
Kini Aldi dan dira masih berbincang dan merencanakan suatu rencana yang akan di lakukan, Dira tidak jadi mengubah warna rambutnya, dia akan liat seberapa beraninya pa Bakri kepada dirinya.
Akhirnya mereka menghabiskan makanannya dan segera membayar lalu pergi keluar meninggalkan cafe tersebut.
" Ra" panggil Aldi
" Apa"
" loe mau pulang, atau mau ikut ke rumah gue" tawar Aldi
" Gue pulang aja di, soalnya dari tadi gue gak enak badan banget" ucap Dira
" Loe sakit?"
" Ga tau gue, gue kayanya butuh istirahat aja deh"
" Mau gue anter pulang?"
" Gak usah gue pulang sendiri aja" ucap Dira menolak tawaran Aldi, sebenarnya Dira ingin menanyakan soal apa yang di bicarakan Aldi dengan ayahnya tapi niatnya ia urungkan, ia akan menanyakan lain kali pada Aldi. Dirapun pamit dan meninggalkan Aldi, Aldi melihat laju motor Dira semakin menjauh dari pandangannya.
Sampailah Dira di rumah,dia langsung masuk ke dalam rumah dan menuju ke kamarnya, ia merasa badannya begitu kelelahan, Dira merebahkan badannya di kasur hingga tak terasa matanya terpejam dengan sangat lelap.
Dira bangun di jam 7, dia tertidur sejak pulang sekolah tadi, Dira merasa badannya sangat panas dan menggigil di ambillah selimut untuk menutupi tubuhnya.
Disisi lain Deni yang baru saja pulang dan melihat motor Dira yang terparkir di halaman rumah, dia pikir Dira sudah pulang dari tadi siang. Deni langsung menghampiri kamar Dira dan mengetuk pintu kamar Dira.
Tok..tokk
Tak ada jawaban dari Dira, melihat pintunya tidak terkunci Deni langsung membuka pintu kamar Dira dan menghampiri Dira yang sedang tertidur pulas dengan selimut yang menutupi sekujur tubuh dengan menyisakan kepala Dira, Deni yang merasa aneh Dira tertidur dengan selimut yang melekat di tubuh anaknya itu, pasalnya Dira ketika tidur tidak pernah memakai selimut, dengan cepat dia memegang kening Dira dan panas yang ia rasakan serta tubuh Dira yang mengigil.
" Ya ampun dira, kamu panas banget nak" tanpa berpikir panjang Deni langsung merogoh sakunya mengambil handphone dan langsung menelpon dokter pribadi yang biasa menangani keluarganya, sambil menunggu dokter tersebut datang Deni memanggil asisten rumah tangganya untuk mengambil air panas dan handuk kecil untuk mengompres Dira.
" Maafkan papah nak" ucap Deni dengan menatap sedih kepada Dira sambil mengompres kening Dira.
Tak lama dari itu dokter tersebut datang dan langsung memeriksa keadaan Dira.
" Bagaimana keadaan anak saya dok" tanya Deni dengan sangat penasaran dan khawatir dengan keadaan dira, karena Dira terus menggigil.
" Anak tuan hanya kecapean dan dia hanya butuh istirahat beberapa hari" ucap doker tersebut dengan memberikan catatan resep obat untuk dira dan berlalu pergi meninggalkan kamar Dira.
Deni terus menetap Dira yang terpejam dengan badan yang menggigil dia sangat kasihan dengan kondisi Dira sekarang, dulu saat Dira sakit ia tidak mau jauh dari ibunya, tapi saat ini beda, Dira sakit tanpa di temani sang ibu bahkan ia tidak bilang jika dirinya sakit kepada ayahnya, tanpa sadar Deni meneteskan air matanya dia sangat-sangat menyesali perbuatannya sehingga nasib anaknya seperti ini.
Tidak ingin mengganggu Dira lagi, deni pun keluar dan menelepon asistennya untuk menebus resep obat yang di berikan tadi.
