Perfect Partner

Perfect Partner
Ditemukannya dira



1 jam kemudian Dira sampai di gerbang utama perumahan menuju rumah sang kakek, Dira terus berjalan kaki menyusuri jalan perumahan tersebut, kakinya merasa sangat lemas setelah tadi bergelut dengan para penjaga apalagi dirinya baru saja sembung, saat Dira berjalan kaki kepalanya terasa berat pandangannya mulai kabur, Dira pun tersungkur ke tanah, satpam yang sedang berpatroli menemukan Dira yang tergeletak, sepertinya dia tidak pernah melihat Dira di perumahan tersebut, akhirnya dia memutuskan untuk membawa Dira ke pos satpam.


Dira pun di baringkan di sofa yang berada di ruangan satpam tersebut, satpam yang menemukan Dira bertanya kepada temannya apakah ia pernah melihat Dira, atau anak siapa Dira, tapi temannya pun baru pertama kali melihat Dira.


" Eh tapi itukan seragam SMA 45" ucap salah satu satpam yang ada di sana, seragam SMA 45 memiliki seragam khas yang bisa di kenali oleh siapa saja, apalagi sekolah tersebut sangatlah terkenal.


Lwl


" Iya bener, kamu cari siapa saja di perumahan ini yang anaknya sekolah di SMA 45" ucap salah satu kepala satpam disana, dan salah satu satpam pun mencari tahu anak siapa yang berada di depannya itu.


Saat satpam mencari tahu siapa orang tua Dira, ada mobil yang sedang menunggu portal untuk di buka, tapi saat membuka kaca mobilnya ia seperti melihat gadis yang tengah terbaring di sofa, pria itu langsung turun dari mobilnya dan ternyata itu adalah Bimo, Bimo langsung menghampiri Dira yang terbaring di sofa.


" Ini anak majikan saya pa, tolong bantu saya bawa masuk ke mobil" ucap Bimo pada satpam tersebut, tapi satpam tersebut tak menyerahkan Dira begitu saja.


" Apakah bapak tahu siapa namanya" ucap kepala satpam tersebut pada Bimo, ia berjaga-jaga jika benar Bimo mengenal Dira.


" Tahu namanya Dira, alias Anindira leteshia Pangestu" tegas Bimo pada kepala satpam tersebut, satpam tersebut mengetahui nama akhir dari Dira pasalnya orang tersebut adalah orang yang sangat di aegani di perumahan ini, kepala satpam pun menyerahkan dira pada Bimo, akhirnya Bimo pun membawa Dira menuju rumah besar Pangestu, Dira belum kunjung sadar Bimo memperhatikan seragam yang di kenakan Dira dengan darah yang ada di bagian perut Dira, Bimo khawatir telah terjadi sesuatu pada Dira, Bimo pun langsung membawa Dira masuk ke dalam rumah.


Aldi yang baru saja datang melihat Dira di gendong oleh Bimo langsung menghampiri Bimo, ia bertanya-tanya apa yang terjadi pada Dira, pikirnya.


Kakek dan nenek kaget ketika Dira di bawa oleh Bimo dengan darah yang berada di bagian perutnya, dengan langkah cepat kakek dira pun menelpon dokter untuk datang ke rumah besar Pangestu.


Dia di baringkan di kasurnya, nenek Dira mengantikan pakaian yang di kenakan Dira, dan ternyata saat baju dia di buka darah itu bukan berasal dari Dira, tapi darah siapakah itu, pikir nenek Dira, Dokter pun datang dan langsung memeriksa keadaan Dira.


" Dira hanya kecapean tuan, dan ada beberapa luka lebam di tangan dan lehernya" ucap dokter tersebut pada kakek Dira.


" Dan ini resep obatnya" ucapnya lagi sambil memberikan resep obat tersebut pada kakek Dira, Aldi yang melihat Dira terbaring begitu bingung apa yang terjadi pada Dira, dan kenapa Dira bisa memiliki luka lebam.


Di sisi lain Bimo langsung menghubungi Deni untuk memberi tahu jika Dira sudah di temukan.


"halo ada apa Bimo?" tanya Deni di serbang telepon.


