Perfect Partner

Perfect Partner
Kaila : Si nomer satu



" syukur kalo tuan putri bisa baikan sama ayahnya, kan ga lucu juga kalo nanti kita nikah om Deni gak ada malah di gantiin sama Bimo" jawab Aldi melalui sambungan telepon sedikit menggoda Dira.


" gombal mulu kamu tuh"


" udah ah sekarang tuan putri tidur aja ya, dan jangan lupa mimpiin pangeran oke"


" Oke pangeran kodok"


" Diraa"


" udah ya, dah"


" bentar, bilang dulu dong"


" bilang apa?"


" akuu..."


" aku mau tidur"


" aku sayang kamu"


" iya"


" iya apa?"


" iya mau tidur"


Begitulah kira-kira percakapan Dira dan juga Aldi yang tadinya ingin menyelesaikan teleponnya malah terus berlanjut, di sisi lain Kaila senang karena baru saja mendapatkan pekerjaan untuk membantu kedua orang tuanya tak apa jika dia cape dan sedikit berbohong pada sang ibu.


SMAN 45 JAKARTA


Saat ini Kaila tengah sibuk mengurus beberapa orang siswa yang tak taat akan aturan, ia mengawal para pelanggar aturan itu untuk melaksanakan hukuman yang berikan pa Bakri, tepat ketika istirahat tiba.


Kaila tersenyum saat melihat Dira dan juga Aldi lewat di lorong kelas, sebenarnya dalam hati kecil Kaila ia sedikit cemburu dengan Dira, tapi mau bagaimana lagi Aldi lebih menyukai Dira dan bahkan ia mendengar jika Aldi dan juga dira sudah berteman lama tak heran jika di antara mereka memiliki perasaan satu sama lain.


" Kai gantian loe di panggil pa Bakri tuh" ucap salah satu anggota Kaila, ia pun mengikuti apa yang di katakan temannya itu dan berjalan menuju ruang guru dimana pa Bakri berada.


Ruang guru


" Kaila kamu memilki nilai yang baik dalam akademik begitu juga kamu masuk ke sekolah ini karena prestasi akademik itu kamu bisa di terima" kata pa Bakri pada Kaila, Kaila tak menjawab apapun hanya terus memperhatikan perkataan pa Bakri.


" jadi untuk itu bapa meminta kamu ikut olimpiade sains mewakili sekolah kita, apakah kamu bersedia?" tanya Pa Bakri pada Kaila dengan wajah yang sangat meminta untuk Kaila ikut dalam olimpiade tersebut.


" saya sangat bersedia pa"


" bagus kalo begitu, kamu persiapkan semuanya bapa percaya pada kamu dan olimpiade akan di laksanakan bulan depan bapa harap kamu belajar dengan baik"


" maaf" ucap Kaila pada seseorang yang ia tabrak, dan ternyata orang di tabrak oleh Kaila adalah Axcel si handal bermain piano.


" kalo jalan jangan lengah fokus dong" jawab Axcel kemudian pergi meninggalkan Kaila, sama seperti dulu Kaila masih mengagumi Axcel karena pandai bermain piano, Kaila terus memperhatikan Axcel sampai badan Axcel tak terlihat lagi di mata Kaila karena Axcel belok ke arah kiri.


Kaila lalu melanjutkan langkahnya untuk menuju ke arah kelas dan segera belajar untuk mempersiapkan olimpiade yang akan di ikuti ya walaupun waktu olimpiade masih jauh tetapi semangat yang Kaila keluarkan tak main-main, dan dia juga ingat akan perkataan sang ayah 'kita boleh kalah dengan mereka yang kaya, tetapi setidaknya ilmu yang kita miliki harus sama atau bahkan melebihi mereka' kata-kata tersebut lah yang membuat Kaila terus bersemangat dan yakin jika suatu saat ini dia akan membahagiakan kedua orang tuanya.


" Kai, di cariin Dira tuh" Ucap salah satu teman kelasnya, Kaila beranjak dari tempat duduknya menutup buku yang sedang dia baca untuk menghampiri Dira.


" ada apa Dira?"


