresi yang fokus dengan roti bakarnya.


" Dira apa boleh papah mengantarmu ke sekolah hari ini?" tanya Deni dengan sangat ragu, takut Dira menolaknya.


" boleh" jawab Dira singkat, lalu Dira meraih ponsel mengabarkan Aldi jika dia akan berangkat ke sekolah dengan sang ayah, Deni pun senang karena Dira mau diajak berangkat bersamanya.


" Dira apakah kamu ada acara saat pulang sekolah?" tanya Deni pasalnya Dira selalu pulang sore atau malam ketiak sepulang sekolah.


" tidak ada"


" papah akan menjemputmu dan mengajakmu jalan-jalan bisa"


" bisa"


Karena hubungan yang terlalu jauh antara anak dan ayah itu, jadi Deni canggung jika akan mengajak Dira pergi padahal jika Dira sudah dekat dengannya pasti tak perlu membuat janji dengan anaknya itu, Mereka pun selesai sarapan lalu berjalan berdampingan bak seorang ayah dan anak yang selalu akur, mereka langsung masuk kedalam mobil dengan berdampingan, selama di perjalanan sama sekali tak ada obrolan dari satu sama lain semuanya terasa canggung.


" Dira papah akan menjemputmu sepulang sekolah" kata Deni saat sampai di depan sekolah Dira, lalu Dira menganggukan kepalanya dan berpamitan dengan sang ayah, setalah itu keluar dari mobil.


Dira langsung masuk kedalam sekolah, Deni tidak menyuruh sang supir untuk melajukan mobilnya terlebih dahulu karena ingin melihat sampai Dira masuk kedalam sekolah, Dira nampak cantik persis dengan almarhum sang istri yang beda hanyalah sifatnya yang seratus persen sama dengannya, lalu ia melihat Aldi yang mengendari motor, seraya saat Dira masuk Aldi datang, Dira langsung menghampiri Aldi dengan tersenyum lebar, Deni tersenyum saat melihat kedekatan Aldi dengan Dira kemudian pergi, Dira dan Aldi berjalan beriringan seperti biasa untuk menuju ke kelas.


" Aku senang kamu dekat dengan papah kamu" kata Aldi pada Dira, yang sudah membaca pesan yang di kirimkan Dira tadi.


" ya gitulah"


" teruslah seperti itu Ra"


" iya aku berusaha memperbaiki semuanya, walaupun tak akan sepenuhnya hilang"


" sedikit demi sedikit"