" tuan nona Dira sudah di temukan" ucap Bimo tanpa berbasa-basi, Deni yang mendengar itu langsung memutuskan telepon Bimo, Bimo hanya bisa menarik nafas dengan sangat lega karena Dira sudah di temukan, saat Bimo selesai menelpon Deni kakek Dira menyuruhnya untuk menebus obat Dira, Bimo pun pergi untuk menebus obat Dira.


Di kamar Dira


Perlahan Dira membuka matanya, ia tersenyum karena melihat wajah sang nenek yang berada di hadapannya dira pun langsung memeluk sang nenek, Dira menangis karena dari tadi ia menahan tangisannya.


" sekarang kamu istirahat aja dulu jangan banyak pikiran ya" ucap nenek Dira membantu membaringkan tubuh Dira dan menyelimutinya, nenek dan Aldi pun keluar dari kamar Dira membiarkan Dira istirahat.


" pah gimana keadaan Dira pah" ucap Deni pada sang ayah, bukannya di jawab tapi Deni malah menerima tamparan dari sang ayah, ia merasa kesal dengan sikap anaknya itu karena ulahnya lah yang membuat Dira seperti ini.


" maaf pah" jawab Deni, nenek Dira dan Aldi hanya memperhatikan kakek Dira yang sedang memarahi anaknya itu.


" maaf kamu bilang, papah pikir kamu benar-benar sudah mengakhiri hubunganmu dengan perempuan itu" kakek Dira tahu siapa orang yang telah menculik Dira, dan ternyata orang itu adalah mantan kekasih dari anaknya itu, kakek Dira sangat marah pada Deni karena belum membereskan semua permasalahannya dengan mantannya itu.


" aku sudah membereskan semuanya pah"


" apanya yang sudah beres kamu lihat sekarang Dira yang jadi korbannya" ucap kakek Dira, Deni membenarkan perkataan ayahnya ia benar-benar belum membereskan masa lalunya itu sepenuhnya.


" jangan temui Dira dulu sebelum kamu mengurus perempuan itu" ucapnya lagi, Deni langsung mengangkat kepalanya menatap sang ayah.


" tapi pah, Deni mau tahu kondisi Dira" ucap Deni dengan memasang muka sedih pada sang ayah, tapi sang ayah memalingkan wajahnya.


" kamu gak perlu khawatir, papah bisa mengurus Dira" ucap kakek Dira dan berlalu pergi meninggalkan Deni, Deni yang mendengar penolakan sang ayah untuk bertemu dengan Dira ia langsung menghampiri ibunya.


" mah izinin Deni buat liat Dira ya" ucap Deni memohon pada sang ibu, Ibunya menghela nafas dengan sangat berat ia kasihan dengan anaknya tersebut, ia pun mengijinkan Deni untuk bertemu dengan Dira.


" tapi kamu hanya boleh liat Dira dari pintu saja" ucap nenek Dira, dan berlalu pergi menuju dapur untuk memerintah pembantunya membuatkan minuman untuk Aldi. Deni pun menuju kamar Dira yang tak jauh dari sana perlahan Deni membuka pintu kamar Dira ia melihat Dira sedang terlelap seperti sudah melakukan pekerjaan yang sangat berat.


Deni tidak mendengarkan perkataan sang ibu ia pun mendekati ranjang Dira untuk melihat lebih dekat dan memastikan bahwa Dira tidak apa-apa, Deni melihat tangan Dira lebam ia pun mengepalkan tangannya sangat keras.


" kamu akan membayarnya Amel" ucap Deni dalam hati ketika melihat luka lebam di tangan Dira, Deni pun keluar dari kamar Dira. saat Deni keluar dari kamar Dira ia bertemu dengan Bimo dengan bungkusan di tangannya.


" ini obat nona Dira tuan" ucap Bimo dengan menyerahkan obat yang di bawanya, Deni menaruhnya ke kamar Dira dan kembali menemui Bimo, Deni mengajak Bimo untuk keluar dan berbicara dengan dirinya.


😚aku up lagi nih, selamat membaca


jangan lupa like, komen dan vote.


ig@its_qilass