Perfect Partner

Perfect Partner
Membayangkan



setalah beberapa jam mengajarkan Kaila menggunakan motor, saat ini mereka sedang berada di sebuah cafe yang tak jauh dari lapangan tadi, Mereka bertiga mengobrol dengan sangat gembira, sepertinya mereka berdua semakin dekat terutama Kaila.


" Kai, loe udah lama kerja di cafe?" tanya Dira pada Kaila, ia menyalakan hal tersebut karena waktu itu setelah membeli motor Dira mengantarkannya ke sebuah cafe.


" baru Ra"


" emangnya loe bisa atur waktunya?"


" ya mau gimana lagi Ra, karena butuh uang jadi mau gak mau"


" kedua orang tua loe pasti bersyukur banget punya anak sebaik loe"


Kaila hanya bisa tersenyum membalas perkataan Dira, sedangkan Aldi sibuk dengan makanannya.


" Dira gue denger loe pinter pas SMP"


" Dira pinter banget waktu SMP" bukannya Dira yang menjawab malah Aldi yang menyambar pertanyaan Kaila dengan mulut yang penuh dengan makanan.


" o yah, terus aku denger juga seharunya kamu satu angkatan dengan aku"


" ya begitulah ada problem keluarga" jawab Dira dengan tersenyum nanar pada Kaila.


" btw kai, loe harus belajar motor tiap hari sama aja kok kaya sepeda" ucap Aldi mengalihkan pembicaraan karena melihat wajah Dira yang berubah setelah menjawab perkataan dari kaila.


" iya kak, makasih banget loe aku jadi ngerepotin kalian berdua" ucap Kaila pada Aldi dan juga Dira.


" santai aja kai, kalo butuh bantuan jangan segan hubungin dan bicara sama kita berdua ya" kata Aldi.


Kaila mengantarkan mereka berdua, sampai akhirnya Dira dan Aldi tak terlihat oleh matanya, kemudian kedalam rumah bersiap untuk pergi kerja, beberapa jam bersiap akhirnya Kaila keluar dari kamarnya berpamitan pada kedua orang tua, kemudian pergi menuju jalan besar menunggu angkot untuk mengantarkannya ke tempat kerja.


3 menit kemudian angkot datang, Kaila langsung naik ke angkot, dan Kaila membanyangkan bagiamana jika nantinya dirinya dan Aldi dekat bahkan sampai pacaran, apakah dia termasuk orang yang egois, tapi bagiamana lagi cinta itu tak bisa memilih kepada siapa kita harus sayang dan cinta.


cinta dan rasa sayang itu tumbuh karena terbiasa, apalagi saat ini secara tidak langsung Aldi membiarkan Kaila masuk ke dalam pertemanan yang sangat menyakitkan Kaila, apakah bisa Kaila bertahan dengan semua ini, pasti sulit baginya untuk menjalankan pertemanan seperti ini, ah entahlah mungkin Kaila akan memilih diam dan memendam perasaannya yang dulu ia pikir menyebalkan lalu sekarang berubah menjadi rasa cinta.


Akhirnya Kaila pun sampai di cafe tempat ia bekerja, ia langsung menuju ke ruang ganti untuk mengganti pakaiannya dengan baju kerja, tak lupa alat pembersih meja yang selalu dia bawa, ada beberapa meja yang harus ia berikan setelah selesai ia membantu membersihkan piring dan gelas.


" kai, ga cape apa?" ucap salah satu pelayang yang bekerja dengan Kaila.


" ya gimana lagi kak"


" iya sih bener juga, kalo aku ada di posisi kamu pasti aku juga melakukan hal yang sama"


" kak, Kaka pernah gak sih suka sama pacar temen sendiri?"


" kalo aku sih gak pernah, tapi mungkin aja perasaan itu muncul karena pacar temen kamu itu udah memberi harapan pada kamu, atau justru kamu yang terlalu bawa perasaan"


" kayanya bener deh kata Kaka, aku aja yang baperan"


" udah jangan pikirin dulu soal cinta belajar aja yang fokus oke, soal jodoh udah ada yang ngatur"


" bisa aja"