Asistennya itu langsung datang dan menghampiri deni.
Deni menuju kamar Dira, Deni memegang kembali kening Dira yang kini panasnya sudah mereda, ia bersyukur panas Dira berangsur turun. Deni menuju sofa yang berada di kamar Dira untuk merebahkan badannya dan menunggu Dira sadarkan diri. UU
Tak lama dari itu Dira membuka matanya, Dira merasa kepalanya sangat berat, dia melihat ayahnya tertidur sofa yang ada di kamar Dira.
Deni yang melihat Dira sadar, langsung mendekati anaknya.
" Sudah sadar kamu nak" ucap Deni dengan mengelus-ngelus kening Dira, kali ini Dira tidak menolaknya dan tidak menepisnya ia membiarkan ayahnya seperti itu, karena seluruh tubuhnya merasa lemas.
Asisten yang di perintahkan oleh Deni pun datang dan mengetuk pintu. Deni mempersilakan masuk.
" ini obatnya tuan, saya permisi dulu" ucap asistennya
Deni menyimpan obatnya di meja samping tempat tidur Dira.
" Kamu istirahat ya papah ambilkan makanan setelah itu kamu minum obat dan istirahat lagi" ucap Deni lalu pergi ke dapur untuk membuat bubur, kali ini dia tidak mau menyuruh pembantunya dia akan turun tangan sendiri untuk membuat bubur.
Dira yang melihat perhatian dari ayahnya menatap sedih punggung ayahnya yang berlalu keluar, pasalnya dulu sebelum ibunya meninggal dan keluarganya baik-baik saja ayahnya sangat sibuk, Dira tidak pernah bertemu dengan ayahnya, ia hanya bertemu di hari libur itupun jika ayahnya tidak ada meeting dadakan, Dira sangat dekat dengan almarhum ibunya.
Dira duduk menyandar dan menangis mengeluarkan cairan bening di matanya dia mengingat almarhum ibunya, biasanya ketika dia sakit ibunya selalu memeluk dirinya dan menyiapkan obat untuk Dira, ibunya tidak pernah meninggalkan dira, sampai pada akhirnya ibunya benar-benar meninggalkan Dira untuk selama-lamanya.
Deni yang masuk ke kamar Dira dengan bubur di tangannya, kaget ketika melihat Dira menangis dan langsung menghampirinya, Deni menyimpan bubur tersebut di meja dan langsung memeluk dira, Dira tidak menolak dia membiarkan ayahnya memeluk dan menangis sejadi-jadinya, sebenarnya di lubuk hatinya yang paling dalam dia tidak pernah benar-benar membenci ayahnya tapi sikap ayahnya yang telah merubah itu semua, sehingga hanya kebencian yang di perlihatkan oleh Dira.
" sudah kamu jangan nangis lagi ya" ucap Deni yang melepaskan pelukannya dan mengusap sisa air mata di pipi dira. Dira dengan masih sesenggukan.
" sekarang kamu makan ya dan minum obatnya" ucap Deni dan menyuapi bubur ke mulut dira, lagi-lagi Dira tidak menolak suapan ayahnya.
" udah" ucap Dira
" ya udah sekarang kamu minum obatnya dan istirahat" ucap Deni meletakan bubur dan menyodorkan obat kepada dira, Dira menerimanya, Dira langsung meminum obatnya dan merebahkan kembali badannya.
Deni tersenyum ketika Dira tidak menolak pelukan dan suapannya, Deni berdiri dan langsung keluar meninggalkan Dira yang sedang istirahat.
" Bi.....bibi" panggil Deni kepada sang asisten rumah tangga.
" iya tuan" ucap asisten rumah tangga.
" ini" ucap Deni menyerahkan mangkok dan gelas bekas bubur tadi. Deni langsung berlalu dan meninggalkan asisten rumah tangganya menuju kamarnya.
😊hai-hai gengs maaf ya baru up, dan jangan lupa like, komen, dan vote.
ig@its_qilass