Perfect Partner

Perfect Partner
List



Kini Dira tinggal lagi bersama sang ayah, karena Deni memohon pada kedua orang tuanya agar Dira tinggal bersamanya, ia berjanji akan membuat Dira bahagia dan dekat dengannya, mungkin sangat terlambat untuk dirinya dekat dengan Dira tapi ia akan memperbaiki itu semua dari awal.


Di kamar Dira.


setelah mandi dan mengenakan pakaian tidur Dira membaringkan tubuhnya di kasur menatap boneka kodok yang di dapat Aldi tadi, hidupnya kali lengkap tujuan hidup kembali ada semakin berwarna karena adanya Aldi.


" makasih kamu telah hadir dalam hidupku" kata Dira pada boneka kodok tersebut, selang beberapa saat ada sebuah pesan dari Aldi dan ponsel Dira berbunyi.


Dira tersenyum melihat pesan tersebut dan langsung membuka isi pesan yang dikirim oleh Aldi.


Aldi


" Gimana udah siap dengerin semua list yang akan kita lakuin?"


Dira tersenyum dan senyumannya terus mengembang ternyata Aldi sudah menyiapkan semuanya, sudah memiliki rencana ketika mereka berdua berpacaran, andai aja dia suka Aldi dari dulu pasti sudah dari lama ia merasakan bahagia seperti ini.


Nama kontak Aldi pun Dira ubah menjadi


' pangeran kodok🥰' Dira tersenyum ketika profil Aldi berubah dengan foto mereka berdua tadi saat di mall.


pangeran kodok🥰


" kok lama sih jawabnya, padahal udah di baca😞"


" maaf, gak sabaran banget sih"


" *gak mau lama"


" gimana*?"


" siap🤗"


" kita pergi ke bioskop nonton"


" itu doang?🤨"


" sabar dong, kamu suka action atau romance?"


" action"


" gunung atau pantai?"


" kenapa nanya gitu? bukannya kamu udah punya list"


" sabar Ra, sedikit demi sedikit"


" pantai, tapi gak suka laut"


" karena kamu takut biru lautan kan"


" masih inget?"


" masih dong, kamu suka warna biru tapi gak suka biru lautan iya kan"


" iya"


" stroberi atau durian?"


" so pasti stroberi"


" oke aku udah tau semua, dan sudah cek semua list aku ternyata semua benar"


" apaan emang ujian"


" itu artinya aku masih inget semua tentang kamu"


" masa sih?"


" iya, dari ujung kaki sampai ujung kepala aku tau semua tentang kamu bahkan hal kecil yang kamu gak sadar aku tau"


" apa emangnya yang aku gak sadar dari diri aku sendiri?"


" kamu gak sadar sama perasaan aku dari dulu"


" utu, utu so sweet banget sih pacar aku aku kasih cium nih😘😘😘😘"


Dira tersenyum melihat kelakuan Aldi yang berbeda jauh, Aldi yang sekarang menjadi pacarnya sangat romantis sampai-sampai beberapa kali mengganti posisi dari duduk hingga rebahan sudah ia lakukan, begitu pun Aldi yang masih tak percaya jika Dira kini menjadi pacarnya.


" mana listnya liat"


" gak boleh rahasia"


" dih katanya mau di kasih tau"


" sabar nanti kamu juga tau"


" kalo mau sekarang, gimana dong?"


" gak boleh"


"😠😠"


" sabar jangan marah cantik, tau gak kalo lagi marah hidungnya jadi panjang"


" itu pinokio kali"


" sama aja"


" dari mana samanya?"


" gak ada yang sama sih sebenernya hihi😅😅"


Sampai larut mereka bertukar pesan, maklum Aldi dan juga Dira baru berpacaran jadi tak sadar jika waktu sudah mulai larut malam, sampai-sampai Dira ketiduran.


Pagi harinya, Dira bergegas bangun karena di balik gorden telah nampak cahaya yang masuk kedalam kamarnya, Dira langsung bangun dan bergegas mandi untuk sekolah.


Pagi ini ia sangat bersemangat sekali pergi ke sekolah, mungkin ini adalah satu alasan kenapa seseorang sangat bersemangat pergi ke sekolah ada niat yang terselubung karena melihat seseorang yang di cinta walau hanya melihat wajah ea.


Dira turun dengan tas yang ia gandong di punggung, lalu turun dan melewati sang ayah begitu saja tanpa menyapa atau pun tersenyum, Deni masih memaklumi itu tapi ia selalu berusaha memperbaiki semuanya.


" Sarapan dulu nak" panggil Deni pada sang anak yang mengabaikannya, Dira pun berbalik dan mengambil selembar roti dengan selai stroberi di atasnya, tapi saat akan mengoles selai Deni merebut roti Dira dan memberikan selai stroberi untuk Dira, Deni tersenyum pada Dira, begitupun Dira yang berusaha memaafkan sang ayah.


" nih makan yang banyak ya" ucap Deni sambil menyodorkan roti pada Dira dan mengelus sedikit pipi Dira.


Dira langsung pergi tanpa berpamitan, menurutnya itu masih terlalu canggung ia masih belum menerima semuanya yang telah di lakukan sang ayah pada ibunya, bahkan kalung kunci buku harian sang ibu masih melekat di leher Dira.


Deni tersenyum pada punggung Dira yang keluar dari rumah, setidaknya ada sedikit kemajuan Dira tersenyum padanya.


Di depan rumah tepat Dira keluar, Aldi sampai dengan motornya lalu turun melihat dibelakang ada Deni dengan setelan jas hitam yang bersiap akan pergi ke perusahaannya.


" Om" sapa Aldi turun dari motor lalu menyalaminya.


" Aldi, berangkat bareng Dira?" tanya Deni pada Aldi.


" iya om"


" ya udah hati-hati ya om berangkat dulu" ucap Deni pada Aldi dan melihat pada Dira, kemudian pergi menuju mobil yang di kendarai Bagas dan keluar dari halaman rumah.


" udah baikan?" tanya Aldi pada Dira.


" belum"


" kenapa, seburuk-buruknya papah kamu itu tetap papah kamu Ra"


" aku tau di, tapi hati kecilku masih belum bisa melupakan semuanya tapi aku berusaha memaafkan papah"


" nah gitu dong itu baru pacar aku" ucap Aldi sambil mengelus pipi Dira.


" yuk berangkat" jawab Dira.


" ayo"


Dira tak memakai motornya ia lebih memilih berangkat bersama Aldi.