" abis pulang sekolah bisa gak kita belajar bareng" tanya Dira pada Kaila, Kaila bingung harus menjawab apa karena selepas sekolah Kaila harus bekerja paruh waktunya, kalau pun ia menolak ajakan Dira tapi Kaila merasa tak enak karena Dira sudah baik padanya.


" duh gimana ya Ra, soalnya aku ada urusan tiap pulang sekolah"


" ya udah deh kalo gitu ga papa"


" maaf banget ya Ra" Jawab Kaila, ia pikir jika Dira akan marah padanya tapi ternyata tidak dida sangat lembut dan bahkan tersenyum padanya, Dira pun berpamitan pada Kaila untuk kembali ke kelasnya.


" Kai nih dari pa Bakri, dia bilang loe harus pelajarin ini semua, dan selamat ya loe terpilih jadi ikut olimpiade" Kata Risa teman satu kelasnya Kaila memberikan sebuah buku olimpiade pada Kaila, Kaila menerima buku tersebut lalu tersenyum dan berterima kasih pada Risa.


Di sisi lain salah seorang siswi terus memperhatikan gerak-gerik Kaila, sepertinya ia tak menyukai Kaila akhirnya dia pun memutuskan mendekati meja Kaila dan menggebraknya, Kaila yang tengah asik dengan buku yang diberikan pa Bakri seketika kaget karena gebrakan yang di berikan teman satu kelasnya itu, semua murid yang ada di sana ikut memperhatikan Kaila dan juga Reva, Reva merupakan teman satu kelas Kaila ia selalu mendapatkan peringkat kedua setelah Kaila dan ia menganggap jika Kaila merupakan saingan terberatnya di dalam kelas karena tak memberi kesempatan untuk di peringkat satu, bahkan Kaila juga merupakan saingan Reva dalam juara umum di sekolah Reva selalu menepati posisi lima besar dalam satu sekolah sedang Kaila ia selalu mendapatkan peringkat pertama, oleh karena itu Reva kesal dengan semua tentang Kaila, bahkan saat ini olimpiade yang Reva incar malah diberikan pada Kaila.


" Bisa gak sih loe pindah aja dari sekolah ini ganggu aja" ucap Reva pada Kaila dengan penuh emosi, sedangkan teman-teman sekelas Kaila tak ada yang berani merelai mereka berdua karena mereka tau jika ayah dari Reva merupakan pengusaha yang paling berpengaruh di kotanya, selain itu juga jika ada yang mengusik Reva tak segan ia akan berbicara pada sang ayah.


" Emangnya hak apa kamu bisa bilang seperti itu" jawab Kaila sambil berdiri menyamakan Reva dengan wajah yang saling berhadap-hadapan, Kaila sama sekali gak takut pada Reva karena menurutnya Reva selalu bertingkah semaunya dengan menggunakan kekuasaan ayahnya.


" Gara-gara loe gue selalu menjadi nomer dua"


" kamu nyalahin aku, seharusnya kamu mikir sendiri kamu selalu jadi nomer dua bahkan jauh dari nomer dua itu karena kamu sendiri yang kurang belajar"


" jadi maksud loe gue gak bakalan bisa ngalahin loe heh?"


" menurut kamu?"


" Heh anak beasiswa loe tuh harusnya tunduk sama gue karena biaya beasiswa loe itu dibayar karena hasil dari uang iuran kita"


" emang bener aku dapat beasiswa itu karena otak aku pinter, dan lagi seharusnya kamu malu udah sekolah di bayarin sama orang tua tapi liat kelakukan kamu?"


" Dasar loe ya...." perkataan Reva terpotong oleh gue yang masuk ke dalam kelas, Reva kembali ke tempat duduknya.


mungkin saja jika guru tak masuk Reva akan menjambak rambut Kaila karena telah mendengar perkataan yang di lontarkan Kaila, namun dengan jawaban cerdas Kaila ia bisa membuat Reva tak berkutik.


***


Gengs untuk kisah Dira dan juga Aldi berserta dengan sang ayah udah selesai ya, kini aku mau lanjutin dengan sisi pandang Kaila dan juga semua kehidupan yang di alaminya, jadi terus ikutin ceritanya dana jangan lupa like komen dan vote.